
Inayah menjadi grogi dan serba salah, dia segera memunguti baju bajunya yang berserakan di lantai, dan membawanya keluar kamar dengan tubuh yang dia tutupi dengan selimut tanpa sepatah kata pun terucap.
"Kamu tak usah ke kantor dulu hari ini, kamu pasti masih pusing, kan ?" kata Beni keluar dari kamarnya dengan hanya menggunakan celana pendek saja, tanpa memakai atasan.
"Emh, anu,, saya, semalam, sepertinya ada yang---" otak Inayah nge blank tak bisa merangkai kata atau berpikir apapun
"Iya aku tau, kamu pasti bawah pengaruh obat, dengan siapa kamu pergi kesana semalam ?" tanya Beni lagi dengan skap yang biasa saja seolah tak pernah terjadi apa pun di antara mereka, sementara wajah Inayah kini sudah terasa panas seperti terbakar dengan warnanya yang merah menyala.
"Emh, maaf bos, apa yang terjadi di antara kita semalam ? Apa kita sudah melakukan ---?" tanya Inayah ragu ragu
"Kamu pikir, ?" Beni balik bertanya.
"Tapi bos, saya sungguh tak ingat apa yang terjadi pada kita semalam," lirih Inayah.
"Apa perlu aku ingatkan lagi sekarang, bagaimana kau menggoda ku, dan memaksaku ?" Beni tersenyum sinis.
Inayah kembali terdiam, dia sungguh jijik pada dirinya sendiri, dan lagi lagi ini ulah Adit yang menyebabkan dia menjadi seperti itu.
"Sudah lah, aku mohon lupakan saja kejadian semalam, itu semua hanya sebuah kecelakaan !" ucap Inayah, dia merasa semua sudah terlanjur, dan tak mungkin dia memutar waktu untuk kembali.
"Kau dan Liam,,,, kalian masih saling mencintai rupanya ?" sinis Beni.
"Itu sudah berlalu, kami juga sudah bercerai atas permintaan mu bukan ?"
"Cinta mu terlalu cetek, hanya demi pekerjaan di perusahaan ku kau rela bercerai dengan suami mu, !" cibir Beni.
"Anda tak tau apa yang terjadi sebenarnya, anda tak berhak menilai saya !" ketus Inayah merasa tersinggung dengan cibiran Beni.
"Aku senang mengetahui kalau Wiliam ternyata sangat mencintai mu, aku pikir dia masih mencintai Tania, pasti akan sangat mengasik kan lihat reaksi Wiliam ketika aku beri tahu kalau aku meniduri mantan istrinya yang bahkan dia saja belum pernah tidur dengan mu !" oceh Beni berhasil membuat emosi Inayah seketika muncak.
"Apa mau mu sebenarnya ?" ujar Inayah.
"Aku mau melihat lehancuran Wiliam, kehilangan cinta dan semua miliknya, membuat dia hancur sehancur hancur nya !" bentak Beni meninju meja kaca di hadapannya sampai hancur berserakan.
Darah segar mengalir di sela sela jari tangannya yang masih mengepal, matanya menyiratkan kebenciaan yang teramat dalam.
Inayah yang baru pernah melihat dan menghadapi kemarahan yang seperti itu hanya bisa diam terpaku, dia tak tau apa yang harus di lakukannya, belum lagi beribu pertanyaan hadir dalam benak nya, ada masalah apa sebenarnya antara Wiliam dan Beni yang dia tak tau, kenapa dia harus terseret di tengah tengah pusaran masalah mereka.
Hanya ada satu cara untuk mengetahui semua pangkal masalah ini, dua harus masuk ke kehidupan Beni, dengan begitu dia tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Saya akan mengantar anda ke rumah sakit untuk mengobati luka di tangan anda, bos !" Inayah memberanikan diri membuka suara.
"Tidak usah !" tolak Beni.
"Kalau begitu, dimana kotak obatnya, saya akan mengobati luka anda," Inayah sudah mulai bisa mengendalikan situasi, dia sudah bisa bersikap seperti biasa saja.
Beni diam tak menjawab pertanyaan Inayah yang menanyakan letak kotak obat.
__ADS_1
Inayah bergegas masuk lagi ke kamar yang semalam dia tempati untuk tidur, mencari tisyu, kain atau handuk kecil yang bisa dia gunakan untuk membersihkan luka Beni.
Saat membuka laci di dalam lemari pakaian yang ada di kamar yang lumayan luas itu, dia melihat ada sebuah bingkai dengan gambar seorang wanita cantik yang sedang tersenyum,
"Apa yang kau cari di sana ?" tanya Beni mengagetkan Inayah yang sedang asik melihat wajah di foto itu.
"Ah, ini saya mencari kain atau handuk kecil untuk membersihkan tangan mu," gugup Inayah sambil segera mengembalikan bingkai itu ke tempat asalnya.
"Handuk kecil di lemari itu, dan kotak obat di nakas ruang tengah," ucap Beni menunjuk lemari kecil satu pintu yang ternyata berisi beberapa handuk dan bathrobe.
Inayah segera mengambil satu lembar handuk kecil dan bergegas ke dapur mengambil tempat dan di isi air hangat.
"Kemarikan tangan mu !" Inayah duduk bersimpuh beralaskan lantai di hadapan Beni yang duduk di sofa.
