
"Apa laki laki berengsek itu menyakiti mu ?" tanya Beni pada Inayah yang masih terdiam karena menahan tangisnya.
Inayah lalu menggelengkan kepalanya pelan,
"Tidak," ucapnya singkat.
"Hmmhh,,, baik lah kalau kamu tak mau mencerita kannya pada ku, aku juga sebenarnya sudah mendengar nya langsung tadi," Beni menggiring Inayah ke parkiran restoran dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Menangislah ! Kau boleh menangis tapi hanya di hadapan ku, dan kau harus tetap terlihat kuat di hadapan musuh musuh mu," Beni merentangkan tangan kirinya menyambut hangat tubuh Inayah yang berhambur menyembunyikan wajahnya di pelukan laki laki yang mengaku ngaku kalau dirinya calon suami Inayah itu pada Adit.
Inayah menumpahkan segala kesakitan dan kesedihannya di pelukan hangat Beni, betapa hinaan Adit sungguh melukai harga dirinya, menyakiti hatinya dengan kejam,
Ada kalanya Inayah pun berada di titik lemah seperti sekarang ini, meski dia sudah berjanji akan menjadi wanita kuat dan membalas semua orang orang yang menjahatinya, namun Inayah juga hanyalah seorang manusia biasa yang juga bisa terluka hatinya.
Beruntung bagi Inayah saat ini ada pundak yang dengan sukarela di jadikan tempat nya bersandar dan menumpahkan segala keluh kesah dan melepaskan kesedihannya dengan menangis sepuas hatinya, tanpa takut ada yang melihatnya.
Keberadaan dan kehadiran Beni di hidupnya memberikan arti tersendiri buat Inayah, laki laki itu meski terkesan dingin, dan terkadang menyebalkan, tapi dia berhasil membuat Inayah merasa menjadi sosok wanita yang kuat dan tidak mudah di tindas oleh siapa pun.
"Sepertinya bidikan kita selanjutnya dalam waktu dekat ini si Adit dulu, aku akan membantu mu membuat laki laki itu dan keluarganya menyesal pernah hidup di dunia ini," geram Beni mengetatkan rahangnya.
"Terimakasih !" ucap Inayah mengurai pelukannya.
"Aku belum melakukan apa pun pada mantan suami mu itu, terima kasih untuk apa ?" bengong Beni.
"Terima kasih sudah mengizinkan aku menangis di sini !" tunjuk Inayah pada dada Beni.
"Hmm, tapi sampai di rumah kamu harus mencuci kemeja ku, ini baju favorit ku, dan kini kamu membasahinya dengan ingus dan air mata mu !" oceh Beni melirik bagian dada kemeja yang di kenakannya dan sudah basah karena air mata.
"Maaf !" cicit Inayah.
Beni tersenyum lalu meraih tissu yang terdapat di dashboard mobilnya lalu mengusapkan nya ke kedua pipi Inayah yang masih saja berlinang air mata.
__ADS_1
"Masih ingin menangis ?" tanya Beni menatap wajah Inayah dalam.
Inayah menggeleng, dan mengelap sendiri pipi nya dari lelehan air mata yang seakan tak pernah ingin berhenti meluncur dari pelupuk matanya tanpa permisi.
"Baik lah, kamu ingin kita langsung pulang, atau kamu ingin kita kemana dulu ?" Beni mulai menghidupkan mesin mobil nya, setelah di rasa keadaan emosi Inayah sudah mulai stabil.
"Aku lapar !" ucap Inayah pelan, sambil memegangi perutnya, tadi dia baru sempat memakan beberapa sendok makanan saja di restoran mewah itu.
Membuat Damar tersenyum geli karena wanita itu sempat sempatnya memikirkan perutnya yang lapar di saat keadaan se sedih itu.
"Aku akan memasak makanan buat mu di rumah,!" kata Beni masih tertawa geli.
***
"Liam, ini serifikat sawah dan kebun ku di kampung, ada sertifikat rumah ku juga, walau pun mungkin tidak seberapa jika di gadai, tapi setidaknya hanya ini yang bisa aku bantu untuk mu," kata Lilis menyerahkan surat surat tanah dan rumah miliknya pada Wiliam untuk di gadai kan sebagai tambahan modal perusahaan baru Wiliam yang akan mendapat proyek besar.
"Tak apa, aku berterima kasih kamu mau membantu ku," Wiliam menerima beberapa map yang di sodorkan Lilis padanya.
