
"Dari mana saja kamu seharian ini ?" tanya Liam saat Inayah baru masuk ke dalam rumah malam itu.
Rupanya Liam memunggu Inayah sejak siang tadi, setelah selesai acara wisudanya, Liam langsung ke rumah menyusul Inayah yang dia pikir berada di rumah, dia ingin meminta maaf dan menjelaskan kejadian yang sebenarnya, tapi sayang, Inayah tak ada di rumah, bahkan sampai malam dia masih mennggu, entah berapa puluh kali siang tadi Liam menghubungi istrinya itu, tapi sayang, Inayah tak mauvmenerima panggilan telponnya dan juga tak membuka pesan yang di kirimnya.
"Aku kerja !" lugas Inayah.
"Bukan kah kamu sudah ijin untuk tidak masuk bekerja ?" Liam meragukan jawaban Inayah.
"Bukan kah aku tidak jadi mendampingi mu wisuda ? Lalu, untuk apa tidak masuk kerja ?" Inayah membalikan pertanyaan itu pada Liam yang terpejam menahan amarah.
"Nisa, tolong, bicara baik baik dengan ku, aku lelah di abaikan oleh mu, aku suami mu !" Liam mengeraskan rahangnya.
"Sudah lah, tak perlu ber akting jadi suami yang baik, kalau kau lelah,maka cepat buat perusahaan mu itu kembali normal, dan kita akan segera bercerai" sungut Inayah.
"Nisa, kamu tak pernah memberiku kesempatan untuk menjelaskan atas apa yang terjadi, semua yang kamu lihat tak seperti yang kamu bayangkan dan kamu pikirkan !" urai Liam.
"Apa pentingnya penjelasan mu untuk ku? Kita hanya suami istri pura pura, hanya status saja, tak perlu melibatkan perasaan," Inayah berapi api.
"Aku mencintai mu !" pekik Liam.
Inayah terdiam, dia menajamkan pendengarannya, apa telinganya masih berfungsi dengan baik? batin Inayah, dia baru saja mendengar pernyataan cinta dari Liam, apakah dia harus merasa bahagia dengan ungkapan hati Liam pada dirinya?
"Nisa, aku mencintai mu, jujur aku mulai meyakini rasa ini setelah kita menikah, sebelumnya aku merasa punya perasaan lain pada mu tapi aku tak takin itu perasaan apa, dan kini aku yakin kalau aku mencintai mu !" Liam mengulangi pernyataan cintanya.
"Liam, mungkin kamu hanya merasa bingung dengan perasaan mu, kamu tidak mungkin mencintai ku, aku hanya alat bagi mu, agar kami bisa kembali berhubungan dengan cinta masa lalu mu dan menutupinya dari orang tua mu dengan pernikahan palsu kita" tepis Inayah.
"Pernikahan kita sah secara agama, aku tak mungkin menikahi sembarang orang apapun tujuannya kalau aku tidak mempunyai keterikatan rasa pada mu, aku hanya belum yakin saat itu, tapi saat ini aku yakin yang aku rasakan pada mu itu cinta" tegas Liam.
"Liam, ucapan dan tindakan mu itu sangat bertentangan, aku bingung, harus percaya ucapan mu atau tindakan mu ?" Inayah tak ingin terbuay dengan kata kata Liam.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, apa yang membuatmu tidak yakin? ucap Liam seolah tak pernah berbuat salah.
"Bagaimana dengan Tania ?" Inayah melirik sekilas Liam yang memandanginya sedari tadi.
"Aku sudah tidak ada hubungan apa apa dengan Tania, aku juga selalu berusaha menghindarinya," elak Liam.
"Menghindarinya? Tapi kenyataan yang aku lihat tidak seperti itu, tapi sebaliknya," cecar Inayah.
"Nisa, aku sudah bilang, semua yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan, tapi kamu tak pernah memberi ku kesempatan untuk menjelaskan kebenarannya" tepis Liam.
__ADS_1
"Sejauh yang aku lihat saat kamu bersama Tania, aku tidak pernah melihat penolakan mu saat Tania menciumu, memelukmu, bermanja padamu, lantas tiba tiba kamu bilang mencintaiku, bagaimana aku bisa percaya ?" Inayah tersenyum sinis.
"Bantu aku untuk bisa menjauh dari Tania," Liam meraih kedua tangan Inayah dan berlutut di hadapan Inayah yang sedang duduk di sofa.
"Aku sudah membantumu dengan menjadi istri mu, apa kamu lupa? sekuat apa pun aku membantu mu, kalau kamu sendiri masih mencintainya dan memberinya harapan, hasilnya akan sama saja," jelas Inayah, seraya menarik halus kedua tangannya dari genggaman Liam.
"Aku mencintai mu, aku yakin suatu hari nanti kamu akan menyadarinya," lirih Liam tertunduk lemas.
"Semoga perasaan mu itu tak salah alamat," pungkas Inayah mengakhiri pembicaraannya, dia beranjak dari sofa tempat nya duduk, lalu meninggalkan Liam yang masih berlutut di tempat yang sama.
***
Pagi harinya Inayah menyiapkan sarapan seperti biasanya, dan buru buru meninggalkan rumah untuk pergi ke kantor sebelum Liam turun dan harus terjebak dalam situasi kikuk bersama suaminya itu. Pernyataan cinta Liam semalam membuat Inayah tak bisa tidur semalaman karena memikirkan kesungguhan yang di ucapkan Liam padanya.