Beni tak bergeming, dia hanya diam saja, tapi dengan lembut Inayah meraih tangan kanan Beni yang berlumur darah itu, dengan telaten mengeluarkan serpihan kaca yang menempel di sela sela jari tangan Beni, dan membasuhnya dengan air hangat yang dia siapkan tadi, lalu menyeka nya dengan handuk bersih.
Sesekali terdengar ringisan Beni saat luka di tangannya di tetesi obat oleh Inayah.
"Saya bukan ahli medis, takutnya infeksi atau ada pecahan kaca yang tertinggal, sebaiknya anda ke rumah sakit," saran Inayah.
"Aku tak ingin kemana mana, aku hanya ingin beristirahat di sini, kau boleh pergi jika kau mau !" ucap Beni dingin.
"Saya akan menemani anda disini, barangkali ada yang anda perlukan dan saya bisa membantu anda,"
"Tidak perlu, kau pergilah, aku ingin sendiri !" tolak Beni.
"Terserah kau saja !" kata Beni tak peduli, dia lebih memilih merebahkan tubuhnya di sofa panjang di ruang tengah apartemen nya itu dan memejamkan matanya kembali.
Inayah mulai membersihkan ruangan itu, pecahan kaca dan meja yang sudah rusak itu pun sudah dia singkirkan ke area dapur, kini dia membuka lemari pendingin yang ada di dapur, terdapat banyak sayur dan bahan makanan disana, sepertinya Beni termasuk tipe laki laki yang gemar memasak juga, atau ada orang lain di tempat ini yang biasa memasak untuk Beni ?
Inayah selesai memasak beberapa menu untuk sarapan bosnya itu, dan menghampiri Beni yang terlelap berniat untuk berpamitan dan membangunkannya agar Beni memakan sarapannya.
"Monik ! Monik !" racau Beni dalam tidurnya yang gelisah, keringat dingin bercucuran di wajah dan tubuhnya, bahkan tubuhnya yang sedari tadi tak mengenakan atasan sudah basah bermandikan keringat.
"Bos,!" panggil Inayah lirih.
"Monik, jangan tinggalkan aku !" ucap Beni dengan matanya yang masih terpejam, tangannya menangkap tangan Inayah yang mencoba mengguncang halus bahunya.
"Pak, pak Beni, saya Inayah," ucap Inayah seraya mengguncang kembali bahu Beni dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya di genggam erat Beni.
"Ah, maaf !" cicit Beni saat membuka matanya dan mendapati ternyata sosok Inayah sudah berada di depannya.
"Anda baik baik saja, bos ?" tanya Inayah seraya melepaskan tangannya dari genggaman Beni.
"Hmm," deham Beni sambil mengangguk pelan.
"Anda mengigau dan gelisah, apa anda bermimpi buruk ?" selidik Inayah.
__ADS_1
"Aku hanya kelelahan, dan banyak pikiran,!" elak Beni.
"Baiklah, saya pamit, oh iya, saya sudah membuatkan anda sarapan !" celoteh Inayah.
"Terimakasih, tapi sepertinya tak bisa ku makan !" ucap Beni datar.
"Maaf, kalau masakan saya tak sesuai selera anda, saya hanya---"
"Aku bukan tipe orang yang pemilih dalam makanan," tepis Beni.
"Lalu, kenapa anda tak mau makan masakan saya ?" tanya Inayah lagi.
"Bukan tak mau, tadi kan aku sudah bilang, tak bisa !" ucap Beni sambil mengacungkan tangan kanannya yang bebalut perban.
"Oh ! Saya akan membantu anda !" Inayah tersenyum kecil, ternyata masalah terletak pada tangan bos anehnya itu.
Ponsel Inayah berbunyi beberapa kali, saat dia sedang menyuapi Beni sarapan.
"Angkatlah dulu, siapa tahu penting !" titah Beni.
Inayah mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya yang tergeletak di meja, nama Lilis tertera di ponsel nya.
"Apa ? Dari semalam ?"
"..."
"Baik, mungkin aku akan menginap di rumah teman dulu sampai dia pergi dari kost, terimakasih Lis !" ucap Inayah mengakhiri pembicaraannya dengan Lilis yang memberi tahu nya kalau Adit mencari dan menunggunya di depan kamar kost Inayah.
Saat Inayah memeriksa ponselnya ada puluhan panggilan dari Adit dan puluhan pesan juga masuk ke ponselnya.
"Bos, apa boleh saya menginap di sini satu hari lagi saja ?!" pinta Inayah ragu ragu.
"Kenapa ?" tanya Beni cuek.
"Ada orang yang mencari cari dan menunggui saya di kost, saya tak mau menemuinya," jawab Inayah.
"Penagih hutang ?" tanya Beni lagi.
"Ish, bukan ! Tapi orang yang membawa saya ke pub kemarin,"
"Orang yang mencoba meracuni mu semalam ?" tatapan mata Beni tajam meminta jawaban.
Inayah hanya mampu mengangguk, hatinya lagi lagi mencelos kalau mengingat lagi kejadian semalam yang memalukan.
"Tinggal lah di sini, aku hanya sesekali saja datang kesini, kau boleh menempati tempat ini sesuka mu !" kata Beni sambil mengunyah makanan yang Inayah suapkan ke mulutnya.
"Terimakasih, bos. mungkin hanya satu atau dua hari saja," ucap Inayah.
__ADS_1
"Kau terlalu percaya diri, bisa saja kau akan tinggal di sini selamanya !" Beni tersenyum miring, penuh arti.