
Inayah dan Liam sudah sampai di Puncak, mereka langsung menuju ke vila yang sudah di sediakan oleh perusahaan, kebetulan mereka menempati vila yang sama dengan orangtua nya Liam, dan juga Tania.
Sebenarnya itu hanya akal akalan Tania saja agar dirinya bisa berdekatan dengan Liam selama di Puncak.
"Kalian kok baru datang ?" tanya Andi ayahnya Liam yang menyambut kedatangan anak dan menantunya.
"Iya, kami terjebak macet," jawab liam, dan di susul dengan senyuman palsu Inayah.
"Kamar kalian di pojok sana dekat kolam renang," tunjuk Meli sang ibu tiri.
Sementara Tania pura pura menyibukan diri dengan laptopnya, dia tak menyapa bahkan tak melirik sedikitpun ke arah pengantin baru itu.
Malam hari saat acara puncak yaitu acara pisah sambut antara Andi dan Liam tiba, Inayah tidak ikut hadir karena dia merasa kurang enak badan, jadi dia lebih memilih untuk beristirahat di vila, lagi pula Inayah sepertinya merasa kesal dengan tempat ini karena mengingatkan kejadian pernikahan paksanya yang juga terjadi di Puncak, rasa kesalnya serasa belum hilang di hatinya.
Inayah hanya bisa berguling guling di kasur tak bisa memejamkan matanya, perutnya terasa lapar karena belum sempat makan malam, sedangkan yang lain makan malam di tempat acara.
Inayah keluar dari kamar menuju ruang makan mencari barangkali ada makanan disana.
Tapi saat akan melewati pintu yang menuju kolam renang yang gelap, terdengar suara suara aneh yang membuat bulu kuduk Inayah merinding.
"Ini vila ada jurig (setan) nya, kayanya, iiih,,," gumam Inayah bergidik ngeri.
Di meja makan ada sebungkus biskuit tergeletak, Inayah pun mengambilnya, tapi dari pantulan kaca lemari makan yang berhadapan dengan pintu menuju kolam gelap itu seperti terlihat ada sesuatu yang bergerak gerak di kursi santai tepi kolam.
Inayah merasa penasaran, dia mendekati pintu kaca yang agak terbuka sedikit.
Inayah melongok dengan memasukan kepalanya ke celah pintu yang sedikit terbuka itu, dia menoleh ke kanan dan ke kiri, tapi tiba tiba,
"Ya Tuhan...!" pekik Inayah dengan suara tertahan, dia memutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya.
Di atas kursi santai itu terlihat Tania yang setengah tak berbusana sedang bercumbu dengan seorang pria, mereka sedang asik mendaki menuju ke puncak gairah, dan mereka tak menyadari kalau Inayah melihat secara live kegiatan mesum mereka.
Namun Inayah semakin kaget saat lak laki yang sedang berolahraga malam dengan Tania itu melirik ke arahnya, dan dari keremangan malam yang hanya mengandalkan sinar bulan itu, Inayah dapat melihat wajah laki laki yang berada di atas tubuh Tania itu, karena saking kagetnya Inayah berlari ke kamarnya dan mengunci diri disana ketakutan.
Saking ketakutannya, Inayah memutuskan untuk keluar dari vila dan menuju tempat acara, tapi baru saja dia membuka pintu kamarnya, Liam ternyata juga hendak masuk ke kamar mereka, saking buru buru nya, Inayah sampai tak sengaja menabrak dada Liam.
"Aduh !" ringis Inayah saat dahinya bertubrukan dengan dada bidang dan keras milik Liam, Inayah mengusap usap dahinya dengan tangan kanannya.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?" tanya Liam, tapi Inayah tak menjawabnya, dia malah pergi meninggalkan Liam sendiri.
"kebiasaan, di tanya gak pernah mau jawab, malah pergi !" dengus Liam kesal.
Inayah berjalan ke luar vila, dia berjalan di sekitar bangunan mewah itu sendirian tanpa tujuan, dia hanya mengikuti kemana kakinya ingin melangkah.
Inayah menghentikan langkahnya di sebuah kursi kayu yang menghadap ke hamparan kebun teh yang sangat luas, dia memandangi nya sambil pikirannya berkelanan entah kemana.
"Kenapa kau disini ?" suara berat lelaki yang Inayah kenal baik membuyarkan lamunannya.
"Kau !" wajah Inayah pias seperti tak ada darahnya.
"Ya, aku. Kenapa, kaget ? Bagaimana pertunjukan ku tadi si pinggir kolam, apa kau merindukan aksi ku yang seperti tadi aku lakukan dengan Tania?" Adit tersenyum iblis.
"Cih ! Tak sudi, pergi sana , jangan dekat dekat !" usir Inayah ketakutan dengan seringai Adit yang menurutnya sangat mengerikan plus menjijikan.
