Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
BOOM,,,


__ADS_3

Berita pertengkaran salah satu istri pengusaha dengan anak juragan tanah di suatu desa itu menjadi headline di setiap portal berita, sepertinya tajuk berita dengan gambar Lilis dan Neneng yang sedang baku hantam itu menyedot perhatian seluruh peenikmat berita online di dalam dan luar negeri, belum lagi beberapa tamu ada yang mengabadikan pertengkaran mereka lewat video di ponselnya, dan BOOM ! dalam sekejap berita mereka menjadi tranding topik mengalahkan gosip artis yang sedang hot saat itu.


Sebenarnya saat itu Beni bisa saja mengerahkan para security hotel tempatnya mengadakan pesta untuk melerai pertikaian dua wanita yang tak tau malu itu, namun ya,,, namanya juga Beni, selama itu bisa mempermalukan dan merugikan Wiliam, tentu saja akan dia biarkan dan dia jadikan sedikit hiburan, anggap saja itu pertunjukan gratis sebagai hadiah pernikahannya.


"Mas, kamu jahat banget, masa,,, istri pengusaha besar itu di biarkan adu jotos dan jadi santapan para wartawan !" ucap Inayah sambil memandangi layar ponsel nya yang penuh dengan berita tentang pertikaian dua wanita yang berasal dari kampung halaman yang sama dengan dirinya itu.


"Tak usah memandangi layar ponsel terus, kita sedang berbulan madu, lebih baik kamu memandangi aku saja, sayang !" kata Beni merampas ponsel di tangan sang istri dan menggenggam tangannya lalu melingkarkan ke pinggang nya.


"Mas, aku tak menyangka kalau akhirnya kita menikah,dan berada di tempat se indah ini hanya berdua dengan mu !" ucap Inayah mengagumi indahnya pemandangan lautan Maldives tempat mereka berbulan madu saat ini.


Surga liburan bagi para sultan itu pemandangan alam nya memang sungguh memanjakan mata, berada di penginapan yang terapung di atas laut membuat suasana yang berbeda bagi para penikmat pesona alam yang lain dari pada yang lain.


Hamparan birunya lautan bisa di saksikan langsung dari dalam maupun luar resort yang saat ini mereka tempati.



Dua sejoli pengantin baru itu sedang duduk berdua menikmati senja dari teras resort yang langsung menghadap lautan lepas,


"Mas, kenapa kamu memilih ku ? Apa yang membuat mu jatuh cinta pada ku ?" tanya Inayah yang menyandarkan kepalanya ke bahu sang suami tampan nya itu.


"Jujur, awalnya aku hanya ingin membuat Wiliam kesal dengan cara merebut mu dari nya, namun ternyata seiring waktu aku merasakan kamu bisa membuatku tenang, dan merasakan nyaman bila di dekat mu, meski aku selalu menyangkal bila aku jatuh cinta pada mu, tapi hati ku tak bisa di bohongi, aku tak bisa bila tak bersama mu," Beni membalikan badannya ke arah Inayah yang sedang asik mendengarkan cerita nya sambil menikmati pemandangan di hadapan nya.


Beni membingkai pipi Inayah dan menatapnya dengan intens, diperhatikan nya wajah sang istri cantiknya dengan seksama, sungguh wanita cantik itu bagai sebuah anugerah terindah bagi hidupnya.

__ADS_1


"Sayang, kamu terlihat semakin cantik dan sekkssi, aku tak bisa menahan diriku bila dekat dengan mu !" ucap Beni sambil melum mat bibir Inayah yang saat ini berada di hadapannya.


Inayah memejamkan matanya dan menyambut ciuman panas suaminya, bibirnya di biarkan sedikit terbuka agar lidah Beni bisa mererobos masuk dengan leluasa ke dalam rongga mulutnya.


Darah Inayah berdesir saat Beni semakin memperluas daerah 'jajahan' nya, kini bibir laki laki itu menyapu leher jenjang istrinya, bahkan dengan cekatan kedua tangannya sudah melepaskan atasan Inayah yang saat itu mengenakan kemeja longgar tanpa bawahan sehingga kini hanya menyisakan pakaian dalam bagian bawah saja.


Beni menyeringai melihat pipi Inayah yang merona, laki laki itu lantas meraih kedua tangan Inayah dan menempelkan di dada nya yang shirtless.


"Rasakan debar jantungku, maka kamu akan tau seberapa dalam cinta ku untuk mu !" ucap Beni.


"Mas, gombal kamu !" Inayah menarik tangannya dari dada keras dan bidang suaminya itu.


Di saksikan langit senja mereka merajut cinta, saling berlomba memuaskan gairah yang selama ini tertahan.


