Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Penyesalan Terdalam


__ADS_3

Keesokan hari nya, karena takut jika harus bertemu dengan Wiliam lagi jika masih tetap tinggal di rumah itu, Monik meminta ijin ibunya dan juga meminta ijin Meli untuk tinggal di apartemen, dengan alasan ingin belajar mandiri.


Karena Monik yang terus memaksa dan memohon, akhirnya meli dan juga ibunya mengijinkan Monik tinggal di apartemen milik sang kakak yang sudah di berikan padanya sebagai hadiah ulang tahunnya.


Monik menyimpan semua kesakitan dan kesedihannya seorang diri, dia tak punya keberanian untuk menceritakan kegundahannya pada siapa pun, dia terlalu takut membuat ibu dan kakaknya sedih dan kecewa atas apa yang telah terjadi pada dirinya itu.


Belum lagi rasa bersalahnya pada Tania, dia merasa menjadi penghianat dan sahabat yang jahat karena membiarkan kekasih sahabatnya menjamah tubuhnya, meski itu semua di luar kuasanya.


***


beberapa hari kemudian, Wiliam datang kembali ke rumah Tania, permainan panas nya dengan Monik beberapa hari yang lalu selalu terngingang di ingatannya, sungguh rasanya dia ingin mengulangi kenikmatan itu, jujur saja, sebetulnya hari ini dia datang ke rumah kekasihnya itu hanya ingin mencari Monik, dia justru berharap kalau Tania tak berada di rumah.


Namun sialnya hari itu yang menyambut kedatangannya justru Tania, kekasih yang tak dia harapkan untuk di temui nya.


"Hai Wil,,, lama sekali kita tak bertemu, aku kangen banget sama kamu !" sapa Tania sambil bergelendot manja di lengan Wiliam.


Sikap Wiliam justru dingin dan terkesan hambar, dia melihat sekeliling rumah itu namun tak ada sosok gadis polos berparas oriental yang sebenarnya ingin dia temui itu.


"Aku ke sini tempo hari, tapi kamu tak ada di rumah, hanya ada siapa itu, teman mu yang tinggal disini ?" pancing Wiliam pura pura tak tau dan mencoba mengorek informasi tentang Monik.


"Oh, Monik,,, dia sekolah di SMU kita juga lho, dia adik kelas mu juga dulu, cuma ya gitu deh, anak nya pendiem banget, dia anaknya temen ibu yang di titipin di sini karena ibu nya ada bisnis di luar negeri, tapi sekarang udah ga di sini, udah pindah !" urai Tania menjelaskan secara garis besarnya saja.


Wiliam pura pura tak peduli dengan cerita Tania, padahal dalam hatinya sedikit kecewa dengan kepergian Monik dan tak mungkin dia bertanya pada Tania tentang di mana keberadaan Monik sekarang, Tania bisa curiga padanya.


"Eh, ngomong ngomong tentang Monik, anter aku ke apartemen Monik yuk, udah tiga hari dia gak masuk sekolah, aku hawatir, takutnya dia sakit, mana tinggal sendirian, lagi !" Ajak Tania.


"Emh, aku tidak bisa, aku ada urusan," tolak Wiliam.


Namun diam diam tanpa sepengetahuan Tania,, Wiliam mengikuti kemana dia pergi, Wiliam ingin mencari tahu di mana Monik tinggal tanpa Tania tahu.


Setelah memastikan ke apartemen mana dan ke unit nomor berapa Tania masuk, Wiliam menyunggingkan senyum iblis nya.


"Sepertinya kita berjodoh Monik, kemana pun kamu pergi, Tuhan tetap menunjukkan keberadaan mu pada ku." cicit Wiliam bermonolog dengan diri nya sendiri.


Wiliam rela bertahan di pelataran parkir apartemen yang tempatnya agak tersembunyi selama setengah hari penh, satu tujuannya saat ini, bertemu dengan Monik, dia rindu menyentuh dan bermain main dengan tubuh gadis yang menguasai seluruh pikirannya itu, namun dia harus memastikan kalau Tania sudah pergi dari tempat itu.


Penantian lama nya akhirnya tak sia sia, Tania terlihat pergi meninggalkan apartemen, beberapa menit kemudian, setelah di rasa keadaan cukup aman, Wiliam bergegas mendatangi unit apartemen yang di tempati Monik.


Suara bel pintu mengaagetkan Monik yang baru saja mendudukan diri sambil melamun.


"Tania, ada apa lagi dia, pasti ada barang yang tertinggal !" gumamnya seraya berjalan menghampiri pintu.

__ADS_1


Namun wajahnya memucat seketika, saat ternyata mendapati yang datang adalah laki laki bajingan yang sangat tidak ingin dia temui di seumur hidupnya.


