Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Dasar Pecundang


__ADS_3

"Canggih juga mantan istri mu yang bodoh itu, dia bisa langsung berhasil meyakinkan Beni untuk menerima mu bekerja di gudang, bau uang sudah tercium dari sini, sebentar lagi kita akan berjaya kembali, ayo semangat curi kain si Beni sebanyak banyaknya, haahahaha !" oceh Seno yang sedang duduk santai di sebuah bar dengan Adit yang baru saja menerima telpon dari Inayah bahwa dirinya sudah bisa bekerja besok pagi.


"Aku juga heran, kenapa banyak laki laki yang suka padanya, mana bos bos besar lagi, apa mereka buta atau bagaimana, secara di Jakarta ini wanita cantik, sekkssi dan modis bertebaran, malah memilih janda kampung kumal !" cibir Adit mengejek mantan istrinya sendiri.


"Kumal tapi kau kawinin, mulut mu itu !" ejek Seno yang sudah setengah mabuk menjejalka tisyu ke mulut Adit.


"Sialan kau ! Dulu di kampung dia paling cantik, makanya aku embat, setelah tau cewek cewek kota, ilfil liat dia !" Adit tak ada puasnya menjelek jelekan mantan istrinya.


"Tapi sebenernya, janda mu itu manis juga kalau sedikit di poles," goda Seno.


"Makan sana buat mu,!" ucap Adit yang juga sudah oleng karena pengaruh minuman keras yang di tenggaknya.


***


"Hai kau pegawai baru, baru saja masuk sudah terlambat, apa kau tak niat bekerja !" teguran keras itu sengaja dia tujukan kepada Adit di depan banyak orang, karena Adit datang terlambat.


"Maaf, bu !" cicit Adit yang sedang mengecek gulungan kain itu langsung tertunduk di hadapan Inayah tanpa berani mengangkat wajahnya.


Walau sebenarnya dia penasaran dengan suara wanita yang memarahainya itu, karena seperti tak asing baginya.


"Maaf, maaf ! Perusahaan tak butuh maaf mu, tapi butuh keseriusan kerja mu !" cibir Inayah.


Karena semakin penasaran, Adit memberanikan diri mengangkat wajahnya dan melihat siapa wanita yang telah berani memarahi dan mempermalukan dirinya di depan banyak orang itu.


Namun betapa terkejutnya dia saat melihat sosok wanita cantik di hadapannya itu,


"Inayah !?" cicitnya ragu,


Adit sungguh tercengang melihat perubahan drastis Inayah saat ini, wajah yang biasanya polos dan berminyak itu sekarang di poles makeup tipis natural, rambut yang biasanya di ikat atau di gulung asal itu sekarang di gerai indah, baju yang yang tak lagi kumal dan kampungan, di tambah lagi perpaduan rok mini dengan high heels yang membuat kaki Inayah terlihat jenjang dan sekkssi.


"Apa kata mu ? Tidak sopan, aku atasan mu !" bentak Inayah sambil membelalakan matanya.


"Emh, maaf bu," grogi Adit.


"Ba, bu, ba, bu, memangnya aku ibu mu,!? Apa aku setua itu kau panggil ibu ? kau saja lebih tua dari ku !" bentak Inayah, sambil berlalu meninggalkan Adit dengan wajah yang kesal namun masih penasaran dengan Inayah yang berubah sangat drastis.

__ADS_1


'Kenapa di berubah menjadi sangat cantik ? Ah, aku harus mendapatkannya kembali, kalau aku rayu sedikit, paling juga dia luluh dan terbuai dengan bujuk rayu ku, sepertinya akan sangat menggairah kan bila aku tidur bersamanya,' gumam Adit dalam hati, dengan segala pikiran kotor nya.


Sudah waktunya jam makan siang tapi pekerjaan Inayah di hari pertamanya bekerja seakan tak ada habisnya, dia masih berkutat dengan angka angka di meja kerjanya.


"Inayah, kenapa kamu masih bekerja, ini sudah waktunya makan siang, istirahat lah dulu, kamu bisa sakit kalau bekerja terlalu keras begini !"


Inayah menoleh ke arah sumber suara, lalu dia tertawa sinis.


"Hahaha,,,! Apa hari ini matahari terbit dari barat,? kenapa kau tiba tiba sok baik dan perhatian begini ?" cibir Inayah pada Adit yang kini berdiri di depan meja nya.


"Aku hanya menyesal karena pernah menyakitimu," sesal Adit,


"Pernah ? Halo,,, bukan pernah tapi selalu ! Kamu selalu menyakitiku, paham !" gertak Inayah.


