
"Nisa, bisa kah kamu bersama ku selamanya ?" tanya Liam tiba tiba,
Ini sudah hari ke tujuh Liam menjalankan misi merebut hati Inayah, tapi sepertinya tak ada perubahan yang berarti, Inayah memang berubah sedikit lebih bersikap baik, tapi sepertinya belum bisa kembali akrab seperti sebelum mereka menikah, apalagi membuka hati nya untuk Liam.
"Apa maksud mu ? bukan kah kita sudah sepakat, menjalaninya dulu selama satu bulan?" heran Inayah.
"Aku takut, kamu berpaling dan menemukan orang lain yang bisa membuat mu lebih nyaman" nada bicara Liam terdengar tidak percaya diri.
"Jangan samakan aku dengan dirimu yang pintar mendua !" ketus Inayah.
"Nisa,,,! Aku sudah tak ada hubungan dengan siapa pun sekarang, aku ingin serius dengan mu" protes Liam.
"Itu berarti secara tidak langsng kamu mengakui kalau sebelumnya kamu menduakan ku dan tak serius dengan ku ?" sinis Inayah.
"Tidak sepenuhnya benar, tapi aku minta maaf, apa kamu belum bisa memaafkan ku juga ?" melas Liam.
Ini hari libur kerja pertama mereka bersama di rumah, tapi belum apa apa mereka sudah mengawali hari dengan perdebatan.
"Nisa, kamu mau pergi kencan dengan ku ?" goda Liam,
"Kencan ?" beo Inayah.
"Ya, aku ingin kita jalan, makan, nonton, seperti pasangan pasangan lainnya !" ajak Liam.
"Aku akan menemani mu nonton di rumah saja, dan aku akan memasakan makanan untuk kita makan malam, bagaimana ?" tawar Inayah.
__ADS_1
"Baiklah, kalau itu mau mu," Liam mengalah.
Percakapan mereka mengalir begitu saja, keakraban satu sama lain pun semakin mengikis kecanggungan di antara mereka.
Inayah tertidur di bahu Liam saat mereka menonton film di sofa ruang tengah, Liam yang menyadari hal itu segera memindahkan kepala Inayah pelan dan hati hati ke pangkuannya, di pandanginya wajah polos tang sedang terlelap di pahanya itu, alis yang terbentuk sempurna, hidung bangir, bibir yang tipis dan merah, membuat Liam malah lebih tertarik menonton Inayah yang tertidur daripada film yangvsedang di putarnya.
Jari jemari Liam membelai rambut hitam Inayah yang tergerai, lalu mengusap lembut bibir merah Inayah dengan ibu jarinya, usapan lembutnya di bibir kenyal itu mengusik tidur lelap Inayah.
"Ah, maaf, aku ketiduran !" kaget Inayah yang langsung bangkit seketika dari pangkuan Liam.
Namun sayang, karena kurang perhitungan, kepala Inayah malah menyundul dagu dan hidung Liam yang sedari tadi sedang menundukan kepalanya memandangi wajah cantik istrinya itu.
Darah segar pun mengalir dari hidung Liam karena hantaman keras kepala Inayah.
"Liam ! Hidung mu berdarah, maaf, maafkan aku, aku tidak sengaja, bagai mana ini !" panik Inayah ketika melihat cairan merah itu semakin deras mengucur dari hidung Liam.
"Ini salah ku, aku tak hati hati !" Inayah meraih tisu di meja dan menyeka darah yang sudah mengalir sampai dagu Liam.
"Hey, Nisa, sayang, aku tak apa apa, kenapa kamu menangis ?!" Liam menegakkan kepalanya dan meraup pipi Inayah dengan kedua tangannya, dia menyeka air mata yang tiba tiba meleleh di pipi wanita cantik itu.
"Aku takut, aku takut kamu kenapa napa" ucap Inayah dalam isaknya, wanita itu masih membersihkan cairan merah yang terus menetes dengan teliti dan hati hati.
"Udah, aku gak kenapa napa, terimakasih sudah menghawatirkan ku," Liam membawa Inayah ke pelukannya, dia mencoba menenangkan istrinya itu.
