
Liam tak tenang menunggu pesan selanjutnya dari si penculik yang di tengarai sepertinya itu adalah Adit, mantan suami Inayah.
Tring,,,
satu pesan masuk ke ponsel nya, Liam segera membuka pesan itu,
"Siapkan Uang 2 milyar, bawa ke gudang kosong belakang pabrik, kalau tidak,,, istri mu tinggal nama" begitu isi pesan yang di terima Liam, lengkap dengan foto Inayah yang di ikat tangan dan kaki nya ke kursi, dan mulut juga tangannya yang di tutup lakban.
"Siapkan anggota, dan bergerak ke tempat yang di tulis di pesan si penculik !" perintah salah satu kapten polisi yang memimpin pencarian Inayah.
Liam memang sengaja tetap melaporkan kejadian penculikan Inayah pada polisi karena tak ingin gegabah dalam melakukan penyelamatan istrinya itu, dia berpikir, polisi akan lebih tau apq yang harus mereka lakukan.
Liam menyiapkan koper berisi uang ke tempat yang di sebutkan si penculik, dengan di ikuti secara diam diam oleh beberapa orang polisi yang menyamar di belakangnya.
"Aku sudah di sini !" teriak Liam saat sampai di ambang pintu gudang kosong di belakang pabrik.
"Sial, kenapa yang datang malah si tukang ojek itu,! Kalian urus semuanya, aku akan membawa sandra kita ke luar, habisi tukang ojek itu !" perintah Adit pada tiga orang yang membantu kejahatannnya.
Adit membuka ikatan kaki Inayah dan membawanya pergi dari ruangan pengap itu.
"Suami mu tak mencintai mu, dia lebih mencintai uang nya dari pada kamu, hanya tukang ojek bodoh Itu yang datang sok pahlawan, ucapkan selamat tinggal pada tukang ojek itu karena sebentar lagi dia akan di habiisi oleh tiga orang temanku disana,hahaha !"cibir Adit sambil terbahak.
'Tidak, tukang ojek ? Apa maksud Adit itu adalah Liam ?' batin Inayah, dia tak bisa berkata apapun karena mulut nya yang di tutup lakban.
"Sial, dari mana tukang ojek itu tau keberadaan mu, mengacaukan saja !" ucap Adit yang terdengar bodoh, karena tak tahu kalau yang dia sebut tukang ojek itu adalah memang Wiliam yang sedang dia tunggu tunggu kedatangannya dan membawakannya uang yang dia minta.
Sementara di dalam ruangan pengap gedung tak terpakai itu, Liam dan beberapa polisi berhasil melumpuhkan dua orang teman Adit yang di tugaskan untuk menghabisi Liam, meski Adit harus terkena serangan pisau salah satu penyerangnya, dan satu orang lainnya berhasil meloloskan diri lalu dia menghubungi Adit.
"Apa, si tukang ojek itu membawa polisi ? Sialan,,, baik, aku akan pergi secepatnya !" geram Adit, dia melepaskan Inayah begitu saja lalu pergi menyelamatkan diri dari kejaran polisi yang mungkin saja bisa menemukannya jika dia tak cepat cepat pergi.
__ADS_1
Inayah di temukan oleh salah satu polisi yang mengejar Adit, lalu Inayah di selamatkan segera, sementara Liam yang terkena tusukan d pinggangnya saat ini di bawa ke rumah sakit oleh beberapa perugas polisi.
"Dimana Liam ?" tanya Inayah saat polisi itu membuka penutup mata dan mulutnya.
"Tuan Wiliam di bawa ke rumah sakit karena terkena tusukan di pinggang dan sepertinya lumayan dalam" terang polisi itu.
Air mata tiba tiba meleleh di pipi Inayah, meski dirinya saat ini sedang sangat membencinya, tapi dirinya tak kuasa menahan rasa sedihnya saat mendengar suaminya itu terluka karena menyelamatkannya.
"Boleh saya menyusulnya ke rumah sakit ? Saya harus melihat keadaannya !" pinta Inayah.
"Tentu saja nyonya, saya akan mengantarkan nyonya ke sana" jawab petugas itu.
Sampai di rumah sakit, Inayah tak kuasa menahan tangisnya lagi ketika melihat Liam di dorong keluar dari ruang operasi dengan mata tertutup dan badan yang tergeletak lemah tak berdaya.
"Bagaimana keadaannya ? Saya istrinya,"tanya Inayah pada salah satu dokter yang juga baru keluar dari ruangan itu.
