
Tok,,,tok,,, tok,,,
Pintu ruang kerja Inayah terdengar di ketuk dari luar,
"Masuk !" seru Inayah ketus.
"Ishh, galak sekali bu bos yang satu ini,!"
"Ah, bos ! Maaf aku kira tadi Lilis, yang mengetuk pintu," kata Inayah merasa tak enak hati karena nada suaranya sedikit membentak tadi.
"Apa dia menyulitkan mu ?" tanya Beni, dia berjalan memutari ruangan itu menelisik dan memperhatikan setiap sudut ruang kerja Inayah itu.
"Sejauh ini dia belum berulah apa pun, dan aku juga tak akan membiarkannya, bila dia kembali berani menyenggol ku !" ucap Inayah.
"Kau suka ruangan ini ? Atau kau ingin aku merubah nya untuk mu ?" tanya Beni sambil meraba sofa yang di dudukinya,
"Sepertinya sofa ini harus di ganti, meja dan kursi kerja mu juga," sambung Beni serius masih mengedarkan pandangannya ke se isi ruangan itu.
"Tidak usah bos, ini sudah cukup nyaman, kok !" tolak Inayah.
"Kau tak boleh lagi memanggil ku dengan sebutan bos, aku sudah bukan bos mu lagi, terlebih kau juga sekarang sudah menjadi bos di sini, panggil saja Beni atau Ben ?!" ucap Beni.
"Aku tak berani, itu terdengar seperti kurang pantas, apa lagi kamu lebih tua dari ku," sanggah Inayah.
"Hilangkan rasa tidak percaya diri mu itu, bersikaplah selayaknya bos agar kau di segani karyawan mu, kau sekarang seorang pemimpin perusahaan dan pemilik tiga puluh persen saham di perusahaan ini !" ucap Beni tegas.
Prang,,,!
Cangkir berisi teh panas yang di bawa Lilis meluncur dari genggaman tangannya, dan jatuh ke lantai, lalu teh panas itu tumpah mengenai kakinya sendiri.
Lilis tak dapat mengontrol ke kagetannya saat mendengar penuturan Beni bahwa Inayah memliki saham sebesar itu di Teja grup, itu benar benar sulit di percaya, dan sungguh membuat hati Lilis yang memang dasarnya iri dengki semenjak dahlu terhadap Inayah semakin, membenci teman sekampungnya yang dia anggap terlalu banyak mendapatkan keberntungan dari Tuhan dalam hidupnya itu.
"Auwww ! Panas,,, panas !" ringis Lilis, mengerak gerakan kakinya dengan tangan yang di kipas kipaskan ke arah kakinya yang terkena siraman teh panas yang di bawanya tadi.
"Apa yang kau lakukan, kenapa kau ceroboh sekali !" bentak Inayah melotot.
"Maaf bu, tadi saya terpeleset," kilah Lilis.
Kaca pecahan cangkir juga ada yang menancap di kakinya, sehingga kakinya terlihat berdarah.
"Kau ini menyusahkan saja,! Mas, bisa antarkan kami ke klinik terdekat ?" ucap Inayah pada Beni.
"Oke !" jawab Beni,
Tapi tiba tiba Beni menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya ke arah Inayah,
"Wait,,,, kau panggil aku apa tadi ?" tanya Beni seakan menemukan sesatu yang janggal dari ucapan Inayah.
__ADS_1
"Mas ?! Kenapa, kamu tak suka ya ?!" ucap Inayah takut takut, dia merasa kurang nyaman bila harus memanggil nama bosnya itu hanya dengan panggilan Beni atau Ben saja.
"Mas ?! Oke, tidak buruk, tak masalah !" ucapnya kembal melanjutkan langkahnya, hatinya tiba tiba menghangat mendapatkaan panggilan itu dari Inayah, tanpa di sadari, bibirnya melengkung membentuk senyuman.
'Sial, mereka malah bermanis manisan, tak tau apa aku kesakitan terluka seperti ini !?' kesal Lilis dalam hatinya.
"Mas, aku akan ke bagian administrasi mengurus pendaftaran untuk nya, mas bisa jagain dia sebentar ?" ucap Inayah.
"Oke, jangan lama lama !" kata Beni.
Lilis melirik Beni yang duduk di sampingnya menunggu Inayah,
'Ternyata pak Beni lebih tampan di banding Liam jika di lihat dari jarak dekat seperti ini, mana dia lebih kaya lagi, jangan sampai si Inayah mendapatkan pak Beni, aku akan menghalangi nya, aku harus menggodanya,' gumam Lilis dalam batinnya, sambil matanya tak lepas memandangi wajah oriental Beni yang tampan.
"Kenapa kau melihat ku seperti itu ?" tanya Beni menatap Lilis dengan pandangan jijik.
"Emhh, bapak tampan !" ucap Lilis dengan tak tau malunya.
"Kau baru menyadari nya ? Tentu saja aku tampan," seloroh Beni percaya diri.
"Kau mau di sini melihat kerampanan nya atau masuk dan mengobati luka mu !" Sela Inayah ketus.
Setelah semuanya selesai, Inayah memanggilkan taksi untuk Lilis pulang,
"Kau istirahat lah beberapa hari, sampai kaki mu pulih, biar aku membantu Inayah di Teja selama kau tak masuk kerja," titah Beni.
