
Beberapa kali ponsel Beni berdering, beberapa kali juga Beni hanya melirik layar ponselnya yang menampakan deretan angka yang tertera di layar benda pipih itu.
"Mas, kenapa tidak di angkat ?" tanya Inayah yang sedikit merasa curiga karena Beni tak mau menerima panggilan telepon yang sejak tadi menghubunginya.
"Nomornya tidak aku kenal, sayang !" jawab Beni seakan tau kalau istrinya itu merasa tak nyaman.
"Siapa tau penting, atau kamu memang sengaja tak mau menerima panggilan telepon itu karena ada aku di sini ?" Inayah mulai merajuk.
"Tentu saja tidak sayang, aku tidak bermaksud seperti itu !" Beni menjadi gelagapan karena Inayah menuduhnya yang tidak tidak.
"Itu, ponsel mu berbunyi lagi, buktikan kalau itu bukan telpon dari selingkuhan mu, angkat sekarang juga !" rajuk Inayah.
Beni terpaksa mnggeser tombol hijau di layar ponselnya, dia tak ingin Inayah makin curiga, karena memang dia tak melakukan hal apa pun.
"Load speaker !" titah Inayah lagi dengan nada galaknya.
Beni menuruti apa yang di minta istri tercintanya itu, tak ada ketakutan di hatinya karena tak ada yang dia sembunyikan di belakang istrinya.
"Aku ingin kita bertemu, aku tunggu di hotel putih di dekat dermaga, aku tak bisa kemana mana, para mafia itu terus mencari ku, aku mohon kita harus bertemu dan bicara," suara pria di ujung telepon sana terdengar agak bergetar dan sedikit terburu buru.
"Wiliam ?" bisik Inayah sambil membelalakan matanya.
Beni hanya mengangguk pelan.
"Obrolan apa yang ingin kau bahas dengan ku ?" tanya Beni ketus.
__ADS_1
"Monik !" jawab Wiliam singkat, dia yakin hanya dengan alasan Monik dirinya bisa bertemu dengan Beni.
"Tunggu aku,!" ucap Beni lalu memutus secara sepihak obrolannya dengan Wiliam.
Beni melirik kesal ke arah Inayah,
"Apa sehafal itu dengan suara mantan mu, sampai sampai kamu langsung bisa menebak kalau itu suara Wiliam, tanpa harus melihat wajahnya ?" sinis Beni yang sepertinya berbalik cemburu.
"Aku--- aku, ya bukan seperti itu, aku hanya asal menebak saja !" kilah Inayah yang menyadari kalau kini suaminya yang gantian merasa cemburu karena ulah dirinya.
"Jangan coba coba berpikiran untuk berpaling dari aku, aku akan membunuh siapa saja yang berani mengambil mu dari sisi ku !" ancam Beni.
Inayah hanya memutar bola matanya jengah, 'siapa juga yang berniat berpaling darinya, terpikirkan saja tidak pernah,' batinnya, tak pernah sedikit pun dia untuk berpaling dari Beni sang suami, apa lagi jika itu hanya seorang Wiliam itu benar benar tidak mungkin.
"Mas, kamu mau menemui Wiliam ? Kenapa aku merasa tak enak hati ya, kamu yakin ?" kata Inayah menyampaikan suasana hatinya yang tiba tiba merasa aneh dan hawatir dengan rencana pertemuan Beni dan Wiliam.
"Janji jangan sampai kamu terluka atau terjadi apa apa, kalau tidak,,, aku gak bakal maafin kamu !" rengek Inayah merajuk tanpa henti pada suaminya.
"Siap bu bos ku sayang !" seloroh Beni seraya mengusap lembut rambut Inayah dan melum mat bibir merah merekah istri kesayangannya itu.
"Mas, nanti ada orang masuk !" Inayah melirik pintu ruangan yang belum menutup sempurna.
"Sayang, kita suami istri, para karyawan di sini juga bisa memakluminya, apalagi kita belum lama menikah, masih bau bau pengantin baru !" oceh Beni semakin mendekap erat tubuh istrinya yangvkini terlihat lebih montok berisi itu.
