Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Dinner


__ADS_3

Sudah seminggu sejak kejadian malam itu, Beni tak pernah absen menemani Inayah di Teja grup, biasanya saat jam makan siang Beni datang ke Teja grup sampai saat mereka pulang di sore hari.


"Mas, terima kasih sudah mengajari ku tentang bagaimana mengatasi pekerjaan selama ini, aku sekarang udah cukup bisa lah, menangani pekerjaan baru ini,,," ucap Inayah.


"Lalu ?" Beni menoleh ke arah tempat Inayah duduk di sampingnya di sela keseriusannya mengemudi, dia tau Inayah ingin menyampaikan sesuatu padanya di balik basa basi itu.


"Mmmh, aku takut kalau aku membebani mas Beni," lirihnya.


"Maksud mu ?" Beni makin tak enak hati dengan arah pembicaraan Inayah.


"Mas tiap hari menemani ku di Teja, apa perusahaan mas tidak apa apa di tinggalkan terus menerus, aku gak mau gara gara mas membantu ku, perusahan mas malah terbengkalai, meskipun Teja perusahaan milik mas Beni juga,!" terang Inayah ragu.


"Kamu tenang saja, tidak ada yang di rugikan dan di korbankan saat aku membantu mu, tapi kalau kamu merasa terganggu dan tak mau aku ke Teja lagi, mulai besok aku gak bakal ke sana lagi !" ucap Beni dengan nada bicara sedikit kecewa.


""Bu- bukan seperti itu mas, aku tidak merasa terganggu dengan kehadiran mas di Teja, toh itu juga perusahaan milik mas Beni, hanya saja aku tak mau mas jadi merasa repot karena membantu ku,!" Inayah jadi merasa bersalah karena sepertinya dia telah salah berucap dan membuat Beni kecewa padanya.


"Sudah lah, tak apa,,, mungkin kamu merasa tak nyaman kerja bersama ku," ucap Beni hambar.


"Tidak seperti itu,,,!" cicit Inayah lirih, dia tak tau harus berkata apa, dia yakin kalau dirinya sudah menyinggung perasaan Beni.


Padahal Inayah tak bermaksud jelek sedikit pun, dia hanya hawatir kalau pekerjaan Beni terganggu hanya karena Beni terus terusan membantu dirinya di Teja, tapi Beni sepertinya salah mengartikan katanya atau memang dirinya saja yang tak pintar menyampaikan sesuatu sehingga menimbulkan salah paham dari Beni.


"Jangan terlalu di ambil hati, aku hanya bercanda, aku malah senang kamu sekarang sudah banyak kemajuan dan semakin pintar, Inayah ku sudah tak bodoh lagi !" ucap Beni seraya mengacak pucuk rambut Inayah dengan tangan kiri nya, dan tangan kanan nya memegang kemudi.


tapi sesaat kemudian Beni dan Inayah langsung di selimuti hawa canggung dan kikuk di antara mereka, saat mereka menyadari ada kata kata rancu yang tak sengaja di ucapkan Beni tadi,


Ya, Beni tak sengaja menyebut nama Inayah dengan sebutan 'Inayah ku' entah apa maksud Beni, yang jelas sekarang mereka sama sama terdiam karena sama sama di posisi awkard.


"Kenapa kesini, mas ?" setelah lama saling diam, Inayah membuka suaranya saat Beni memarkirkan kendaraannya di depan sebuah restoran mewah, yang belum pernah Inayah kunjungi di seumur hidupnya.


"Kita makan malam di luar sekali kali," kata Beni seraya membuka pintu mobilnya, lalu memutari mobilnya itu dan membuka kan pintu untuk Inayah.


Tentu saja Inayah semakin canggung dengan perlakuan Beni padanya, dia tidak biasa di perlakukan seperti itu oleh laki laki mana pun bahkan itu Adit maupun Wiliam.


Namun di tengah mereka menikmati makan malam mewah mereka, sepasang laki laki dan perempuan yang duduk tak jauh dari meja tempat mereka berdua duduk, tiba tiba mencuri perhatian Inayah.


"Kamu lihat apa ?" tanya Beni mengikuti kemana arah pandangan mata Inayah.

__ADS_1


Inayah mengalihkan pandangannya dan kembali fokus pada makanan yang ada di hadapan nya.


"Kamu ingin menyapa mereka ?" tanya Beni tersenyum jahil setelah tau apa hal yang menarik perhatian Inayah saat ini.


"Apa sih mas,!" Inayah memutar bola matanya jengah.


"Kamu cemburu, dengan kebersamaan mereka ?" tanya Beni lagi.


"Mas !" pekik Inayah kesal.


"Habisnya kamu sampai tak berkedip melihat mantan suami mu bersama wanita lain," goda Beni.


"Aku hanya tak habis pikir, Lilis sebegitu membenciku itu ternyata hanya karena dia naksir Adit dulu, dan aku juga lebih tak habis pikir lagi bisa bisanya memutuskan untuk menikah muda dengan laki laki seperti dia !" Inayah tersenyum kecut.


"Kenapa ?"


"Tuh liat saja, kelakuannya tak pernah berubah, sudah hampir menikah dengan Neneng masih saja bermain gila dengan mantan pacar mu !" ejek Inayah membalas ledekan Beni.


"Ish, kenapa aku jadi bawa bawa sih !" kesal Beni.


"Upsss,,, maaf sepertinya aku akan mengganggu kebahagiaan kalian malam ini," ujar Tania yang seperti hantu tiba tiba hadir di antara mereka, atau karena mereka yang tak memperhatikan sekitar karena asik dengan dunia mereka berdua.


Beni menengadah, menatap menoleh ke arah wajah Tania yang berdiri di sampingnya.


