Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Apa Kau Inayah


__ADS_3

Berpisah dari Liam yang merupakan hal yang sangat di inginkan Inayah selama ini, tapi setelah hal itu dia dapatkan ternyata malah membuatnya terpuruk, karena dia justru malah merasakan cintanya pada Liam semakin besar setelah dia mendapatkan apa yang di inginkan nya, yaitu terlepas dari belenggu pernikahan paksanya dengan Liam.


Hidup seakan lagi lagi mempermainkannya, Inayah lelah, lelah menjadi baik, lelah menjadi polos, lelah menjadi wanita tak berdaya, lelah selalu mengalah, dia bertekad untuk bangkit dan membalas semua ketidak adilan yang dia terima selama ini.


Inayah merasa nasib baik tak pernah mau berpihak padanya, dia merasa marah, dengan keadaan, dengan orang orang yang selalu menyakiti nya, dan dia juga marah pada dirinya sendiri yang seakan selalu pasrah dengan keadaan.


'Ini akan di mulai dari kamu Adit, kamu yang memulai semua ini !" gumam Inayah dengan tatapan tajam penuh kebencian.


Rasa benci dan perasaan ketidak adilan atas apa yang di alami Inayah selama ini membuat sisi iblis wanita yang sudah menjanda untuk kedua kalinya itu berontak, dia bertekad harus membalas siapa pun yang menyakitinya.


***


Takk,,,, takk,,, takk


Suara stiletto heels beradu dengan ubin kantor di sepanjang koridor menuju ruang kerja Beni.


"Kau !?" ucap Tania membelalakan matanya ketika dia baru saja keluar dari ruangan Beni.


"Apa pak Beni ada di ruangannya ?" tanya seorang perempuan dengan rok ketat di atas lulut dan blouse dengan tiga kancing depan atas terbuka memperlihatkan sebagian dada sintal dan mulusnya itu, namun tidak terkesan seronok, karena syal berbahan sutra melilit elegan di leher jenjangnya sehingga kesan sekksi itu tak berkonotasi negatif bagi orang yang melihatnya.


"Emh, kau,! Mau apa kau datang kesini !?" bentak Tania.


Brak !


Pintu ruangan Beni di buka dengan kasar dari dalam.


"Tania,,, kenapa kau ribut sek----" teriakan kesal Beni seketika terhenti saat matanya menangkap sosok wanita yang sedang berdiri berhadap hadapan dengan Tania sekretaris nya.


"Inayah !?" sapanya takjub dengan perubahan penampilan wanita desa polos yang biasanya hanya memakai pakaian yang sama sekali tidak pernah fashionable itu, berubah menjadi Inayah yang berpenampilan seperti gadis gadis kota yang berpenampilan anggun dan elegan.


"Apakah saya boleh masuk, pak bos ?" tanya Inayah menatap nakal Beni yang masih terkesima dengan penampilannya saat ini.


"Ah, iya tentu saja !" ucapan Beni menjadi terbata bata.


"Kau ! Berhati hati lah dengan posisi mu saat ini !" bisik Inayah pada Tania dengan senyuman smirk nya. Lantas segera masuk ke ruangan Beni meninggalkan Tania yang menahan kekesalan.


"Aku ingin menagih janji mu bos, aku sudah bercerai dengan Wiliam, kapan aku bisa mulai bekerja lagi di sini ?" ucap Inayah, seraya duduk di sofa yang ada di ruang kerja Beni. Perkataan wanita desa ini sekarang terdengar lugas dan penuh percaya diri, jauh dari Inayah si gadis polos yang selalu mengalah dan tertindas itu.

__ADS_1


"Apa kamu benar benar Inayah ?" cicit Beni tak percaya.


"Tentu saja, bos pikir aku siapa ?" senyum Inayah.


"Ben, kau tidak bisa menggeser posisiku begitu saja, aku tak bisa terima kalau wanita ini menggantikan ku !" rengek Tania berlari ke dalam ruangan.


"Tania, apa apaan kamu ini, !" Beni menjauhkan tubuh Tania yang berusaha duduk menempel di sisinya.


"Ben, jangan macam macam, kau sudah berjanji pada ibu ku untuk bertunangan dengan ku dua bulan lagi !" tegas Tania memberi peringatan pada Beni.


'Mereka akan bertunangan ?' batin Inayah.


"Tania, jaga ucapan mu, jangan libatkan masalah pribadi di kantor !"geram Beni.


"Kalian,,, berpacaran ?" selidik Inayah.


"Ya, kami bahkan akan bertunangan dua bulan lagi, dulu kau telah mengambil Wiliam dariku, dan sekarang tak akan ku biarkan jallanng seperti mu mengambil calon tunangan ku juga !" tunjuk Tania ke wajah Inayah yang bersikap datar dan santai saja.


