
POV Inayah,
Pagi itu, setelah selesai mempersiapkan sarapan untuk suami dan dirinya, Inayah segera menghampiri suaminya yang masih bersia di kamar,
"Mas, ayo sarapan, ini sudah siang !" ajak Inayah seraya membetulkan posisi dasi Beni yang sedikit miring.
"Sayang, hari ini kamu ikut dengan ku, ya ! Tidak usah ke Teja grup," rengek Beni.
"Hari ini ada konsumen lama yang akan mengambil pesanannya, aku harus menemuinya mewakili David dan mengucapkan terimakasih atas kepercayaannya pada Teja, selain menghasilkan produk yang berkualitas, aku juga ingin pelayanan yang berkualitas juga untuk konsumen agar mereka puas !" urai Inayah.
"Kenapa istriku ini semakin pintar saja dalam berbisnis, sampai sampai di kepalanya yang di pikikan hanya kepuasan konsumen, lantas bagaimana dengan kepuasan suami mu ini, hem ?" goda Beni mengecup bibir istrinya yang selalu menggemaskan itu sekilas.
"Ini hanya sementara mas, semoga saja David cepat kembali," harap Inayah tak bisa menyembunyikan rasa cemasnya karena sampai hari itu David belum juga ada kabarnya.
***
"Bye mas ! sampai jumpa saat makan siang nanti !" Inayah melepas kepergian sang suami yang berangkat terlebih dahulu ke kantor, sementara dirinya masih harus menunggu jemputan dari kantor,
Rencananya saat jam makan siang nanti, setelah dirinya selesai menemui klien nya, Inayah akan ke kantor Beni untuk makan siang bersama.
Beberapa menit kemudian mobil jemputan pun datang, setelah memastikaan semua dokumen tak ada yang tertinggal, Inayah pun segera berangkat.
Namun baru beberapa meter mobil yang di tumpanginya itu melaju, tiba tiba sebuah mobil hitam menghalangi laju kendaraannya, tiga orang laki laki berperawakan tinggi besar dengan masing masing memakai masker dan topi menyembunyikan identitas dirinya menggedor kaca pengemudi.
"Bagaimana ini bu ?" tanya sang sopir ketakutan.
Baru saj Inayah hendak berkata kalau jangan di buka, salah seorang dari mereka memecah kaca jendela sopir dengan mudahnya, entah alat apa yang mereka gunakan, yang jelas sepertinya mereka terlihat sangat ahli di bidang itu.
Dengan sekejap, mereka berhasil membuka pintu depan dan membekap sang sopir lalu membawanya keluar, dan memasukan nya ke dalam mobil mereka dengan mudahnya.
Inayah yang masih baru saja sadar dari keterkejutannya, tiba tiba monil yang di tumpanginya sudah berada di bawah kendali salah satu orang bermasker tadi.
"Siapa kamu ? Apa yang kamu inginkan ?" tanya Inayah memberanikan diri meski dirinya benar benar di liputi ketakutan yang teramat sangat.
"Bos kami hanya ingin bertemu dan berbincang dengan mu nyonya !" jawabnya.
"Bos ? Siapa bos mu itu ?"
"Nanti anda akan mengetahuinya sendiri, sekarang bersantai lah, aku tak akan menyakiti, jika anda tidak berbuat yang aneh aneh," ucapnya.
Namun bukan Inayah namanya jika dia hanya diam dan berpasrah diri saja, setelah melihat situasi sekitar dan si sopir yang sedang berkonsentrasi mengemudikan kendaraan karena jalan mulai melewati hutan dengan jalaan berkelok kelok, Inayah mengambil kesempatan itu, dia membuka pintu van yang kebetulan dia sangat tau kalau central lock mobil itu rusak jadi bisa dia buka secara manual dari sisinya.
Sungguh kerusakan yang menguntungkan, pikir Inayah, dia lebih baik mati di jalanan dari pada harus menyerah begitu saja untu tertangkap oleh penculik itu.
