Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Chaos


__ADS_3

Meski di liputi rasa curiga pada sikap Lilis yang tiba tiba tertangkap bersama dirinya, David mencoba untuk mengikuti permainan yang wanita itu ciptakan, yang penting baginya dua bisa segera keluar dari tempat terkutuk ini.


David menghubungi anak buah di kantornya, berharap si anak buah itu menyampaikan berita ini ke kakak sepupunya, karena tak mungkin baginya menghubungi Beni dengan memakai ponsel milik Lilis.


David lebih banyak terdiam selagi menunggu bantuan datang, hatinya merasa semua ini bukan hal yang kebetulan.


***


"Sayang, apa yang terjadi, kenapa bisa jadi seperti ini ?" Beni yang baru saja datang ke tempat Istri nya dirawat setelang beberapa saat lalu ada yang mengabari keberadaan Inayah langsung memeriksa tubuh istrinya yang di beberapa bagian sudah di plester untuk menutupi luka, sedangkan kaki kirinya sudah terlihat bengkak, sepertinya keseleo karena insiden tadi.


"Aku tak apa apa mas, hanya luka luar saja, tak ada yang serius sepertinya," ucap Inayah yang menyunggingkan senyum dipaksakan agar suaminya itu tak hawatir secara berlebihan padanya.


"Aku tak akan mengijinkan mu bepergian tanpa ku lagi, ingat itu !" kesal Beni yang merasa sangat kecolongan dengan kejadian ini, dan dia tak ingin hal seperti itu terulang kembali.


"Maafkan aku, mas !" sesal Inayah yang tak mendengarkan kata kata suaminya agar tak usah mengurusi Teja.


"Nyawa ku seakan di cabut paksa dari tubuh ku saat aku tau kamu menghilang tiba tiba, aku bisa gila bila kamu benar benar menghilang dari ku, jangan lakukan itu lagi, ku mohon !" lirih Beni dengan suara terbata, tangannya merangkul erat punggung Inayah yang terduduk di ranjang pasien.


Setelah berkonsultasi dengan dokter yang menangani istrinya, Beni segera membawa Inayah pulang, bahkan penjagaan di rumah pun sekarang lebih di tingkatkan lagi, yang tadinya hanya ada satu orang penjaga rumah, kini lebih dari sepuluh orang anak buah sewaannya berjaga di sekitar kediaman Beni.


"Kau sudah mencari tau siapa di balik semua kejadian ini ?" tanya Beni pada salah seorang anak buahnya.


"Sudah bos, mereka orang orangnya Seno, kami juga sudah menangkap Seno dan beberapa anak buahnya, sekarang mereka ada di asrama !" lapor nya.


Asrama adalah sebutan bagi rumah yang sengaja di beli Beni dan di peruntukkan bagi tempat tinggal para anak buahnya, karena bentuk bangunan itu memanjang dan bersekqt mirip sebuah bangunan asrama, maka mereka menyebutnya asrama.


"Ayo kesana, kau dan aku saja, yang lain tetap berjaga di rumah, jangan sampai terjadi apa apa pada nyonya !" titahnya.


"Mas, mau kemana ?" tanya Inayah saat melihat suaminya sudahvbersiap hendak pergi.


"Emh, aku mau melihat keadaan David sebentar, katanya dia sudah kembali !" ucap Beni berbohong, dia tak mau istrinya merasa cemas.


"baiklah, hati hati dan cepat kembali ya, mas !" kata Inayah yang lalu di jawab dengan anggukan dan ciuman yang mendarat di pipi Inayah sekilas.


**


Sampai di asrama, wajah Seno dan empat orang anak buahnya sudah tak berbentuk akibat di hajar habis habisan oleh para anak buah Beni yang ikut geram, karena akibat perbuatan Seno dan kawan kawan yang berusaha menculik istri dari bosnya itu, mereka jadi mendapat amukan dari Beni.


"Katakan siapa yang menyuruh mu menculik istri ku ?" tanya Beni sambil menarik rambut Seno kasar sampai wajahnya mendongak menghadapvke arahnya.

__ADS_1


Namun Seno masihvmengunci rapat mulutnya, dia masih melindungi orang yang menyewa jasanya.


Dorrr !


Suara tembakan menggelegar membuat semua orang menoleh ke arah Seno yang menjerit kesakitan, untunglah jarak asrama dengan pemukiman penduduk sangat jauh, jadi tak mengundang banyak orang karena suara tembakan itu.


"Kaki kiri istri ku terluka karena akibat melarikan diri saat akan anak buah mu culik, dan kau harus membayarnya seribu kali lipat dari kesakitan yang dia rasakan !" Beni menarik senjatanya tang baru saja memuntahkan peluru di kaki kiri Seno dari jarak yang sangat dekat.


Seno masih bungkam meski darah segar mengalir dari betis kirinya, rasa panas dan nyeri di kakinya sungguh sangat menyiksanya.


"Katakan atau satu peluru lagi akan meluncur ke kepala mu !" Beni menempelkan ujung laras senjatanya di kepala Seno yang mulai goyah dari pendiriannya karena di landa ketakutan, Beni sepertinya sedang tidak main main atau hanya menggertaknya saja.


"Li- Lilis, dia yang menyuruh ku menculik Inayah dan adik sepupu mu itu !" ucap Seno ketakutan.


"Adik sepupu ? Dari mana kau tau kalau David adalah adik sepupu ku ?" kaget Beni tak menyangka kalau Seno tau hal itu.


