
Inayah lagi lagi hanya bisa terdiam mencerna kata demi kata yang di ucapkan Esih sang mantan ibu mertua jahatnya yang kini berubah menjadi lebih bersikap lembut dan manis itu.
"Bu, terimakasih ibu sudah mengakui dan menyadari kesalahan kesalahan ibu, aku sangat menghargainya," ucap Inayah menjeda ucapannya.
"Apa ibu sadar, dari tadi yang ibu ucapkan hanya pengakuan dosa, penyesalan, meminta tolong agar sepupu ku memaafkan ibu, menyampaikan keluh kesah derita ibu,,,tapi ada satu hal yang ibu lupakan untuk di sampaikan pada ku, andai ibu menyampaikan nya pada ku, mungkin aku akan berubah pikiran dan akan menolong ibu," ucap Inayah panjang lebar.
"Apa,? Ucapan apa yang kamu harapkan keluar dari mulut tua renta ini, Inayah ?" bujuk Esih.
"Ibu yakin tak melupakan sesuatu untuk di sampaikan pada ku ? Aku memberi ibu waktu untuk mengingat dan memikirkannya," kata Inayah sambil melipat kedua tangan nya di dada, matanya tak lepas memperhatikan gerak gerik Esih dengan seksama.
Esih terdiam, dia merasa kata kata yang sudah dia rangkai dan dia susun sedemikian rupa semenjak tadi siang itu, sepertinya tak ada satu pun yang terlewatkan, dia yakin bujuk rayu nya akan menggugah simpati dari Inayah yang berhati lembut dan sering tak tegaan itu.
"Ibu tidak tau,,,, sepertinya ibu sudah mengakui kesalahan ibu, dan menyampaikan penyesalan ibu pada mu, apa lagi yang kamu harapkan, bahkan ibu juga sudah berlutut di hadapan mu tadi," cicit Esih masih mengingat ingat kata apa yang terlewat dan lupa dia sampaikan.
Inayah tersenyum penuh misteri, kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri pelan.
"Sungguh keputusan yang tepat buat aku tak menolong ibu, dan aku tak akan pernah merasa menyesal tak menolong ibu meskipun aku bisa, sangat bisa dan mudah untuk melakukan itu," ucap Inayah yang nada bicaranya tiba tiba berubah sinis.
"Kenapa ?" tanya Esih memelas.
"Ibu bisa mengakui semua kesalahan, ibu bisa mengungkap rasa penyesalan ibu, tapi ibu lupa untuk meminta maaf pada ku, dari semua kata, semua kalimat yang ibu ucapkan pada ku sedari tadi, tak sekali pun ibu mengucap meminta maaf pada ku atas semua kejahatan yang pernah ibu lakukan pada ku dan juga emak. Apa kami sehina itu bagi ibu, sampai ibu tak sudi mengucap permohonan maaf sekali saja dari mulut ibu untuk kami ? Sementara, ibu menuntut sepupu ku untuk memaafkan perlakuan jahat ibu !" Emosi Inayah pun pecah, dia tak dapat menahan lagi rasa marah nya pada wanita tua di hadapannya itu.
Seberat itu kah meminta maaf, sampai tak bisa terucap dari mulut Esih yang sejak tadi berkoar kalau dirinya menyesal, merasa bersalah, tapi tak ada permohonan maaf sedikit pun yang keluar dari mulutnya, pantas saja Inayah murka.
Terkadang memang kata maaf itu seperti hal sepele, tapi memerlukan keluasan hati, dan ketulusan jiwa, serta mengesampingkan ego, untuk mengucapkannya, hanya orang orang yang berjiwa ksatria yang tak hanya menyadari kesalahan dan kehilafan mereka, tapi juga bersedia meminta maaf atas kesalahan yang telah di perbuatnya.
Esih membisu, memang tak ada sedikit pun terbersit dari awal untuk dirinya meminta maaf pada Inayah, dan itu mencerminkaan kalau tidak tulusnya semua yang dia sampaikan pada mantan menantunya itu, semua yang di ucapkannya semata demi kepentingan dan keuntungan dirinya sendiri, walau pun harus mempertaruhkan harga dirinya , yang penting bagi Esih, semua rencana dan keinginan nya terwujud.
"Maaf bu, saya banyak urusan, silahkan selesaikan masalah ibu sendiri,! Maaf, saya tidak bisa membantu orang egois seperti anda !" ucap Inayah tegas mengakhiri pembicaraannya dengan Esih sambil berlalu meninggalkan Esih yang duduk terpaku sendiri, lidahnya seakan kelu, padahal biasanya wanita itu begitu lancar melontarkan cacian dan hinaan pada Inayah, namun kini mulutnya seakan terkunci rapat.
__ADS_1
Saat Inayah baru saja membuka pintu utama dan masuk ke ruangan itu, Beni langsung memeluknya erat,,,, erat sekaali sampai Inayah merasa sesak tak bisa bernapas.
"Mas, kenapa ?" tanya Inayah.
"Kamu lulus,,,! Aku bangga pada mu, kamu sudah bisa mempertahankan harga diri mu, kamu juga sudah bisa membedakan mana ketulusan dan mana kepalsuan, kamu hebat !" puji Beni.
