Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Rapuh


__ADS_3

Inayah masih menunggui Beni yang terlelap di sofa setelah dia menenggak obatnya,


"Mas, mas Beni, bangun dulu yuk !" panggil Inayah yang merasa sedikit panik karena Beni terlihat gelisah dan terus terusan memanggil manggil nama Monik dalam tidurnya.


Tak berapa lama Beni membuka matanya, matanya melirik jam yang menggantung di dinding,


"Sudah tengah malam, kenapa kau masih di sini menunggui ku ?" Beni mengucek matanya.


"Kamu terlihat gelisah, kamu juga terus menerus memanggil nama,,,," Inayah diam sejenak,


"Monik !" lirih Inayah takut takut.


"Hmmh, sudah lah, lebih baik kamu tidur sana ! aku baik baik saja !" Beni coba meyakinkan Inayah kalau dirinya baik baik saja.


"Mas, apa kamu tak ingin berbagi cerita dengan ku ? Apa kamu tak ingin berbagi beban dengan ku ? " lirih Inayah menatap lekat wajah Beni yang sepertinya kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya itu.


"Apa maksud mu ? Aku tidak apa apa, aku sudah biasa seperti ini dan aku baik baik saja !" tegas Beni.


"Mas, kamu tidak sedang baik baik saja ! Kamu butuh teman untuk berbagi cerita, menumpahkan kesedihan, berbagi beban, ayolah,,,, jangan menyiksa diri sendiri !" ucap Inayah dengan tatapan mata yang memohon.


"Kau ini sedang berbicara apa ?" kata Beni datar.


"Kamu mengkonsumsi obat penenang, sejak kapan ? Masalah apa yang sebenarnya membuat kamu jadi seperti ini, dan siapa itu Monik ?" cecar Inayah.


Beni menghela napasnya berat, kepalanya tertunduk dalam, pandangannya tertuju pada ubin lantai ruangan itu, dia menyembunyikan air matanya yang diam diam menetes jatuh langsung ke lantai, seperti ada kesakitan yang dia sembunyikan di hatinya.


Inayah bersimpuh di hadapan Beni yang terduduk di pinggir sofa sambil menunduk menyembunyikan tangisnya, tanpa canggung Inayah memberanikan diri mengusap bahu laki laki gagah yang sangat terlihat rapuh itu.


"Aku tidak berguna, sebagai anak laki laki satu satunya di keluarga ku, seharusnya aku melindungi ibu dan adik perempuan ku, tapi aku tidak melakukan itu," sesalnya.


Inayah sungguh merasa iba dengaan keadaan Beni yang sekarang ini, dia tau Beni butuh seseorang yang dapat berbagi beban dan kesakitan dengannya, dan Inayah ikhlas bila harus menjadi tempat Beni berbagi derita hatinya.


"Semenjak kepergian ayah ku, di saat aku dan adik ku masih kecil, aku Berjanji akan menjaga dan melindungi mereka, aku sangat dekat dengan ibu dan adik perempuan ku, aku menyayangi dan mencintai mereka, mereka tujuan hidup ku,,,," tangis Beni pecah saat Inayah memeluk tubuh laki laki tampan itu.


"Monik itu adik mu ?" tanya Inayah hati hati, yang lalu mendapatkan jawaban berupa anggukan kecil dari Beni tanpa kata kata.


"Dimana ibu dan adik mu sekarang ?" sambung Inayah.


"Sebelumnya,,, mereka se dekat nadi bagi ku, selalu menjadi bagian di setiap cerita hidup ku, tapi bajingan itu memisahkan ku dengan mereka, bahkan lebih jauh dari jarak bumi dan matahari !" Beni menumpahkan semua beban yang sepertinya sudah bertahun tahun membatu dan bersarang di hatinya.


