
Dengan langkah gamang Beni berjalan menuju markas Omar, dia bingung apa yang harus dia lakukan pada Wiliam, hatinya terus berkecamuk, berulang kali dia berpikir untuk mengurungkan niatnya bertandang ke sana, namun semua harus berakhir, dendam dan bencinya tidak bisa terus terusan dia genggam dan menyimpannya dalam hati, dia ingin melepas semuanya, mengakhiri kesakitan yang di pendamnya selama bertahun tahun lamanya.
Beni berpikir sejenak saat akan memasuki gerbang tinggi menuju kediaman Omar, apa yang akan dia lakukan pada Wiliam, orang yang sudah merenggut paksa orang orang yang di sayanginya, akankah semuanya adil jika dia har berprilaku yang sama dengan apa yang di lakukan Wiliam ?
Bukankah itu berarti dirinya tak ada bedanya dengan Wiliam yang berkelakuan bejat ?
Janjinya pada Inayah terngiang ngiang terus di telinga, bayangan tentang bayi sebeagai penerusnya yang kini berada di perut Inayah juga seakan menari nari di pelupuk mata.
Tidak,, dia tak boleh mewariskan kebencian dan dendam pada anaknya kelak, semua harus di akhiri, dia harus belajar iklas dan melepaskan apa yang seharusnya di lepaskan, cukuplah semua berakhir padanya, setelah ini saatnya memulai semuanya, memulai lembaran baru sebagai keluarga kecil yang bahagia.
Ada hal yang lebih penting yang harus Beni lakukan selain membalas dendam, namun menjaga dan melindungi anak dan istrinya.
"Ben, kau sudah datang !" suara Oman mengagetkan Beni yang sedang tenggelam dalam lamunannya.
"Ah, iya, ! Om sudah menangkap Wiliam ?" tanya Beni.
Omar hanya mengangguk dengan wajahnya yang sedikit berbeda, tak menunjukkan raut kegembiraan karena berhasil mendapatkan buruannya.
"Kenapa ? Apa ada masalah ?" selidik Beni.
"Maafkan aku, aku tak menangkapnya secara utuh !" ucap Omar menimbulkan banyak pertanyaan di benak Beni.
"Tidak utuh ? Maksudnya ?" kaget Beni, pikirannya sudah membayangkan hal hal mengerikan.
"Ikut aku !" ajak Omar menggiring Beni ke sebuah ruangan di belakang markasnya.
__ADS_1
"Om, apa om sudah ---? Tanpa memberi tahu ku ?" tanya Beni yang menyadari kalau ruangan itu adalah ruangan tempat mengeksekusi 'barang jualan' Omar, langkah Beni terasa semakin berat, sekuat tenaga Beni menyeret kakinya agar melangkah memaski ruangan mengerikan itu.
"Tidak, aku tidak mungkin melakukan hal tanpa seijin mu terlebih dahulu, dia milik mu, tentu saja aku tak akan menyentuhnya lebih jauh," tepis Omar.
Saat pintu ruangan yang terbuat dari besi tebal itu terbuka, tercium bau anyir darah menyeruak, perut Beni terasa seperti sedang di putar putar dan seluruh isinya seakan berlomba ingin keluar.
Omar melirik wajah Beni yang terlihat pucat menahan mual,
"kau baik baik saja ?" tanya Omar sedkit hawatir.
"Perut ku sepertinya tidak baik baik saja !" jawab Beni seraya memegangi perutnya menahan agar isi perutnya tak keluar di sana.
Terdapat banyak sekat sekat di ruangan itu, dan beberapa orang berlalu lalang dengan pakaian serba putih beberapa orang bahkan terlihat keluar dari dalam sekat itu dengan mengenakan penutup kepala dan sarung tangan yang masih berlumuran darah.
Tak ada yang saling berbicara di ruangan itu, mereka hanya sesekali membungkukkan badan saat berpapasan dengan Omar tanda hormat.
"Sudah tuan, dan dia masih terlelap seperti bayi !" jawab pria yang di tanyai Omar itu.
Omar hanya mengangguk anggukan kepalanya dan memberi tanda agar orang itu pergi.
"Ayo !" ajak Omar membawa Beni ke salah satu ruangan bersekat.
