Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Tolong atau Tidak,,,


__ADS_3

"Mas, siapa itu Widya, mas Beni pasti ada kaitannya dan tau tentang Widya yang melaporkan bu Esih ke polisi, kan ?" tuduh Inayah pada Beni sore itu saat masuk ke mobil Beni yang menjemputnya di Teja grup.


"Ada apa ini, dateng dateng aku langsung jadi tersangka begini !?" elak Beni.


"Siapa Widya, mas ?" Inayah mengulangi pertanyaannya.


"Bukan siapa siapa, aku tak ada hubungan apa apa sama Widya, kamu jangan cemburu seperti itu, dong !" goda Beni sambil terkekeh melihat wajah Inayah yang langsung berubah kesal.


"Mas,,, bukan itu maksudnya ! Kamu pasti ada andil dalam masalah pelaporan bu Esih oleh wanita bernama Widya itu, kan ?" kesal Inayah.


"Owh, aku pikir kamu cemburu sama Widya, dia hanya salah satu pegawai ku, aku gak ada hubungan lebih dengan dia !" goda Beni lagi, dia sangat senang membuat wanita di sampingnya itu jengkel, wajah Inayah akan terlihat semakin menggemaskan di mata Beni bila dia sedang kesal.


"Mas, jangan bercanda, kenapa dia bisa tau tau jadi sepupu ku?" ucap Inayah.


"Mana ku tau, itu kan ibu mu yang menganggap Widya keponakannya, ya otomatis kamu sepupuan lah sama dia !" ujar Beni cuek.


"Tapi kenapa wanita bernama Widya itu bisa dekat dengan emak ?" tanya Inayah lagi curiga.


"Tentu saja Widya dekat dengan ibu mu, dia tinggal di rumah mu, bersama ibu mu," jawab Beni asal.


"Tinggal di rumah, sama emak ?" beo Inayah.


"Hmm,,, aku memang sengaja mengutus dia untuk dekat dengan ibu mu bagai mana pun caranya, tujuan nya agar dia bisa menjaga dan merawat ibu mu, kasian ibu mu tinggal sendiri, aku takut terjadi apa apa pada ibu mu," jelas Beni.


"Mas,,," lirih Inayah, dia tak menyangka kalau Beni se perhatian itu, tak hanya pada dirinya tapi juga pada Titin sang ibu yang tinggal jauh dari mereka.


"Bukan hanya Widya saja, ada dua orang lagi, sepasang suami istri yang aku tugaskan untuk menjaga ibu mu dari kejauhan, mereka juga bekerja di kebun, aku takut ibu mu mendapatkan pelakuan kasar dan sebagainya, makanya aku menugaskan orang orang bayaran ku untuk menjaganya secara diam diam," jelas Beni lagi.


"Mas,,, terimakasih !" ucap Inayah pelan bahkan nyaris tak terdengar suaranya, kini malah suara isak tangisnya yang mendominasi terdengar di dalam mobil itu.


Beni menepikan kendaraannya, dan berhenti di bahu jalan, dia menengok ke arah Inayah yang berada di sampingnya.


Wanita cantik itu sedang terisak pilu, air matanya berderai membasahi pipi mulusnya.


"Inayah, kenapa ? Aku salah ? Apa ada perkataan ku yang menyinggung mu ?" tanya Beni cemas bercampur bingung.

__ADS_1


Inayah menggelengkan kepalanya pelan, dia masih tak berkata kata, namun sejurus kemudian dia melepas seat belt nya lalu berhambur memeluk Beni, lalu terisak di dada laki laki yang aroma tubuhnya sudah menjadi candu bagi Inayah, aromanya selalu bisa membuatnya merasa tenang.


Beni yang merasa bingung dengan Inayah yang tiba tiba memeluk dirinya erat itu hanya bisa membalas pelukan wanita yang punggungnya terlihat naik turun akibat tangisnya itu, sesekali Beni juga mengusap lembut rambut panjang Inayah yang tergerai indah.


Untuk beberapa saat Beni membiarkan Inayah menumpahkan kesedihannya di pelukan hangat nya, dia tak tau apa yang membuat wanita yang kini menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya itu menangis tersedu seperti itu.


"Kamu udah tenang sekarang ? Atau masih ingin menangis ?" Beni meraih tisu di dashboard mobil nya dan menyeka air mata di pipi Inayah.


"Lagi lagi kamu mengotori kemeja mahal ku, dengan ingus mu !" oceh Beni.


Inayah mengangkat kepalanya dari dada keras berotot Beni, dan melirik kemeja Beni yang ternyata memang sudah basah terkena air mata dan ingus nya.


"Maaf !" ucapnya malu bercampur rasa bersalah.


"Cuma maaf ?" goda Beni.


"Kenapa kamu baik banget sih, mas ?" tanya Inayah setelah di rasa dirinya sudah tenang.


"Aku ? Entah lah, aku hanya mengikuti kata hati ku saja," ucap Beni memasangkan kembali seat belt Inayah dan bersiap melanjutkan perjalanan pulang.


"Pak Harun ?" Beni mengerutkan kening nya.


"Mantan bapak mertua ku, dia terlihat sedih, aku tak tega melihatnya, dia orang baik, tapi karena ulah anak dan istrinya, sekarang dia harus menanggung semuanya, malu, tertekan, kasihan dia !" cerita Inayah.


"Sebenarnya mereka juga bukan target ku, karena mereka tak ada sangkut pautnya dengan masalah ku, hanya saja mereka selalu mengusik mu dan ibu mu, jadi aku merasa ikut tergerak untuk melindungi mu dari orang orang semacam mereka, makanya dari kemaren aku bilang semua terserah padamu, akan kamu buat seperti apa mereka," terang Beni.


