Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Penawaran Beni


__ADS_3

"Bagaimana perkembangan hubungan mu dengan Wiliam ?" tanya Beni saat Inayah sedang membereskan dokumen di ruang kerjanya.


"Seperti saran anda, Pak. Saya memberinya kesempatan untuk membuktikan semua ucapannya pada saya" jawab Inayah masih anteng dengan pekerjaannya.


"Wajah mu terlihat lebih berseri, apa kamu sedang berbahagia ?" goda Beni.


"Haish, apa sih, biasa saja !" cicit Inayah merona.


Sementara di kantor Liam,


Seperti biasa, Tania pagi pagi sudah datang ke ruangan Liam, kali ini dia mengetuk pintu terlebih dahulu, karena tak ingin berdebat dengan Liam hanya karena dirinya yang sering masuk tanpa mengetuk pintu.


"Sayang, aku belum sempat sarapan, temani aku sarapan yuk !" ajak Tania merajuk manja.


Liam hanya meliriknya dengan ujung mata, lalu mengabaikan perempuan yang sedang merengek di depannya itu.


"Wil, apa kamu tak mendengarkan ku ? Aku sedang sakit lho,,, ayo temani aku sarapan !" Tania menarik tangan Liam.


"Tania, stop ! Aku banyak pekerjaan, dan aku tidak ada waktu hanya untuk menemani mu sarapan," Liam melepaskan tangannya yang berada di genggaman Tania secara paksa.


"Wil ! Ada apa dengan mu ?" bentak Tania ketika mendapati penolakan dari Liam yang agak kasar.


"Pergilah, jangan ganggu aku !" tegas Liam dengan menampakkan wajah yang tidak bersahabat.


"Kau mengusir ku ?" Tania membelalakan matanya.


"Ya, pergi lah, aku sedang tidak mau di ganggu oleh mu !" ketus Liam.


Tania meninggalkan ruangan Liam dengan rasa kesal di hatinya,


"Sial, kenapa dia tiba tiba jadi ketus seperti itu pada ku ? Awas saja kalau ini gara gara si Nisa sialan itu !" gerutu Tania berjalan sambil bersungut sungut.


"Psst,,,sst,,, sayang !" desis seseorang memanggil Tania setengah berbisik.


Tania menoleh ke arah sumber suara, terlihat Adit sedang berdiri di dekat pintu ruangannya.


"Ngapain disini ?" tanya Tania sambil menengok ke kiri dan kanan melihat sekelling, karena takut jika ada orang yang melihat kadatangan Adit ke ruangan nya, bagaimana pun dia tak ingin menimbulkan kecurigaan di antara para karyawan tentang hubungan nya dengan Adit.


Tania nenyeret Adit ke dalam ruangannya cepat, dan menutup pintu ruangannya dengan rapat.


"Kenapa pagi pagi sudah kesal begini, hem ?" bisik Adit, merapatkan punggung Tania ke dinding, dan mendekatkan wajahnya ke telinga Tania lalu mengecup ujung telinganya, tentu saja perlakuan Adit itu sukses membuat Tania meremang.


"Aku sedang kesal dengan Wiliam !" ucap Tania seraya menggeliat karena Adit terus mengukung tubuhnya dan menciumi leher jenjang Tania.

__ADS_1


"Bos kita yang baru itu ? pacar mu yang tak bisa memberi mu kepuasan itu ? aku penasaran seperti apa orangnya, apa lebih tampan dari ku ?" goda Adit, menggesekkan hidungnya di ceruk leher Tania.


"Dia tampan, tapi kamu lebih hebat, karena kamu selalu bisa membuatku menjerit nikmat," Ucap Tania menahan tangan Adit yang mulai usil hendak membuka kancing blouse yang dia pakai.


"Kenapa ? Aku menginginkan mu," protes Adit karena merasa keinginannya di halangi Tania.


"Tidak sekarang, aku sedang kesal saat ini !" Tania melepaskan diri dari kungkungan Adit dan menjauh dari laki laki yang terlihat menahan hasrrrat nya itu.


"Hmm, apa perlu aku beri pelajaran laki laki itu ?" kesal Adit, dengan wajah cemberut karena tak mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Jangan sentuh dia !" bentak Tania.


"Tapi dia sudah membuatmu kesal, dan aku juga ikut kesal sekarang," geram Adit.


"Bukan Wiliam yang membuat ku kesal, tapi istrinya, aku yakin sikap menyebalkan Wiliam saat ini gara gara si Nisa, istrinya yang kampungan itu !" cicit Tania.


"Apa kamu perlu bantuan ku ?" Adit menawarkan diri.


"Aku ingin kamu melenyapkan istri Wiliam yang bernama Nisa itu, dia akan menjadi penghalang ku untuk menjadi Nyonya Wiliam dan menguasai semua warisan Ayahnya," Tania tersenyum iblis.


"Aku bisa saja membantu mu, tapi apa kamu akan melenyapkan ku juga bila nanti kamu sudah menjadi Nyonya pemilik perusahaan ini ?" tanya Adit.


"Tentu saja tidak, sayang. Mana mungkin aku menghilangkan kesenangan ku sendiri" Tania meraup kedua pipi Adit lalu mengecup bibir Adit, menyulut hasrrat Adit yang masih terbakar gairah.