"Ka- kau kenapa bisa kesini ? Mau apa datang kesini ?!" Monik tergagap ketakutan.


Monik sekuat tenaga berusaha menutup pintu kembali, namun kaki Wiliam menahan pintu itu agar tetap terbuka dan memberinya akses untuk menerobos masuk dan menggiring Monik yang berjalan mundur ketakutan.


"Pergi, jangan ganggu aku, aku akan berteriak !" ancam Monik sambil memegang erat bajunya sendiri, dia begitu trauma bila mengingat kejadian menyakitkan itu.


"Berteriak lah yang kencang, biar seluruh dunia tau kalau kau sudah pernah tidur dengan ku, coba kau bayangkan bagaimana jika orang tua mu tau ? Lantas,,, bagaimana jika Tania tau, kalau sahabatnya tidur dengan kekasihnya !" ucap Wiliam mengintimidasi.


"Tolong, pergilah dari sini, jangan ganggu dan sakiti aku lagi !" mohon Monik mulai menangis, berharap Wiliam menaruh iba padanya.


"Menyakiti ? Kau pembohong yang buruk, bagaimana bisa kau bilang kalau aku menyakiti mu, sementara kau mende sah nikmat saat itu !" cibir Wiliam seraya membelai rambut wanita yang mengigil ketakutan hanya karena sentuhan tangan nya saja itu.


Tanpa di sadari, semakin mundur Monik sudah terperangkap pada dinding di belakang punggung nya, kini dia tak bisa bergerak ke mana pun.


Melihat Monik yang terperangkap, Wiliam seperti merasa di atas angin, dia mengunci tubuh mungil itu di dinding dengan tubuhnya, dan mulai mencumbu gadis malang itu.


Wiliam meraup dan menyesap bibir merah Monik yang seakan sudah menjadi candu bagi nya, dia tak peduli dengan tangisan dan rintihan gadis yang smengiba padanya itu, baginya dia harus melepaskan hasrat yang selama beberapa hari ini seakan 'nagih' dan ketagihan untuk melakukannya lagi, lagi, dan lagi dengan Monik.


Seharian Monik di sekap di kamar apartemen miliknya sendiri, dan di jadikan pemuas gairah iblis Wiliam yang seakan tak ada habisnya, sudah lebih dari tiga kali Monik di jamah Wiliam dengan paksa, sampai dia tak punya tenaga lagi untuk berontak dan hanya bisa pasrah dengan nasib buruknya itu.


"Tinggal di sini ?" kaget Monik, dia tak bisa membayang kan bagai mana jadinya nasib diri nya nanti jika laki laki itu tinggal serumah bersama nya.


"Ya, aku akan tinggal beberapa hari di sini, dan aku juga akan sering datang kesini, kau senang, kan ?"ucap Wiliam dengan tak tahu malu nya. Sungguh gelombag magnet yang di pancarkan tubuh Monik seakan menarik Wiliam untuk selalu terus berada di dekat wanita malang itu.


Sebulan berlalu, selama itu pula Monik menjadi budak pemuas hasrat setan Wiliam, tak ada yang tau tentang itu, Monik pun tak berani mengatakan apa yang di alami nya pada siapa pun, katakan lah Monik yang over thinking, namun tak ada yang bisa menerka bagaimana bila berada di posisi nya yang terasa serba salah dalam bertindak.


Sampai pada suatu hari,


"Kak, aku telat,,,!" Monik memberikan sebuah alat tes kehamilan yang bergaris merah dua.


Sejak seminggu yang lalu, Monik sudah merasakan ada yang tak beres dengan tubuhnya, dia sering merasa pusing dan mual mual, karena penasaran, Monik memutuskan untuk membeli alat tes kehamilan, dan benar saja tadi pagi saat alat itu di gunakan, tertera dua garis merah di sana.


Dunia serasa runtuh saat itu, namun bagaimana pun dia harus menyampaikan kabar ini pada Wiliam yang di harapkan mau bertanggung jawab atas bayi yang kini di kandungnya, karena memang dia ayah dari janin itu.


Namun kenyataan berkata lain.


"Apa maksud mu, kau ingin menjebak ku ? Aku tak mungkin menghamili mu !" elak Wiliam yang merasa kaget dan tak siap bila harus menjadi orang tua di usianya yang masih sangat muda itu.


"Maksud kakak ? Kakak menuduh ku melakukan hal itu dengan orang lain ?" lelehan bening itu mengurai di pipi Monik.

__ADS_1


"Hey, ! Walau aku laki laki berengsek, tapi aku selalu mengenakan pengaman dalam bermain, aku selalu bermain aman selama ini !" tepis nya, dia lupa beberapa kali, termasuk saat awal dia memper-- kosa Monik dia tak menggunakan pengaman.


