Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Mendadak Nikah


__ADS_3

Liam dan Inayah hanya saling diam di dalam kamar itu,


"Tidurlah, aku akan menonton tivi di sofa" ucap Liam yang melihat Inayah masih agak canggung dan kikuk karena harus sekamar dengan Liam.


Baru saja Inayah menaikan kakinya ke ranjang, hendak merebahkan diri, tiba tiba terdengar suara gaduh dari luar dan pintu kamar mereka di ketuk keras dari luar.


Inayah ketakutan sampai bersembunyi di balik selimut, sementara Liam langsung membuka pintu dari dalam.


Terlihat beberapa orang pria berseragam seperti aparat dan beberapa orang lagi memakai pakaian sipil.


"Maaf, pemeriksaan rutin, kami dari keamanan setempat, bisa kami periksa kamarnya" ucap salah seorang yang memakai seragam seperti petugas keamanan itu melongok ke arah dalam kamar, dan dua orang lain menerobos masuk ke dalam.


"Ada perempuan di sini,!" kata salah seorang yang masuk dan memeriksa ke dalam kamar menunjuk Inayah yang ketakutan di atas kasur.


"Mana kartu identitas kalian ? Apa kalian sudah menikah ?" tanya seorang bapak bapak yang wajahnya agak menyeramkan, mengintimidasi.


"Kami kemalaman dan ban motor kami bocor, jadi kami menginap disini, tapi kami tidak ber buat apa apa" ucap Inayah takut takut.


"Alasan klasik ! kalian berbuat mesum disini, kalian ikut kami ke kantor, bawa mereka !" titah laki laki itu memerintahkan beberapa anak buahnya.


"Kami akan di bawa kemana, kantor apa? Kami tidak berbuat apa apa !" Inayah berontak dari cekalan dua orang yang membawanya.


"Liam, katakan pada mereka, kita tidak sedang berbuat apa apa di sini !" teriak Inayah yang kesal karena Liam seakan pasrah begitu saja mengikuti keinginan para petugas yang entah petugas apa, mereka tidak menyebutkan dari instansi mana mereka bekerja.


"Diam, tidak usah banyak bicara dan bertanya, kamu itu sudah salah, malah sok sok an nyolot," hardik pria itu dan berhasil membuat Inayah terdiam seribu bahasa karena takut.


Liam dan Inayah di bawa ke sebuah bangunan seperti vila, di sana sudah ada beberapa orang yang seperti menunggu kedatangan mereka.


"Kalian sudah berbuat mesum di wilayah kami, kalian harus kami nikahkan" ucap laki laki yang sedang menunggu di ruangan itu.


"Apa, menikah ? Tidak, tidak, aku masih punya orangtua, aku harus mengabari ibu ku, ini tidak benar" ronta Inayah.


"Kalau kau menolak pernikahan ini, maka foto foto kalian sedang dalam sebuah kamar berduaan akan kami sebar, dan aku kirim ke ibu mu juga, biar ibu mu jantungan !" ancam laki laki yang menyeret Inayah.

__ADS_1


"Liam, tolong katakan pada mereka, kita tidak sedang berbuat apa apa, aku tidak bisa seperti ini" Inayah melirik ke arah Liam yang tertunduk, tak berani menatap wajah Inayah yang memohon pertolongan darinya.


"Jangan banyak bicara, cepat kalian duduk di sini, penghulu sudah menunggu, atau kau ingin ibu mu jantungan di desa karena mendapati foto anaknya sedang berduaan di kamar dengan seorang laki laki?" bentak pria itu lagi.


Inayah terisak dan mengikuti apa yang di perintahkan orang orang itu, dia ketakutan, apalagi kalau sampai ibunya tau hal ini.


Entahlah antara polos dan bego sungguh tak bisa di bedakan, yang jelas Inayah saat ini tak bisa berpikir panjang selain mengikuti arahan mereka.


Proses ijab kabul di bawah ancaman dan tekanan di antara Liam dan Inayah pun selesai di laksanakan, beberapa foto dan video di ambil sebagai bukti sah nya pernikahan mereka.


Sungguh ini bagai mimpi bagi Inayah, dalam semalam dia menjadi istri Liam karena paksaan.


"Kalian boleh pergi, semua sudah selesai" ucap Liam pada orang orang yang berada di ruangan itu.


"Baik bos !" jawab mereka, lalu meninggalkan Liam dan Inayah berdua di vila itu


"Bos ?" beo Inayah


"Maafkan aku," lirih Liam.


"Maaf, aku sungguh terpaksa melakukan semua ini, tapi aku janji, walau kita sudah menikah, aku tak akan melakukan apapun padamu," sesal Liam.


"Tapi kenapa,? Apa salahku ? Ada apa dengan semua ini ?" tanya Inayah di sela tangis kepedihannya.


