
Hari pernikahan Beni dan Inayah semakin dekat, hampir semua persiapan sudah selesai, hanya tinggal hal hal kecil yang memang persiapannya di persiapkan ketika di hari pernikahannya nanti.
Mereka pun sudah dalam masa cuti pernikahan saat ini.
"Sayang bersiaplah, aku akan mengajak mu ke suatu tempat," ucap Beni pagi itu yang sudah terlihat gagah dan rapi dengan setelan casual nya.
"Kemana ?" tanya Inayah yang tidak tau dan tidak di beri tahu sebelum nya kalau mereka akan pergi ke suatu tempat.
"Cepatlah, kita akan melakukan perjalanan lumayan jauh kali ini," ucap Beni sok misterius.
Inayah patuh dan tak banyak bertanya lagi, dia segera bersiap siap dan turun menghampiri Beni yang dengan sabar menunggunya di bawah.
Sudah sekitar dua jam perjalanan yang mereka tempuh, namun belum juga sampai di tempat tujuan mereka.
"Mas, sebenarnya kita mau kemana, kenapa belum sampai juga ?" Inayah tak bisa lagi menahan rasa ingin tahu nya.
"Tuh, kita kesana !" tunjuk Beni pada sebuah pelataran luas berwarna hijau di penuhi pepohonan yang tinggi dan rindang.
Inayah turun dari kendaraan beroda empat milik Beni itu, matanya menyapu sekeliling hamparan hijau yang luas nan asri itu.
Bukan hal yang asing bagi Inayah melihat rumput hijau dan pepohonan tinggi, yang membuat dia takjub adalah area itu sangat bersih dan tertata rapi, bahkan tinggi rumputnya pun seragam.
__ADS_1
Beni membuka bagasi mobilnya dan mengeluarkan sebuah keranjang anyaman rotan kotak berisi aneka bunga dan air mawar.
"Mas, kita---" ucap Inayah terhenti saat melihat beberapa nisan berjejer rapi setelah mereka melewati gerbang besar nan mewah itu.
"Ya, aku ingin kau berkenalan dengan ayah, ibu dan adik perempuan ku sebelum kita menikah !" ucap Beni seraya menuntun Inayah pada tiga makam yang bersampingan di bawah pohon kamboja yang sedang berbunga indah.
"Hai Ayah, ibu, hai Monik ! Aku datang membawa calon istri ku, ini namanya Inayah, kami datang menjenguk kalian dan meminta restu pada kalian, semoga kalian merestui dan ikut berbahagia bersama kami !" sapa Beni seraya mengusap ketiga nisan marmer berwarna hitam itu secara bergantian.
Inayah duduk terpaku di sebuah dudukan yang terbuat dari semen dan di lapisi marmer dengan warna dan motif yang senanda dengan marmer nisan yang letaknya tepat di samping makam, sepertinya itu di buat khusus agar orang yang berjiarah dan berdoa di sana bisa duduk dengan nyaman.
Beni sibuk menaburkan bunga dan mengucurkan air mawar yang di bawanya, sesekali Inayah membantunya dan mengusap pundak juga punggung Beni saat mata laki laki itu tak kuasa menahan bendungan air matanya yang sesekali menetes dan jatih ke tanah.
"Aku tak tau bagaimana jadinya aku bila tak bertemu kamu ! Aku sendirian di dunia ini, aku tak punya siapa siapa lagi !" ratapnya.
"Mas, kamu punya aku, punya emak, emak ku juga emak mu, mas," ucap Inayah dia selalu tak tega menyaksikan saat menyaksikan calon suami nya itu bila di yitik terendah seperti itu, rona wajahnya penuh kesedihan dan kesakitan.
"Ini makam ayah ku, yang meninggal saat aku masih berusia lima belas tahunan, saat itu, aku menjadi laki laki satu satunya sebagai tumpuan harapan ibu dan adik perempuan ku yang sangat aku sayangi,mereka berdua tujuan hidup ku, membahagiakan mereka berdua adalah obsesi ku, hidupku untuk dua wanita ini, setelah kepergian ayah ku," urai Beni mengusap nisan ibu dan Adik perempuannya lembut, seakan sedang membelai kepala mereka.
