Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Monster Mengerikan


__ADS_3

Sepasang mata yang sudah seminggu ini terpejam tiba tiba sedikit berkedut, lalu terbuka pelan pelan, mengerjap beberapa kali dan menyesuaikan dengan cahaya ruangan yang tak terlalu terang karena gordwn jendela di ruangan itu masih tertutup.


Waktu masih menunjukkan pukul enaam pagi, jadi cahaya matahari pun belum begitu terasa terang dan hangatnya.


"Air !" lirihnya lemah.


Tania yang tertidur di sofa yang letaknya tak jauh dari ranjang terbangun dan menghampiri ke sisi ranjang.


"Wiliam, kau sudah sadar ?!" tanya Tania yang langsung mengaambil gelas berisi air putih yang berada di meja kecil sebelah ranjang pasien itu.


"Aku di mana ?" tanya Wiliam seperti linglung, matanya menyapu setiap sudut ruangan yang tak terlalu luas itu.


"Kau di tempat yang aman !" jawab Tania, seraya menyodorkan gelas dengaan sebuah sedotan agar memudahkan Wiliam meminm air.


"Aku kenapa ?" tanya Wiliam lagi, sepertinya ingatannya belum kembali sepenuhnya, masih banyak adegan adegan yang lost dari memorinya.


"Kau terluka, dan sialnya aku yang harus mengurus segala keperluanmu selama seminggu ini, kau sungguh merepotkan, tidak di kala sehat ataupun sakit seperti sekarang ini, sama saja kau memberiku kesialan tiada henti !" kesal Tania.


"Kenapa kaki kanan ku sepertinya tak bisa di gerakan ?" ringis Wiliam meraba raba kaki kanannya dengan tangan yang masih di tempeli selang infus istu.


"Sudah lah jangan banyak bergerak dan bertanya dulu, aku lelah, aku akan memanggil dokter dan memberitahukan kalau kau sudah siuman," ucap Tania, dia sendiri bingungvharus bagaimana cara menyampaikan kondisi yang di alami Wiliam saat ini pada laki laki yang pernah menjadi bagian dari perhalanan hidupnya itu.


Saat ini boro boro memikirkan nasib orang lain, memikirkan nasibnya sendiri saja dia belum bisa berdamai dengan takdirnya yang harus menjadi salah satu selir Omar, yang setiap waktu harus siap melayani hasrat pimpinan mafia itu dimanapun dan kapanpun dia mau.


Tak ada pilihan lain selain jalani saja apa yang ada di hadapannya, dari pada tubuhnya di jadikan komoditas perdagangan oleh Omar,


Tania yakin dirinya berhak hidup.


Baru saja Tania hendak membuka pintu kamar, langkahnya harus segera terhenti karena Omar dan seorang dokter sudah terlebih dahulu memutar handle pintu dan mendorongnya dari luar.


"Mau kemana ?" tanya Omar.

__ADS_1


"Tadinya aku mau memanggil dokter, mau memberitahu kan kalau pasien sudah sadar, tapi---" ujar Tania terbata.


"Kau manis sekali, masih saja malu malu berbicara dengan ku, rasanya aku ingin memakan mu di sini saja !" cengir Omar mencubit dagu Tania yang sebenarnya masih saja ketakutan jika harus berhadapan dengan Omar sang mafia kejam itu.


Wiliam melirik ke arah pintu dari tempatnya berbaring, tampak wajah pria asing sedang mengobrol dengan Tania, tampak juga seorang berjas putih menghampiri dirinya.


"Bagaimana keadaan anda ?" tanya pria yang memasang stetoskop di telinganya dan memeriksa keadaan Wiliam.


"Kepala ku agak pusing, dan kaki kanan ku tidak bisa di gerakan," jawab Wiliam menjabarkan apa yang di rasakannya saat ini.


"Itu normal, karena anda memang sengaja di tidurkan agar tidak merasa sakit berlebih," kata dokter itu.


"Apa yang terjadi dengan saya, dok?" tanya Wiliam masih terus penasaran, dirinya belum juga mendapat jawaban atas apa yang terjadi.


Dokter itu melirik ke arah Omar yang berdiri agak jauh dari ranjang tempat Wiliam berbaring, seolah meminta ijin untuk menceritakan apa yang terjadi pada pasiennya, namun Omar menggeleng tanda melarang dokter itu untuk bercerita.


Dokter itu lantas berpamitan meninggalkan ruangan, menyisakan Omar, Tania dan Wiliam yanh masih menunggu jawaban atas apa yang terjadi pada dirinya.


"Kau ingat kau melarikan diri saat anak buah ku menangkap mu ?" tanya Omar mencoba memancing.


"Anak buah mu ? Siapa kau sebenarnya? Jangan jangan kau ketua mafia yang mengejar ngejar dan berusaha menangkap ku ? Aku hanya ingat saat itu aku menceburkan diri ke laut, setelah itu aku tak ingat apa apa lagi !" urai Wiliam sedikit berusaha mengingat ingat apa yang terjadi


"Ya, benar sekali, aku pimpinan para mafia yang mengejar mu selama ini," jawab Omar


"Dan tentang keadaan mu, kaki mu terluka saat kau menceburkan diri ke lautan" beber Omar.