"Keadaannya sudah lebih baik nyonya, tuan Liam hanya masih dalam pengaruh obat bius, beruntung tusukan pisaunya tidak mengenai organ vital di perutnya" urai dokter itu menjelaskan.
Di ruang perawatan, Inayah duduk di samping Liam yang sudah di pindahkan ke kasur pasien di ruangan itu, kata dokter, kalau semua berjalan dengan semestinya, Liam akan sadar dalam satu sampai dua jam ke depan.
"Liam, maafkan aku, aku membuat kamu celaka, sadarlah, aku tak kuat melihat mu seperti ini !" lirih Inayah dalam isak tangis nya.
"Aku memaafkan mu, aku tidak akan benci lagi pada mu tapi tolong sadarlah !" tiga puluh menit berlalu, dan Inayah masih terisak di samping Liam yang belum juga mau membuka matanya, membuat Inayah semakin terlarut dalam kesedihannya.
"Hei, istri tak tau diri, kau membuat Wiliam celaka, kau memang pembawa sial, kau masih berani berada di sini ? Pergi kau !" hardik Tania yang baru saja masuk ke ruang rawat Liam.
"Aku ingin menunggu suami ku disini, tolong jangan usir aku" mohon Inayah.
"Pergi, atau ku laporkan perselingkuhan mu dengan Beni pada Wiliam !" ancam Tania.
__ADS_1
"Apa maksud mu ?" kaget Inayah.
"Ini, apa kau ingin foto ini sampai ke Wiliam ?" Tania menunjukan foto Inayah yang sedang berciuman dengan Beni tadi siang di rumah Beni.
"Da- dari mana kau dapatkan gambar itu ? Itu tidak benar !" ucap Inayah tak habis pikir, bagaimana Tania bisa mendapatkan foto memalukan itu.
"Pergi, atau aku tidak hanya memperlihatkan foto ini pada Wiliam saja, tapi menyebarkannya ke semua orang, agar kau malu !" ancam Tania.
"Nisa,,, Nisa,,,!" lirih Liam yang baru saja siuman dari efek bius di tubuh nya.
"Liam !" pekik Inayah.
"Pergi !" Tania mendorong Inayah keluar ruangan dan mengunci pintu ruangan itu dari dalam.
"Tania,,, ijinkan aku melihat Liam !" mohon Inayah, tapi Tania tak menghiraukan permohonan Inayah dari luar pintu, dia segera menghampiri Liam di ranjang pasien.
Inayah tak ingin mengganggu pasien lain dengan teriakannya, dia lebih memilih melihat Liam dari jendela kaca di ujung ruangan itu, setidaknya dia masih bisa melihat dan mendengar suara Liam meski dia tak bisa menyentuh suaminya itu.
"Kau, kenapa kau di sini, mana Nisa ? Bagaimana keadaannya ?" cecar Liam seraya mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Inayah.
"Tentu saja aku yang di sini semenjak tadi menunggui mu, istri mu itu mungkin kini sedang berada di rumah selingkuhannya !" cibir Tania.
"Apa maksud mu, Nisa bukan perempuan seperti itu, kau, tadi sudah membuat aku dan Nisa salah paham, dia pasti mengira aku masih punya hubungan dengan mu, aku harus menjelaskan apa yang terjadi tadi di ruangan kerja ku, tadi kamu tiba tiba memelukku tanpa alasan, dan itu menyebabkan Nisa marah padaku !" urai Liam.
"Kenapa ? kenapa semenjak ada perempuan itu kamu selalu menghindari ku ? Kamu selalu mengutamakan wanita itu" pekik Tania.
"Nisa istri ku, aku mencintainya, dan aku sudah tidak mencintai mu, kamu dengar itu, AKU TIDAK MENCINTAIMU LAGI !" tegas Liam.
Inayah yang mendengar semua pembicaraan Liam dan Tania dari luar jendela menutup mulut dengan kedua tangannya, penyesalan menyeruak di hati Inayah, tiba tiba dadanya terasa panas dan seperti terhimpit benda yang sangat berat, Inayah lalu berjalan menjauhi ruang rawat Liam.
__ADS_1
'Aku bersalah, aku telah salah sangka terhadap Liam, dan membuat dia celaka, aku juga sudah berhianat dari pernikahan ini, aku berciumana dengan laki laki lain, padahal statusku masih sebagai istri Liam,' sesal Inayah dalam hati nya,
Sungguh dia tak akan pernah bisa dan berani mengangkat wajahnya di hadapan Liam kalau sampai Tania memperlihatkan foto memalukannya bersama Beni.