"Oh, selamat !"ucap Inayah tersenyum dengan cueknya.


"Awas kalau kau berani macam macam di belakangku, ingat,,, aku memegang kartu mu !" ancam Tania, meninggalkan ruangan itu dengan tatapan tidak suka pada Inayah dan tatapan tajam pada Beni.


'Rahasia apa yang mereka sembunyikan ?' batin Inayah bertanya tanya, dia merasa banyak hal yang perlu di ungkap di balik semua ini.


"Maaf !" ucap Beni.


"Tidak apa,! Bagaimana kalau begini saja, aku tak mau merusak hubungan bos dengan Tania, apalagi kalian mau bertunangan sebentar lagi, bagai mana kalau aku menerima tawaran posisi kepala gudang yang pernah bos tawarkan pada ku dulu ?" bujuk Inayah mendapatkan sedikit ide dari situasi ini.


"Kepala gudang ?" kaget Beni.


"Iya, bukannya dulu bos pernah menawarkan ku menggantikan posisi Seno,? Lagipula bukankah belum ada yang menggantikan posisi Seno saat ini ?"


"Tapi, kalau kamu bekerja di bagian gudang, kita akan jarang bertemu, ruangan kita berjauhan !" goda Beni.


"Bos,,, anda dua bulan lagi akan bertunangan looo !" Inayah memperingatkan Beni.


"Tapi,,,, !" elak Beni.

__ADS_1


"Tenanglah Bos, dari ruangan ini ke ruang kepala gudang hanya menghabiskan waktu kurang dari 15 menit berjalan kaki" cengir Inayah menggoda.


"Kamu menggemaskan, baiklah bila itu mau mu," Beni mencubit hidung Inayah.


"Oh iya, ada satu lagi permintaan ku," ucap Inayah.


"Katakan !"


"Ada teman ku dari desa yang ingin ikut bekerja disini, apa bisa dia bekerja di sini dan di tempatkan di bagian gudang biar bisa aku awasi langsung pekerjaannya ?"ucap Inayah dengan tatapan memohon.


"Jangan menatap ku seperti itu, atau aku akan menikahi mu, janda cantik ku !" bisik Beni tepat di telinga Inayah.


"Hey, dasar bos nakal ! Bagaimana, apa boleh temanku bekerja bersama ku di bagian gudang ?" Inayah menjauhkan diri dari Beni yang duduknya kini semakin menempel pada Inayah.


"Tentu saja boleh, asal kau yang memintanya aku tak akan bisa menolaknya," Wajah Beni semakin mendekat ke arah Inayah,


"Ah, terimakasih ! Kalau begitu aku permisi Bos, besok aku dan teman ku akan datang kesini dan mulai bekerja, sampai jumpa besok !" Inayah berdiri dari sofa lalu segera berpamitan pada Beni, dia tau gelagat Beni akan semakin membahayakan dirinya, bila tak cepat cepat meninggalkan ruangan itu.??


"Kenapa secepat itu, aku masih kangen" goda Beni lagi.


"Besok kita bertemu lagi, bos !" ucap Inayah, bibirnya tersenyum manis, menyembunyikan rasa muak yang memenuhi dadanya.


'Kalian para lelaki semua sama saja,! Kini giliran ku memanfaatkan mu, Bos mesum ! Dengan menggunakan kekuasaan mu, aku akan membalas dendam pada orang orang yang telah menyakitiku,' gumam Inayah dalam hatinya.


"Hey, jalllanng ! Jangan coba coba merayu calon tunangan ku kalau kau masih betah hidup di dunia ini !" ancam Tania menarik kasar lengan Inayah yang baru saja keluar dari ruangan Beni.


"Kau sudah tak mengejar ngejar kakak tiri mu lagi ?" sinis Inayah.


"Dia sudah kere, sudah aku ikhlaskan dia pada mu, ambil lah !" ucap Tania tersenyum mengejek.


"Sayangnya aku sudah bercerai dengan mantan pacar mu itu, sepertinya,,,, Beni lebih menggoda !" Inayah terbahak melihat wajah Tania yang memerah karena amarah.


"Kau ! Sialan kau !" tangan Tania melayang di udara hendak menampar Inayah, tapi sebelum tangan Tania mendarat di pipi mulus Inayah, secepat kilat Inayah menangkap tangan Tania sehingga tangan Tania menggantung di udara.


"Jangan berani menyentuh ku ! Aku akan mengembalikan semua rasa sakit yang pernah aku terima dari mu, jadi tunggulah,,,!" geram Inayah.


Sungguh kesakitan dan keterpurukan yang Inayah alami mengubah dirinya menjadi wanita yang kuat dan berani, tak ada cinta lagi dalam hatinya, semua telah berubah menjadi kebencian dan dendam.

__ADS_1


__ADS_2