Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Terciduk


__ADS_3

Inayah tersenyum puas setelah menghadiri acara pertunangan mantan suaminya, terlebih dia sudah mulai berani melawan mantan mertuanya yang bermulut busuk itu.


Meski sebenarnya dia ingin sekali membongkar semua aib tentang Adit, agar ibu dan adik perempuannya itu tau bagaimana kelakuan pria bejat itu di Jakarta, namun sayangnya dia masih harus bersabar, karena Beni melarangnya untuk membongkar semua itu.


Entah kenapa Inayah juga menurut begitu saja pada ucapan dan perintah Beni padanya, seakan hatinya yakin kalau Beni tak akan menyakitinya, jadi dia selalu patuh dengan apa yang di perintahkan laki laki misterius itu.


"Nak, apa benar kamu tadi menghadiri acara pertunangan Adit di balai desa ?" tanya Titin yang tak ikut hadir di acara itu karena dirinya malas bertemu Esih yang pasti akan menghina dan mempermalukan dirinya di sana.


"Benar, mak," jawab Inayah.


"Nak, jangan mencari penyakit, hati emak sebenarnya ikut sakit dan terluka kalau kamu di maki maki oleh keluarga mantan suami mu itu," lirih Titin.


"Tenang saja mak, mulai sekarang Inayah pastikan, tak akan pernah ada lagi yang akan menghina dan menyakiti kita, karena Inayah pasti akan melawannya, Inayah tak akan diam lagi seperti dulu," ucap Inayah memeluk tubuh tua ibunya.


"Hati hati nak, jangan melawan kejahatan dengan kejahatan," kata Titin mengingatkan.


"Tidak mak, Inayah hanya mempertahan kan harga diri Inayah dan emak agar tak di injak injak lagi, Inayah juga tak mungkin berbuat jahat pada mereka bila mereka tidak memulainya terlebih dahulu," elak Inayah.


"Emak senang kamu sudah bisa membela diri mu sendiri, pesan emak, kamu harus berhati hati, jangan sampai sikap mu itu mencelakai diri mu sendiri," kata Titin membelai rambut anak kesayangannya.


"Tenang saja mak, Inayah pasti akan selalu berhati hati dalam bertindak seperti pesan emak," kata Inayah.


***


Sementara di Jakarta.


"Liam, aku sangat sakit hati dengan perlakuan si Inayah berengsek itu, dia benar benar sudah berani kurang ajar pada ku, pokok nya aku harus membalas perlakuannya padaku," adu Lilis pada Wiliam yang sejak tadi mendengarkan ocehan Lilis yang tidak berhenti mengumpat Inayah.


"Iya, kau sudah mengatakannya hampir ratusan kali dua hari ini, telinga ku bahkan hampir saja budeg mendengar nya !" kesal Wiliam.


"Aku benci dia, aku tak terima di maki maki dia di kantor !" sungut Lilis.


"Lalu, kau hanya akan mengomel sepanjang hari ? Lebih baik kau membantuku bekerja di kantor, dari pada menjadi pengangguran yang hanya menggerutu tidak jelas terus menerus setiap hari !" ucap Wiliam menggelengkan kepalanya kesal.

__ADS_1


Semenjak di tendang dari Teja grup oleh Inayah, Lilis memang tinggal di rumah Wiliam dan enggan melakukan apapun selain marah marah dan mengumpat Inayah sepanjang harinya.


"Di sana ada si nenek sihir, aku males bertemu wanita itu !" oceh Lilis.


"Tenang saja, itu urusan ku, dia tak akan mengusikmu di kantor, nanti dia akan aku pindahkan di bagian produksi agar tidak berdekatan dengan mu, yang akan menjadi sekretaris ku, bagaimana ?" cengir Wiliam sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Kenapa kamu menggoda ku seperti itu ? Ini masih siang tapi kamu sudah genit pada ku!" tawa Lilis memenuhi ruang tamu rumah Wiliam sore itu.


Tanpa aba aba Lilis langsung melucuti pakaiannya hingga hanya tersisa pakaian dalamnya saja, Wiliam yang memang dari tadi sudah mendamba kehangatan tubuh partner ranjangnya itu pun seakan ikut terpancing dengan suasana panas yang Lilis ciptakan.


Lilis mendorong tubuh pasrah Wiliam ke sofa panjang yang sudah sering kali menjadi saksi bisu kelakuan bejat mereka, saat melakukan kegiatan panasnya di ruangan itu,


Lilis menanggalkan seluruh kain yang membalut tubuh kekar Wiliam tanpa tersisa, lalu dia pun melucuti dua kain yang masih tersisa di tubuhnya, dengan gerakan yang menggoda dia duduk di pangkuan Wiliam dan meliuk liukan tubuhnya dengan mahir, membuat mata Wiliam seketika terpejam menikmati layanan wanita yang menari nari di atas pangkuannya itu dengan suara parau yang saling bersahutan, saling meminta lebih dan berlomba untuk saling memuaskan lawannya.