"Aku minta maaf, mungkin ini semua hanya karena kesalah pahaman ku saja, padahal kamu selalu baik padaku !" drama Adit.


"Ku mohon, jangan membenci ku seperti ini, aku menyesal !" pinta Adit dengan air mata buaya yang dia paksa keluar dari sudut matanya.


"Lantas kamu ingin aku bersikap bagai mana padamu, huh?" ketus Inayah.


"Kau, masih sayang padaku ? kau menalak ku tanpa mendengar penjelasan ku, bahkan aku sampai memohon dan bersimpuh di kaki mu, lantas kau menculik ku, dan mengancam akan mencelakakan ibu ku, itu yangvkau bilang masih sayang ?!" Inayah mengurai semua kejahatan Adit padanya.


"Aku khilaf, dan untuk masalah penculikan itu,,, sebenarnya aku hanya di suruh, aku hanya di peralat saja," cicit Adit.


"Siapa yang menyuruh mu ?" tanya Inayah.


"Aku akan mengatakan nya jika kamu mau memaafkan ku," bujuk Adit lagi


"Apa sepenting itu maaf ku untuk mu ? Lagi pula aku tidak tertarik untuk mengetahui siapa yang menyuruh mu untuk menculik ku !" ketus Inayah.


"Apa kamu masih tak tertarik kalau aku bilang yang menyuruh ku menculik mu itu Tania ?!" Adit memicingkan matanya licik.


"Apa yang harus aku lakukan, agar kau mau menceritakannya pada ku ?" tantang Inayah, dia merasa tertarik dengan apa yang di ucapkan Adit padanya.


"Cukup maafkan aku, dan berbaikan lah dengan ku, bagai mana ?" Adit tersenyum iblis, merasa dirinya sudah bisa sedikit mengendalikan mantan istrinya itu.

__ADS_1


Inayah terdiam sejenak,


'Aku akan ikuti permainan mu Adit !' sinis Inayah dalam hatinya.


"Emh,,, baik, aku akan memaafkan mu," ucap Inayah seolah pasrah dan mengalah.


"Bagus, sebagai pemanasan, untuk membuktikan kalau kamu sudah memaafkan ku, ayo makan siang bersama !" ajak Adit.


"Dengan catatan kau harus mentraktir ku, kau kan akan menjadi mantu juragan tanah, pasti Neneng memberimu banyak uang !" sindir Inayah.


"Tentu saja aku yang traktir, aku laki laki sejati, masa minta di traktir wanita !" Adit membusungkan dadanya.


"Oke, kapan lagi atasan di traktir bawahan, hahaha !" tawa palsu Inayah seakan menyiratkan betapa dia sangat muak dengan sikap Adit yang percaya diri dengan begitu tingginya.


Inayah berangkat duluan menuju ke sebuah kafe di dekat kantor, dia janjian dengan Adit untuk makan siang di sana, karena Adit harus menyelesaikan laporannya terlebih dahulu.


"Inayah !" sapa Beni melambaikan tangannya saat Inayah baru masuk ke kafe itu, Beni sedangbmakan siang dengan Tania yang langsung memutat bola matanya karena jengah melihat Inayah yang malah menghampiri ke arah meja mereka.


"Hai bos !" Inayah menyapa balik Beni yang memandangnya tanpa berkedip.


"Kamu sendirian ?" tanya Beni berbasa basi, karena jelas jelas Inayah datang tanpa di dampingi siapa pun, masih juga bertanya.


"Aku janjian sama temen ku bos, tapi dia belum datang," ucap Inayah menarik salah satu kursi di meja itu meski tak di persilahkan.


"Bos mana lagi yang sedang kamu goda ?" sinis Tania.


"Bukan bos, orang biasa aja, dan tidak sedang aku goda, lebih tepatnya dia yang mengejar ngejar aku !" Inayah mengedipkan sebelah matanya meledek Tania yang bertambah kesal.


"Tak heran kalau banyak laki laki yang mengejar dan menggilai mu,!" ucap Beni genit.


"Teman ku tak jadi datang, sepertinya aku harus permisi dulu, maaf sudah mengganggu kalian berdua," pamit Inayah setelah membaca pesan masuk di ponsel nya yang di kirim oleh Adit mengatakan kalau dia tidak bisa datang ke kafe itu.


Sepertinya Adit tau kalau ada Tania disana, jadi dia mengurungkan niatnya untuk makan siang bersama Inayah di kafe itu.


"Dasar pecundang !" gumam Inayah, menertawakan Adit yang tiba tiba membatalkan makan siang mereka.

__ADS_1


__ADS_2