Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Penyesalan


__ADS_3

"Maaf Tania, aku masih banyak pekerjaan, kalau tak ada lagi yang perlu di bicarakan, aku akan bekerja kembali karena Aku harus segera pulang untuk bertemu istri ku," ucap Liam mengusir Tania dari ruangan nya secara halus.


"Kamu mengusir ku?" Tania membelalakan matanya, dia tak percaya kalau Liam sekarang sudah berani mengusirnya.


"Terserah apapun menurutmu, yang jelas aku tidak mau di ganggu oleh siapa pun saat ini !" tegas Liam.


Tania mendengus kesal, dia meninggalkan ruangan Liam dan membanting pintu sesaat sebelum dia menghilang dari balik pintu kayu itu, Liam hanya menggeleng dan tak memperdulikan apa yang di lakukan Tania, saat ini ajakan bertemu Inayah nanti sore lebih menarik untuk dia pikirkan saat ini.


Liam merasa senang Inayah sudah mulai menghubunginya dan mengajaknya bertemu sore ini, meski dia tak tau atas kepentingan apa dan hal apa yang akan Inayah bicarakan dengannya saat pertemuan sore nanti.


Sore hari yang di tunggu tunggu Liam tiba, dia bersiap pulang dari kantor dengan wajah sumringahnya, namun baru saja dia menyambar kunci mobil yang tergeletak di mejanya, sekretarisnya masuk ke ruangan Liam dengan tergesa gesa dan wajah paniknya.


"Maaf pak, bu Tania pingsan dan sekarang ada di ruang klinik bawah," lapornya, Liam pun langsung bergegas turun ke ruang klinik perusahaannya yang terletak di lantai dasar.


Setengah berlari Liam menuju ruangan klinik dan membuka pintu dengan kasar, napasnya tersenggal senggal karena terburu buru datang kesana.


"Dok, apa yang terjadi padanya?" tanya Liam pada seorang dokter perempuan yang sedang memeriksa Tania yang tergolek lemah di ranjang klinik.


"Bu Tania sepertinya keracunan makanan," jawab dokter itu menyelesaikan penanganan pada Tania.


"Bagaimana keadaannya?" panik Liam, dia menatap wajah Tania yang memucat dari balik punggung dokter itu.


"Untuk saat ini baik baik saja, saya baru memberinya infus berisi elektrolit, setelah infus habis, bu Tania sudah boleh pulang, karena keadaannya tidak begitu parah" urai dokter itu menjelaskan.


"Syukurlah, kalau keadaannya baik baik saja" Liam menghela nafas lega.


Liam mendekati tubuh lemah Tania, dan menggenggam tangannya.

__ADS_1


"Kamu baik baik saja ? Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya Liam hawatir.


Tania hanya menggeleng lemah, namun hati nya bersorak sorai, tidak sia sia dia sengaja memakan makanan basi yang dia temui di ruang kantornya, agar dapat menggagalkan pertemuan Liam dan Inayah.


"Apa kamu menghawatirkan ku?" tanya Tania.


"Emh, tentu saja, kamu adik ku, ayah ku dan ibumu pasti akan menyalahkan ku bila sampai terjadi sesuatu pada mu" jawab Liam grogi.


"Kau masih mencintaiku, ini buktinya, kamu masih sangat peduli dan menghawatirkan ku" Tania tersenyum lemah.


"Bukan seperti itu, kamu adik ku, tentu saja aku hawatir. Baiklah kalau kamu baik baik saja, aku harus segera pulang" tukas Liam melepaskan genggaman tangan Tania yang bertaut di tangannya.


"Temani aku, aku takut kalau harus di sini sendirian" pinta Tania.


Liam terlihat seperti sedikit berpikir dan mempertimbangkan sesuatu.


"Baiklah, aku akan menemani mu sampai infus itu habis" Liam mengalah meski agak berat karena Inayah pasti akan kecewa dan bertambah marah bila dirinya sampai pulang terlambat.


Tapi dirinya juga tak mungkin memberi tahu Inayah kalau sore ini akan pulang telat karena menunggui Tania di klinik kantor, itu akan memperunyam hubungannya dengan Inayah yang hampir membaik.


Tania merasa di atas angin karena merasa ternyata dirinya masih di prioritaskan dari siapapun dan apaun, dan itu membuktikan berarti Liam masih sangat mencintainya, sama seperti dirinya yang masih dengan sangat mencintai kakak tirinya itu.