"Hahaha, tak usah pura pura, kau pasti merindukan belaian ku, kan?" Adit menjawil dagu Inayah.
"Ih, jangan kurang ajar kau ! Jauh jauh sana !" usir Inayah geram.
"Ya sudah sana, pergi yang jauh, tak usah mengganggu ku !" pekik Inayah.
"Aku pasti pergi, mataku juga sepet melihat wajah mu ! Aku hanya ingin bertanya pada mu, kenapa kau ada di vila tempat keluarga pacar ku? apa kau jadi babu mereka? hahaha" ejek Adit.
"Bukan urusan mu!" ketus Inayah.
"Ya, aku juga tak ingin tau urusan mu, yang jelas aku akan peringatkan mu sekali lagi, ingat ! Jangan sampai ada yang tau kalau kita pernah menikah, apa lagi Tania, berpura pura saja kalau kita tidak saling mengenal, kalau tidak, aku akan menghabisi mu !" Adit menggesekan jari telunjuk di leher depannya, sebagai kode ancaman untuk Inayah bila macam macam, Adit berlalu meninggalkan Inayah dengan tawa nya yang terbahak di sepanjang langkahnya.
Inayah memegang dadanya yang berdegup kencang karena ketakutan, dia juga mengatur nafasnya yang terengah engah padahal dia tidak berlari kemana pun.
"Dasar jurig (setan) puncak!" umpat Inayah kesal, dia pun melepar kerikil yang dia pungut di sebelah kakinya sambil mengumpat kesal.
"Aduh !" ringis seseorang yang tiba tiba berjalan di depan Inayah yang sedang duduk, orang itu memegang kepalanya yang terkena timpukan kerikil yang di lempar Inayah.
"Eh, maaf pak, mas, kang ! saya tidak sengaja" sesal Inayah, tapi laki laki yang lewat itu hanya menoleh ke arah wajah Inayah sambil berlalu pergi,
"Tak apa!" ucapnya singkat, sedikit tersenyum.
__ADS_1
Inayah memutuskan untuk kembali ke vila tempatnya menginap karena hari semakin malam dan udara semakin dingin meski Inayah sudah memakai baju berlapis lapis.
Dari kejauhan, Inayah melihat Liam sedang duduk di teras depan vila di temani Tania yang menyender mesra di bahu Liam, tangannya melingkar di lengan kokoh Liam.
Inayah berjalan lurus dan tak ingin memperdulikan dua orang itu, meski darahnya sekarang tiba tiba terasa mendidih,
"Nisa, kamu dari mana ? Aku mencari mu!" Liam berdiri dari kursinya dan segera menghampiri Inayah yang baru masuk ke pekarangan vila itu.
"Hmm" deham Inayah malas.
"Aku berbicara dengan mu !" Liam menarik lengan Inayah yang hendak meninggalkannya lagi ke dalam.
"Lepas,! Aku hanya berjalan jalan di sekitar sini saja, tentu saja kamu tak akan menemukan ku, kalau kamu mencari ku hanya sampai kursi teras, lalu mojok berduaan !" sinis Inayah.
"Aku hanya---"
"Kami hanya berbincang biasa saja, tak perlu cemburu kakak ipar !" sambar Tania yang ikut menghampiri Inayah di pekarangan sambil tersenyum sinis.
"Apa aku terlihat sedang cemburu ? aku hanya ngantuk, permisi!" Inayah menyingkirkan tubuh Liam dan Tania yang menghalangi jalannya.
"Bagus lah kalau kau tak cemburu, karena kau memang harus terbiasa melihat kedekatan kami yang seperti ini," Tania bergumam sinis.
"Cih, dasar piala bergilir !" lirih Inayah sambil tersenyum miring.
"Apa maksud mu?" pekik Tania yang mendengar gumamannya.
"Apa aku sedang berbicara dengan mu?" Inayah membuang wajahnya dari kedua orang itu lalu bergegas berjalan kembali ke kamarnya.dengan
Liam mengekor Inayah masuk ke dalam menuju kamar mereka, meninggalkan Tania sendirian di luar.
"Nisa, itu tadi aku bukan sedang mojok, tapi---" jelas Liam saat sudah di dalam kamar mereka.
"Lupakan, kamu tak perlu menjelaskan nya kalau merasa tak ingin menjelaskan, aku juga ngantuk." sinis Inayah.
"Hmm, baiklah, kamu tidur lah di kasur, biar ak yang tidur di sofa," lagi lagi Liam tak berusaha menjelaskan apa pun.
'Hmm, hubungan macam apa ini,? Punya suami gak peka, masih sering bersama kekasih masa lalunya, dan aku hanya bisa diam. Ada apa dengan nasib pernikahan ku, sudah dua kali pernikahan, dan aku selalu tak beruntung, Tuhan, aku juga ingin bahagia,' bisik Inayah dalam batinnya.
__ADS_1