
"Beni, kemana saja kamu dua hari ini,? Tangan mu terluka, apa yang terjadi ?" heboh Tania pagi itu di depan ruang kerja Beni menyambut kedatangan bos sekaligus calon tunangannya yang selama dua hari ini tak ada kabar nya.
"Tak usah berlebihan, bukannya kau senang, aku tak masuk kerja !" sinis Beni, pagi ini mood Beni memang sangat buruk, kemarin dia harus pulang ke rumah dan meninggalkan Inayah di apartemennya sendirian.
Setelah sehari semalam menghabiskan waktu dengan Inayah, harinya terasa ada yang kurang saat dia harus kembali ke rumahnya daan tak ada Inayah yang merawat tangannya, memasakan dirinya makanan, bahkan menyuapinya.
"Apa maksud mu ? Aku menghendle semua pekerjaan mu selama dua hari ini, bagaimana bisa kamu bilang aku senang ?!" sinis Tania mengekor Beni ke dalam ruangannya.
"Panggilkan Inanyah ke sini, sekarang !" titah Beni pada Tania.
"Apa ? Kau bisa menelpon dia ke ruangannya, kenapa mesti aku harus kesana ?" tolak Tania.
"Kalau begitu telpon kan dia di ruangannya, suruh dia kesini sekarang !"
"Kenapa harus aku ?" protes Tania
"Kau sekretaris ku ! tentu saja kau harus melaksanakan apa pun tugas dari bos mu !" bentak Beni.
Tania menghentakan kakinya beberapa kali tanda dia kesal, namun tetap saja dia melaksanakan tugas yang di berikan Beni padanya.
Tiga puluh menit kemudian, Inayah datang ke ruangan Beni.
"Lama sekali kau datang kesini ?" protes Beni sambil melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Maaf bos, baru selesai mengurus barang yang keluar tadi," jawab Inayah.
"Alasan ! Dia sengaja malas malasan datang kesini pasti !" serobot Tania yang ternyata ikut masuk mengekor Inayah, dia ingin tau ada apa Beni sampai memanggil Inayah ke ruangannya.
"Siapa yang mengijinkan mu ikut masuk ke ruangan ini?" tegur Beni pada Tania.
"Tapi, aku sekretaris mu, dan aku juga calon tunangan mu !" kesal Tania.
"Baik, mulai besok Inayah yang akan menjadi sekretaris ku !"
"Kenapa bisa begitu,? kau tidak bisa seenaknya menggeserku dengan wanita ini, ingat kau pernah menyuruh ku untuk mencu----" Tania berapi api.
"Kau akan mengurus Teja grup, mulai besok Teja grup akan beroperasi kembali, itu kan yang kau mau ?" Beni memotong pembicaraan Tania.
__ADS_1
Seketika Tania tersenyum dan berhambur memeluk Beni,
"Terimakasih sayang, kamu terbaik !" ucap Tania melupakan kekesalannya seketika, dan dengan suka rela meninggalkan ruangan Beni dengan wajah yang berseri seri.
"Dasar matre !" gumam Beni.
Inayah yang sejak tadi diam menonton percakapan Beni dan Tania mulai membuka suara.
"Ada perlu apa bos memanggil saya ?" tanya Inayah.
"Kau belum mengganti perban ku !" Beni menyodorkan tangan kanannya yang masih di balut perban yang di pasangkan Inayah dua hari yang lalu.
"Kenapa tak ke rumah sakit saja, saya kan bukan tenaga medis !" cicit Inayah tak habis pikir, dirinya di panggil ke ruangan itu hanya untuk mengganti perban saja.
"Tak usah membantah, cepat lakukan, itu kotak obatnya di lemari belakang mu !" tunjuk Beni.
"Kenapa bos menyuruh Tania untuk menculik saya ?" tanya Inayah dengan nada bicara yang santai, sambil membuka perban di tangan bos nya itu.
"A- apa ? Kau bicara apa ?" Beni gelagapan mendapat pertanyaan yang di luar perkiraannya.
"Saya tau, bos dan Tania yang menjadi dalang penculikan saya beberapa bulan yang lalu," nada bicara Inayah masih santai seperti tadi.
"Apa sebenarnya permasalahan bos dengan Liam ?" tanya Inayah lagi saat sudah menyelesaikan menempel perban di tangan Beni.
"Apa peduli mu, kau ingin membela mantan suami yang masih kau cintai itu ? Harusnya kau berterima kasih karena aku sudah membuatmu bercerai dari laki laki bajingan itu !" kilat mata Beni kembali menyiratkan amarah dan kebencian.