"Apa aku menjadi orang yang kejam kalau aku tak memaafkan kesalahan mereka pada ku dan ibu ku ?" tanya Inayah.


"Maksud mu ?"


"Ada dua bayi tak berdosa yang masih membutuhkan ayah nya, dan ada seorang suami yang begitu sedih karena harus kehilangan istrinya, sementara aku hanya bisa berdiam, padahal aku bisa saja menolongnya," kata Inayah.


"Kamu yakin, kalau kamu menolong mereka, lantas mereka tak akan berbuat jahat lagi pada mu dan ibu mu ? Jangan terlalu naif jadi orang !" ucap Beni seakan menampar kewarasan Inayah yang mulai goyah karena rasa iba atas permohonan Harun sang mantan ayah mertua yang datang memohon padanya.


Inayah terdiam, sungguh dia pun tak bisa menjamin, dengan membebaskan mereka, dirinya tak akan mendapatkan perlakuan jahat lagi dari mereka, Inayah juga tak ingin menyinggung perasaan Beni yang setengah mati menjaga dan melindungi dirinya dan sang ibu Titin dengan segala cara agar tak di usik oleh mantan suami dan keluarganya, bila tiba tiba Inayah memutuskan untuk memaafkan Adit dan Esih, mungkin Beni akan merasa apa yang di lakukannya hanya sia sia.

__ADS_1


"Aku tidak yakin, mas !" jawab Inayah jujur.


"Lantas untuk apa melakukan hal yang kamu sendiri tidak yakin ?" ucap Beni sinis.


Mobil Beni pun sudah sampai di halaman rumahnya, begitu mereka turun dari kendaraan roda empat itu, mereka di sambut dengan raungan tangis Esih yang berlari menghampiri mereka berdua yang saling berpandangan karena kaget.


Rupanya Esih sudah menunggu kepulangan Beni dan Inayah semenjak siang di halaman rumah besar itu.


"Inayah,,,, tolong ibu,! Ibu tak mau di kejar kejar polisi dan menjadi buronaan seperti ini, tolong bilang pada sepupu mu untuk memaafkan ibu, sungguh ibu tidak sengaja memukul nya, ibu terbawa emosi !" jeritnya histeris sambil berlutut di hadapan Inayah.


Inayah melirik ke arah Beni yang terkesan cuek dan tak peduli dengan raungan Esih, terlihat laki laki itu hanya tersenyum sinis.


"Seperti yang pernah aku janjikan pada mu, aku akan membuat musuh musuh mu bertekuk lutut, bersimpuh dan memohon pada mu, seperti dia !" lirih Beni di telinga Inayah, sambil menunjuk ke arah Esih.


Inayah memegangi lengan Beni yang berjalan hendak meninggalkannya berdua dengan mantan ibu mertua nya, seraya ingin mengatakan 'jangan tinggalkan aku !' tapi tak terucap dari bibirnya.


"Aku tak akan ikut campur dalam hal kamu mengambil keputusan pada masalah ini, silahkan putuskan dan tentukan bagaimana sikap mu !" tegas Beni.


Beni berlalu pergi meninggalkan Inayah berhadapan seorang diri dengan Esih sang mantan ibu mertua jahat nya, bukan tanpa alasan Beni terkesan bersikap seolah tak peduli seperti itu, tapi Beni melakukan semua itu untuk melatih insting Inayah mempertahankan harga dirinya, melindungi dirinya, karena suatu hari nanti wanita itu juga harus memutuskan sendiri bagaimana cara dia menghadapi masalah, tak mungkin selalu menggantungkan diri pada bantuan orang lain, meski Beni pasti akan selalu membantunya dan tak akan mungkin membiarkan Inayah sendirian.


Inayah saat ini berada di situasi yang dilema bagi dirinya, sisi lemahnya sungguh tak tega melihat Esih yang terlihat kumal dan lusuh itu berlutut memohon padanya, tapi di sisi hati lainnya, dia teringat ucapan Beni yang mengatakan kalau dirinya tak perlu melakukan hal yang tidak dirinya yakini.


"Maaf bu, jangan seperti ini, silahkan berbicara baik baik di sana," ucap Inayah seraya menunjuk kursi taman yang berada di halaman rumah mewah milik Beni.


Inayah mengeluarkan sebotol air mineral yang masih utuh, yang selalu dia bawa di tas nya, lalu menyodorkannya pada Esih.


"Minumlah bu !" ucap Inayah.


"Inayah, ibu tau ibu bersalah banyak pada mu, ibu sering melukai perasaan mu dan juga ibu mu lewat kata kata kasar ibu dan juga tindakan ibu, kini ibu menyesal !" ucap Esih sambil terisak, entah lah itu penyesalan tulus dari lubuk hati nya atau hanya pura pura karena menginginkan simpati dari mantan menantu nya.


"Kenapa ? Kenapa ibu tiba tiba menyesal ?"tanya Inayah mencoba tak termakan bujukan Esih.


"Ibu mengaku bersalah, ibu sudah tua, tolong selamatkan ibu bilang pada sepupu mu untuk memaafkan ibu, ibu menyesal !" rengek nya.


"Inayah, hidup ibu sudah hancur kini, anak di penjara, cucu cucu ibu harus kehilangan ayahnya, belum lagi kini ibu harus hidup dalam pelarian, karena masalah dengan sepupu mu, apa kamu tak kasihan pada ibu ? Tolonglah ibu, Inayah, Ibu yakin kamu bisa dengan mudah menolong ibu," ratap Esih mengiba pada Inayah.

__ADS_1


Inayah lagi lagi hanya bisa terdiam mencerna kata demi kata yang di ucapkan Esih sang mantan ibu mertua jahatnya yang kini berubah menjadi lebih bersikap lembut dan manis itu.


__ADS_2