"Baik lah kak, aku terima jikalau memang kakak tak mau bertanggung jawab atas bayi tak berdosa ini, tapi tolong jangan menuduh ku dengan keji seperti itu, bukan kah kakak tau, setiap hari, selain sekolah aku tak pernah pergi kemana pun !" urai Monik.


"Mana ku tau,,!! Wanita itu sama saja, Tania, kau, pintar bermain di belakang ku !" keukeuh Wiliam.


"Anggap saja seperti itu, aku juga lelah bila harus berdebat dengan kakak, biar bayi ini aku besar kan sendiri, aku akan menyusul ibu dan kakak ku, terima kasih atas semua kehancuran yang kakak beri pada ku !" ucap Monik berurai air mata.


"Ya bawa pergi jauh jauh bayi mu dari ku, jangan sampai suatu hari nanti anak mu mencari ku dan mengaku ngaku kalau dia anak ku !" ketus Wiliam.


"Aku pastikan itu tak akan pernah terjadi, karena kita tak mungkin bertemu lagi !" tegas Monik, hatinya sudah teramat hancur dan terluka atas semua perlakuan Wiliam padanya.


"Kenapa tak kau gugurkan saja anak itu dan kita masih bisa tetap hidup bersama, bukan kah kita saling memuaskan dan saling membahagiakan selama ini ?!" bujuk Wiliam.


"Hanya kakak yang puas, hanya kakak yang merasa bahagia, bukan aku !" sinis Monik.


Beberapa hari kemudian, Monik membulatkan tekadnya dan memutuskan untuk pergi dari apartemen itu dan meninggalkan Wiliam yang sedang tertidur di apartemen miliknya, Monik pergi menyusul ibu dan kakak nya tanpa sepengetahuan Wiliam, tanpa pesan apa pun yang di tinggalkan Monik untuk laki laki yang telah teramat menyakiti dan menghancurkan hidupnya itu.


Sepeninggal Monik, kehidupan Wiliam terasa seperti hampa, seperti ada yang kurang, namun dia tak menyadari kalau itu karena ketidak beradaan Monik yang biasa di perbudak olehnya, tak jarang ketika hatinya sedang kacau, tanpa di sadari olehnya, dia selalu mendatangi apartemen Monik yang kuncinya masih dia pegang,


Hanya sekedar berdiam diri sambil menikmati secangkir kopi dan mengingingat kebersamaan bersama Monik di sana, biasanya hatinya sedikit tenang, namun anehnya dia tak pernah ada sedikit pun keingiinan darinya untuk mencari atau bahkan menyusul Monik.


Dua bulan setelah kepergian Monik ke luar negeri, hubungan Wiliam dan Tania masih berjalan seperti biasanya, begitu handal Wiliam menyembunyikan hubungan gelapnya dengan Monik, sehinggaTania tak pernah mengetahui atau mencurigai hal itu sedikit pun.


"Sayang, kamu dari mana, aku menunggu mu seharian di sini !" kata Wiliam yang merengut karena menunggu selama seharian di rumah Tania yang pergi bersama Meli ibunya.


"Aku sama ibu baru menghadiri pemakaman bu Dewi, sahabat ibu, kasihan dia,,, semenjak kematian Monik sebulan yang lalu, dia terlihat stres dan akhirnya Tuhan berkehendak lain !" Tania menghela napas nya yang terasa berat.


"Maksud mu Monik yang dulu di sini ? Dia--?????" Wiliam terlonjak kaget, dia berasa seperti di sambar petir di siang bolong.


"Ya, bu Dewi ibu nya Monik yang pernah tinggal di sini !" jawab Tania.


"Tidak, tidak,,, maksud ku, tadi aku dengar kamu bilang Monik meninggal ?" Wiliam meyakinkan kalau apa yang di dengarnya itu salah.


"Ya, dia meninggal sebulan yang lalu karena sakit, aku juga tak sempat melayat, karena kata ibu ku, Monik di kuburkan di negara tempat kakaknya itu tinggal, entah lah kematian Monik terkesan misterius, tak banyak orang tahu dan seperti di rahasia kan," urai Tania.


Untuk beberapa detik pandangan mata Wiliam terasa kabur dan menghitam, rasa sedih, marah, dan kecewa mengaduk hati dan perasaannya, tanpa spatah kata pun, Wiliam langsung pergi meninggalkan Tania yang merasa bingung dengan sikap Wiliam saat itu.


Wiliam menumpahkan semua perasaan nya di apartemen tempat dirinya dan Monik menghabiskan waktu bersama, penyesalan dan rasa bersalah itu tiba tiba datang dan menghakimi dirinya yang selalu menyangkal dan bersikap pengecut karena tak pernah mau mengakui kalau ternyata dirinya telah jatuh cinta pada Monik.


*Flash back off

__ADS_1


__ADS_2