Waktu sudah menunjukan pukul 7 malam saat cairan infus yang menggantung dan mengalir ke tangan Tania itu habis dan di lepas oleh dokter yang berjaga malam itu.


"Aku harus segera pulang," pamit Liam.


"Tapi, aku belum bisa mengemudi dalam keadaan seperti ini, boleh kah kamu antarkan aku pulang dulu?" rajuk Tania.

__ADS_1


"Maaf,,, aku harus segera pulang, aku benar benar minta maaf, biar supir kantor yang akan mengantarmu pulang" Liam tidak ingin lebih malam lagi sampai ke rumah dan mengecewakan Inayah.


"Wil, tolong lah, apa kamu tega membiarkan aku pulang hanya dengan sopir ?" rengek Tania.


Tapi Liam tak bergeming dengan berat hati dia meninggalkan ruangan itu, dia harus bisa menolak keinginan Tania, semakin sering dia mengalah pada Tania, hatinya akan semakin tidak tega dan luluh, lantas kembali lagi ke pelukan cinta masa lalu yang tak mungkin bersama itu, dia harus bisa meninggalkan dan membuang cintanya untuk Tania agar bisa menjalani hidup baru dengan Inayah yang mulai dia cintai.


Sepanjang perjalanan dari ruang klinik ke basement gedung pikiran Liam sungguh kacau, memikirkan dan menimbang nimbang antara langsung pulang atau mengantar Tania terlebih dahulu, jujur hatinya kurang begitu tenang harus membiarkan Tania pulang sendiri dalam keadaan sakit seperti itu hanya bersama sopir.


Tapi kalau dirinya mengantar dulu Tania, kemungkinan sudah larut malam dia baru sampai rumah dan bertemu Inayah, saat hendak membuka pintu mobilnya, Liam mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk kembali ke klinik dan berniat untuk mengantarkan Tania pulang, dari pada hatinya tidak tenang saat bersama Inayah.


Liam akan meyakinkan Inayah kalau dirinya telat pulang karena ada pekerjaan mendadak, dan dia yakin Inayah pasti akan mengerti.


Liam berjalan dengan tergesa gesa ke ruang klinik, pikirannya sungguh benar benar kacau dan kalut, dia tak tau apa pilihannya benar atau salah, namun hatinya berkata kalau dia harus mengantarkan Tania sampai rumah.


"Sayang, kamu membuatku panik, apa kamu baik baik saja? aku sampai mengebut dan berlari kembali ke sini karena menghawatirkan mu!" ucap Adit yang mendapat berita kalau Tania pingsan di kantor, sesaat setelah dirinya sampai di rumah kontrakannya karena hari ini dia pulang lebih cepat.


"Aku tidak apa apa, hanya sedikit pusing dan mual tadi, sedikit bercumbu dengan mu pasti sembuh, aku hanya merindukan belaian mu saja," lirih Tania mengalungkan tangannya di leher Adit dan menyandarkan wajahnya di ceruk leher laki lak pemuas nappsunya itu.


"Sayang, kamu nakal, sebaiknya kamu aku bawa pulang ke rumah ku saja, kamu harus bertanggung jawab karena sudah menggoda ku !" Adit menciumi kedua pipi Tania dan mengecup bibirnya gemas.


"Ayo kita hangatkan malam ini !" seru Tania melompat ke pangkuan Adit bak anak koala.


Liam buru buru menjauh dari pintu klinik setelah melihat semua pertunjukan mesra antara Adit dan Tania di ruang Klinik barusan.


Tadi, saat Liam sampai di ambang pintu klinik yang setengah terbuka, dia melihat Tania sedang asik mengobrol dan bermesraan dengan laki laki yang Liam kenal sebagai mantan suami Inayah, karena pernah bertem sekali di tempat kost mereka saat Adit hendak mencelakai Inayah dan Liam membantu mengusir laki laki itu.


Liam tersenyum kecut, langkahnya lesu, kembali menju basement gedung, dia merasa menjadi manusia paling bodoh, berniat menghianati Inayah yang mennggunya di rumah demi Tania yang masih saja dia prioritaskan padahal kenyataannya wanita itu sudah tak mencintainya dengan setia seperti dulu lagi.

__ADS_1


'Apakah ini cara Tuhan menegur ku kalau aku sudah sangat jahat memperlakukan istri ku? Inayah maafkan aku !' gumam Liam lirih dalam penyesalannya.


__ADS_2