Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Misteri


__ADS_3

Jam 6 sore Inayah masih berada di ruang kerjanya, padahal ini baru hari ke lima dia bekerja, tapi pekerjaan sebagai kepala gudang memang sangat menyita waktunya karena laporan keluar masuk barang yang benar benar memerlukan ketelitiannya.


Saat hendak bersiap pulang, Inayah merasa ingin buang air kecil, jadi terpaksa dia harus ke toilet yang agak jauh dari ruangannya, karena toilet di dekat gudang sedang tak bisa di gunakan.


Di lorong dekat toilet yang sepi Inayah tanpa sengaja melihat Adit yang sepertinya sedang mengobrol dengan Tania, tak ingin membuang kesempatan, Inayah mendekati mereka secara diam diam dan sangat berhati hati, dia berdiri di ujung lorong yang agak tersembunyi di balik dinding, sehingga Adit dan Tania kemungkinan besar tak melihatnya.


"Sayang, sejak kapan kamu di sini, kenapa tak mengabari ku kalau kamu ternyata sudah bekerja disini ?" tanya Tania.


"Kamu terlalu lama memasukan ku perusahaan ini !" ketus Adit.


"Sayang, Beni sangat sulit dan pemilih orangnya, jadi aku agak kesulitan meyakinkan mu untuk bekerja di sini," Tania beralasan, karena sebenarnya dia memang sengaja tak ingin Adit bekerja di perusahaan milik Beni ini, karena takut Beni sampai tau hubungannya dengan Adit, dan itu akan mengacaukan rencananya untuk menghidupkan kembali Teja grup walau harus bertunangan bahkan menikah dengan Beni yang sama sekali tidak di cintainya.


Bagi Tania Teja grup saat ini di atas segalanya.


"Padahal teman ku bisa langsung memasukan ku kerja di sini, tanpa kendala apa pun !" cibir Adit.


"Sayang, maafkan aku, selama ini aku sudah berusaha, tapi aku belum bisa meyakinkan Beni," rajuk Tania, dia mulai menggoda Adit dengan meraba dada laki laki yang memang gampang tergoda itu, sesekali tangannya menelusup nakal di antara celah kancing kemeja Adit sengaja bersentuhan dengan kulit dada lelaki yang biasa memuaskan hasratnya itu.


"Tania, jangan menggodaku, ini di kantor, nanti ada yang melihat kita !" Adit masih sok jual mahal.


"Aku kangen, lama sekali rasanya kita tak bersama" bisik Tania seraya menciumi leher Adit yang pertahanan nya mulai jebol, karena ulah Tania yang terus menggoda dan memancing hasrat nya.


"Aku penasaran, bagaimana sensasinya bila kita melakukannya di lorong ini !" ucap Adit di telinga Tania, mulut Adit dengan lihai nya menciumi dan menggigit ujung telinga Tania, sebelah tangannya pun dengan cekatan sudah membuka kancing depan baju yang di pakai wanita binal itu, sementara tangan satunya lagi menelusup ke paha Tania, dengan mudahnya Adit mengangkat rok mini yang di pakai Tania itu sampai wanita di depannya tampak setengah tak berbusana.


Mulut mereka saling berpaggutt, di lorong yang sepi karena para karyawan sebagian besar sudah pulang semenjak sore, hanya ada beberapa karyawan yang masih di kantor karena lembur, lain halnya dengan suasana di bangunan pabrik yang masih selalu ramai sampai malam karena selalu banyak buruh yang lembur demi mendapatkan uang tambahan.


"Aku menginginkan mu !" tatap Tania memohon pada Adit yang masih menyiksa Tania dengan rem asan di dada dan permainan lincah jari jemarinya di bagian bawah Tania yang sudah basah.


"Memohonlah, memohon padaku !" ucap Adit dengan senyum licik nya.


"Aku mohon, hanya kamu yang selalu memuaskan ku," napas Tania semakin memburu.

__ADS_1


"Hanya aku ? Bagaimana dengan kakak tiri mu ?"


"Aku tak pernah melakukannya dengan dia !" Tania mulai tak sabaran, dia membuka kancing celana Adit dan sibuk mencari lalu meraih sesuatu milik Adit yang selalu membuatnya menjerit nikmat, dia menaikkan sebelah kakinya ke pinggang Adit, menyingkirkan jari tangan Adit yang masih menari di area basah itu dan memasukan dengan cepat benda milik Adit yang masih di genggamnya sedari tadi.