"Lilis, dia yang memberi tahu ku, dia sengaja menculik istri dan adik sepupumu untuk meminta uang tebusan dari mu, lalu dia akan kabur ke luar negeri dan melimpahkan semua kesalahan pada Wiliam," terang Seno sambil terus meringis menahan sakit bekas peluru yang membolongi kaki kirinya.


"Oke, aku menghargai kejujuran mu, mungkin kalau mood ku membaik, aku akan membebaskan mu, tapi tidak sekarang !" Beni tersenyum licik.


"Bajingan kau ! Aku sudah mengatakan semuanya pada mu, cepat lepaskan aku, aku butuh ke rumah sakit !" teriak Seno memaki Beni yang meninggalkannya begitu saja setelah dia memberikan semua informasi yang di butuhkan laki laki itu.


"Biarkan saja mereka terlebih dahulu, aku akan membebaskannya kalau suasana hati ku membaik," ucap Beni.


"Lalu, luka tembak Seno ?"


"Panggilkan dokter yang biasa mengurus anak anak kalau terluka !" ucapnya enteng.


Kini tujuannya dalam waktu dekat ini hanya satu, yaitu Lilis, dia harus memberi perhitungan pada wanita iblis itu, wanita yang hampir saja mencelakai istri dan dan adik sepupunya hanya demi uang dan hidup tenang di luar negeri,


'Ohh,,,, sungguh manis impian mu jallang, aku akan mengabulkan keinginan mu itu, tunggu saja !' geram Beni dalam hatinya.


***


Wiliam tersenyum miring saat melihat Lilis yang pulang ke rumah dengan wajah tanpa dosa sama sekali, mungkin wanita itu merasa kalau Wiliam tak mungkin tau apa yang sudah dia perbuat di luar sana.


"Darimana saja kau ?" tanya Wiliam yang sudah menyambut Lilis saat dia baru saja membuka pintu utama.


Wiliam duduk di sofa ruang tamu dengan menghadap ke arah Lilis yang berusaha memasang wajah se biasa mungkin.

__ADS_1


"Aku ada kerjaan," jawab Lilis santai.


"Mengerjai orang ? Atau,,, menculik orang, lebih tepatnya ?" tanya Wiliam lagi.


"Apa maksud mu ?" Lilis berlagak tak mengerti.


Plakkk !


Satu tamparan keras mendarat di pipi Lilis yang langsung memegangi pipinya yang terasa panas dan memerah.


"Apa kau gila ?! Kenapa kau tiba tiba menamparku ?!" gertak Lilis.


"Aku sudah bilang dari awal, jangan usik Inayah, tapi kau sepertinya menantang ku !" Wiliam meremas kedua pipi Lilis hanya dengan sebelah tangannya.


"A- ampun,,, aku terpaksa, aku hanya butuh uang tebusan dari Beni karena aku sudah tak punya apa apa lagi, semua aset ku sudah habis di jual oleh mu !" urai Lilis berusaha melepaskan cengkeraman tangan Wiliam di pipi dan rahangnya.


"Kau ingin mencari keuntungan sendiri setelah kau tau perusahan ku di ambang kehancuran akibat klien fiktif yang kau sebut klien besar perusahaan Beni itu ? Kau yang memberiku usulan agar merebut klien bajingan itu, dan lihat hasilnya ? mereka menipu kita habis habisan dan kau ingin melarikan diri begitu saja ?!" Wiliam menarik rambut Lilis yang saat itu di ikat ke atas, dengan mudahnya lalu menyeret wanita itu tanpa ampun ke ruang tengah rumah.


Klien bisnis yang mereka rebut dari Beni ternyata menipu, mereka hanya perusahaan fiktif yang menjual janji manis ke perusahaannya dengan iming iming keuntungan besar.


"Dan kau tau, kau juga mengacaukan rencana ku karena kau menculik si bodoh David !" hardik Wiliam.


"Kau yang bodoh, dia hanya suruhan Beni, dia sebenarnya adik sepupu Beni, mereka hanya ingin menjebak mu !" ucap Lilis.


"Kau tak perlu menggurui ku, aku tau apa yang akan aku lakukan, tapi kau mengacaukan semua nya !"kata Wiliam.


"Ka- kau tau semua nya ?" kaget Lilis.


"Kau terlalu meremehkan ku, iblis betina !" ucap Wiliam.


"Kalian, cepat datang kesini !" panggil Wiliam pada beberapa anak buah yang kini mulai berjaga dan tinggal di rumahnya karena di rasa keadaan mulai tidak kondusif dan dia harus mulai waspada.


"Ada apa bos ?!"


"Aku tau kalian pasti kesepian dan bosan berjaga di rumah ini, ku beri mainan untuk menghangatkan malam kalian, pakai lah !" Wiliam mendorong kasar tubuh Lilis ke arah para penjaga yang dengan senang hati menangkap mangsanya.


"Wiliam, apa yang kau lakukan ?!" Lilis ketakutan.


"Aku takkan melakukan apapun, mereka yang akan melakukan nya dengan mu !" ucap Wiliam di akhiri tawa yang membuat bulu kuduk Lilis merinding karena ketakutan.

__ADS_1


"Ingat, kalian boleh pakai sesuka hati, tapi jangan sampai mati, karena dia masih bisa jadi uang. Aku yakin si Beni akan berani membayar berapapun demi menebus penculik istri tercintanya !" kata Wiliam semakin terkekeh karena merasa dirinya tetap akan mendapat untung meski dalam keadaan terjepit seperti ini.


__ADS_2