Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Pembuat Onar


__ADS_3

"Bu, tolong hargai perasaan ku, untuk apa ibu datang ke rumah wanita selingkuhan kang Adit ?" oceh Neneng pada Esih yang keukeuh ingin pergi ke rumah Tania.


"Kata si Inayah Tania dan keluarganya itu bukan keluarga sembarangan, mereka pasti bisa membantu Adit keluar dari penjara," kata Esih.


"Kalau hanya masalah uang, ayah ku bisa membantu, tak harus menemui wanita itu dan keluarganya ! Yang sekarang harus kita lakukan saat ini adalah membujuk Beni lewat si Inayah agar mencabut laporannya," terang Neneng.


"Justru itu, kalau orang tua si Tania itu pengusaha, mungkin Beni mau di ajak bicara, mereka kan biasa kerja sama bisnis, kamu mah gak bakal tau masalah orang gedean, udah terserah ibu saja !" ucap Esih seolah paling tau.


Esih pergi ke rumah Tania dengan di antar Jamal sang adik yang lama bekerja di Jakarta, sedangkan Neneng memilih untuk tinggal di rumah kontrakan Adit.


"Ini rumah nya Mal,?! Eduun mewah pisan,,,(gila mewah banget) ini mah lebih gede dari pada rumahnya haji Juned !" Esih berdecak kagum dengan rumah besar nan mewah milik Andi, ayah tiri Tania.


"Maaf, anda mencari siapa ?" tanya seorang satpam penjaga rumah mewah itu menghentikan langkah Esih yang baru turun dari motor Jamal dan hendak memasuki gerbang rumah itu.


"Saya Esih, calon ibu mertua Tania, dan calon besan pak Andi !" ucap Esih lantang dengan percaya diri yang tinggi.


Satpam itu mengernyitkan dahinya, dia berpikir keras karena tiba tiba ada orang mengaku calon besan tuannya, padahal setahu dirinya Beni calon suami Tania itu sudah tak punya orang tua, dan penampilannya sungguh jauh berbeda dengan Beni yang kalau datang ke sana dengan menggunakan mobil mewah terbaru, tapi ini hanya menggunakan motor bebek saja.


"Maaf, mungkin anda salah alamat," ucap pak satpam.


"Jangan macam macam, ini alamat yang saya dapatkan, benar di sini kan ?" Esih menyodorkan kertas bertuliskan alamat rumah mewah itu.


"Benar, tapi dari mana anda mendapat alamat rumah ini ?" tanya Andi yang saat itu sedang joging di halaman rumahnya merasa tergelitik untuk menghampiri pos penjagaan rumahnya yang sepertinya kedatangan tamu tak di undang, Andi meraih kertas yang di sodorkan Esih pada sang penjaga rumah nya.


"Maaf tuan, ibu ini mengaku kalau beliau calon ibu mertua nona Tania," jelas satpam itu, Andi sedikit bingung dengan penjelasan satpam nya.


"Saya dapat alamat ini dari Inayah, bapak kenal Inayah kan, yang sekarang jadi pemimpin di perusahaan bapak, apa itu nama perusahaan nya te---te---?!" Esih mengingat ingat nama perusahaan tempat Inayah memimpin.


"Teja grup !?" ucap Andi.


"Nah, iya itu betul anda kenal kan ?" ucap Esih sambil cengar cengir.


"Tentu saja, dia menantu saya ! Biarkan mereka masuk !" ucap Andi sedikit ketus, dia agak berpikir karena Esih berkata kalau menantunya itu memimpin teja grup, tapi dirinya tak tau tentang itu.


"Menantu ?" Esih menganga tak percaya.


"Iya , dia istri dari anak sulung ku, wiliam !" kata Andi.


"Wiliam ?" lagi lagi Esih membeo.

__ADS_1


"Iya, kenapa ?" tanya Andi yang di jawab dwngan gelengan kepala bingung Esih.


"Wil,,,,Wiliam,,, cepat kesini nak, ada hal penting yang harus ayah tanyakan !" panggil Andi pada sang anak yang kebetulan sedang menginap di rumah orang tuanya karena Andi ingin makan malam bersama anak anaknya meskipun Wiliam datang sendirian tanpa Inayah yang dia tau masih sebagai menantunya, karena Wiliam bilang istrinya itu sedang ke luar kota berlibur bersama teman temannya.


"Ada apa Ayah !?" Wiliam menghampiri Ayahnya di ruang tamu.


"Kemana Inayah, kenapa dia tak ikut menginap di sini bersama mu ?" tanya Andi.


"Nisa sedang liburan bersama teman temannya ke luar kota," bohong Wiliam.


"Tunggu, Nisa ? yang saya maksud itu Inayah bukan Nisa." Esih menunjukkan foto Inayah yang tersimpan di galeri ponselnya.


"Iya, itu ! Anak saya memanggil Inayah dengan panggilan Nisa," jawab Andi.


"Hah, Nisa ? Nama Inayah pindah ke kota ganti jadi Nisa !" cibir Esih sinis sambil berbisik ke arah Jamal dengan raut wajah yang menyebalkan.


"Bu, siapa maaf nama anda ?" tanya Andi.


"Esih !" jawab Esih lantang.


"Bu Esih, tadi bilang sama Ayah kalau Inayah sekarang menjadi pemimpin Teja grup, kenapa kamu tak membicarakan nya pada ayah ?" tanya Andi.


"Maaf ayah, tapi..."


"Oh, kebetulan kalau begitu pak, sebentar lagi memang bapak akan mempunyai cucu," sambar Esih sok akrab.


"Maksudnya ?!" tanya Wiliam dan Andi bersahutan.