__ADS_1
Inayah mengatur nafasnya pelan dan mulai menghitung dalam hatinya, tepat di hitungan ke tiga, Inayah membuka pintu van dan meloncat ke luar mobil saat keadaan jalan mulai terlihat ramai pengendara, akan ada peluang baginya untuk meminta tolong jika dia keluar dari mobil itu dalam keadaan selamat, pikirnya.
Benar saja,
Tiiiit,,,,,, tiiiiit,,,,,,!
Suara klakson mobil dan motor saling bersahutan saat melihat seorang wanita melompat dari dalam mobil, beruntung nya, du bahu jalan itu di tumbuhi rumput yang tebal dan tinggi sehingga mengurangi benturan tubuh Inayah dengan bebatuan yang biasanya terdapat di pinggir jalan tepi hutan.
Sepertinya Tuhan masih memberinya kesempatan untuk menghirup udara di dunia ini.
Inayah yang melindungi kepalanya dengan kedua tangannya itu tersungkur dengan keras ke rerumputan.
Inayah mencoba bangkit, namun sayang badannya terasa sulit di gerakkan, sekejap saja beberapa orang sudah berkerumun mendekati Inayah yang masih tergeletak di bahu jalan berumput itu.
"Tolong, tolong saya ! Saya di culik !" ucap Inayah terbata, beberapa orang yang sepertinya penduduk setempat mendekati Inayah, mereka menanyakan keadaan Inayah dan membantu Inayah duduk lalu ada juga yang memberinya air mineral.
Selang beberapa menit, rasa perih di sekujur tubuh Inayah baru terasa, dia meringis kesakitan saat beberapa warga membawanya ke sebuah puskesmas yang ada di dekat tempat itu.
Sementara si penculik yang membaw maobil van milik Teja grup itu langsung tancap gas dan tak berani melihat keadaan Inayah yang sebelumnya menjadi target sasaran penculikannya yang kini telah gagal, dia tak ingin mengambil resiko untuk memutar balik mengambil targetnya, salah salah nyawanya akan berakhir di tangan massa yang menghakiminya.
Dia pasrah jika bosnya akan memarahi bahkan memecatnya, yang penting dia bisa selamat dari amukan massa.
**
"Bodoh, tolol ! Menjaga satu orang wanita saja tidak becus, lebih baik kau memakai rok saja, percuma aku membayar mu jika pekerjaan remeh seperti ini saja kau tak mampu mengerjakan !"
"Kau terlalu tolol, awas saja kalau gara gara kebodohan mu ini kita semua di bunuh bos, cepat antarkan mobil itu ke gudang, dan kau pergi sejauh mungkin sebelum polisi menemukan mu !" ucap seorang pria berang.
"Baik bos !" pria itu meninggalkan ruangan dan seorang laki laki yang berwajah masam karena anak buahnya gagal melaksanakan misi nya.
"Anak buah mu tak ada yang beres, tak berguna semua ! Percuma aku membayar mu dengan harga yang tinggi untuk semua ini !" ucap Lilis yang baru saja memasuki ruangan sebuah rumah sederhana di pinggiran kota yang jauh dari pemukiman penduduk lainnya.
"Maaf bos, ini semua di luar kendali, tapi tenang saja, paling juga Beni akan mengira kalau ini semua perbuatan Wiliam, aku juga sudah membereskan anak buahku agar segera pergi jauh untuk sementara agar tak tertangkap polisi atau pun para anak buah Beni," ucap Seno yang kini bekerja untuk Lilis.
"Lalu bagaimana dengan laki laki yang berhasil kita aman kan di markas ?" tanya Seno lagi.
"Aku harus mengganti strategi lagi, karena si jallang berhasil kabur, aku harap dia mati saat melompat dari mobil !" geram Lilis.
"Ganti strategi ?" tanya Seno mengernyitkan dahi.
"Iya cepat aku bawa aku ke markas dan ikat aku seolah olah aku tawanan mu juga !" titah Lilis.
"Tapi bos ?"
__ADS_1
"Sudah, lakukan saja, aku akan membuat seolah olah ini perbuatan Wiliam, dan ingatkan semua anak buah mu, jika sampai ada yang tertangkap, katakan itu atas perintah Wiliam !" Lilis tersenyum iblis.