"Iya saat itu kaki ku sepertinya membentur sesuatu dan aku tak ingat lagi kejadian setelah itu," ucap Wiliam.


"Kaki mu putus terkena baling baling kapal, !" kata Omar santai.


"Apa ? Kau pasti berbohong, apa kau sengaja memotong kaki ku dan di jual ?!" suara Wiliam tercekat.

__ADS_1


"Siapa yang mau membeli kaki mu, kalau pun aku harus menjual organ tubuh mu, bukan kaki yang ku pilih, kau masih punya mata, ginjal, jantung, hati, itu akan lebih menguntungkan buatku !" sinis Omar.


Wiliam berusaha meraba raba kaki kanannya lagi, dan menyingkap selimut yang menutupi separuh tubuhnya, hatinya sungguh mencelos melihat pemandangan kakinya yang di perban sebatas separuh pahanya, rasanya sungguh hancur mendapati pemandangan yang sangat menyayat kalbunya itu.


Begitu tragis nasib hidupnya, kini Wiliam merasa hidupnya tak berarti lagi, dia tak tau kesialan apa yang akan di terimanya, terlebih kini dia berada di dalam sekapan para mafia penjualan organ tubuh yang sewaktu waktu bisa saja menjual bagian demi bagian tubuhnya itu tanpa belas kasihan.


"Kenapa kau selamatkan aku ? Bukan kah lebih baik jika aku mati dan kau bisa menjual bagian bagian tubuh ku ?!" tanya Wiliam putus asa.


"Oh, sungguh betapa itu sangat ingin aku lakukan, kalau saja seseorang tidak menginginkan mu untuk tetap hidup !" ujar Omar.


"Seseorang ?" beo Wiliam.


"Ya, seseorang yang adiknya kau bunuh secara tidak langsung, namun orang itu berbesar hati masih menginginkan mu untuk tetap hidup," terang Omar.


"Beni, orang itu pasti Beni, kan ?" yakin Wiliam, meski dia tak tau pasti apa maksud Beni membiarkan untuk tetap hidup saat ini.


Entah apa yang di inginkan laki laki yang adik perempuannya telah dia nodai dan sakiti itu, dengan membuarkannya tetap menjalani hidup dalam kondisinya yang kini sangat menyedihkan itu sekarang.


"Benar, Beni menyuruh ku agar membiarkan mu untuk tetap hidup, kalau aku menjadi dirinya aku mungkin sudah mencincang mu dan ku taburkan cincangan tubuh mu ke kandang macan !" umpat Omar, menatap Wiliam dengan tatapan jijiknya.


Bukan tanpa alasan Omar bersikap seperti itu, sejatinya hatinya sungguh marah dengan perlakuan Wiliam pada Monik yang di nilainya sangatlah seperti memperlakukan binatang, andai saja Beni memberinya kuasa untuk membalas semua kesakitannya, namun sayang, Beni memilih memakai caranya sendiri, dan Omar tak ingin ikut campur dalam hal itu, dia membiarkan Beni melampiaskan kemarahan dan dendamnya dengan caranya sendiri meski dia tetap memantau dari kejauhan.


"Tolong, pertemukan aku dengan Beni, ada yang sangat ingin aku sampaikan padanya, ijinkan aku bertemu dengan nya aku mohon !" Wiliam mengatupkan kedua tangannya di dada seraya memohon pada Omar.


"Aku akan berusaha menyampaikannya pada Beni, tapi aku tak akan memaksanya untuk bertemu dengan mu jika dia tak bersedia," jawab Omar.


"Tania, tolong aku, aku ingin bertemu Beni, aku harus bertemu dengan nya, aku salah, aku menyesal !" lirih Wiliam yang kini memohon pada Tania.


"Kau monster menakutkan, aku rasa tak ada seorang pun kakak di dunia ini yang bisa terima adik perempuannya di perlakukan seperti binatang, kau monster mengerikan,,, aku menyesal pernah mengenal dan pernah menjalin hubungan dengan mu, aku harap aku tak pernah bertemu dengan mu lagi di kehidupan ku yang selanjutnya,!" maki Tania dengan wajah yang memerah karena tak tahan menahan marah saat memikirkan bagaimana menderitanya Monik saat itu,


Dan kalau benar semua itu terjadi akibat saat itu dia mendua dari Wiliam, mungkin saat ini adalah penebusan dosanya pada sahabatnya itu dengan menjadi budak dari Omar.

__ADS_1


'Walau mungkin ini tak sebanding dengan apa yang kau rasakan, aku harap semua takdir ku ini bisa menjadi penebus dosa dan kesalahan ku pada mu Monik,' ucap Tania dalam batinnya.


__ADS_2