"Jangan mengharapkan punya cucu dari Inayah, mas Wiliam apa tidak tau, kalau Inayah itu selingkuh dengan pak Beni ?" jiwa penggosip Esih tiba tiba keluar begitu saja.


"Apa maksud nya ini !" Andi mulai mengeluarkan tanduknya, matanya memerah.


"Iya, saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, Inayah kemarin datang ke desa bersama pak Beni mereka terlihat akrab dan mesra, anda kenal kan Beni Wijaya pengusaha ternama di Jakarta ini ?!" Esih bergosip dengan Antusias sampai melupakan tujuan awal nya datang ke rumah itu.


"Hahaha,,, tentu saja mereka akrab, Beni juga calon menantu saya, dia calon suami Tania putri saya, mereka pasti saling mengenal karena kami semua sudah biasa berkumpul bersama di sini, ya kan Wil ?" Andi melirik anak sulungnya yang bercucuran keringat dingin karena takut rahasia nya terbongkar oleh orang orang asing yang entah dari mana datangnya itu.


"Emh, i- iya, tentu saja mereka akrab !" jawab Wiliam terbata bata.


"Tunggu, tapi putri anda sedang mengandung cucu saya ! Tania kekasih putra saya, Adit !" potong Esih.

__ADS_1


"Adit ? Siapa lagi dia ? TANIA ! MELI ! CEPAT KESINI !" teriak Andi dengan wajah yang memerah memanggil putri sambung dan istrinya.


Meli dan Tania tergopoh gopoh mendatangi ruang tamu menemui Andi dan yang lainnya.


"Ada apa ayah, kenapa sampai teriak teriak seperti itu ?" ucap Tania dengan wajah paniknya takut terjadi sesuatu pada ayah tirinya itu.


"Jelas kan pada ayah, siapa itu Adit ? Lantas apa benar kamu sedang mengandung anak dari nya ?!" teriak Andi sambil membelalakan matanya.


"Mas, tenang dulu, ada apa, siapa yang hamil,?" Meli menenangkan suaminya yang penyakit jantung nya bisa saja kambuh sewaktu waktu.


"Tanya lah pada anak mu, ibu ini yang mengatakan kalau Tania berpacaran dengan anaknya dan sekarang putri mu itu sedang hamil !" tunjuk Andi pada Tania yang menunduk ketakutan.


"Tania, apa ini ? Bilang kalau ini tidak benar, sebentar lagi kamu akan menikah dengan Beni, kenapa jadi begini, bagai mana kami menjelaskan ini semua pada Beni ?" tangis Meli pecah seketika ketika tidak ada sanggahan sedikitpun dari Tania, dan bisa di artikan kalau yang di sampaikan Esih itu benar adanya.


"Beni sudah tau ! Dan dia tak peduli !" ucap Tania.


"Apa maksud mu tak peduli,? Bisa saja anak itu anaknya Beni kan ?" ucap Meli yang masih mengharapkan putri nya menikah dengan Beni.


"Aku tak pernah melakukannya dengan Beni, bu. Aku hanya berhubungan dengan Adit beberapa bulan belakangan ini." terang Tania.


"Anak tak tau diri, bisa bisa nya kau selingkuh dari Beni yang sudah begitu baik pada kita, kau sungguh memalukan !" caci Meli pada Tania.


"Benarkah ? Aku memalukan ? Beni mendekati ku hanya untuk membeli semua saham yang kita punya dan sekarang sudah berhasil merampas Teja grup seutuhnya, aku di buang begitu saja, Teja grup tujuan utama Beni mendekati ku !" beber Tania yang sudah terlanjur terbawa emosi.


"Tania, jaga ucapan mu !" bentak Wiliam.


"Kau ! semua ini salah kau Wiliam, apq sebenarnya masalah mu dengan Beni sampai Beni begitu dendam pada mu, dia bahkan sampai mengambil perusahaan dan istri mu !" teriak Tania melipahkan semua kesalahan pada Wiliam, karena menurutnya semua masalah ini bersumber pada Wiliam.


"A- apa maksud semua ini, kegilaan dan kekacauan apa yang kalian lakuan tanpa sepengetahuan ku ?" Andi memegangi dadanya yangbterasa sakit, wajahnya mulai memucat dengan napas yang tersenggal senggal.


"Ayah !"


"Mas !"


Meli dan Tania histeris melihat Andi yang kesulitan bernafas dan kesakitan, Wiliam bergegas membawa tubuh lemas ayahnya keluar dari ruangan itu dan membaringkan nya di kamar irang tuanya, lalu memanggil dokter pribadi yang biasa menangani kesehatan Andi.


"Sebaiknya kalian keluar dari sini ! Dasar pembuat onar,! Awas saja kalau sampai terjadi apa apa dengan suami ku !" usir Meli pada Esih dan Jamal yang sejak tadi menonton pertunjukan drama keluarga Andi itu.


"Tapi, putri anda sedang hamil, dia pasti akan membutuhkan anak saya sebagai ayah dari anak yang di kandung nya," kata Esih dengan tidak tau malu nya dan wajah sok polos nya setelah membuat kekacauan di rumah itu.

__ADS_1


"Kami tak butuh siapa pun, walau putri saya sedang hamil hasil benih dari anak anda, kami bisa menghandle semuanya, kami tidak butuh anda ataupun anak anda, pergi !" usir Meli lagi dia tak ingin lagi melihat wajah wajah asing yang sudah memporak porandakan ketenangan keluarganya, bahkan membuat suaminya kini kesakitan.


"Kalian akan menyesal, karena anak itu tak akan punya ayah seumur hidupnya, tunggu saja waktunya, kalian pasti akan memohon agar anak ku menikahi putri mu !" teriak Esih yang di seret satpam keluar dari rumah mewah itu.


__ADS_2