Inayah sedang menunggu Liam yang berjanji akan menjemputnya sepulang bekerja, namun lama di tunggu Liam belum juga menunjukkan batang hidungnya.


"Ayo aku antar pulang !" ajak Beni merasa kasihan karena Inayah sudah lebih dari satu jam berdiri di depan loby.


"Tapi," tolak Inayah masih ingin menunggu suaminya datang.


"Sudah lah, aku akan menitip pesan pada keamanan yang berjaga, untuk di sampaikan bila Wiliam datang menjemput mu kesini," paksa Beni, tak ingin melihat Inayah lebih lama menunggu.


Beberapa kali Inayah coba menghubungi ponsel Liam, tapi tak ada respon dari laki laki yang baru saja berbaikan dengannya itu, akhirnya Inayah memutuskan untuk ikut pulang dengan Beni.


Pikiran Inayah melayang memikirkan kemana Liam pergi saat ini, saking tak fokusnya, dia sampai tak menyadari kalau kini mobil Beni sudah berhenti di depan rumahnya.


Saat hendak turun dari mobil, terlihat dari kejauhan Liam keluar dari dalam rumah seakan tahu kalau dirinya yang akan turun dari mobil itu.


Pandangan Liam terlihat agak tidak suka saat Beni membukakan pintu mobilnya untuk Inayah.


Beni pura pura tak melihat keberadaan Liam, karena kini mereka berada jauh di depan pintu gerbang rumah itu, setelah sedikit berbasa basi dan berpamitan, Beni langsung pergi meninggalkan Inayah yang tiba tiba takut berhadapan dengan Liam yang sedang menunggunya di depan pintu rumah dengan pandangan yang tak lepas dari diri nya itu.


"Maaf, aku--" ucap Inayah terbata, dia tiba tiba minta maaf, padahal dia tak melakukan kesalahan apapun.

__ADS_1


Inayah seperti seorang istri yang kedapatan sedang berselingkuh.


"Kenapa ? Aku yang seharusnya minta maaf, tadi aku telat menjemput mu, ada sedikit urusan," ucap Liam datar.


"Ooh," jawab Inayah hanya ber Oh ria.


"Boleh aku bertanya sesuatu ?" tanya Liam pada Inayah sambil mengajaknya duduk di teras rumah.


"Hmm," angguk Inayah.


"Sedekat apa hubungan mu dengan Beni ?"


"Hanya sebatas bos dengan karyawan nya" jawab Inayah polos.


"Kamu yakin Beni tak menyimpaan perasaan apapun pada mu ?"


"Aku tak tau, aku tak bisa menebak isi hati orang lain, namun setahu ku, dia hanya menganggapku sebagai karyawan sama seperti yang lain" elak Inayah.


"Apa kamu bercerita padanya tentang hubungan kita ?" tanya Liam lagi.


Inayah terdiam sejenak, dia tak tau kenapa tiba tiba Liam bertanya sedetail itu tentang Beni, apa Liam sedang cemburu, saat ini ? pikirnya.


"Ada apa dengan mu, kenapa tiba tiba menanyakan hal hal konyol seperti ini ?" Inayah merasa tak suka dengan pertanyaan pertanyaan Liam yang terkesan mengintrogasinya.


"Ah, tidak, maaf mungkin ini hanya efek aku banyak pekerjaan saja di kantor," pungkas Liam, mangajak masuk Inayah ke dalam rumah, dia sudah tak ingin membahas masalah Beni lagi.


Liam terlihat seperti murung, bahkan saat mereka sedang menikmati makan malam di meja makan, Liam lebih banyak terdiam.


"Apa ada masalah di kantor ?" tanya Inayah, seakan mengerti kalau Liam sedang memikirkan sesuatu.


"Tidak," jawab Liam singkat.


Sebenarnya, ada rahasia besar yang Liam sembunyikan dari Inayah, tadi siang, Beni mengajaknya bertemu di suatu tempat untuk membicarakan sesuatu yang saat ini sangat mengganggu pikirannya,


"Aku tau bagaimana hubungan mu dengan Inayah, dia sudah menceritakan semuanya pada ku, jujur aku menyukai nya, terserah kau terima pernyataan ku atau tidak, aku tetap akan membantu perusahaanmu agar kembali membaik, aku memberi mu waktu satu bulan, jika kau berhasil meluluhkan hati Inayah, aku tak akan mengganggunya, tapi jika kau gagal, kau harus menceraikannya dan merelakan aku mengejarnya dan menyatakan perasaan ku padanya,"


Perkataan Beni padanya tadi siang membuat hatinya benar benar tidak tenang, tiba tiba segala pikiran buruk muncul di benaknya,


Apa mungkin istrinya itu sebenarnya mempunyai hubungan terlarang dengan Beni di belakangnya,?


Kalau pun tidak, lalu bagaimana jika dirinya gagal meyakinkan hati Inayah dalam jangka waktu satu bulan ini ? Apa dia bisa menceraikan dan merekan istrinya itu di dekati Beni,?


Sayangnya semua itu hanya dapat dia pendam sendiri di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2