Namun belum sempat dia menceritakan semua tentang apa yang di alaminya, tubuh Beni kembali menegang, dia memegangi kepalanya seperti sangat kesakitan,

__ADS_1


Inayah bergegas memberinya segelas air, dan meminumkannya, Beni meraih botol obatnya dan mengeluarkan beberapa butir obat ke telapak tangannya lalu meminumnya.


"Mas ! Kamu tidak bisa seperti ini, sampai kapan kamu bergantung pada benda ini, kau akan hancur bila terus terusan seperti ini !" bentak Inayah melemparkan botol obat itu sambil beruraian air mata, dia juga berusaha mengeluarkan beberapa butir obat yang baru saja Beni masukan ke mulut nya.


Tanpa perasaan jijik, jemari Inayah masuk ke dalam mulut laki laki itu dan mengeluarkan obat yang belum sempat di telan Beni.


"Stop ! Tidak usah di teruskan cerita mu, aku tak akan memaksa mu bercerita, aku akan menemani mu, dan aku juga akan selalu ada saat kamu butuhkan, jadi jangan pernah merasa sendiri, tolong jangan seperti ini !" pinta Inayah memeluk erat tubuh Beni yang mulai lemas dan hanya bisa bersandar di pelukan Inayah.


"Aku akan membantu mu melewati semua ini, aku akan menemani mu menanggung beban dan kesakitan mu !" lirih Inayah sambil mengusap usap punggung Beni lembut.


Entah sihir apa yang Inayah gunakan, perlahan Beni tertidur dalam pelukan Inayah, lelap sekali, sampai dia tak merasa terganggu saat tubuh kekar itu Inayah rebahkan di sofa dengan paha Inayah sebagai bantalan kepala Beni.


Sepanjang malam Inayah mengusap dan mengelus kepala laki laki yang terpejam tenang di pangkuannya, hatinya berdenyut sakit sekali saat mengetahui betapa beban dan kesakitan Beni sangat besar, tapi laki laki itu selalu berusaha menutupi dan menyimpan semuanya sendiri.


Meskipun Inayah belum bisa mengetahui keseluruhan ceritanya, tapi Inayah sudah bisa merasakan kepedihan nya.


Semua itu membuat Inayah berjanji dalam hatinya, kalau dia akan menemani dan mendampingi laki laki itu sampai Beni bisa kembali menjalani hidup normal dan tidak tergantung lagi pada obat obatan apapun, karena dia akan menjadikan dirinya sebagai obat penyembuh buat Beni.


Beni mengerjap ngerjapkan matanya, di liriknya jam dinding, dan jendela yang tirainya sepertinya belum sempat di tutup semalam, jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, matahari pun sudah memancarkan sinarnya menembus kaca jendela ruang tengan rumahnya.


"Ah, Inayah !?" ucap Beni yang baru tersadar ternyata semalaman dia tidur di pangkuan Inayah yang rela menjadikan kedua pahanya sebagai bantal untuk dirinya,


"Mas ?! Kamu sudah bangun ?" Inayah membuka matanya saat terasa ada pergerakan di sekitarnya, yang ternyata itu Beni yang baru saja bangkit dari tidur nya.


"Maaf, apa aku membangunkan tidur mu ?" tanya Beni canggung.


"Kamu baik baik saja, mas ?" Inayah memperhatikan wajah Beni yang sudah terlihat segar seperi biasanya, tidak pucat seperti semalam.


"Aku baik baik saja, maaf sudah merepotkan mu semalam, sebaiknya aku mandi dulu," Beni berdiri dari sofa dan hendak kembali ke kamarnya karena dia harus mandi dan bersiap siap untuk ke kantor.


"Ya ampun sudah siang,!" ujar Inayah saat dia melirik jam dinding,


Namun saat dia hendak berdiri dan menuju ke kamarnya,


"Awww,,,," Inayah merintih kesakitan setengah berteriak.


Beni yang baru saja hendak menaiki anak tangga menuju kamarnya langsung membalikkan badannya dan berlari menuju ruang tengah dimana Inayah menjerit kesakitan.