"Bos, apa itu tak terlalu berbahaya, dan bukan kah Wiliam itu suami bos sendiri ?" tanya Seno merasa tak habis pikir dengan jalan pikiran Lilis.
"Aku lelah di perbudak dan di bodohi oleh si Wiliam berengsek itu, selama ini aku diam dan diam saat di perlakukan tak adil olehnya, saat hanya di jadikan boneka pemuas hasratnya, saat di peras tenaga dan materinya, sudah saatnya aku bangkit, aku akan manfaatkan permusuhan Wiliam dan Beni untuk keuntungan ku sendiri," bebernya menatap langit langit rumah nanar.
"Bos, bukannya akubtak menaruh simpati atas apa yangvsudah menimpa mu, tapi dalam hal ini aku hanya bekerja, jangan libatkan aku dalam masalah pribadi mu itu, bagi ku, siapa yang berani membayar ku, dia bos ku !" tegas Seno yang tak ingin lagi terlalu jauh masuk ke masalah rumit antara mereka.
***
"Apa, Inayah di culik ? Apa kau tau siapa pelakunya,? Wiliam terhenyak saat salah satu anak buahnya memberi informasi padanya kalau Inayah ada yang berusaha menculik.
"Menurut informasi orang kita, sepertinya komplotan Seno yang menculik bos, tapi wanita itu berhasil meloloskan diri," jawabnya.
"Seno ?" Wiliam meraba bekas luka di perutnya bekas tusukan anak buah Seno saat dulu menyelamatkan Inayah.
"Menarik, sepertinya dia gagal untuk ke dua kalinya, tapi kali ini siapa yang menyuruh cecunguk itu untuk menculik Inayah, tak mungkin Beni, kan ?" gumamnya, sebelah alisnya terangkat berbarengan dengan tarikan di sebelah bibirnya yang terkatup rapat.
"Anu, itu,,,, nyonya berada di balik semua ini, bos !" ungkapnya.
"Nyonya ? Lilis maksud mu ?!" tanya Wiliam seolah tak percaya.
Anak buah Wiliam itu mengangguk,
"Bagaimana langkah kita selanjutnya, bos ?"
"Tunggu sampai nyonya iblis itu pulang, setelah itu biar aku yang mengurusnya, akan ku tunjukan bagaimana murka iblis yang sesungguhnya," kata Wiliam geram.
***
"Auwh !!!" teriak Lilis saat Seno mendorongnya terlalu kencang ke sebuah kamar sempit seperti sebuah gudang, karena trrdapat banyak barang tak di pakai dan rusak di ruangan itu.
David yang juga berada di sana menengok ke arah Lilis yang baru saja datang dengan tangan yang terikat.
"David, sayang, aku mencari cari mu, ternyata kamu di sini, sudah dua hari kamu menghilang, aku sangat hawatir !" akting Lilis.
"Entahlah ada yang tiba tiba menyekap ku di sini, tapi aku tak tau siapa mereka," jawab David seraya membantu membukakan tali yang mengikat kedua tangan Lilis, sementaa dirinya hanya di sekap tanpa di ikat sama sekali.
"Aku sepertinya mengenali salah satu di antara mereka sering datang ke kantor Wiliam, apa mereka itu orang orang suruhan Wiliam ?" Lilis mulai melancarkan provokasi nya.
"Tapi kenapa ? Bukannya aku sudah menyetujui ajakan kerjasama nya, lalu apa masalahnya ?" tanya David.
"Mungkin kita masalahnya, Wiliam tau kalau kita berpacaran, sepertinya dia cemburu !" ucap Lilis percaya diri tingkat tinggi.
__ADS_1
"Hmm, begitu ? lantas, kita harus bagaimana ?" tanya David malas bercampur mual karena Lilis yang terlalu percaya diri dan sok merasa di perebutkan itu.
"Tenang saja, aku membawa ini !" ucap Lilis mengeluarkan ponselnya yang dia sembunyikan di saku celananya.