Rupanya dari tadi Beni tak lepas memperhatikan dan mendengarkan pembicaraan dua wanita beda generasi itu dari dalam rumah, sempat ragu pada sikap Inayah yang seakan mau memaafkan dan membantu Esih, tapi nyatanya, Inayah bisa membaca kecurangan Esih, Inayah bisa dengan cepat belajar membaca situasi, dan Beni sangat bangga dengan itu.
Mungkin sikap Beni terkesan berlebihan bagi orang lain, terlalu berlebihan Beni mengapresiasi sikap Inayah, tapi tidak untuk Beni, karena menurutnya Inayah itu sosok yang lemah, ceroboh, plin plan dan gampang di perdaya, sehingga orang lain dapat dengan mudah memanfaatkan kelemahan wanita itu, namun dengan semakin di asahnya kejelian insting Inayah, kedepannya dia akan dapat dengan mudah menghadapi lawan lawannya yang tak pernah lelah dan bosan untuk menyerang nya,
Masih Ada Tania, Lilis, dan Wiliam dan bahkan yang lainnya, yang sewaktu waktu bisa mencelakai Inayah, di saat wanita itu lengah.
"Mas, aku tidak bisa bernafas !" protes Inayah.
"Maaf, aku begitu bahagia melihat mu semakin pintar," Beni mengurai pelukannya.
"Apa aku sebodoh itu sebelumnya ?" ucap Inayah mengerucutkan bibirnya kesal.
"Ish, jelas lah aku pintar, gurunya licik !" kata Inayah.
"Eits,, siapa yang kamu maksud licik itu ?" tanya Beni menyipitkan matanya.
"Kamu !" ucap Inayah sambil berlari meninggalkan Beni yang senyam senyum sendiri.
Terkadang memang kita harus memakai cara licik untuk melawan orang orang yang jahat dan juga sama liciknya.
***
"Ibu, apa yang terjadi, kenapa ibu berkeliaran di jalanan seperti ini ?" Tanya Tania yang tak sengaja menemukan Esih berjalan di jalanan dengan pandangan mata kosong dan tampak berjalan tak tentu arah.
__ADS_1
"Maaf, maafkan saya nona, saya minta maaf jika saya berkeliaran seperti ini !" racau Esih pada Tania sambil menempelkan kedua telapak tangannya dan melipatnya di depan dada seperti sikap namaste.
"Ibu, ini ibunya Adit kan ? Ini aku Tania, kekasih Adit, aku juga mengandung cucu ibu !" Tania mencoba menyadarkan Esih yang terlihat linglung.
"Cucu ? Maafkan saya cucu !" oceh nya seperti kehilangan kesadaran nya.
Tania membimbing Esih untuk masuk ke dalam mobil nya lalu membawanya ke kontrakan milik Adit.
Di sana Ternyata sudah ada Harun yang sejak kemarin mencari keberadaan Esih sang istri, Harun semakin terpukul mendapati istrinya sudah tak bisa di ajak komunikasi, satu satunya kata yang berulang kali Esih katakan hanya maaf dan maafkan, hanya itu berulang ulang.
"Nak, apa yang terjadi pada istri saya ini, kenapa jadi begini ?" tanya Harun pada Tania yang mengantarkan Esih ke rumah itu.
"Saya tidak tau pak, saya menemukan ibu sudah dalam kondisi seperti ini di jalanan, makanya saya segera membawa nya pulang ke sini." kata Tania.
"Bu, ini Bapak, ibu kenapa bisa jadi seperti ini ?" tanya Harun.
"Bapak ? Maafkan saya pak, saya minta maaf !" lagi lagi hanya itu yang Esih katakan.
"Pak, sepertinya ibu depresi berat, sebenarnya apa yang terjadi pada ibu ?" tanya Tania.
"Ibu menjadi buronan polisi karena menganiyaya sepupu Inayah di kampung, Bapak dari kemarin yakin kalau ibu pasti bersembunyi di sini, makanya bapak menyusul kesini," terang Harun.
"Sebaiknya kita segera bawa ibu berobat sebelum penyakitnya semakin parah, kasihan bila terus di biarkan seperti ini." usul Tania.
"Terimakasih atas bantuannya, nak," ucap Harun tulus.
"Ibu adalah nenek dari bayi yang saya kandung pak, jadi bapak jangan sungkan, saya akan membantu semampu saya," kata Tania merasa iba dengan apa yang terjadi pada keluarga ayah dari bayi yang berada dalam perutnya itu.
"Terimakasih sekali lagi nak, maaf jika bapak tidak dapat mendidik Adit dengan benar sehingga membuat nak Tania harus menanggung beban ini sendirian," sesal Harun.
__ADS_1
"Pak, apa yang terjadi antara saya dan Adit bukan salah siapa siapa, karena kami melakukannya atas dasar suka sama suka tidak ada paksaan, dan saya juga tau kalau Adit akan menikah, jadi bapak tidak perlu meminta maaf pada saya, saya ikhlas dengan keadaan saya dan status saya seperti ini," urai Tania.
Harun pun merasa lega, ternyata masih ada secercah harapan untuk nya, Tania bersedia membantu dirinya dan Esih yang kini seakan kehilangan kewarasannya.