
Siang itu Beni membawa Inayah memilih gaun pengantin di butik ternama ibu kota.
Persiapan untuk pernikahan yang sebentar lagi akan di laksanakan itu satu persatu sudah mulai di selesaikan, mereka di bantu oleh wedding organizer terkenal sehingga raak terlalu di repotkan dengan segala persiapannya.
"Mas, sejujurnya aku hanya ingin menikah secara sederhana saja, tak perlu membuang buang uang dengan pesta mewah seperti ini," jujur Inayah pada calon suami nya.
"Tidak, aku tak bisa menikahi mu hanya dengan cara yang biasa saja, aku ingin semuanya serba luar biasa,!" elak Beni.
"Tapi ini bukan pernikahan pertama ku, rasanya aku malu dan kasihan pada mu bila sampai orang mencibir mu yang seorang pengusaha tekenal, menikahi janda seperti ku !" cicit Inayah.
"Apa yang salah dengan mu ? Aku mencintai mu dan kamu juga mencintai ku, jadi jangan dengarkan omongan orang lain, kamu istimewa buat ku, sayang,!" ucap Beni seraya menyodorkan gaun putih berbelahan dada rendah untuk di coba Inayah di dress room.
Inayah meraih nya dan mencoba gaun pengantin yang di pilihkan Beni, lama wanita itu memandangi dirinya sendiri, dia merasa tak percaya diri saat melihat dirinya di cermin besar di hadapannya.
"Sayang, kenapa lama seka---" ucapan Beni menggantung saat membuka pintu dress room butik ternama itu.
"Sayang, kamu sekssii sekali, kamu luar biasa !" bisik Beni menutup pintu ruangan itu, ruangan berukuran dua kali dua meter yang sekeliling dindingnya di pasangi cermin itu memantulkan aura kecantikan Inayah yang membuat Beni takjub dan tak bosan memandangnya.
Beni memeluk calon istri cantiknya itu dari belakang, menyibak rambut panjang Inayah yang tergerai bebas dan menyampirkannya ke bahu sebelah kiri Inayah, sambil memandangi pantulan mereka berdua di cermin raksasa itu, Beni mulai menciumi pundak kanan mulus Inayah yang kini terbuka tak tertutup oleh rambutnya.
Inayah memejamkan matanya dan memiringkan kepalanya ke sebelah kiri, seakan memberi akses Beni untuk bermain main di area leher jenjang nya itu.
Beni menyambar bibir merah Inayah yang sedikit terbuka itu dengan penuh gairah, tangannya menyusuri belahan dada yang memperlihatkan sebagian benda penuh yang menyembul menggiurkan itu karena model depan gaun yang berbelahan dada rendah itu.
"Ah, sayang, bisakah kita percepat pernikahan kita, rasanya aku sudah tak sabar ingin menikmati semua yang ada pada diri mu ini," geram Beni yang tiba tiba bersuara serak dan pandangannya sudah berkabut gairah.
"Mas, nanti ada orang masuk kesini," lirih Inayah sedikit berbisik karena takut ada orang yang memergoki kegiatan panas mereka.
"Kamu cantik sekali, sayang !" ucap Beni sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Inayah dari belakang.
__ADS_1
Pipi Inayah merona seketika kala beradu pandang, saat mata mereka sama sama manatap ke arah cermin.
Namun lain dengan yang di rasakan Beni, tiba tiba laki laki itu merasakan panas pada tubuhnya, saat melihat dada Inayah yang hampir tumpah itu dari pantulan cermin di hadapannya.
Beni menundukkan tubuhnya dan mengusap punggung Inayah yang terbuka, Inayah menggigit bibir bawah nya sambil memejamkaan matanya sejenak menikmati sentuhan tangan lembut Beni.
"Hmmphh !" lirih Inayah saat tangan Beni mulai berani mer emas dada nya.
Dengan cekatan Beni langsung membekap mulut Inayah dengan ciumannya, sebelum des ahan keluar dari mulut wanita yang mulai ikut terbakar juga gaiarahnya.
Beni memiringkan kepalanya saat meraup bibir Inayah dan menyesapnya sehingga ciuman mereka semakin dalam.
"Hmmmm, aku bisa gila menunggu hari pernikahan kita yang lama sekali !" bisik Beni tepat di telinga Inayah, membuat wanita itu meremang seketika.
"Mas, kamu tak tau tempat !" protes Inayah.
"Aku akan menunggu mu di luar, kalau berlama lama di sini, aku bisa memakan mu !" Beni melepas pelukannya dan beranjak pergi dari ruangan sempit itu.
