Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
bye Lilis


__ADS_3

Keadaan sudah semakin kacau, genderang perang antara Beni dan Wiliam sudah di tabuh, meski saat ini mereka masing masing terkesan masih melakukan perang gerilya, karena belum ada yang secara terang terangan menyerang satu sama lain.


"Ko, harga yang di tawarkan Wiliam terlalu tinggi kalau hanya untuk menebus setan betina itu,!" protes David pada Beni yang menyetujui tawaran yang di berikan Wiliam padanya.


"Hanya dua milyar itu sedikit, aku akan mendapat dua bahkan tiga kali lipat dari itu setelah aku menebusnya."ucap Beni menyeringai.


"Ish, jangan bilang koko mau,,,,," tebak David menutup mulutnya yang kini menganga dengan tangannya.


"that's right !" kata Beni meyakinkan kalau yang ada di pikiran adik sepupunya itu benar.


David hanya bergidig ngeri dan menggeleng gelengkan kepalanya.


Beni bersiap untuk pergi ke tempat pertemuannya dengan Wiliam yang sudah di sepakati sebelumnya, mereka janjian untuk bertemu di sebuah pelabuhan, mereka sepakat untuk serah terima Lilis yang akan di tukar dengan uang senilai dua milyar oleh Beni sesuai dengan permintaan Wiliam.


Sesuai kesepakatan, mereka juga bertemu tanpa pengawal satupun, pertemuan mereka hanya di lakukan empat mata.


Kini Beni dan Wiliam berada di atas sebuah kapal yang sengaja di sewa untuk mereka menlakukan transaksi di atas laut lepas, hanya ada seorang nakhoda yang mengendalikan laju kapal, selebihnya, hanya dua orang itu di atas sana, tak ada orang lain lagi selain mereka.


"Akhirnya kita bisa bertemu hanya berdua setelah rentetan masalah yang terjadi yang aku yakin semua itu ada campur tangan mu di dalamnya !" ucap Wiliam.


"Ya, akhirnya kita bisa bertemu tanpa topeng yang menutupi seolah olah kita baik baik saja dan tak ada masalah !" sinis Beni menyahuti ucapan Wiliam padanya.


"Masalah ? Masalah apa yang kau punya dengan ku, kita bahkan tak saling kenal sebelumnya, aku mengenalmu karena kecurangan mu saat berpura pura akan membantu keuangan Teja yang terpuruk, dan ternyata itu semua jebakan tipu muslihat mu !" kesal Wiliam membuang pandangannya jauh ke lautan lepas.


Beni mengulas senyum sekilas,


"Anggaplah kita tak saling kenal, karena aku pun tak sudi mempunyai kenalan manusia macam kau !" kata Beni.


"Apa maksud mu ?!" tanya Wiliam mulai berang.


"Apa yang ingin kau ketahui tentang ku ?" tantang Beni.


"Siapa kau sebenarnya ? Apa mau mu ? Kenapa kau mengambil alih Teja dengan cara curang ? Kenapa kau membeli rumah orang tua ku ? Dan mengapa kau menikahi wanita yang ku cintai ?" Suara Wiliam sedikit tercekat saat menanyakan hal yang terakhir dia ucapkan.


"Kenapa kau menargetkan ku ?" tegas Wiliam menatap tajam mata Beni yang tak kalah tajam seakan menembus ke jantung Wiliam dengan penuh kebencian.


"Jika kau tanya siapa aku sebenarnya,,, aku Beni Wijaya, dan kalau kau tanya apa mau ku,,, mau ku adalah kehancuran mu, lalu ----" belum selesai Beni berbicara, tiba tiba,


Bughh,,,,!


Kepalan tangan Wiliam mendarat di pipi kiri Beni dengan begitu kencangnya sehingga membuat Beni sedikit terhenyak ke belakang karena dia dalam posisi tidak siap menerima serangan mendadak dari Wiliam saat itu.

__ADS_1


"Kau berhasil menambahkan list 'hutang' mu !" Beni mengusap sudut bibir kirinya yang terasa asin karena sepertinya sedikit luka robek dan mengeluarkan sedikit darah di sana.


"Bangsat, hutang apa ? Aku tak merasa punya hutang pada mu !" Wiliam menarik kerah baju Beni sampai mendekat ke arah nya.


"Cih,,, benar kata orang, yang berhutang lebih galak dari pada orang yang menghutangi, padahal aku belum mau menagihnya !" cibir Beni.


"Bajingan,,! Hutang apa yang kau bicarakan sebenarnya ?" Wiliam melepaskan kerah baju Beni sambil mendorongnya.


"Hutang yang harus kau bayar berjuta kali lipat dari apa yang kau rampas dari ku dulu !" ucap Beni berteka teki.


"Tapi bukan kah kali ini maksud pertemuan kita membahas tentang penyerahan istri mu yang akan kau jual pada ku ?" kata Beni, dia belum ingin membahas masalahnya dengan Wiliam saat ini, hatinya masih di penuhi marah untuk Lilis, si iblis betina yang hampir mencelakai istri dan adik sepupunya itu.


"Dia bukan istri ku !" elak Wiliam.


"Hmmh,,, beruntungnya Istri ku memilih meninggalkan mu, salah salah kau bisa menjualnya suatu hari nanti bila sudah tak ingin lagi kau gunakan !" cicit Beni sengaja memancing emosi Wiliam.


Dan benar saja, Wiliam langsung tersulut emosi.


"Jaga bicara mu ! Aku tak mungkin mencelakai Inayah seperti kau dulu yang pernah hampir mencelakainya karena menyuruh orang untuk menculik nya !" kata Wiliam tersenyum mengejek Beni.