"Kamu tidak salah, aku yang salah, maaf" lirih Liam.


"Maaf sudah melibatkan mu dalam masalah ku," sesal Liam.


"Apa aku punya salah pada mu ? Atau karena aku wanita kampung yang bodoh dan polos sehingga kamu manfaatkan ?" cicit Inayah.


"Bukan, bukan seperti itu, ini murni kesalahan ku, aku minta maaf"


"Tapi kenapa harus aku ?" tanya Inayah.

__ADS_1


"Entah lah kata hati ku mengatakan kalau kamu orang yang tepat untuk membantu ku" sungguh penjelasan yang tak masuk akal.


"Boleh aku tau apa yang terjadi sebenarnya ?" tanya Inayah lagi.


"Aku dan Tania berpacaran semenjak SMU, kemudian setelah ibu ku meninggal, ayahku menikah dengan seorang janda yang ternyata ibu dari Tania, tanpa sepengetahuan ku, saat ayah dan ibu tiri ku mengetahui kalau anak mereka ternyata sepasang kekasih, mereka marah dan tak setuju dengan hubungan kami yang statusnya sudah menjadi kakak dan adik, walaupun hanya tiri" urai Liam.


"Lalu, apa hubungannya dengan menikahi ku ?" cecar Inayah.


"Aku sudah berusaha memberi penjelasan pada Tania kalau hubungan kami tidak mungkin di lanjutkan, bahkan puncaknya aku sampai keluar dari rumah agar aku bisa benar benar lepas dari Tania, tapi dia masih belum bisa menerima keputusan ku, dia masih mengharapkan ku,"


"Berarti kamu menikahiku dengan cara seperti ini hanya agar Tania menjauhi mu?" potong Inayah.


"Maaf, aku terpaksa seperti ini, beberapa bulan yang lalu, orang orang kepercayaan ayah ku mengatakan kalau pabrik dalam keadaan kacau dan di ambang kebangkrutan, aku harus kembali ke rumah dan mengurus pabrik ayah, dengan membawa dan memperkenalkan mu sebagai istri ku, Tania tak akan terus terusan berharap pada hubungan yang tak mungkin ini, dan ayah ku akan tenang karena aku sudah bisa membuktikan kalau aku tidak lagi berhubungan dengan Tania" jelas Liam panjang lebar.


"Kenapa kamu tega berbuat ini pada ku?" lirih Inayah masih tak bisa menerima di perlakukan seperti itu oleh Liam.


"Satu tahun, paling lambat satu tahun setelah aku menstabilkan pabrik, aku akan melepaskan mu, tolong aku, aku mohon bantu aku, maaf kalau caraku harus seperti ini, aku janji tak akan berbuat lebih pada mu, kita hanya pura pura saja, walau pernikahan kita sah secara agama" mohon Liam mengiba.


"Aku tak punya pilihan lain, toh semua sudah terjadi, mungkin ini nasib ku, aku sudah pernah bilang pada mu kan, kalau nasib pernikahan ku tak pernah beruntung" hembus Inayah menghela nafas panjang, dia mencoba berdamai dengan keadaan dan kenyataan pahit hidupnya, 2 kali pernikahan yang benar benar bukan yang di harapkan nya.


"Kamu sudah menjadi istriku, kamu tidak usah bekerja menjadi buruh lagi, aku akan membiayai mu kuliah,"


"Apa itu sebagai bayaran ku karena mau menjadi istri pura pura mu ?" sinis Inayah.


"Tidak, bukan seperti itu, aku hanya ingin kamu mewujudkan cita cita mu" tepis Liam


"Aku sudah tidak punya cita cita apapun, selain membahagiakan emak ku di kampung," ucap Inayah.


"Maka dari itu, kamu harus kuliah dan sukses, agar ibu mu bangga,"


"Terimakasih, tapi aku tidak menjual diri ku, kalaupun aku harus sukses, itu atas jerih payah dan usahaku sendiri," tegas Inayah.


"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu, aku tidak---" Liam merasa salah berucap.

__ADS_1


"Sudah lah, tidak usah terus terusan meminta maaf padaku, kenyataannya kita sudah menikah, aku akan membantu mu dan menjalani ini dengan ikhlas, ini semua sudah Tuhan, sudah menjadi garis nasib ku, aku hanya perlu mengikuti jalan takdir ku dengan ikhlas." Inayah tersenyum getir.


Sungguh ucapan Inayah bagai tamparan keras bagi Liam, dia sudah dengan tega melibatkan wanita polos tak berdosa itu ke dalam masalah rumitnya, betapa egois dirinya, tapi semua sudah terjadi, menyesal pun tak ada guna, dia hanya berharap, kelak Inayah sudi memaafkannya.


__ADS_2