
Tania dan Wiliam kini berada di sebuah kapal di tengah laut, lama Tania memandangi wajah mantan pacarnya yang terlihat lelah, cemas.
Entah apa masalah yang sedang di hadapi pria itu sampai dia menjadi seperti ini.
"Wil, boleh aku bicara serius dengan mu ?" ucap Tania, rasa amarah yang tadinya membuat sesak dadanya tiba tiba mengendur saat melihat wajah menyedihkan Wiliam.
Wiliam menghampiri Tania yang sedang duduk di dalam perahu, sementara Wiliam asik memandangi air laut yang terlihat tenang, siang itu.
"Apa yang ingin kau bicarakan ?" lirih Wiliam yang tiba tiba saja menyandarkan kepalanya di pangkuan Tania yang hanya diam melihat tingah polah Wiliam saat itu.
"Rasanya sudah lama aku tak merasa se tenang ini, tolong ijinkan aku bersandar seperti ini sebentar saja !" lanjut Wiliam memejamkan matanya.
"Wil, ceritakan padaku, apa yang terjadi !" lirih Tania.
"Perut mu ?" Wiliam mendongak kan wajahnya memandang wajah Tania, sepertinya baru menyadari sesuatu saat tangannya meraba perut Tania yang sekarang sudah rata.
"Dia tak dapat di selamatkan karena kecelakaan itu, jujur aku sangat ingin marah dan menyalahkan mu atas kehilangan terbesar ku ini, tapi melihat mu seperti ini, sepertinya aku harus cukup berlapang dada dan menerima semuanya sebagai takdir ku, mungkin Tuhan punya rencana lain untuk ku," urai Tania seraya mengusap rambut Wiliam yang ada di pangkuannya.
Tania cukup tau bagaimana cara menghadapi Wiliam, pria itu tak akan pernah bisa di lawan atau di hadapi dengan kekerasan dan kemarahan.
"Maafkan aku, sungguh aku tak pernah bermaksud mencelakakan mu, apa lagi mencelakai anak yang ada di perut mu itu, aku terlalu panik !" kilah Wiliam.
Tania hanya menyembunyikan senyuman perihnya, terlebih saat mengingat dirinya yang di tinggalkan begitu saja oleh Wiliam dalam posisi dirinya yang sangat mengenaskan, sementara Wiliam yang berpeluang banyak dan sangat bisa menolongnya, hanya bergegas meninggalkannya, kejadian itu masih terekam jelas di ingatannya, saat itu dia tak sepenuhnya pingsan, tapi hanya sedang menahan syok dan kesakitan.
"Apa kau sudah siap bercerita tentang--- Monik ?" berat rasanya Tania menyebut nama sahabatnya yang sudah mendahuluinya pergi itu, seperti ada sebobgkah batu yang sangat besar menindih dadanya saat dia membahas tentang Monik.
"Monik,,, apa kau tau di mana dia di makam kan ?" Wiliam balik bertanya.
"Kenapa kau melakukan itu semua pada Monik ?" Tania tak bisa menahan dirinya lagi untuk bertanya dan mencari tahu.
"Semua salah mu, kalau saja hari itu aku tak melihat mu sedang bercinta bersama selingkuhan mu di kamar mu sendiri, mungkin ini semua tak akan terjadi !" ucap Wiliam mencari pembenaran atas kesalahan yang dia perbuat.
Lagi lagi Tania hanya bisa menghela napas beratnya, bisa bisa nya Wiliam melimpahkan semua kesalahan padanya, padahal jelas jelas dia yang melakukan senua kejahatan itu pada Monik.
__ADS_1
"Aku ? Kau marah padaku dan melampiaskannya pada Monik ? Tapi kenapa Monik ? Apa karena dia lemah, sehingga lebih leluasa bagi mu mengerjai dia ?" hampir saja Tania terbawa suasana, rasa marah itu terlalu memenuhi jiwa nya.
"Aku tak tau, yang aku tau hanya aku juga harus mendua seperti mu yang menduakan ku !" pekik Wiliam bangkit dari posisi rebahannya di pangkuan Tania.
"Oke, oke ! Aku salah, maaf jika saat itu aku mendua, aku tak pernah berpikir akan se besar ini efeknya, tapi sebesar apapun dan dengan gaya apa pun aku meminta maaf, ini tak akan mengembalikan keadaan menjadi baik kembali, Monik juga tak akan hidup kembali !" lirih Tania.
"Kau yang berandil cukup besar membentuk dan menjadikan ku se jahat ini !" tuduh Wiliam pada Tania, dia tetap tak ingin menyalahkan apapun pada dirinya yang telah melakukan banyak kejahatan.
"Lilis, keaa dia ? Kenapa dia tak ikut dengan mu ?" tanya Tania yang baru teringat sosok Lilis yang biasanya selalu menempel pada seorang Wiliam.
"Dia, dia sudah tiada," ucap Wiliam pelan.
"Ti- tiada bagaimana maksud mu ?" kaget Tania.