"Tapi nyata nya kau yang terluka saat itu, bukan istri ku !" elak Beni datar.


"Kau sengaja menjadikan Inayah umpan, karena ingin mencelakai ku ?" pekik Wiliam.


"Ah, otak kau terlalu lambat, karena baru sekarang menyadarinya !" ucap Beni dengan tawa khas nya.


Wiliam semakin yakin, kalau dia memang di targetkan Beni, hanya saja sampai saat ini dia belum tau masalah apa yang terjadi antara dirinya dan Beni, dan kalau Beni menyinggung masalah hutang, Wiliam sangat yakin kalau dirinya tak mempunyai hutang apapun pada laki laki di hadapannya itu.


Wiliam juga tak ingin terburu buru menyimpulkan, dia perlu waktu untuk mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya, jadi untuk saat ini dia tidak akan membahas masalah itu terlebih dahulu seperti keinginan Beni, sang lawan main.


"Mana uang yang kau janjikan ?" tanya Wiliam kembali ke tujuan awal pertemuan mereka di sana.


Beni mengeluarkan selembar cek dari saku kemeja yang di pakainya, lalu mengacungkan nya di hadapan wajah Wiliam


"Tidak ada penipuan di sini kan ?" tanya Wiliam sambil membolak balik selembar kertas berisi tulisan dan angka itu


"Tenang saja, uang itu tak seberapa buat ku !" sombong Beni.


"Antarkan istri mu ke kontainer sebrang sana !" tunjuk Beni pada sebuah kontainer berwarna hitam yang berada di sebuah kapal besar pengangkut ikan.


"Kenapa harus kesana, akan kau apakan dia ?" tanya Wiliam.

__ADS_1


"Apa kau hawatir padanya ? kenapa tak kau temani saja dia di sana ?!" seloroh Beni tersenyum miring.


Wiliam hanya mendengus kesal, lagi pula dia juga tidak benar benar ingin tau apa yang akan Beni lakukan kepada wanita mantan partner pemuas di atas ranjangnya itu, dia tak peduli bahkan bila Beni menjadikan betina itu makanan ikan hiu sekalipun di lautan ini.


"Akan ku pastikan bahwa aku sendiri yang akan mengantarkan nya ke sana, aku tak peduli apa yang akan kau lakukan padanya !" ucap Wiliam.


"Baguslah, akan ada beberapa anak buahku yang menunggu mu di sana !" ujar Beni seraya menahan lonjakan kegembiraan di hatinya saat mendengar ucapan Wiliam.


Mereka pun mengakhiri pertemuan siang itu, dan kembali ke daratan, Beni dengan sorak sorai di hatinya dan Wiliam dengan berjuta teka teki penuh misteri dan pertnyaan yang seakan tak ada jawaban memenuhi pikirannya.


Mereka berpisah dengan membawa suasana hatinya masing masing.


"Bagaimana ?" tanya David yang menunggu kakak sepupunyanya itu selama berjam jam di dalam mobil dengan harap harap cemas dan sekarang bisa bernafas dengan lega karena kokonya kembali dengam utuh dan selamat.


"Sukses besar ! Sesuai rencana dan harapan, segera kau hubungi mereka !" ucap Beni dengan senyum penuh kemenangannya.


"Kau yakin ? Ini akan menjadi masalah dan berita besar di negeri ini, dan hal ini juga bisa saja berbalik menyerang mu, menjadikan mu terseret ke pusaran masalah yang sangat besar dan nyawa mu yang akan menjadi taruhannya,!" David memperingatkan.


"Lakukan sesuai rencana, aku tak pernah seyakin ini sebelumnya, percayalah aku akan baik baik saja, dan bila terjadi apa apa padaku, kau tau siapa yang harus kau selamatkan dan kau jaga bukan ?" ucap Beni.


"ya, aku tau, tapi aku berharap tak akan pernah ada masa dimana aku harus menjaga dan menyelamatkan Inayah, istri koko !" lirih nya.


"Tentu saja itu tak akan ku biarkan, karena aku pasti baik baik saja, hanya aku yang akan menjaga dan melindungi istri ku !" ucap Beni percaya diri.


Tring,,,!


Satu pesan masuk ke ponsel David, laki laki itu membelalakan matanya saat membaca pesan yang masuk ke ponselnya itu.


"Gila,,, enam milyar ?! Tiga kali lipat dari uang yang koko keluarkan untuk menebus wanita itu pada Wiliam ?" pekiknya menjerit tertahan.


"Transferkan saja padaku senilai aku membeli jallang itu, sisanya ku hadiahkan untuk mu, sebagai kompensasi karena jallang itu kan, pacar mu, hahaha !" tawa lepas Beni membuat David merengut tak terima karena ledekan kakak sepupunya itu.


"Koko !" protes David kesal.


"Apa kau tak ingin mengucapkan selamat tinggal terlebih dahulu pada pacar mu itu ?" goda Beni.


"Aku tak menyangka punya koko psycho seperti ini !" David bergidig ngeri.


"Sudah ku katakan, siapapun yang mengusik keluarga dan orang orang tersayang ku mereka harus menebusnya sejuta kali lebih sakit dari apa yang mereka lakukan," Mata Beni menggambarkan betapa dia tak akan pernah main main dalam menjaga dan melindungi orang orang terkasihnya.


"Lagi pula,,,, jantung, hati, mata, dan bagian lain dari tubuh jallang itu bisa berguna untuk membantu orang lain di tangan para mafia jual beli organ tubuh ilegal itu, dari pada hidupnya sekarang yang hanya berbuat kejahatan !" ucap Beni dengan tatapan bengisnya, membuat siapapun yang melihat dan mendengar ucapannya merinding ngeri.

__ADS_1


__ADS_2