Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
kesempatan


__ADS_3

Inayah tak tahu kalau bahaya sedang mengincarnya kini, tanpa dia tahu, Adit dan Seno mengincarnya untuk membalaskan dendam.


Bukan tanpa alasan Adit dan Seno bersekongkol untuk mengincar Inayah, Seno menyimpan dendam karena campur tangan Inayah yang ikut membongkar kecurangannya pada perusahaan yang mengakibatkan dirinya kehilangan pekerjaan dan penghasilan besar.


Beni memang tidak melanjutkan tuntutannya pada Seno, dia hanya memberhentikan kepala gudang itu secara tidak hormat dari pekerjaannya saja.


Adit ternyata adalah salah satu konsumen Seno yang membeli barang selundupan Seno dengan harga miring, dan kemudian dia jual lagi ke Teja grup tepat dirinya bekerja, dengan harga yang normal, sehingga dia mendapatkan keuntungan yang banyak, dia sengaja mendekati Tania agar memuluskan usahanya bisa menyuplay barang ke Teja grup.


Selain itu Tania juga membutuhkan Adit untuk memenuhi hasrat biologisnya yang tak pernah dia dapatkan dari Liam, jadi bisa di bilang hubungan antara Adit dan Tania adalah hubungan yang saling membutuhkan dan menguntungkan meskipun tanpa melibatkan perasaan di dalamnya.


Setelah kebobrokan Seno terbongkar, tentu saja mereka kehilangan sumber uang haramnya, dan itu yang membuat mereka murka terhadap Inayah.


***


"Kenapa kamu tak cerita kalau kamu sekarang jadi sekretaris nya Beny ?" tanya Liam ketika Inayah menyiapkan sarapan untuk mereka.


"Kamu tak pernah bertanya padaku, lagi pula,,, apa itu penting buat mu ?" jawab Inayah masih sibuk dengan makanan di meja.


"Aku berbicara baik baik padamu !" ucap Liam menatap tajam Inayah yang tak menoleh padanya sedikit pun, Liam merasa sebagai suami dia merasa tak di hargai dan selalu di abaikan oleh Inayah, tanpa dia mengkoreksi diri kesakitan apa yang sudah dia berikan pada Inayah sampai dia berubah menjadi se dingin itu padanya.


"Apa aku terdengar seperti tidak baik baik, saat menjawab pertanyaan mu ?" Inayah mengangkat wajahnya dan membalas tatapan tajam Liam padanya.


"Kamu selalu mengabaikan ku," lanjut Liam mulai menyantap makanan nya dengan mimik wajah yang kecut.


"Sudah lah, aku tidak ada waktu mendengarkan ocehan mu, aku banyak pekerjaan di kantor," pungkas Inayah merasa malas meladeni sikap Liam yang terkesan selalu menyalahkannya, tanpa menyadari apa kesalahannya.


"Aku akan mengantar mu, mulai hari ini kita berangkat kantor bersama sama," Liam menyelesaikan makannya dan berdiri dari duduknya dan segera menyusul Inayah yang sudah berjalan ke arah pintu.


"Aku bisa sendiri, aku sudah biasa sendiri," tolak Inayah.


"Mulai sekarang, kamu harus berangkat kerja dengan ku !" tegas Liam.


"Kenapa ?" sewot Inayah.


"Karena aku suami mu dan kamu istriku, bukan hal yang aneh kan, kalau suami meminta istrinya untuk berangkat kerja bersama ?" ujar Liam membukakan pintu mobilnya untuk Inayah.


"Tidak ada yang aneh untuk pasangan suami istri normal, tapi bukan untuk pasangan pura pura seperti kita !" Inayah bergeming untuk tak menaiki kendaraan roda empat itu.


"Jangan mulai lagi, aku lelah berdebat dengan mu!" gumam Liam.


Inayah pun akhirnya mengalah dan masuk ke dalam mobil itu, karena jika tidak, perdebatan akan semakin panjang dan dia akan terlambat sampai ke kantor.

__ADS_1


Liam tersenyum puas, dia merasa berhasil membujuk istrinya, dia bertekad akan mulai mengambil hati Inayah, sedikit demi sedikit meski penolakan dari Inayah pasti akan dia terima.


"Sampai sini saja !" pinta Inayah, dia meminta turun dari mobil meski kini jarak mereka agak jauh dari perusahaan tempatnya bekerja.


"Kenapa ? Bukannya kantor mu masih di depan sana?" tanya Liam.


"Sampai sini saja !" ulang Inayah penuh penekanan.


Liam pun menghentikan kendaraannya dan harus setuju menurunkan Istrinya di tempat itu, dengan Inayah mau berangkat bersama saja sudah merupakan kemajuan yang berarti buat Liam, jadi dia tidak ingin terlalu memaksakan lebih banyak lagi, dia yakin esok atau lusa hubungannya dengan Inayah akan membaik.


Liam masih memperhatikan langkah Inayah yang punggung nya semakin menjauh dari pandangan nya, namun tiba tiba sebuah mobil mewah berhenti tepat di samping Inayah sedang berjalan, setelah terlihat berbincang sebentar, Inayah masuk ke mobil itu dan menghilang dari pandangan Liam.


