
"Bagaimana ? Benar benar jitu kan saran ku ?" ujar Lilis tersenyum sambil membusungkan dan menepuk nepuk dada nya sendiri seraya membanggakan dirinya atas pencapaian besar yang di dapat perusahaan baru Wiliam hasil dari menyerobot kerja sama milik perusahaan Beni.
"Kau memang hebat, aku bangga punya teman seperti mu !" ucap Wiliam malam itu.
"Teman ? Hampir setiap hari kita seperti ini kamu masih menganggapku teman ?" sewot Lilis bangun dari rebahannya menunjukkan tubuh polosnya yang tak berbusana.
"Jangan melebihi batas ! Kita sudah sepakat dari awal, tak akan pernah ada ikatan lebih di antara kita, selain berteman !" geram Wiliam penuh penekanan.
"Aku tak mengerti dengan cara pandang mu terhadap perempuan, kamu berpacaran lama dengan dengan nenek sihir itu, tapi tak pernah kamu sentuh, itu berarti hanya aku yang membuat mu bergairah, lalu kenapa kita tak berpacaran saja ?" ucap Lilis sambil berpose menggoda di depan Wiliam.
"Aku memperlakukan wanita sebagaimana dia ingin di perlakukan, kau selalu ingin aku tiduri, aku kabulkan keinginan mu, kita sama sama sudah dewasa, dan membutuhkan pelampiasan !" jawab Wiliam cuek.
"Tapi bukan kah Tania juga sering menggoda mu dan meminta untuk di tiduri oleh mu ?"
"Ada dua hal yang membuat aku memutuskan untuk tidur dengan wanita, yang pertama karena nafsu, dan yang ke dua karena cinta !" Mata Wiliam tiba tiba menerawang jauh, pandangannya nanar entah apa yang ada di benak nya kini sehingga membuat matanya sedikit berkaca kaca.
"Dengan kata lain kamu ingin mengatakan kalau kamu tidak bernafsu dan juga tidak mencintai Tania sehingga kamu tak pernah mau berhubungan badan dengan nya ?" pancing Lilis.
"Aku tak ingin membicarakan itu, lebih baik kau persiapkan dokumen dan segala sesuatunya untuk proyek minggu depan yang lebih besar, ada permintaan barang lagi dari luar negeri dengan jumlah keuntungan yang fantastis," ucap Wiliam, rona wajahnya langsung berubah bahagia seketika saat membayangkan keuntungan yang akan di dapatnya dari proyek hasil mencurangi perusahaan Beni.
"Tapi, kita memerlukan modal yang sangat besar untuk memenuhi permintaan mereka,!?" kata Lilis.
"Masalah itu tenang saja, aku sudah menggadaikan rumah ini dan juga rumah ayah ku, aku juga berencana meminjam sertifikat aset mu di kampung untuk ku gadaikan untuk menambah modal proyek ini, nanti aku akan menggantinya dua kali lipat, oke ?!" ucap Wiliam seraya mencubit dagu Lilis dan mencium bibir wanita itu sekilas,
"Aku akan sangat bahagia bila bisa membantu mu, karena aku mencintai mu !" gumam Lilis mulai menyulut kembali gairah Wiliam yang kini sudah pasrah di bawah kendali tubuh wanita yang kehilangan akal sehat nya karena di butakan cinta pada laki laki bernama Wiliam meski dia tau Wiliam tak pernah membalas rasa cintanya, mirisnya dia hanya di jadikan pemuas hasrat lelaki itu saja.
***
"Bos, penggelapan barang yang di lakukan Adit semakin banyak, apa tidak berbahaya untuk perusahaan ?" lapor Inayah pada Beni sambil membolak balikan dokumen berisi angka yang menggambarkan jumlah stok barang masuk dan keluar dari kepala gudang.
"Kau terlalu meremehkan perusahaan ku, kalau hanya secuil barang yang di curi oleh manusia serakah itu, tak berarti apa apa buat ku, biarkan saja dia, semakin banyak yang di curinya, semakin berat juga hukuman yang nanti di terimanya," cengir Beni, tengil seperti biasanya.
"Sayang ! Kita di undang makan malam oleh ayah dan ibu malam ini," seru Tania yang tiba tiba menerobos masuk ke ruang kerja Beni.
"Aku akan datang ke rumah mu nanti !" jawab Beni, tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.
"Kau pulang lah, aku masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan !" sambung Beni.
"Ish, kau selalu saja bersikap dingin pada ku, awas saja kalau kau tak datang nanti malam !" ancam Tania.
"Hemh !" Beni hanya menjawabnya dengan dehaman malas.
__ADS_1
"Apa kau lihat lihat ? Janda dua kali, iri ya,?" cibir Tania yang masih berdiri di sebrang meja Beni melotot ke arah Inayah.
"Ya, lebih baik janda mba, dari pada di pake sana sini tapi ga di nikahin !" sinis Inayah, dia tak mau lagi di tindas siapa pun, kini dia akan membalas siapa pun yang mengusik dirinya.
"Jaga ucapan mu ! Lancang sekali mulut sekretaris mu Ben !" adu Tania pada Beni.
"Jangan cuma adu bacot, baku hantam saja lah kalian, biar seru !" ucap Beni kesal karena merasa konsentrasinya terganggu oleh keributan dua wanita di hadapannya itu.
"Kau ! Menyebalkan !" kesal Tania menghentakkan kakinya kesal lalu dengan terpaksa meninggalkan ruangan karena Beni mengintimidasinya dengan tatapan yang mengerikan.
