Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Ke Jakarta Aku kan Kembali


__ADS_3

"Nak, kenapa semenjak kedatangan Lilis kesini kaamu jadi pendiam, apa ada yang kamu pikirkan ? Cerita lah sama emak" kata Titin malam itu,


"Tidak mak, Inayah hanya sedikit kepikiran tentang tadi siang," lirih Inayah.


"Sudah lah jangan terlalu di ambil hati, yang penting kamu tidak seperti yang mereka tuduhkan" ucap Titin.


***


Tadi siang di kebun,


Inayah sedang bekerja memetik cabai di kebun milik haji Juned salah satu juragan tanah terkaya di desa, yang memiliki empat istri, dan dari dulu memang mengincar Inayah untuk di jadikannya istri ke lima, namun Inayah tak pernah meladeni pria tua itu.


"Inayah, untuk apa kamu cape cape jadi buruh tani, kalau bisa jadi juragan, aku akan memberikan lahan ini pada mu kalau kamu mau menikah dengan ku" ucap haji Juned sambil mendekati Inayah yang tetap sibuk memetik cabai tanpa menghiraukan ucapan pemilik lahan genit itu.


"Dia tak akan mau sama pak Haji, karena dia sudah jadi simpanan bos besar di Jakarta, lihat ini ! Ibu ibu, bapak bapak, semuanya coba lihat ini !" Esih yang selalu saja datang merusuh itu menunjukan ponselnya dan memperlihatkan gambar di ponselnya ke seluruh buruh kebun yang ada di sana, termasuk pada Haji Juned.


"Ya ampun, gak nyangka kamu ternyata di kota itu benar benar menjual diri !" ucap salah satu ibu ibu yang baru saja melihat layar ponsel Esih.


"Apa maksud ibu ? Saya di kota bekerja bukan menjual diri saya !" tegas Inayah.


"Alaaaah, gak usah sok suci, ini Adit mengirimkan foto mu sedang melacurkan diri pada bos mu !" Esih menunjukkan foto Inayah yang sedang berciuman dengan Beni, Inayah yakin, tentu saja Adit mendapatkan foto itu dari Tania.


"Itu,,, itu fitnah !" ucap Inayah.


"Hahaha fitnah apa ? Aku menyaksikannya sendiri dengan mata kepala ku, makanya aku punya foto itu !" tiba tiba Adit masuk ke tengah tengah kerumunan para pekerja yang sedang berkerumun menonton pertunjukan yang Esih dan anaknya buat.


"Kau,,, kau,,, kenapa kau selalu menindas ku, menjahati ku, kau juga yang sudah menculik ku waktu itu kan ? Walau mata ku di tutup, aku hafal dengan suara mu !" ucap Inayah terengah engah menahan marah.


"Hey, wanita sial ! Apa kau tak punya otak, buat apa anak ku menculik mu, rugi ! Jangan coba coba balik memfitnah anak ku, dasar jalllanng !" telunjuk Esih bergerak gerak di depan wajah Inayah.


"Jangan harap Adit mau kembali pada mu, karena beberapa hari lagi anak ku yang ganteng ini akan menikah dengan Neneng anaknya haji Juned, dan nanti, anak ku yang akan menjadi juragan mu, hahaha !" sambung Esih di akhiri dengan tawa mengejek.


"Adit, aku tak pernah membalas semua kejahatan mu pada ku, kenapa kamu terus terusan berbuat jahat padaku !?" teriak Inayah tak peduli dengan ocehan Esih juga dengan banyak orang yang sedang menontonnya.


"Kau berani padaku ? Apa karena merasa sudah menjadi simpanan bos besar terus kamu jadi tinggi hati ?" Adit mencengkram lengan Inayah dengan sekuat tenaga.


"Auwh, lepas !" rintih Inayah berontak.

__ADS_1


"Ini sebagian kecil hukuman mu karena kau telah mengacaukan bisnis ku, kau harus menuruti perintah ku bila tak ingin aku mencelakai ibu mu itu !" ancam Adit.


"A- apa maksud mu ? Jangan coba coba sentuh ibu ku !" ucap Inayah membalas tatapan tajam Adit.


Adit menarik tangan Inayah menjauh dari orang orang yang menonton pertengkaran mereka, tanpa ada yang melerai apalagi menolong Inayah. Mereka tak ingin ikut campur urusan calon mantu juragannya, salah salah mereka bisa kehilangan pekerjaan bila bersikap sok pahlawan, pikir orang orang yang berada di sana.


"Kau kembali ke kota, dan kembali bekerja di kantor Beni, lalu bujuk Beni untuk menerima ku bekerja di bagian gudang," ucap Adit.


"Tidak, aku tidak akan kembali ke kota, dan tidak akan pernah kembali ke perusahaan itu" tolak Inayah.


"Maka bersiaplah menjadi anak yatim piatu, kamu tau aku kan, aku bisa melenyapkan ibu mu tanpa jejak, seperti aku bisa melarikan diri tanpa jejak setelah gagal menculik mu !" Adit tersenyum iblis.


"Lakukan apa yang ku perintahkan kalau kau masih ingin melihat ibu mu hidup !" ancam Adit lagi.


***


"Apa emak mengijinkan kalau Inayah kembali ke kota ?" tanya Inayah ragu.