"Apa yang ingin kau lakukan ?" tanya Beni ketus.


"Harusnya aku yang duduk di sini bersama mu, bukan wanita kampung itu !" tunjuk Tania pada Inayah yang duduk berhadap hadapan dengan laki laki tampan nan gagah itu.


"Saya permisi ke toilet dulu, mas !" pamit Inayah tak ingin meladeni kegilaan Tania yang mungkin saja akan menimbulkan keramaian di restoran mewah itu, dan tentu saja Inayah tak ingin merusak suasana dengan mempermalukan Beni karena pertengkaran nya dengan Tania, jadi dia memilih untuk meninggalkan wanita yang selalu menganggap nya musuh itu.


"Tapi Inayah !" Beni mencoba menahan langkah Inayah, namun usaha nya sia sia karena Inayah sudah meninggalkan nya dengan Tania yang kini duduk di samping Beni dengan rasa tak tau malu nya.


"Siapa yang mengijinkan mu untuk duduk di sana !?" bentak Beni.


"Apa sebenarnya istimewanya wanita kampung itu di mata mu ? Cantik,,, jelas lebih cantik aku, pendidikan rendah, dari kalangan bawah pula, beda dengan ku yang berpendidikan tinggi dan dari keluarga yang sederajat dengan mu," dengan bangganya Tania menyombongkan diri nya.


"Oh iya, satu lagi dia sudah menjanda sebanyak dua kali,! Apa yang kamu harapkan, berhubungan dengan wanita bekas dua orang laki laki yang meninggalkannya begitu saja, harusnya kamu berpikir seribu kali sebelum berhubungan dengan si janda dua kali itu !" nyinyir Tania.

__ADS_1


Sementara Beni hanya diam sambil melipat kedua tangannya di dada mendengarkan ocehan nyinyir wanita yang selalu merasa dirinya lebih baik dan lebih suci dari wanita mana pun di muka bumi ini.


"Sudah ? Puas ? Atau ada lagi yang ingin kau sampaikan pada ku ?" tanya Beni datar dengan pandangan membunuhnya.


"Kenapa kamu ingin membantu wanita kampung itu membalaskan dendam pada Wiliam ?" tanya Tania yang teringat dengan obrolan Beni dan Inayah tempo hari di Teja grup yang berniat menghancurkan Wiliam.


"Kenapa aku tak boleh membantunya ?" Beni balik bertanya.


"Atau kau punya masalah dengan Wiliam yang aku tak tau ? Oh,,, jangan jangan kau cemburu karena aku pernah lama menjadi pacarnya Wiliam " ucap Tania percaya diri namun terdengar konyol di telinga Beni.


"Terserah kau saja, pikirlah semau mu, simpulkan saja se bahagia mu, aku permisi !" Beni bangkit dari tempat duduknya dan menyusul Inayah yang tadi berpamitan padanya untuk ke toilet.


Inayah yang baru saja keluar dari toilet justru di kejutkan dengan Adit yang menghadang langkahnya.


"Ternyata benar gosip yang beredar selama ini, kalau kau menjual diri pada bos Beni, aku dengar kau sekarang jadi pimpinan di Teja grup ? Wah,,,wah,,, service mu pasti memuaskan si bos ya ! Tapi, aku tak penasaran karena aku dulu yang meniduri mu pertama kali, bos mu itu hanya mendapatkan bekasan ku !" oceh Adit menyulut emosi Inayah.


"Tutup mulut kotor mu itu, kalau pun ada yang ku sesali dalam sepanjang hidup ku selama dua puluh tahun ini, itu adalah menikah dengan bajingan seperti mu, aku menyesal pernah menikah dengan iblis seperti mu !" maki Inayah dengan telunjuk yang dia acungkan di depan hidung mantan suami nya itu.


"Jangan sombong, sehebat apa pun kau sekarang, secantik apa pun kau kini, ibarat barang kau hanya rongsokan, barang bekas !" ucap Adit penuh penekanan.


"Kau,,,!" suara Inayah bergetar menahan emosi dan tangisnya yang sudah bergemuruh di dada atas semua hinaan yang di lontarkan Adit untuk nya.


"Inayah, apa yang terjadi, kenapa kamu lama sekali ke toilet ?" Beni datang tepat pada waktunya.


"Siapa kau ?!" tanya Beni berpura pura tak mengenal Adit.


"Ah, saya salah satu karyawan di perusahaan bapak, kebetulan saya satu kampung dengan Inayah," ucap Adit tiba tiba bersikap manis, dia tak ingin mengambil resiko di pecat oleh Beni, dia masih belum puas menggelapkan kain dari perusahaan Beni.


"Aku tak pernah mengenal karyawan rendahan seperti mu, bukan level ku ! Tapi apa kepentingan mu berbicara dengan calon istri ku ?" tanya Beni galak, dan tak lupa dia meng klaim Inayah sebagai calon istrinya.


"Calon istri ?" beo Adit.


"Iya,! Kenapa ? Tidak ada masalah, kan ?" Beni menarik tubuh Inayah dan merangkul bahu wanita itu dari samping, seakan mengerti akan kesedihan yang di rasakan Inayah saat ini.


"Emhh,,, tidak, aku hanya mengundang nya untuk datang di pernikahan ku yang akan di laksanakan bulan depan." Adit ngeles dari ke keterkejutannya, karena dia tak menyangka kalau Beni mengatakan Inayah adalah calon istri nya.


"Kami pasti akan datang ! Pasti !" ucap Beni mengulang ucapan nya, lalu pergi meninggalkan Adit sambil terus merangkul bahu Inayah seakan tak rela melepaskan wanita itu dari dekatnya.

__ADS_1


__ADS_2