
Dua hari lagi genap satu bulan kedekatan Liam dan Inayah, meski mereka sudah semakin akrab, tapi mereka masih tidur terpisah.
"Bos, saya ijin telat nanti setelah istirahat makan siang, ada sedikit urusan yang harus di selesaikan," ijin Inayah pada Beni.
"Okay, yang penting jam 3 sore harus sudah di kantor, ada meeting !" jawab Beni santai.
"Siap, bos !" seru Inayah dengan wajah sumringah, hari ini dia berniat untuk memberi kejutan pada Liam, dengan datang ke kantornya dan mengajaknya makan siang bareng, sekalian dia ingin mengatakan lebih awal kalau dia bersedia untuk menerima cinta Liam di hatinya.
Namun saat Inayah masuk ke ruang kerja Liam tanpa suaminya itu tau, Inayah yang tadinya berniat memberi kejutan pada Liam, malah dirinya sendiri yang terkejut, dia mendapati suaminya sedang berpelukan mesra dengan Tania.
"Maaf, sudah mengganggu kalian !" ucap Inayah membalikkan badannya bergegas keluar ruangan saat Liam melepaskan paksa pelukan Tania dan mengejarnya.
"Nisa, tunggu ! Biar aku jelaskan dulu !" seru Liam sambil berlari mengejar Inayah yang secepat kilat berlari menjauh meninggalkan Liam yang terus terusan mengejarnya sambil memanggil nama istrinya itu.
"Stop ! Jangan ikuti aku lagi, biarkan aku sendiri, terimakasih sudah memberi ku harapan selama hampir satu bulan ini," ucap Inayah menahan marah nya.
"Nisa, kamu salah paham," Liam memelas meminta Inayah mendengar penjelasannya terlebih dahulu, tapi Inayah sudah tak ingin memperdulikan nya.
Sangat sakit rasanya, ibarat saat hati sudah mulai berbunga, namun tiba tiba di siram air panas, dan layu seketika.
Inayah berjalan meninggalkan garmen Liam, hanya satu tujuannya, ingin sejauh mungkin meninggalkan Liam yang sudah teramat menyakiti hatinya.
"Inayah !" panggil seseorang saat Inayah sedang berjalan sendirian dengan linangan air mata yang tak dapat lagi di bendungnya.
"Pak Beni...!" Inayah berlari ke arah bos nya itu dan memeluk Beni dengan eratnya, dia menumpahkan segala kesedihannya di dada Beni.
"Kamu kenapa ?" tanya Beni seraya mengusap punggung Inayah yang terus terusan terisak di pelukannya.
"Liam,,, Liam,,," hanya kata kata itu yang mampu keluar dari bibir Inayah.
__ADS_1
"Apa yang sudah Wiliam perbuat pada mu ? Apa dia menyakiti mu ?" tanya Beni.
Tapi Inayah malah menjawabnya dengan raungan keras tangisnya yang semakin menjadi.
Beni membawa Inayah masuk ke dalam mobilnya dan membawanya pergi dari sana, Beni membawa Inayah ke rumahnya, dia berpikir saat ini pasti Inayah butuh ketenangan dan teman untuk berbagi cerita.
"Maaf sudah merepotkan Bapak !" ucap Inayah, ketika Beni menyodorkan segelas air putih ke hadapannya.
"Tenang saja, jangan sungkan. Aku hanya ingin membantu mu," ucap Beni.
"Terimakasih," singkat Inayah.
"Sebaiknya kamu disini dulu, nanti kalau sudah tenang aku antar kamu pulang," saran Beni.
"Saya tidak mau pulang, saya tidak mau bertemu dengan Liam lagi," tampik Inayah.
"Tapi dia suami mu, dia pasti akan kebingungan mencari mu jika kamu tak pulang" ucap Beni.
"Bukan itu maksud saya, kamu boleh menginap di sini, hanya saja saya tidak enak bila Wiliam sampai tau, dia pasti berpikir kalau di antara kita ada apa apa" papar Beni.
"Saya tidak peduli apa pikiran dia terhadap saya, selama hampir sebulan ini saya memberinya kesempatan untuk membuktikan cintanya pada saya, tapi ternyata di belakang saya dia masih bermesraan dengan pacar masa lalunya itu," urai Inayah.