"Terserah, yang jelas aku besok tetap akan ke teja membantu bos mu !" ucap Beni.
"Apalagi ada anda di kantor, saya pasti masuk kerja besok !" ucap Lilis semangat.
"Maksud mu ?" pelotot Inayah.
"Ah, maksud ku, luka ku besok pasti sudah baikan. Kenapa kau serius sekali sekarang Inayah, ini kan bukan di kantor !" gugup Lilis.
"Memangnya aku yang dulu seperti apa ?" pancing Inayah.
"Inayah yang dulu polos, baik, ramah, dan---"
" Dan bodoh !?" sambar Inayah.
"Aku tidak bermaksud berkata seperti itu, Inayah,,, apa aku berbuat salah pada mu ? Apa aku menyinggung perasaan mu ?" drama Lilis berpura pura sedih.
"Menurut mu ?" ketus Inayah.
"Rasanya aku tidak pernah berbuat salah dengan mu," elak Lilis.
"Ya sudah kalau kau tak merasa pernah berbuat salah, tuh taksi mu datang !" tunjuk Inayah pada sebuah mobil sedan berwarna biru yang menghampiri mereka.
__ADS_1
"Aku sebenarnya masih ingin berbicara banyak dengan mu, kenapa tak kau biarkan aku ikut bersama kalian ?" tawar Lilis.
"Kau akan mengganggu bila ikut bersama kami !" seloroh Beni yang muak dengan sandiwara Lilis yang masih saja berpura pura baik di depan Inayah.
"Sepertinya kamu target incaran Lilis yang baru, mas !" ledek Inayah saat Lilis sudah masuk ke dalam taksi yang di pesan Inayah.
"Coba saja kalau bisa !" ucap Beni melengos saat Inayah tergelak karena menertawakan sikap Beni yang bergidik ngeri saat di ledek Inayah.
***
"Liam ! Aku ada berita penting untuk--- mu !" ucapan Lilis terjeda saat matanya menangkap sosok lelaki pujaannya sedang makan berdua di meja makan dengan Tania.
"Hei kau ! Kenapa kau tak sopan sekali, masuk rumah ini tanpa mengetuk pintu !" hardik Tania yang tak tau kalau hampir tiap hari Lilis tidur dan bercinta dengan Liam di rumah itu, hampir setiap sudut rumah itu pernah di jadikan tempat mereka bercinta, termasuk di meja makan tempat dia duduk sekarang.
"Emh, maaf saya hanya ingin menyampaikan kabar penting pada kekasih anda," ucap Lilis terbata bata, tenggorokannya terasa sakit bahkan hanya untuk menelan ludahnya sendiri,
Menyaksikan orang yang di cintainya berduaan dengan kekasihnya di depan matanya membuat dadanya terasa seperti di remas.
"Wil, jelaskan pada ku, kenapa wanita kampung ini bisa masuk dengan seenaknya ke rumah ini ?" uca Tania memandang tajam Wiliam yang terlihat gugup.
"Dia memang kemari beberapa hari sekali untuk membantu ku membereskan rumah dan bersih bersih, karena dia butuh uang tambahan ntuk orang tuanya di kampng !" ucapnya bohong.
'Sial, dengan kata lain Liam mengatakan aku pembantu ? Aku memang membantu mu di rmah ini membantu menuntaskan hasrat mu !' geram Lilis dalam hatinya.
"Berita apa yang akan ka sampaikan pada kekasih ku ?" Tanya Tania ketus.
"Anu, itu, Inayah sekarang jadi pemimpin di Teja grup menggantikan anda, dan dia juga ---"
"Memiliki saham sebesar tiga puluh persen di sana ?" sambar Tania.
"Anda sudah tau ?" Lilis melongo, padahal sebelumnya dia yakin kalau berita ini benar benar hanya dirinya yang tau.
"Hanya kau yang baru tau kabar itu, kau bilang itu berita penting, huh ? Kami sudah mengetahuinya semenjak kemarin !" sinis Tania jengkel dengan wajah Lilis yang di pasang sok polos di depannya.
"Maaf,,," lirih Lilis.
"Sudahlah, sekarang kau bereskan dan bersihkan meja makan dan piring piring kotor ini, aku sudah tak berselera makan, kau bersihkan juga seluruh rumah ini jangan ada yang terlewat !" titah Tania.
Suasana hatinya sedang kesal karena batal bertunangan, di tambah lagi dia harus kehilangan pekerjaannya karena di pecat, jadi lah Lilis sebagai sasaran pelampiasan kemarahannya.
"Liam, kaki ku sedang sakit, aku tak bisa mengerjakan tugas yang di berikan nenek sihir itu !" bisik Lilis pada Liam yang masih duduk di meja makan sendirian karena di tinggal pergi Tania ke ruang tengah.
"Sudahlah, lakukan saja, aku tak mau Tania curiga dengan hubungan kita !" ucap Wiliam.
"Tapi..." protes Lilis.
"Lakukan atau kita tak usah bertemu lagi selamanya !" ancam Wiliam.
__ADS_1
Dengan berat hati Lilis mengerjakan tugas yang di berikan Tania dengan kondisi kakinya yang sakit, dan hatinya yang tak kalah sakit, bagaimana pun cintanya pada Wiliam terlalu besar sehingga dia rela melakukan hal bodoh apapun demi terus bersama dengan laki laki itu.