"Ada apa ?!" panik Beni saat mendapati Inayah terdusuk di lantai.


"Kaki ku kram,!" ringis Inayah menahan sakit.

__ADS_1


Beni membopong tubuh Inayah mendudukannya di sofa dengan menaikan kedua kakinya agar berselonjor.


"Maaf, ini pasti gara gara semalaman aku tidur di paha mu, maaf !" ucap Beni merasa bersalah dan tak enak hati.


"Tidak, tidak,, aku kadang memang sering seperti ini, kok !" tepis Inayah agar Beni tak merasa bersalah padanya.


"Aku akan menelpon kantorku dan juga Teja, kita akan berangkat sedikit siang hari ini, kau istirahat lah dulu !" ucap Beni lalu memainkan ponselnya dan menghibungi sekretaris nya dan juga Teja grup untuk memberi tahu kalau mereka akan berangkat telat, sebagai pimpinan perusahaan dia tetap tak bisa seenaknya karena kadang adaa tamu atau kolega bisnis yang datang ke kantor, kasihan bila mereka harus menunggu bila dia tak memberi tahu perihal keterlambatannya.


"Aku sudah baikan, aku akan ke kamar ku dan bersiap siap !" ucap Inayah.


Tanpa di duga Beni mencondongkan badannya dan menggendong tubuh mungil Inayah,


"Aku akan mengantarkan mu ke kamar mu, aku tak mau kalau harus mengurusmu jika sampai kamu terpeleset di tangga !" ucap Beni.


"Aku baik baik saja, kaki ku sudah tidak sakit, aku bisa berjalan sendiri," ronta Inayah.


"Diam, atau kita berdua akan jatuh dari tangga ini !" kata Beni datar sambil memandang tajam wajah Inayah yang kini berada dekat dengan wajahnya karena wanita itu berada di pangkuannya.


Inayah pun terdiam pasrah, wajahnya pun terasa panas dan memerah karena merasa malu.


"Tubuh mu ini ringan sekali, apa kau tak pernah makan ?" oceh Beni di sepanjang jalan.


Beni menurunkan Inayah tepat di depan pintu kamar wanita cantik yang tiba tiba menjadi pendiam pagi itu.


Kejutan tak sampai di situ, saat dirinya sudah bersiap dan turun dari kamarnya, Beni sudah menunggunya di meja makan dengan sarapan yang sudah tersedia di meja,


"Kamu yang memasak semua nya ?" tanya Inayah kaget, karena baru kali ini dia melihat seorang Beni di dapur bergelut dengan peralatan masak, laki laki itu tiba tiba seribu kali lebih sekkssi di mata Inayah, biasanya dia yang menyiapkan sarapan dan makan malam untuk mereka, karena makan siang mereka biasanya di kantor.


"Hmm ! Apa kamu terpukau dengan kemampuan ku yang satu ini ?" goda Beni sudah mulai percaya diri seperti biasanya.


"Kita lihat, apa rasanya sebaik tampilannya !" cengir Inayah, hatinya menghangat saat melihat Beni kembali ceria.


"Jangan sampai ketagihan, karena aku tak memasak untuk sembarang orang,!" ucap Beni seraya membuka apron yang di pakai nya dan menggaantungkannya di cantolan yang terletak sebelah lemari pendingin makanan.


"Istri mu kelak akan beruntung, karena memiliki suami yang pintar bekerja dan pintar memasak makanan se enak ini !" ucap Inayah dengan mulut yang di penuhi makanan.


"Tentu saja, hanya wanita beruntung yang bisa menjadi istri ku !" kata Beni dengan nada tengil seperti biasanya.


Inayah hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat dan mendengar kesombongan Beni yang sudah biasa dia dengar dari mulut laki laki itu, dan Inayah tak pernah menganggapnya serius.


Pagi yang hangat, semoga ini menjadi awal yang baik untuk mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2