"Iya, tenang saja, sebentar lagi perusahaan ku bahkan akan menyaingi perusahaan milik Beni," cengir Wiliam seakan tak percaya kalau dia akhirnya bisa bangkit dari keterpurukannya karena harus kehilangan Teja.
"Bagus lah, aku juga ingin menunjukkan pada si Inayah bahwa aku juga bisa sukses dan melebihi dia, aku berharap Beni mencampakkan nya dan wanita itu kembali menjadi gembel di kampung !" geram Lilis yang di sambut dengan pelukan dan ciuman hangat Wiliam yang mendarat di pipi serta bibir wanita itu.
"Tenang saja, perusahaan kita akan merajai dunia per textile an di Indonesia bahkan mancanegara !" ucap Wiliam dengan penuh rasa percaya diri.
Perusahaan Wiliam maju pesat hasil dari merebut proyek proyek perusahaan Beni, dan entah mengapa Beni tak pernah mengusik atau bahkan mempermasalahkan itu, dia malah terkesan hanya membiarkan nya saja.
"Mas, kemarin aku bertemu dengan beberapa pemilik garmen yang biasa mengambil kain di perusahaan mu, mereka sekarang mengambil kain di perusahaan Wiliam," adu Inayah pada Beni di sela sarapannya pagi itu.
"Aku tau," ucap nya santai.
"Kok mas santai gitu, sih ! Kain yang mereka jual kwalitas dan jenis kainnya sama persis dengan produk kain perusahaan milik mas Beni," heran Inayah yang melihat Beni seperti tak tertarik dan tak mempermasalahkan hal itu.
__ADS_1
"biarkan saja, aku sudah bilang, bidikan kita sat ini Adit terlebih dahulu, untuk yang lain, biarkan mereka bersenang senang dahulu sebelum mereka menangisi kehancurannya, sukur sukur mereka tidak menjadi gila nanti !" ucap Beni di akhiri dengan tawa nya.
"Mas minggu depan Adit menikah," ujar Inayah sambil membereskan piring bekas mereka makan.
"Bukannya masih tiga minggu lagi ?" timpal Beni.
"Entah lah, sepertinya di percepat, kemarin sore aku baru dapat undangan nya, kamu juga di undang lhoo !" seloroh Inayah.
"Mereka terlalu tidak sabaran untuk mengisi nasib buruk mereka,!" cengir Beni.
"Apa yang akan kamu lakukan pada mereka mas ?" tanya Inayah melirik wajah Beni yang tersenyum miring.
"Kenapa ? Aku hanya akan mengembalikan setiap luka yang mereka berikan pada mu," kata Beni.
Namun kata kata Beni itu ternyata telah menyentuh hati Inayah yang langsung meneteskan air mata nya haru, Beni melakukan banyak hal untuk nya, tapi dia tak pernah merasa membantu apa pun untuk laki laki itu, Beni terlalu tertutup tentang hidupnya, sehingga sangat sulit bagi Inayah untuk masuk ke dalam kehidupan laki laki itu meski mereka tinggal serumah dan sering menghabiskan waktu bersama.
Sepertinya, bagi Beni kehidupan pribadinya adalah suatu hal yang hanya bisa di akses oleh dirinya saja dan tak ingin melibatkan siapa pun ke dalam dunia nya.
"Kenapa kamu malah menangis ?" kaget Beni yang langsung menghampiri Inayah, meski wanita itu langsung memalingkan wajahnya dan menyembunyikan air matanya dari tatapan menyelidik Beni padanya.
"Tidak, aku tidak menangis, mata ku hanya terasa perih, sepertinya ada sesuatu yang masuk ke mata ku," elak Inayah, mengusap kedua pipinya terburu buru dan kasar
"Akhir akhir ini kamu terlalu cengeng ! Tak baik buat mu, kamu harus tetap kuat !" ucap Beni, mengerti kalau Inayah sedang berbohong dan tak ingin menunjuuk kan kesedihannya.
Inayah mengatur nafasnya dan mencoba untuk berbicara baik baik dengan lakinlaki yang selalu terkesan misterius namun akhir akhir ini sering mampir di pikirannya itu.
"Apa kita akan pergi bersama ke sana ?" tanya Inayah lagi.
"Tidak, kamu pergi duluan saja, kamu harus bersenang senang dahulu di sana, membalas semua perlakuan mereka pada mu di hari kebahagiaan mereka, dan aku pasti akan menyusul mu, setelah nya," jawab Beni.
"Terimakasih, mas !" ucap Inayah tulus.
__ADS_1