Prokk,,, prokkk,,, prokk,,,, !!


Suara tepuk tangan menghentikan kegiatan dua sejoli yang tengah berusaha mendaki mencapai puncak terlarang itu, nasib sial rupanya sedang ingin menghampiri mereka sore itu, belum saja kepuasan sahhwat mereka dapatkan, sepasang mata berwarna merah menyala tebelalak menatap ke arah mereka tajam, menyisakan hasrat yang menggantung dan tak sempat terselesaikan karena nereka terpaksa harus menghentikan kegiatan nikmat mereka.


"Ta- Tania !" pekik Wiliam dan Lilis hampir bersamaan.


Wiliam dan Lilis lantas buru buru memunguti pakaian mereka yang tercecer di lantai, lalu memakainya dengan asal dan cepat.


"Kelakuan kalian menjijikan !" maki Tania yang merasa seolah olah dirinya paling suci dan tak pernah berbuat hal hal seperti adegan yang baru saja dia tonton barusan.


"Tak usah seolah kau tak pernah melakukan hal seperti itu !" ketus Wiliam.


"Wil, kita perlu bicara !" ucap Tania tegas, sambil melirik ke arah Lilis yang baru saja selesai mengenakan seluruh pakaiannya lengkap seraya mengisyaratkan kalau dirinya hanya ingin berbicara empat mata dengan Wiliam dan secara tidak langsung mengusir Lilis dari ruangan itu.


"Bicara lah !" kata Wiliam datar, dia sudah pasrah dan tak bisa mengelak apa pun karena Tania sudah dengan gamblang melihat semuanya.


"Hanya kita berdua !" bentak Tania.


"Hmm,,, kau masuk lah dulu ! Aku akan berbicara dengan nya," titah Wiliam pada Lilis yang wajah nya langsung merengut tak senang karena tak di perbolehkan mendengar perbincangan mereka di ruangan itu.

__ADS_1


Dengan menghentakkan kakinya kesal, Lilis masuk ke dalam menuruti perintah Wiliam yang menatapnya dengan pandangan penuh permohonan yang membuat Lilis tak tega dan patuh pada pria yang sepenuh hati dia cintai itu.


"Sejak kapan ?" tanya Tania pada Wiliam sepeninggalnya Lilis dari ruangan itu.


"Apa ?" Wiliam malah balik bertanya.


"Sejak kapan kau berhubungan dengan wanita kampung sialan itu ?!" tukasnya.


"Berhubungan,,, seperti apa ?"lagi lagi Wiliam menjawab pertanyaan Tania dengan pertanyaan juga.


"Kau berpacaran dengan wanita itu, kan !?" tanya Tania kesal karena merasa Wiliam seakan sedang mempermaikan kata kata dengannya.


"Aku tidak berpacaran dengan nya, tidak ada hubungan apa apa juga antara kami !" tepis Wiliam.


"Lalu ? Hubungan gila macam apa yang kalian jalani ?" pekik Tania.


"Seperti hubungan mu dengan Adit, atau bahkan seperti hubungan mu dengan laki laki lain pemuas hasrat mu !" ucap Wiliam datar.


"Kau yang menyuruh ku untuk mendekati Adit demi memuluskan sandiwara mu agar si Inayah berengsek itu di ceraikan dan datang ke kota untuk di jadikan istri pura pura mu !" tunjuk Tania.


"Mendekati, bukan meniduri berulang ulang karena kau menikmati nya !" cibir Wiliam.


"Karena kau tak pernah menyentuh ku ! Kenapa ? Kenapa kau bisa tidur dengan wanita lain yang bahkan itu sekelas wanita kampung yang tak ada apa apanya di banding kan dengan ku, tapi kau tak pernah mau tidur dengan ku ?!" emosi Tania meledak ledak mempertanyakan ketidak adilan yang di terima nya.


"Karena pantang bagi ku meniduri wanita bekas pria lain !" Wiliam tersenyum smirk.


"Apa maksud mu ?!"


"Aku pernah melihat mu tidur dengan laki laki lain pada saat kita awal awal berpacaran, sejak saat itu aku bersumpah untuk mempertahankan mu namun tak akan pernah menyentuh mu !" beber Wiliam.


Tania terdiam, dia tak menyangka kalau selama ini Wiliam ternyata mempertahankan hubungan mereka karena dia menyimpan dendam padanya.


"Kau tau,,, sejak saat itu kau membuatku menjadi pria paling berengsek di muka bumi ini karena aku telah merusak seorang wanita tak berdosa akibat rasa dendam ku pada mu,!" sesal Wiliam mengingat kembali kejadian beberapa tahun silam yang selalu membuatnya di selimuti rasa bersalah dan penyesalan yang tak pernah hilang pada sosok perempuan cantik bernama Monik yang menjadi pelampiasan nappsu bejatnya.

__ADS_1


__ADS_2