Tak ingin insiden pemukulan meja terulang kembali, Inayah memilih mengalihkan pembicaraan, dia yakin ada kemarahan teramat besar yang tersimpan di dada Beni pada Wiliam, dan Inayah tak ingin memaksa bos nya itu menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi, biarlah waktu yang menjawab semuanya entah itu dari mulut Beni sendiri atau dari siapa pun, yang jelas Inayah yakin semua akan terbuka pada waktunya.
"Mulai besok saya jadi sekretaris bos lagi ?" tanya Inayah sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Ya, aku tak mau harus menunggu setengah jam bila membutuhkan mu !" ketus Beni.
"Apa Teja grup sekarang menjadi milik anda ?" ucap Inayah hati hati.
"Jangan mengurusi hal yang bukan urusan mu ! Kau boleh kembali ke ruangan mu, mulai besok kau menjadi sekretaris ku kembali, dan nanti sore kau pulang dengan ku !" titah Beni.
Inayah menarik napas dalam dan membuangnya kasar, sungguh Beni seorang bos yang tak dapat menerima penolakan, dia terlalu arogan dan diktator, tapi dia harus rela bersabar menghadapi semua sifat buruk Beni demi balas dendamnya dan demi membongkar misteri yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Kenapa Anda membawa saya kesini lagi ?" tanya Inayah sore itu, Beni membawanya ke apartemen nya lagi dan bukan ke tempat kost nya.
"Apa kau ingin bertemu mantan suami mu yang pertama itu, yang terus terusan menunggu di tempat kost mu?" Beni memarkirkan mobilnya di basement gedung.
"Maksud anda ?" Inayah tak menyangka kalau Beni ternyata mengetahui tentang Adit yang selalu menunggu dirinya di kost.
"Iya, dia yang membawa mu ke pub dan sekarang kerja di gudang kan ?" urai Beni menyampaikan hal hal yang dia tau.
"A- anda tau ?" gugup Inayah.
"Dia juga orang yang di bayar Tania untuk menculik mu !"
"Atas perintah anda juga kan, jangan seolah tak ikut andil dalam hal itu !" cibir Inayah.
Beni hanya cuek saja dengan cibiran Inayah, dia merasa tak bersalah melakukan hal itu, karena dia punya alasan tersendiri kenapa dia melakukan itu.
"Bos, jangan bilang anda akan tidur di sini ?" ucap Inayah setelah selesai makan malam dan jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi Beni masih berada di apartemen bersama dirinya.
"Kenapa ? Ini apartemen ku, kenapa aku tak boleh tinggal di sini ? Tenang saja aku akan tidur di sofa, kau tidur lah di kamar, kecuali kau minta aku menemani mu di kamar !" ucap Beni, di akhiri dengan tawa nya.
Unit apartemen itu memang hanya memiliki satu kamar tidur, dan tidak terlalu luas, namun menyimpan banyak kenangan yang susah untuk di lupakan bagi Beni.
"Monik,,, Monik,,,,!" Teriakan Beni mengagetkan Inayah yang memang belum bisa memejamkan mata dan ingin mengambil air minum di dapur.
Inayah menoleh ke arah sofa tempat Beni tertidur, lagi lagi dia mengigau, seperti sebelumnya keringat membasahi wajah dan baju nya.
"Pak, Pak Beni !" panggil Inayah mengguncang bahu Beni.
"Monik pergi, dia pergi !" ucap Beni terbata bata seraya memeluk Inayah yang kebingungan karena tak mengerti apa yang di maksud Beni itu.
"Ada apa ? Siapa yang pergi ?" Inayah mengusap usap punggung Beni, menenangkan bos nya itu.
Sosok Beni yang selalu galak, arogan dan diktator kini sirna, berganti dengan sosok Beni yang rapuh dan penuh kesedihan dan kepedihan mendalam yang tidak dia ungkapkan.
'Apa yang terjadi pada mu sebenarnya, kenapa sampai seperti ini? apa ini ada hubungannya dengan Liam ? Dan siapa Monik ? Hanya nama itu selalu dia ucapkan dalam gelisah nya,' monolog Inayah dalam batinnya.
Tanpa di sadari dengan sendirinya dia merasa iba dengan apa yang terjadi pada Beni yang seperti tersiksa karena menyimpan banyak beban dalam hidupnya.
__ADS_1
Inayah berjanji dalam hatinya akan membuka semua tabir rahasia yang tanpa sengaja menyeret dirinya ke dalam pusaran masalah yang tidak dia ketahui.