"Memalukan ! Kenapa sikap kampungan mu itu tak bisa kau tahan sebentar saja, huh !? Lihat, semua portal berita isinya tentang kelakuan bodoh mu semua ! Apa kau mempermalukan ku ?" maki Wiliam pada Lilis saat tau ternyata berita itu berimbas pada bisnisnya.


Beberapa konsumen membatalkan pesanan mereka akibat berita buruk itu.


"Sudah lah Liam, lagi pula itu hanya orderan receh, buat apa kamu mempermasalahkan nya, bukan kah proyek besar kita masih berjalan dan baik baik saja !" rajuk Lilis, semenjak ramai beredar berita tentang dirinya yang membuat keributan di pesta pernikahan Beni dan Inayah, langkah Lilis seakan terbatas, dia tak bisa pergi ke tempat ramai sesuka hati, karena banyak orang yang akan mencemooh dan bahkan mengolok olok dirinya akibat ulah nya yang tanpa pikir panjang itu.


"Tapi aku seakan tak punya muka untuk bertemu rekan bisnis ku, kau tau kan, kalau kau sudah aku perkenalkan sebagai istri ku, seharusnya kau bisa menjaga sikap selayaknya istri pengusaha, heran,,, kenapa sikap mu kampungan sekali, jauh dari sikap elegan Inayah, padahal kalian sama sama dari daerah yang sama !" umpat Wiliam yang tanpa di sadari membawa bawa nama Inayah dalam pertengkaran mereka.


"Apa maksud mu, kenapa kamu bawa bawa nama Inayah ? Kamu banding bandingkan aku dengan wanita sial itu ? Kamu masih mencintai nya ?" nada bicara Lilis meninggi, saat Wiliam dengan terang terangan membandingkan dirinya dengan musuh bebuyutan yang paling di benci nya itu.

__ADS_1


"Bukan kah itu kenyataan, dia bisa bersikap elegan, gaya bicara yang terpelajar meski hanya lulusan SMU, tak heran dia bisa sukses memimpin Teja grup, sedangkan kau ? Menjadi asisten ku seumur hidup ?"sinis Wiliam mencabik cabik harga diri Lilis yang saat ini sedang tersulut emosinya.


"Kau keterlaluan Liam ! Aku membantu mu selama ini, tapi kamu tak pernah menghargai apa yang aku lakukan untuk mu !" pekik Lilis, dadanya terasa nyeri mendapat hinaan dan makian dari orang yang selama ini dia cintai dan selalu dia bela mati matian, semua yang di korban kan untuk Wiliam seakan tak pernah ada artinya untuk laki laki yang di cintai nya itu.


Lilis keluar kontrakan setelah menerima dan membaca sebuah pesan yang masuk ke ponselnya.


"Jangan salahkan aku jika pada akhirnya kau hidup menderita seorang diri ! Kau tak pernah menghargai orang yang berada di sisi mu, pantas saja kau selalu kehilangan orang orang yang kau sayangi !" ucap Lilis menyambar tas tangannya yang tergeletak di meja.


"Pergi ! Pergi yang jauh, dan tak usah kembali ke sini, tau apa kau tentang hidup ku !? Kau tak berguna !" teriak Wiliam sambil melemparkan sebuah asbak besar yang melayang dan mendarat tepat di pelipis Lilis yang saat itu baru saja hendak membuka pintu.


"Aawwwh !" jerit Lilis kesakitan, tangannya meraba paelipisnya yang terasa nyeri dan sedikit basah karena ternyata asbak itu merobek kulit pelipisnya.


Wiliam yang kaget karena melihat pelipis Lilis yang berdarah segera mendekat dan menghampiri Lilis yang tertegun di ambang pintu kontrakan.


"Jangan mendekat, aku akan melaporkan mu pada polisi dwngan tuduhan penganiayayaan jika kau berani maju selangkah lagi !" ancam Lilis sambil mengangkat tangan kirinya seraya menahan langkah Wiliam agar tak mendekat padanya.


"Lis, maafkan aku, aku benar benar tak bermaksud menyakiti mu, aku tidak sengaja, ini semua karena aku tak bisa mengendalikan amarah ku, tolong maafkaan aku !" gugup Wiliam, vagaimana pun jika wanita itu benar benar melaporkannya pada polisi itu akan menjadi kasus yang besar dan mencoreng nama baiknya.


Namun Lilis tak mau memperdulikan permohonan Wiliam padanya, dia tetap pergi meninggalkan kontrakan itu,dengan tangan kanan yang tetap menekan pelipisnya yang terus menerus mengeluarkan darah.


Keluar dari area rumah kontrakan milik Wiliam, sebuah mobil sport merah menyala sudah menunggu kedatangan Lilis sedari tadi.


"Sayang, lama sekali aku menunggu mu !" ucap seorang lelaki bertampang oriental berperawakan tegap menyambut kedatangan Lilis yang memasang wajah bermuram durja itu.

__ADS_1


__ADS_2