Inayah diam dan mendengarkan cerita Beni tanpa menyela, selain dia ingin tahu cerita tentang keluarga calon suaminya itu, dia juga tak ingin terhanyut dan terbawa suasana, karena tidak menutup kemungkinan penyakit depresi Beni bisa saja kambuh, jadi dia harus tetap waspada dan berjaga jaga agar emosinya dan emosi Beni tetap stabil.
Beni menghela napasnya dalam dan panjang, sebelum melanjutkan ceritanya, seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan nya sedingga sudah untuk nya bercerita.
__ADS_1
"Monik, dia Monik adik perempuan ku satu satunya, adik yang manis dan pendiam adik yang sangat aku sayangi tapi aku telah lengah dalam menjaganya, sehingga Wiliam, bajingan itu telah memperkosa dan secara tidak langsung merenggut nyawa nya,--" Beni tercekat dan mengusap airmatanya nya yang meleleh tanpa komando.
"Sungguh dia adik yang sangat baik, dia menyimpan semua yang dia alami seorang diri, dia tak ingin membuat aku dan ibu bersedih jika mendengar cerita tragis nya, gadis sekecil itu menyimpan luka dan kesakitan seorang diri, sampai akhirnya dia tak kuat dan mengakhiri hidupnya dengan meminum obat tidur dengan dosis tinggi dan jumlah yang banyak," Beni mengeluarkan sebuah buku catatan kecil berwarna biru muda dari keranjang, dan memberikannya ke tangan Inayah untuk di ambil nya.
"Aku dan ibu baru mengetahui kalau dia sedang mengandung saat autopsi jenazah di rumah sakit, dan kami menemukan buku itu di kamarnya tiga hari kemudian setelah kepergiannya, kamu bisa membacanya bagai mana Wiliam dengan keji memperlakukan adik perempuan ku !" Inayah menggenggam tangan Beni yang mulai berkeringat dengan wajah memucat.
"Sudah mas, jangan di paksakan, mereka sudah tenang di sana, mereka pasti tak mau melihat mu seperti ini !" ucap Inayah hawatir.
"Tidak ! Mereka belum tenang sebelum aku menghancurkan Wiliam, aku bahkan harus kehilangan ibu ku yang tak henti menyalahkan dirinya sendiri sampai akhir hayatnya karena tak memaksa Monik untuk ikut bersamanya, dan malah menuruti keinginan nya untuk tinggal di sini, ibu meninggal karena depresi, ibu hanya sebulan bertahan setelah kepergian Monik, dan meninggalkan aku seorang diri menanggung semua ini," lirih nya.
"Aku akan menemani mu, mas, kamu tak sendiri," ucap Inayah.
"Kenapa tak melapor kan kejahatan Wiliam, bukankah ini bisa di jadikan bukti ?" Inayah mengacungkan buku berwarna biru langit itu.
"Buku itu terlalu lemah untuk di jadikan bukti, lagi pula itu akan memberikan kesan buruk pada adik ku, bila beritanya sampai tersebar luas, meninggal karena hamil lalu bunuh diri, biarlah semua orang tahu dia meninggal karena sakit, cukup selama hidup nya saja dia menderita, tidak setelah dia meninggal." ucap Beni.
"Lalu, kenapa makam Monik hanya berupa nisan tanpa nama ?" tanya Inayah melirik pusara hitam polos dengan nisan yang tak ada tulisannya.
"Kami merahasian makam Monik, kami mengatakan kalau Monik di makam kan di luar negeri, tapi aku akan memberinya nisan yang cantik, setelah aku membalas semua setiap kesakitan dan kesedihan yang di alami adik ku karena perbuatan Wiliam, aku pastikan itu !" geramnya pada kalimat terakhir.
"Aku akan menemani mu, mendukung mu, jadilah kuat, jadi lah Beni yang selaku tangguh dan licik seperti biasanya, jangan pernah menunjukkan sisi Beni yang lemah di hadapan siapa pun, cukup aku yang tau saat saat lemah dan keterpurukan mu, karena aku akan selalu berusaha dan ada untuk membuatmu menegak kan kepala mu kembali, menumbuhkan semangat mu untuk menegakkan keadilan bagi ibu dan adik mu, aku mencintai mu, mas !" ucap Inayah sambil mengelus lembut pipi Beni yang berulang kali mengecup jemari tangan Inayah yang ada di genggamannya, sungguh dirinya merasa bangga dan tak salah pilih calon istri yang akan menemani di seumur hidupnya.
__ADS_1