"Aahhh,,, kau selalu tidak sabaran !" cengir Adit mencium hidung Tania,


"Hmmmhh,, kau terlalu menggoda ku, sayang !" Tania menggigit bibir bawahnya menikmati permainan Adit yang selalu membuatnya menggila,


"Bukan kah kamu kini punya mainan baru? Bagaimana rasanya Beni ?" bisik Adit lagi sedikit mengagetkan Tania yang tak menduga kalau Adit mengetahui hubungannya dengan Beni.


"Tak ada yang lebih hebat dari mu !" ucap Tania dengan tatapan menggoda.


Sementara di ujung lorong, Inayah tersenyum puas melihat semua pemandangan itu, dia bagaikan mendapatkan jakpot, dia mengurungkan niatnya untuk ke toilet, dan kembali ke ruangannya sambil memandangi layar ponselnya dengan perasaan yang bahagia.


"Tania, Adit ! Tunggu detik detik kehancuran kalian !" gumam Inayah dengan senyum yang tak lepas dari bibir merah nya.


"Inayah !" panggil Beni mengagetkannya.


"Tadi aku mencari mu, tas mu masih di ruangan, jadi aku pikir kamu masih di sekitar sini," ucap Beni.


"Oh, itu, tadi saya ke toilet bos," gugup Inayah.


"Aku ingin mengajakmu makan malam, kamu mau kan ?" ajak Beni.


"Bagaimana dengan Tania, apa dia tak akan marah ?" tanya Inayah berbasa basi.


"Tenang saja, semua aman kok !" cicit Beni.


"Bukannya sebentar lagi kalian bertunangan, kenapa bos malah mengajak ku makan malam ? Cari penyakit saja !" oceh Inayah.


"Kami bertunangan karena suatu perjanjian kerja sama, tak ada cinta !" terang Beni.

__ADS_1


Inayah hanya mengangkat kedua bahunya seolah tak peduli, padahal di lubuk hatinya dia sangat penasaran, perhanjian apa yang terjadi di antara mereka, dan kenapa mereka ingin mencelakainya dulu dengan menculiknya.


'Tenang Inayah, belum saat nya menargetkan Beni, untuk saat ini cukup ikuti permainan bos mesum ini dan manfaatkan !' monolog Inayah dalam hatinya.


"Inayah, apa kamu benar benar sudah bercerai dengan Wiliam?" tiba tiba Beni menanyakan hal itu.


"Tentu saja, apa kamu pikir aku berbohong untuk urusan sebesar itu ?" Inayah meletak kan sendok dan garpu yang sedang di genggamnya begitu saja di pinggiran piring, napsu makannya tiba tiba hilang, saat tiba tiba dia harus mendengar kembali nama Liam di sebut, hati nya berdenyut dan sedikit nyeri, dia benar benar merasa bersalah meninggalkan Liam dalam masa masa keterpurukannya.


"Maaf, bukan maksudku menuduh mu berbohong, aku hanya ingin meyakinkan saja" sesal Beni meraih tangan Inayah.


"Kenapa bos sangat menginginkan perceraian ku dengan Liam ? Dan kenapa bos pernah menyatakan cinta padaku dulu, lalu tiba tiba kini malah hendak bertunangan dengan Tania ?" tanya Inayah.


"Ada beberapa hal yang tidak mungkin bisa aku ceritakan, tapi untuk masalah pernyataan cinta ku, itu tulus, aku memang tertarik pada mu !" jawab Beni.


"Baik, aku tak ingin memaksa bos untuk bercerita hal yang memang tak ingin di ceritakan," ucap Inayah santai.


"Jadilah pacar ku !" pinta Beni masih menggenggam erat tangan Inayah.


"Maksud bos ? Bos ingin aku jadi simpanan ? Selingkuhan ?" tanya Inayah.


"Apapun namanya, buat ku, kamu orang pertama yang membuatku jatuh cinta," rayu Beni.


'Cih, jatuh cinta !' decih Inayah dalam hatinya.


"Hubungan ku dengan Tania hanya sebuah hubungan saling menguntungkan saja, tak lebih. Aku juga yakin dia masih mencintai Wiliam," lanjut Beni.


"O ya ? Bukannya Tania sudah memutuskaan untuk meninggalkan Liam karena dia sudah bangkrut ? " pancing Inayah.


"Cih ! Dia bisa meyakinkan orang lain dengan alasan itu, tapi tidak pada ku ! Bahkan semua yang dia lakukan saat ini aku yakin semua demi Wiliam !" Mata Beni tiba tiba berubah menjadi berapi api dan penuh amarah.


Entah apa yang membuatnya tetiba marah, dan entah apa yang sebenarnya cerita yang dia sembunyikan selama ini.

__ADS_1


Ini semua bak misteri yang rumit dan tak tau harus di mulai dari mana Inayah mengungkapnya.


__ADS_2