***
Ini hari ke tiga di mana batas waktu yang di berikan pemilik rumah baru Wiliam habis, namun sampai saat ini Wiliam belum dapat menemukan dimana keberadaan Tania dan Meli, rasanya Laki laki itu sudah memutari seluruh ibu kota dan mendatangi setiap tempat yang mungkin di jadikan tempat persembunyian kedua wanita itu, namun semua seolah sia sia, bahkan jejak kedua wanita itu pun tak bisa dia temuakan.
Wiliam memijat keningnya, rasanya dia sudah putus asa dan kehilangan cara untuk mempertahankan rumah peninggalan orang tuanya itu.
"Liam, Inayah dan Beni akan menikah minggu depan, kapan kamu menikahi ku ?" rengek Lilis mendekati Wiliam yang masih terdiam dengan menundukkan kepalanya yang terasa berat karena beban hidup dan masalahnya yang seakan tak kunjung usai terus terusan menghampiri dirinya silih berganti.
"Apa kau tak punya topik pembicaraan lain, selain menuntut ku untuk menikahi mu, huh ?!" bentak Wiliam marah.
"Tapi aku juga ingin seperti orang lain, apa lagi aku juga tak ingin kalah saing dengan janda mu itu, masa dia bisa di nikahi Beni, sedangkan aku tak kunjung kamu nikahi !?" cicit Lilis merajuk.
__ADS_1
"Ya kau mintalah di nikahi si Beni sekalian, karena aku tak akan pernah menikahi mu !" ketus Wiliam.
"Kenapa bisa begitu ?" protes Lilis tak terima dengan ucapan Wiliam.
"Tentu saja bisa, kau ini bodoh atau pura pura bodoh ? Kau tentu saja tau alasannya kenapa, itu karena sedari awal aku tak pernah mencintai mu !" ucap Wiliam yang terasa seperti sayatan sembilu di hati Lilis.
"Kau jahat !" teriak Lilis.
"Kau tau sedari awal kalau aku bukan orang baik, dan jangan lupa, kau tak lebih baik dari ku, kita sama sama bajingan !" Beni keluar dari ruangan kerjanya sambil membating pintu dengan se kencang mungkin meninggalkan Lilis yang kini berurai air mata, entah air mata untuk apa.
Bila air mata itu karena ucapan Wiliam yang mengatakan dirinya bajingan, bukannya itu memang benar adanya, bahkan dia lebih dari sekedar bajingan.
Lalu bila air mata itu karena Wiliam mengatakan tidak pernah mencintainya dan tak akan pernah menikahinya, bukan kah itu semua kenyataan yang seharusnya dia ketahui sedari awal dia memutuskan untuk berhubungan tanpa status dengan laki laki bajingan seperti Wiliam, kenapa tiba tiba sekarang seolah mereka saling mencintai dari awal jumpa.
Atau air mata nya itu bentuk dari kekesalan dirinya atas ketidak mampuan nya menyaingi Inayah yang tidak pernah merasa bersaing dengan dirinya itu.
***
Wiliam bejalan tak tentu arah sampai dia tak sadar sudah tiba di tempat yang biasa dia datangi saat dirinya merasa sedih atau gelisah.
"Hai Mon, aku dateng. Bagai mana kabar mu ? Bagai mana kabar anak kita ? Apa kalian sudah memaafkan ku ? Aku merindukan mu !" ucap Wiliam menahan perih di dadanya melihat setiap ruangan apartemen tang menyimpan sejuta kenangan tentang kebersamaannya bersama Monik kekasih gelapnya yang sudah dia sia siakan.
"Andai aku tau di mana rumah baru mu, aku sangat ingin mengunjungi kalian !" Lirih Wiliam yang memang tak tahu dimana keberadaan pusara Monik sampai saat ini, yang dia tau, Monik pergi ke luar negri menemui kakak laki laki nya yang tinggal di sana dalam keadaan berbadan dua, Monik memutuskan untuk tinggal bersama kakak nya di sana setelah Wiliam tak mau bertanggung jawab atas anak yang ada di perut wanita itu.
Terlebih Monik juga tak mau sampai sang sahabat yaitu Tania, mengetahui perihal kehamilannya yang merupakan hasil dari hubungan gelapnya dengan kekasih sahabatnya itu.
Lamunan Wiliam pun kembali ke masa itu, ke waktu beberapa tahun silam dimana kesalahan dan penyesalan terbesar itu terjadi dalam hidupnya.
Sungguh kesalahan yang tak mungkin dia lupakan seumur hidup, seandainya saja saat itu dia punya keberanian sedikit saja untuk mengakui dan menerima Monik dan anak yang ada dalam kaandungannya, mungkin saat ini mereka sedang menikmati kebahagian bertiga di apartemen itu.
__ADS_1