Pemandangan pertama yang Beni lihat adalah Wiliam yang terbaring di ranjang pasien dengan mata yang terpejam, badannya di tutupi selimut putih sampai sebatas dada.
"Apa yang terjadi padanya ?" tanya Beni.
__ADS_1
Omar maju beberapa langkah mendekat ke arah ranjang tempat dimana Wiliam berbaring, di singkapnya selimut yang menutupi tubuh Wiliam yang terlelap.
Beni menutup mulutnya yang menganga dengan sebelah tangannya seketika karena tak kuasa menahan keterkejutannya dengan apa yang dia lihat saat ini.
"Begitu keadaannya sekarang, terserah mau kau apa kan dia selanjutnya !" ucap Omar.
"Kenapa bisa sampai seperti itu, apa yang terjadi ?" Beni menatap Iba kaki Wiliam yang kini hanya tersisa kaki sebelah kirinya, sedangkan kaki kanannya berbalut perban sebatas paha.
"Ketika anak buah ku menangkapnya, dia berontak, dan mencoba kabur dengan cara menceburkan diri ke laut dari atas kapal, namun nasibnya sungguh sial, kaki kanan nya tersangkut baling baling kapal, kakinya tak bisa di selamatkan lagi, aku menyuruh para medis untuk mengurusnya, dan ini hasil nya, hanya ini hal terbaik yang bisa kami lakukan !" terang Omar, dia bisa membaca kalau Beni mulai merasa kasihan dan rasa dendam itu perlahan luntur dari hatinya.
Beni melengos dan bergegas meninggalkan ruangan itu dengan segera, hatinya tak cukup kuat melihat musuh bebuyutannya berakhir tragis seperti itu, alih alih harusnya bahagia dan puas melihat Wiliam akan menderita di seumur hidupnya, hatinya justru merasa iba, ada segumpal rasa bersalah, dia merasa kalau dirinya ikut andil atas apa yang di alami Wiliam saat ini.
"Jangan menyalahkan diri mu sendiri, ini takdir Tuhan, buah yang harus dia terima dari hasil perbuatannya, kau percaya Tuhan itu adil, kan ? Mungkin suatu saat aku pun akan menerima karma dari apa yang aku lakukan selama ini, semua perbuatan baik atau buruk akan kembali pada diri kita sendiri everything we do, comeback to us !" Omar meraih bahu Beni dan mencoba menenangkan keponakannya itu, meskipun hanya keponakan tiri, tapi Omar menyayangi Beni layaknya anak sendiri.
"Apa aku jahat dan telah berlaku tidak adil pada Monik, jika aku mengasihani Wiliam ?" lirih Beni, pergulatan batinnya semakin menjadi.
Kini Beni merasa seperti berada di posisi yang serba salah, apapun yang dia lakukan dia merasa menjadi orang yang kejam.
Beni akan merasa sangat kejam pada adiknya jika dia membiarkan begitu saja Wiliam, begitupun sebaliknya dia akan merasa kejam pada dirinya sendiri jika dia melanjutkan dendamnya pada Wiliam yang jelas jelas sudah tidak berdaya.
"Ben, ada kalanya kita harus mencoba berdamai dengan keadaan, berdamai dengan diri sendiri, cobalah untuk memaafkan diri mu sendiri, dan kau akan dengan mudah memaafkan orang lain !" lanjut Omar, meski dia seorang mafia jahat tapi dia tak pernah mengajarkan anak dan keponakannya untuk menjadi seperti dirinya, apalagi menurunkan atau mewariskan bisnis hitamnya pada David ataupun Beni, dia justru ingin anak dan keponakannya berjalan di jalan yang benar, untuk itu dia merahasiakan jati dirinya sebagai mafia pada semua keluarganya, meski akhirnya Beni tak sengaja mengetahui itu semua.
"Jadi, apa keputusan mu selanjutnya ?" tanya Omar lagi.
Beni menghela nafas panjang dan dalam, hatinya belum bisa memutuskan,
__ADS_1
"Aku akan mencoba berdamai dengan hati ku, memaafkan diri ku, tapi aku tak bisa menjamin aku bisa berdamai dan memaafkan dia,!" ucap Beni.
"Untuk sementara, biarkan dia pulih dan hidup !" lanjutnya, dia benar benar belum bisa mengambil keputusan apapun untuk kelanjutan sikapnya pada Wiliam.