Namun Inayah justru semakin terisak di dada Liam, entah kenapa dirinya merasa sangat hawatir dan takut kalau sampai terjadi sesuatu pada diri Liam, dia selal merasa kalau dirinya itu membenci Liam, tapi ternyata dia baru menyadari, kalau jauh di lubuk hatinya, dia sebenarnya menyimpan perasaan sayang yang begitu besar dan dalam pada Liam.
__ADS_1
Usapan lembut tangan Liam di punggungnya dan dada hangat Liam ternyata benar benar membuat Inayah nyaman dan tenang, wangi aroma kayu pafum khas laki laki menyeruak di hidung Inayah dan membuat dia tak ingin melepaskan diri dari kungkungan tubuh suaminya yang baru pernah dia rasakan pelukannya itu.
"Apa Ini sakit ?" tanya Inayah mengusap hidung mancung Liam yang sudah bersih dan tak mengeluarkan darah lagi.
"Ini tidak apa apa,kenapa kamu terlalu berlebihan menghawatirkan ku ?" ucap Liam dengan senyum yang menghiasi bibir penuhnya.
"Aku, aku..." ucap Inayah terhenti saat bibir Liam mendarat mulus di bibir nya, sejenak Inayah terdiam, karena tak mengira kalau Liam akan menciumnya, Liam tetap menautkan bibirnya di bibir Inayah, karena merasa tak ada penolakan dari Inayah, beberapa detik kemudian Inayah membuka mulutnya dan memberi akses untuk Liam mencicipi setiap ruang di mulutnya.
Sebagai wanita yang pernah menikah, bohong lalau dia tak pernah di landa kesepian, bohong kalau dirinya tak haus akan belaian seorang laki laki, mungkin saat ini Liam sudah berhasil membangkitkan gairah yang selama ini di pendamnya.
Inayah terhanyut dengan sentuhan sentuhan yang di berikan Liam padanya, sampai Inayah tersadar saat tangan Liam sudah masuk ke dalam baju yang di pakainya dan bergerilya di punggung halusnya.
"Liam,!" pekik Inayah menangkap dan menghentikan tangan Liam yang sedang asik menyusuri kulit halus Inayah.
"Kenapa ?" tanya Liam sedkit kecewa.
"Beri aku waktu, tapi tidak sekarang, biarkan aku lebih meyakini perasaan ku pada mu" ucap Inayah.
"Aku pasti menunggu mu, menunggu saat saat kamu berlari ke arah ku dengan segala rasa cinta yang sudah benar benar kamu yakini buat ku," ucap Liam menatap dalam mata Inayah yang meredup, tak lagi terlihat kebencian dan amarah untuknya di sana.
"Aku akan memasak makanan untuk makan malam kita," Inayah berdiri dar duduknya dan bergegas berjalan ke dapur, dia tak yakin kalau dirinya bisa tetap mempertahan diri bila masih tetap berada di dekat Liam.
"Aku akan ikut dan membantu mu !" ujar Liam menyusul Inayah yang sudah pergi ke dapur terlebih dahulu.
Mereka berdua memasak dengan penuh canda tawa, benih benih cinta yang memang sudah ada sebelumnya namun sengaja di pendam pun perlahan mulai tumbuh dan bersemi di antara mereka.
__ADS_1
Rasa yang tak bisa datang walau pun di paksa, namun tiba tiba hadir dengan waktu dan cara yang tak bisa di bayangkan sebelumnya, cara Tuhan memang terkadang tak bisa di prediksi, beberapa waktu sebelumnya mereka tak saling sapa dengan kebencian Inayah yang seakan tak bisa di hilangkan dari dirinya.
Namun sesaat kemudian Tuhan membuat Inayah membuka dirinya untuk Liam walau itu perlahan dan belum sepenuhnya bisa menerima Liam saat ini, tapi ini sudah merupakan hal yang luar biasa buat Liam, dia bersyukur akhirnya bisa meluluhkan hati istrinya itu.