"Ada apa, Nak ? Bukannya kamu bilanng tak ingin kembali ke kota, kenapa tiba tiba berubah pikiran ?" tanya Titin.


"Emh, Inayah tidak nyaman dengan gosip yang beredar, dan tentang foto yang di tontonkan bu Esih," Inayah beralasan.


"Hanya foto editan, foto bohong !" elak Inayah berbohong karena tak ingin ibunya ikut berpikiran yang tidak tidak tergadap dirinya.


"Emak hanya bisa mendukung apapun yang kamu lakukan selama itu di jalan yang benar, emak selalu mendoakan kesehatan, keselamatan dan kebahagiaan untuk mu," ucap Titin tulus.


'Terimakasih mak, tapi maaf kali ini yang Inayah lakukan sepertinya bukan jalan yang benar, tapi Inayah tak punya pilihan lain, Inayah takut Adit mencelakai emak !' tangis Inayah dalam hatinya.


Sungguh ini pilihan yang sulit baginya, tapi dia sangat tau perangai Adit, laki laki itu akan melakukan hal nekat yang di luar dugaan manusia demi mencapai keinginannya.


"Mungkin besok pagi Inayah akan kembali ke kota mak, emak hati hati di sini ya, kabari Inayah kalau ada apa apa," ucap Inayah dengan berat hati, karena kembali harus meninggalkan Titin.


"Besok pagi ? Mendadak sekali !" cicit Titin.


"Lebih cepat Inayah pergi akan lebih baik buat emak, karena selama Inayah masih di sini, bu Esih akan terus berusaha menindas Inayah dan Emak," ucap Inayah.


Titin pun tak bisa berbuat apa apa selain mengijinkan anaknya untuk kembali merantau jauh dari nya. Sebagai ibu dia hanya bisa mendoakan yang terbaik buat anak semata wayangnya itu.

__ADS_1


***


Inayah kini sudah kembali di Jakarta, kembali tinggal di tempat kost sederhana tempatnya dulu tinggal saat pertama kali datang ke ibu kota.


"Kamu yakin akan tinggal di sini lagi ? Kenapa tak tinggal di rumah suami mu ?" tanya Lilis.


"Aku belum siap bertemu Liam, nanti kalau aku sudah siap bertemu dengannya, aku pasti akan datang dan berbicara dengannya" lirih Inayah.


"Ah, kamu mah pengecut, kapan selesainya masalah mu kalau kamu terus terusan menghindar !" ejek Lilis.


Inayah hanya tersenyum simpul mendengar omelan dan ejekan sahabatnya itu, Lilis memang sudah biasa berbicara ceplas ceplos padanya, tapi dia tau kalau sahabatnya itu selalu baik dan perhatian padanya, makanya dia tak pernah sakit hati dengan ucapan sahabatnya itu.


Keesokan harinya Inayah datang ke perusahaan milik Beni, tempatnya dulu dia bekerja.


"Maaf, bisa saya bertemu dengan Pak Beni ?!" tanya Inayah ramah pada seorang resepsionis kantor itu yang kebetulan dia kenal.


"Mba Inayah, lama tak jumpa, pak Beni ada d ruangannya, saya akan menelpon ruangannya terlebih dahulu !" jawab resepsionis itu ramah.


Inayah mengangguk sambil tersenyum ramah, menunggu resepsionis itu menyelesaikan pembicaraannya dengan Beni.


"Bos bilang, mbak Inayah sudah boleh naik dan bos sudah menunggu di ruangannya," ucap wanita itu ramah.


Setelah mengetuk pintu dan di persilahkan untuk masuk, Inayah membuka ruang kerja Beni, untunglah tak terlihat sosok Tania yang sangat tak ingin dia jumpai saat ini.


"Duduklah, aku tau kamu pasti akan mencari ku cepat atau lambat !" ucap Beni.


"Saya ingin menerima tawaran bapak waktu itu untuk kembali bekerja di sini lagi," lirih Inayah seraya mendudukan diri di kursi yang berada di hadapan Beni.


"Tak masalah, aku masih akan menerma mu, tapi ada beberapa persyaratan yang harus kamu penuhi untuk dapat menempati posisi mu kembali sebagai sekretaris ku !" ucap Beni dengan senyumnya yang misterius.


"Syarat ? Syarat apa ?" tanya Inayah tergagap, karena sebelumnya Beni tak pernah membahas tentang persyaratan apapun padanya.


"Kamu harus bercerai dengan Wiliam !" tegas Beni, dan tentu saja ucapan Beni itu sangat mengejutkan Inayah.


"Ta- tapi kenapa syaratnya harus bercerai ? Apa hubungannya pekerjaan ku dengan status pernikahan ku ?" protes Inayah.


"Hanya itu syarat dari ku, kembali kesini saat kamu sudah bercerai dengan Wiliam !" ucap Beni dingin.

__ADS_1


Entah masalah apa lagi kini yang akan menimpa Inayah, dia sampai berpikir kenapa semua orang bersikap jahat padanya, menindasnya, mengancamnya, mengintimidasinya, apa ini resiko menjadi orang desa polos seperti dirinya ?


Haruskah dia berubah menjadi penjahat juga untuk melawan orang orang yang menjahatinya ? Kehidupan sungguh sangat kejam memperlakukan Inayah.


__ADS_2