'Shiiiitttt ! Pantas saja minta di turunkan di sini, ternyata dia janjian dengan laki laki lain ! Tapi, bukan kah itu mobil Beni?' pekik Liam kesal.


Sementara Inayah yang kini duduk di samping Beni hanya terdiam saja setelah Beni memaksanya untuk ikut naik ke mobilnya tadi.


"Aku sengaja menyuruh mu untuk naik, karena Wiliam sedang memperhatikan mu dari kejauhan" ucap Beni melirik ke arah spion mobilnya.


"Bapak tau, saya di antar Liam?" tanya Inayah sedkit heran.


"Hmm, tadinya aku malah ingin menjemputmu di rumah untuk berangkat bareng, tapi aku lihat kalian berangkat bersama, ya sudah aku mengikuti kalian dari belakang," ujar Beni cuek.


"Kenapa Bapak nekat menjemput saya ke rumah? " Inayah mengerutkan keningnya.


"Tak penting bagaimana perasaannya pada saya, saya hanya ingin cepat lepas dari nya, hubungan kami sama sekali tidak sehat" gumam Inayah.


"Kalian hanya butuh berbicara, perbaiki komunikasi kalian, luangkan waktu untuk bericara atau sekedar jalan berdua" saran Beni.


"Cih, jalan berdua, yang ada dia hanya jalan berdua dengan pacar masa lalunya itu" sungut Inayah.


"Kamu cemburu ?" ejek Beni.


"Tentu saja tidak !" elak Inayah.


"Apa kamu pernah memberinya kesempatan untuk membuktikan penyataan cintanya pada mu ?" lanjut Beni.


Inayah menggelengkan kepalanya pelan, dia memang tak pernah memberi kesempatan Liam untuk mendekatinya, berbicara padanya, sikap Inayah selalu memperlakukan Liam bak seorang musuh baginya.


'Apa aku harus mencoba memberi Liam kesempatan,?' lirih Inayah dalam hatinya.


***

__ADS_1


Seharian, Liam uring uringan di kantor, dia merasa kesal dan marah dengan kejadian tadi pagi saat mengantar Inayah bekerja.


"Sayang, kenapa wajah mu di tekuk seperti itu?" Tanya Tania tiba tiba saja masuk ke ruangan Liam.


"Sudah berapa kali ku bilang, berhenti memanggil aku sayang, aku bukan pacar mu lagi, dan berapa kali lagi harus aku bilang, ketuk pintu dulu sebelum masuk ke ruangan ku, aku atasan mu !" kesal Liam.


"Wil, kamu kenapa selalu ketus pada ku?" rengek Tania.


"Karena kamu tak pernah mau terima kenyataan kalau kita sudah tak mungkin, dan aku sudah menikah, harus bagamana lagi aku menyadarkan mu ?" emosi Liam akhirnya pecah.


Tania sepertinya datang di waktu yang tidak tepat ke ruangan Liam, karena kini dia harus menjadi tumbal pelimpahan kemarahan Liam pada Inayah.


"Ayo lah, kita makan siang !" bujuk Tania, mendekati Liam, lalu dia duduk di meja kerja Liam, mengalungkan kedua tangannya di leher Liam.


Tania sungguh tau bagaimana cara menaklukan Liam saat sedang marah seperti ini.


"Tania, tolong jaga sikap mu, aku sudah ber istri !" gumam Liam, sambil memejamkan matanya karena kini Tania sedang menciumi telinga dan lehernya.


Ingin rasanya Liam memaki dirinya sendiri yang pertahanannya selalu saja kalah saat Tania menggodanya dan memperlakukannya penuh gairah, meski dirinya sekuat tenaga melawan rasa itu.


"Aku hanya ingin membuat mu rileks," bisik Tania.


"Tidak, tidak ! Ini tidak benar, aku tak boleh seperti ini !" Liam mendorong tubuh Tania menjauh dan melepas tangan Tania yang masih melingkar di lehernya.


"Kenapa kamu selalu menolak ku? Apa aku tidak menarik lagi buat mu?" dengus Tania.


"Aku akui kalau aku tak pernah bisa tegas pada mu, sehingga kamu selalu memanfaatkan kelemahan ku, tapi mulai hari ini aku katakan pada mu untuk stop memperlakukan ku seperti itu," ucap Liam.


"Dengan satu syarat !" Tania menyeringai licik.


"Apa pun itu, apa yang harus aku lakukan?" Liam mendengus kesal.


"Katakan kalau kamu tak mencintai ku !" tantang Tania.


"Emh, itu aku,,, aku,,,"


drrt,,, drrt,,,


Ponsel di genggaman Liam berbunyi, Liam terbelalak melihat nama yang tertera di layar, untuk pertama kalinya semenjak mereka menikah Inayah menghubunginya, Wajah Liam berubah jadi berseri seri saat hendak menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


"Ya, terimakasih, sampai jumpa di rumah!" Liam mengakhiri pembicaraan singkatnya dengan Inayah, wajahnya terasa memanas, hati nya menghangat dengan detak jantung yang berburu, dia merasa se bahagia itu hanya karena di telpon Inayah.

__ADS_1


Tania yang masih di ruangan itu hanya memandang Liam dengan tatapan sinis, menerka nerka obrolan apa yang di bicarakan Liam dan istrinya hingga bisa membuat Liam bak ABG sedang jatuh cinta.


__ADS_2