"Hampir saja saya terbuay dengan bujuk rayunya padahal saya baru akan membuka hati dan menerima cintanya, untunglah, kebohongannya cepat terbongkar" isak Inayah yang tiba tiba menangis kembali tersedu sedu.
"Sudah lah, aku ada di sini, entah lah ini saat yang tepat atau tidak, aku hanya ingin menyampaikan pada mu kalau sejak lama aku menyukai mu, kamu sangat menarik di mata ku," beber Beni menggenggam kedua tangan Inayah mengutarakan isi hatinya, persetan mau di terima atau di tolak, yang penting dia mengatakan perasaannya yang telah lama terpendam untuk Inayah.
"Pak Beni ?!" Inayah sangat terkejut dengan pengakuan Beni.
"Aku tau kamu sedang bersedih, mungkin ini juga bukan waktu yang tepat, tapi aku hanya ingin mengatakan isi hati ku padamu" Beni menatap mata Inayah dalam.
__ADS_1
"Maaf Pak, saya belum bisa membalas perasaan bapak pada saya," tolak Inayah.
"Beri aku kesempatan Inayah, aku tak akan menyakiti mu, aku mencintai mu !" ucap Beni.
"Aku sudah lama mencintai mu !" lanjutnya.
Entah setan mana yang menghasut Beni, dengan berani nya dia mendekatkan wajahnya ke hadapan wajah Inayah lalu mencium bibir tipis dan merah merona milik wanita cantik di hadapannya itu.
Entah terhipnotis atau karena Inayah sedang kesal karena baru saja melihat Liam dengan Tania berpelukan di ruang kantornya, Inayah tiba tiba memejamkan matanya dan membalas ciuman Beni, namun beberapa detik kemudian dia melepaskan ciuman nya dan langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Maaf pak, sepertinya apa yang kita lakukan ini salah, saya permisi !" pamit Inayah melangkah keluar dari rumah Beni, dia berniat pergi ke tempat kost Lilis, dia tak henti merutuki kebodohannya telah membalas ciuman Beni sang bos.
Lilis yang baru saja hendak keluar dari tempat kostnya untuk mencari makan, sungguh kaget saat dari kejauhan melihat Inayah di bekap oleh seorang priayang menggunakan penutup kepala, dan memasukan Inayah ke dalam mobilnya, lalu menghilang dalam hitungan beberapa menit saja.
Kejadiannya begitu cepat sehingga Lilis tidak sempat berteriak apalagi menolong sahabatnya itu, namun perawakan sang penculik sepertinya tidak asing bagi Lilis, karena sang penculik sepertinya teman sekampung Lilis yang biasa main bareng semenjak mereka kecil.
Sepertinya si penculik Inayah itu adalah Adit, mantan suami Inayah, begitu kira k8ra asumsi Lilis.
Sahabat Inayah itu dwngan panik langsung menghubungi Liam, karena yang dia tahu Liam kini suami Inayah, dan dia harus mengetahui apa yang terjadi pada istrinya.
Mendapat kabar dari Lilis tentang Inayah yang di bawa pergi secara paksa oleh mantan suaminya, darah Liam seketika mendidih, dia sangat marah, namun saat dirinya hendak menghubungi polisi, sebuah pesan masuk ke ponselnya.
"Tuan Wiliam, jangan coba coba menghubungi polisi jika masih ingin istri mu selamat," begitu bunyi ancaman si penculik di pesan yang di kirimkan padanya.
'Kalau memang penculik itu Adit, darimana dia tahu nomor ponsel ku, dan kenapa dia memanggil ku tuan Wiliam, bukan kah dia mengenalku sebagai tukang ojek online ?' gumam Liam dalam hatinya.
"Katakan apa mau mu ?" jawab Liam membalas pesan si penculik, setelah beberapa kali mencoba menghubungi nomor itu namun tak di angkat oleh pemilik nomor ponsel itu.
"Tidak usah terburu buru, nanti akan aku hubungi kembali setelah aku pikirkan apa yang aku inginkan dari mu !" jawab si penculik yang lagi lagi dia jawab melalui pesan yang di kirimkan padanya.
__ADS_1
"Sialan !" teriak Liam, hampir saja dia membanting ponsel yang ada di tangan nya.