"Aku tidak sengaja membunuhnya !" pekik Wiliam putus asa.
"Apa maksud mu, bagaimana kau membunuh dan mengatakan itu tidak sengaja, kau mengerikan !" Tania mundur menjauh dari tempat Wiliam sekarang berdiri, dia merasa sudah sangat tidak mengenal Wiliam.
Wiliam yang sekarang bak jelmaan monster buas yang dengan mudahnya menghilangkan nyawa manusia dan hanya berkilah tidak sengaja,
Dorrrr,,, dorrrrr !
Dua kali suara tembakan terdengar jelas, bahkan salah satu peluru yang di muntahkan itu hampir saja mengenai bahu Wiliam jika dia tidak segera menghindar dan merunduk ke geladak kapal.
"Sial, siapa yang menembaki ku ? Apa para mafia itu tau keberadaan ku ?" gumam nya.
"What ? Mafia ? Mafia apa ? Bagaimana kau hisa terlibat mafia segala ?" omel Tania.
"Tanyakan saja pada mantan pacar mu, si Beni sialan itu, dia yang sudah membuat ku terlibat utusan dengan para mafia gila penjual organ tubuh manusia !" kesal Wiliam sambil terus dalam posisi tiarap di geladak kapal.
Setelah di rasa aman, Wiliam merangkak ke dalam perahu dan mencari cadangan senjata yang dia sembunyikan di lumbung perahu, sedangkan senjata lainnya dia sembunyikan di balik jaketnya.
Suara tembakan lagi lagi terdengar beberapa kali, sungguh suaranya sangat mengerikan di telinga Tania.
__ADS_1
Kali ini bahkan di tambah guncangan keras yang di rasakan mereka, kapal yang mereka tumpangi sepertinya menabrak sesuatu dan mengakibatkan Tania maupun Wiliam terpental jauh, dan terjatuh terpisah Tania ke sisi sebelah utara sementara Wiliam ke sebelah ujung selatan.
"Wiliam, menyerah lah atau ku bakar kapal ini agar kau terpanggang hidup hidup di sini !" teriak seseorang yang tiba tiba menerobos masuk ke dalam kapal.
Rupanya kapal yang Wiliam tumpangi tidak menabrak, namun di tabrak kapal lain dengan sengaja.
Tubuh Tania tiba tiba rasanya menggigil akibat ketakutan yang teramat sangat, dia takut jika ancaman yang di ucapkan suara pria tadi akan menjadi nyata, lawannya saat ini bukan main main, Wiliam berurusan dengan Mafia yang tak berhati yang bisa melakukan apapun demi menangkap targetnya.
Tania bersembunyi di balik kursi kemudi, menjadikan tubuh nakhoda kapal yang sudah tergeletak bersimbah darah di sana sebagai tameng nya.
Entah kapan Sang nakhoda malang itu tewas tertembak, yang jelas saat Tania terpental ke dekat kemudi, nakhoda itu sudah seperti itu keadaannya.
"Dia tidak ada di dalam sini bos !" lapor seseorang yang sepertinya salah satu anak buah si penabrak kapal.
'Tuhan,,, lagi lagi Wiliam berengsek itu meninggalkan aku sendirian, dan ini bukan main main aku di tinggal di tengah lautan di kepung para mafia penjual organ tubuh manusia !' jerit batin Tania yang saat ini sedang menangis ketakutan.
"Bos, ada orang lain di sini ! Ada seorang wanita !" teriak salah seorang pria yang menemukan keberadaan Tania yang sedang bersembunyi saat itu.
"Tidak, tidak ! Jangan ganggu aku, jangan bawa aku, aku tak tau apa apa di sini, jangan libatkan aku, aku mohon !" tangis Tania pecah, dia sungguh benar benar ketakutan.
"Siapa kau ?!" tanya segerombolannpria yang terdiri sekitar lima atau enam orang itu.
"A- aku hanya menumpang, aku hendak menyebrang !" bohong Tania.
Namun salah satu dari pria itu berbisik pada pria lainnya yang sepertinya pimpinan dari mereka.
"Katakan di mana Wiliam kalau kau ingin nyawa mu selamat !" kata pria itu.
"A- aku tidak tau, tadi dia di sini," jawab Tania yang memang tidak tau kemana Wiliam pergi.
"Kau mau bermain main dengan kami ? Cepat katakan, kalau tidak aku akan----" belum sempat pria itu menyelesaikan ucapannya, tiba tiba pria itu tergeletak dengan kepala yang bolong akibat tertembus timah panas.
Kawanan pria itu kalang kabut, tak tau dari mana peluru itu berasal, dan tak terdengar pula suara tembakan di sana, membuat semuanya bersiaga dan waspada.
__ADS_1
Tania pun segera mereka aman kan, mereka berpikir mungkin saja Tania akan bermanfaat, entah untuk di jadikan sandera, atau untuk mereka ambil organ organ tubuh vitalnya.