***
__ADS_1
Waktu yang di tentukan untuk pertemuan antara Beni dan Wiliam sudah di sepakati, sore ini rencananya mereka bertemu di hotel putih dekat dermaga, seperti yang sudah Wiliam katakan sebelumnya.
Saat ini Beni sedang mempersiapkan diri untuk pertemuan itu, sebagai antisipasi, dia juga sudah memakai pakaian anti peluru, perbekalan senjata lengkap, dan skenario matang yang akan dia jalankan bersama pasukan anak buahnya yang diam diam akan mengikuti dan tersebar di dermaga untuk berjaga jaga, bukan Wiliam yang sedang dia waspadai, namun serangan mafia yang mungkin saja akan ikut melibatkan dirinya jika ternyata sewaktu waktu para mafia itu datang dan menyergap Wiliam.
Para mafia kejam itu tak akan pandnag bulu dalam menghancurkan target buruannya, bahkan orang orang di sekitar buruannya bisa ikut di habisi juga tanpa ampun.
Bisnis mereka cukup beresiko, jika sampai meloloskan target buruan dan dan hal itu bocor ke aparat akan sangat rumit urusannya.
"Ko, ijinkan aku ikut bersama koko kesana !" mohon David.
"Tidak,! Aku sudah bilang, tugasmu menjaga keselamatan istri ku saat aku tak ada di dekatnya, kau harus memastikan kalau Inayah akan baik baik saja di bawah pengawasan mu !" ucap Beni tak bergeming.
"Tapi ko, aku mendapat kabar kalau para mafia itu mungkin saja akan menyergap Wiliam, dan kalian akan ikut terseret ke masalah mereka, ayolah ko, mereka bukan orang sembarangan, mereka sangat kejam !" rengek David.
"Kau meremehkan kemampuan kakak mu ini," cengir Beni.
"Lebih baik kau menurut dengan apa yang ku perintahkan, jangan membantah ! Aku sudahemperhitungkan segala sesuatunya, bukan haya kalau aku bisa selamat dan pulang, tapi juga bila sampai aku tak bisa kembali lagi ke sini !" lanjut Beni serius.
"Ko,,,,, tolong jangan berbicara seperti itu," David berhambur memeluk kakak sepupu kesayangannya, dia sungguh benar benar takut jika sampai ada hal buruk terjadi pada Beni.
"Hey, bagaimana kau bisa menjaga dan melindungi istri ku saat aku tak ada di sini, jika kau saja masih menangis seperti bayi begini ?" ledek Beni yang lumayan berhasil membuat David yang selalu menjunjung tinggi harga dirinya setengah mati itu melepaskan pelukan erat di tubuh kakak sepupunya itu.
"Aku akan pergi sekarang, ingat,,, jaga istriku dengan baik, dan jangan pernah sekali pun bercerita tentang mafia itu padanya !" pamit Beni sesaat sebelum dia pergi meninggalkan ruang kerja kantornya.
Beni memang sengaja berangkat dari kantor, karena kalau berangkat dari rumah, akan banyak pertanyaan yang akan di lontarkan Inayah padanya,
__ADS_1
Bahkan istrinya itu tidak tau kalau dirinya saat ini mengadakan pertemuan penting dengan laki laki jahat yang pernah menjadi suami pura puranya dulu, dan yang lebih fatal lagi, Inayah tak tau kalau pertemuan anatara Beni dan Wiliam itu bisa saja merupakan pertemuan yang mempertaruhkan nyawa, mereka bisa saja berada di posisi diantara hidup dan mati karena kemungkinan besar akan ada keterlibatan mafia penjual organ tubuh ilegal yang siap merenggut nyawa mereka kapan saja dengan mudahnya.
Sungguh Beni tak ingin membuat Inayah cemas dan hawatir, tapi dendam ini harus di selesaikan, ini saat yang sudah Beni tunggu abertahun tahun lamanya, saat di mana dia meminta pertanggung jawaban dari Wiliam atas hilangnya dua nyawa orang yang paling berharga di hidupnya itu.