"Tunggu !" sergah Beni saat Inayah yang juga hendak meninggalkan ruangan bos nya itu.
"Saya, bos ?" tanya Inayah ragu.
"Ya, sore ini kau pulang bersama ku dan temani aku ke rumah Tania untuk memenuhi undangan makan malam orang tuanya," titah Beni.
"Ah, tidak bos, saya tidak bisa,!" tolak Inayah, dia belum siap bertemu mantan mertuanya itu, dan dia juga malas bila nanti di sana bertemu dengan Wiliam.
"Tidak ada penolakan, kau tenang saja, aku akan menjaga mu, tak akan terjadi apa apa pada mu !"
"Kenapa aku harus ikut ? Ini kan, acara makan malam bos, tidak ada hubungannya dengan ku !" protes Inayah.
"Tentu saja ada, mana mungkin aku mengajak mu kalau tidak menguntungkan bagi ku !" cengir Beni.
***
Saat yang di tunggu tunggu tiba,
malam itu Inayah terlihat cantik dengan gaun hitam se mata kaki, model leher sabrina berlengan panjang elegan dengan belahan tinggi di samping yang juga menambah kesan sekkssi sungguh cocok di tubuh Inayah, senada dengan kemeja hitam tangan panjang tanpa dasi yang di gulung sampai sikut, yang di kenakan Beni, mereka terlihat seperti pasangan yang sangat serasi malam itu.
Beni sengaja mendandani Inayah malam itu untuk menemaninya ke rumah Tania, karena dia tau Wiliam pasti ada di sana, dia ingin Wiliam tambah menyesal telah melepaskan Inayah begitu saja.
"Kenapa kau membawa wanita ini ?" protes Tania saat Beni dan Inayah baru saja turun dari mobilnya.
"Hanya iseng saja !" jawabnya cuek.
"Iseng ?!" kaget Tania membelalakan matanya.
"Apa yang salah ? Ayah dan ibu mu belum tau kalau Wiliam dan Inayah sudah bercerai kan ? Jadi sah sah saja kan dia ikut makan malam dengan keluarga mu ?" Beni menarik tangan Inayah yang terlihat ragu ragu untuk melangkahkan kaki memasuki rumah besar itu.
"Nisa !" sapa Wiliam terkaget karena melihat sosok Inayah tiba tiba ada di rumah orang tuanya.
__ADS_1
"Aps kau senang, aku membuatnya cantik dan membawa nya kesini?" sinis Beni.
"Apa maksud lu ngelakuin ini semua ?" geram Wiliam.
"Tania, bawa Inayah masuk dan menemui orang tua mu, aku ada sedikit bisnis dengan kakak tiri mu ini !" titah Beni pada Tania.
Dengan wajah yang kecut Tania membawa Inayah masuk duluan ke rumahnya, meninggalkan Beni dan Wiliam dengan obrolan panas mereka di teras rumah.
"Aku dengar, ayah mu baru saja di rawat di rumah sakit karena serangan jantung, apa jadinya kalau aku ceritakan tentang pernikahan pura pura mu dengan Inayah pada ayah mu, tentang perceraian mu, lalu ku ceritakan juga tentang Teja grup yang kini tak lagi di pegang oleh mu ?" senyum licik Beni tercetak jelas di wajah tampan orientalnya.
"Apa maksud mu ? Jangan usik keluarga ku, ini masalah bisnis antara kita !" geram Wiliam.
"Bisnis ? Kau yakin masalah kita hanya bisnis ?"
"Terserah ! Katakan apa mau mu ?" tanya Wiliam.
"Jual saham kecil mu di Teja grup padaku, maka rahasia mu aman, tak akan ku ceritakan pada ayah mu !" ucap Beni.
"Tak akan pernah !" Wiliam bergegas pergi meninggalkan Beni yang mulutnya masih menyunggingkan senyum mengejek.
Beni mengekor Wiliam dan mengikutinya masuk ke dalam rumah,
"Nak Beni, kenapa baru datang,? Sini masuk, ayahnya Tania sedang ngobrol sama mantu nya tuh !" sambut Meli ibunya Tania ramah sambil menunjuk Andi subagja yang sedang mengobrol akrab dengan Inayah.
"Hai Om, asik banget kaya nya, boleh ikutan ngobrol ?" sapa Beni pada Andi, sambil matanya melirik ke arah Wiliam yang mulai gelisah.
"Bagaimana kesehatan Om ?" basa basi Beni pada ayah tirinya Tania itu.
"Lumayan membaik, tapi Om masih sering kambuh kalau mendengar berita berita yang agak mengejutkan," jawab Andi.
"Kalau berita membahagiakan tak masalah kan Om ?" guyon Beni, yang lalu di sambut tawa orang tua Tania itu.
"Wil, kapan kau memberi ku cucu ? Istri mu ini cantik sekali, kalau kalian punya anak pasti lucu lucu !" seloroh Andi.
"Lho,,, apa om tidak tau kalau Wiliam dan Inayah sudah...." ucapan Beni tertahan karena Wiliam menarik tangannya.
"Ben, ada yang perlu aku bicarakan !" ucapnya dengan wajah memerah karena marah.
Beni tersenyum penuh arti mengekor Wiliam ke luar rumah.
'Ini baru permulaan Wiliam !' batin Beni.
__ADS_1
**Maaf, up nya sehari sekali dulu ya, karena othor pegang dua judul on going, bila berkenan silahkan mampir dan ramaikan cerita on going satunya, upss jadi promo ga papa ya...