"Pagi pagi sudah melamu, ayo siapkan semua berkas, kamu ikut aku bertemu orang Teja grup satu jam lagi di ruang rapat," ucap Beni membuyarkan lamunan Inayah.
"Ah, kenapa saya harus ikut, Pak ?" protes Inayah.
"Tentu saja kamu harus ikut, bukannya setiap rapat juga kamu menemani ku, kamu kan sekretaris ku" jawab Beni, merasa aneh dengan pertanyaan sekretaris nya yang terkesan konyol itu.
Inayah kehabisan kata kata, dia tidak bisa menghindar dari pertemuan antara bos dan suaminya.
"Permisi," ucap Inayah saat memasuki ruangan setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Nisa !" gumam Liam lirih, dia cukup kaget melihat Inayah ada di ruang rapat, karena setahu dirinya Inayah hanya buruh kasar rendahan di pabrik itu.
Tania yang melihat kedatangan Inayah ke ruangan itu, hanya menatapnya sinis.
"Maaf, apa anda mengenal sekretaris saya?" tanya Beni karena melihat Liam yang seperti kaget melihat kedatangan sekretaris barunya itu.
"Sekretaris ?" beo Liam.
"Ya, ini sekretaris baru saya, dan Inayah, mereka dari Teja grup, ini Pak Wiliam dan itu Tania kepala bagian produksi di perusahan Teja grup, mereka dulu berpacaran, tapi sayang,,, takdir berkata lain, mereka sekarang menjadi saudara karena orang tua mereka menikah" urai Beni bercerita, menceritakan hal yang sebenarnya Inayah sudah tau, tapi dia hanya tersenyum simpul mendengar cerita bos nya itu.
"Aku mengenal baik Tania, ibunya teman baik ibu ku, jadi banyak tau tentang hubungan mereka, sayang sekali padahal kalian serasi,,, atau kalian diam diam masih bersama, hahaha !" kelakar Bima membuat Liam sang lawan bicara canggung, wajahnya memerah, dia tak menyngka kalau akan berada di situasi kikuk seperti ini.
"Iya, mereka serasi" timpal Inayah datar.
"Tentu saja kami serasi," Tania makin merapatkan dirinya ke arah Liam.
__ADS_1
Inayah hanya menghela nafas panjang, baru semalam Liam berkata padanya kalau dia mencintai dirinya, dan ingin melwpaskan diri dari Tania, tapi lagi lagi kenyataan berkata lain.
"Maaf, sebenarnya, Nisa adalah---" ucap Liam.
"Sepertinya anda salah orang, nama saya Inayah bukan Nisa, dan saya tidak mengenal anda!" ujar Inayah terlanjur merasa kesal dan kecewa dengan sikap Liam yang terkesan mempermainkan perasaannya.
"Baiklah, ayo lanjutkan pembicaraan kita dan segera selesaikan penanda tanganan perjajian ini," lerai Beni saat menyadari ada sesuatu yang janggal dari cara Inayah dan Liam berinteraksi.
Liam menuruti perkataan Beni tanpa berkomentar sedikitpun, dia menyadari, saat ini dirinya membutuhkan bantuan Beni untuk menyelamatkan perusahaannya yang dalam keadaan terpuruk, perusahaan itu satu satunya peninggalan almarhum Ibunya, dia tidak ingin usaha yang di rintis ibunya dari nol dengan susah payah harus bangkrut dan berakhir begitu saja.
"Inayah, setelah ini, kamu temani aku makan siang !" titah Beni sesaat setelah rapat dengan Liam selesai dan Liam juga Tania sudah pergi meninggalkan ruang rapat.
"Emh, saya--"
"Ada hal yang perlu aku bicarakan dengan mu !" timpal Beni ketika melihat gelagat Inayah yang akan menolak ajakannya.
"Baik, Pak" patuh Inayah.
Saat ini Inayah dan Beni berada di sebuah rumah makan yang letaknya tak jauh dari perusahaan.
"Kamu mengenal mereka, kan?" Beni membuka pembicaraan di sela makan siangnya bersama sang sekretaris.
"Mereka?" Inayah pura pura tak mengerti arah pembicaraan bosnya itu.
"Ish, Wiliam dan Tania" desis Beni tahu kalau Inayah hanya pura pura dan berusaha menghindar dari pertanyaannya itu.
"Tidak !" singkat Inayah.
"Kamu tidak bisa berbohong padaku, matamu berkata lain" Beni menatap Inayah yang tak verani mengangkat wajahnya.
"Saya tak mengenal mereka !" Inayah bergeming dengan pendiriannya untuk tetap menyangkal.
"Baik lah kalau kamu belum mau bercerita, itu hak mu," Beni mengalah.
"Maaf," lirih Inayah.
"Tak perlu meminta maaf, aku hanya merasa ada ketulusan, ketakutan, kebencian sekaligus kesepian di mata mu, aku pikir tidak ada salahnya kamu berbagi cerita dengan ku, tapi kalau kamu keberatan, aku tak akan memaksa mu"
"Terimakasih, tapi saya baik baik saja" ucap Inayah dengan senyum yang di paksakan.
__ADS_1