Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Jangan Jatuh Cinta


__ADS_3

"Mas, bagaimana ini, bagaimana kalau dia menceritakan semuanya pada emak ?" rengek Inayah pada Beni.


"Kenapa wanita tua itu tau tentang cerita kamu dan Wiliam, lalu dia juga menyinggung tentang pak Andi tadi ?" Beni sedikit berpikir.


"Emh,,, sebenarnya,,, kemarin aku memberikan alamat rumah Tania pada bu Esih, tadinya aku ingin mengerjai dia, tapi aku tak berpikir kalau akan menjadi seperti ini jadinya,,," beber Inayah pada Beni.


"Kamu ceroboh,, !" ujar Beni.


"Maaf,, lalu bagai mana ini, aku takut kalau emak sampai tau," sesal Inayah merasa bersalah atas kebodohannya, karena dia tidak menyangka kalau dengan memberi akases Esih untuk masuk ke lingkungan keluarga Tania sama saja memberi peluang untuk Esih tau tentang dirinya dan Wiliam.


"Sudah lah,, nanti aku yang mengurusnya, serah kan padaku !" kata Beni.


"Benarkah ?!" Inayah mengangkat wajahnya.


"Lain kali berpikirlah sebelum bertindak, jangan ceroboh ! Sudah sana istirahat !" ucap Beni.


"Iya, maaf !" ucap Inayah lirih.


"Satu lagi !" ucap Beni.


"Apa lagi ?" Inayah kebingungan.


"Lepaskan tangan mu dulu !" Beni melirik tangan Inayah yang masih bertaut erat di lengan kekar nya.


Inayah yang baru sadar dengan hal itu langsung melepaskan genggaman tangannya di lengan yang terasa nyaman di rangkul itu.


Inayah bergegas pergi dengan menundukkan wajahnya menyembunyikan rasa malu yang begitu besar, lalu meninggalkan Beni yang mesem mesem melihat kelakuan Inayah yang terkesan kekanak kanakkan namun sangat menggemaskan di mata Beni.


'Sepertinya aku sudah gila, kenapa jantung ku selalu berdebar kencang bila dekat dengan wanita kampung itu, tidak,,, tidak,,, tentu saja aku tidak sedang jatuh cinta padanya, kan ?' monolog Beni dalam batinnya.


Sementara di dalam kamar, Inayah justru tak bisa memejamkan matanya sedetik pun, padahal badannya terasa lelah karena jadwal yang padat seharian di kantor,


Mungkin karena pikirannya tak berhenti berputar malam itu, memikirkan ancaman Esih yang membuat dia menghawatirkan sang ibu, dan ada satu hal lagi yang paling tak masuk akal bagi Inayah, yaitu kepalanya tak mau berhenti memikirkan Beni, tiba tiba pikiran tentang Beni memenuhi kepalanya malam itu.


'Jangan sampai aku jatuh cinta sama mas Beni, tapi kenapa akau terus memikirkan nya ? Mas Beni memang baik padaku, tapi dia tidak mungkin mencintai ku, ah,,, pikiran dan hati ku ini sungguh tak tau diri !' runtuk Inayah pada dirinya sendiri.


"Kamu masih belum tidur juga ?" tanya Beni mengagetkan Inayah yang saat itu hendak mengambil air minum di dapur.

__ADS_1


"Ah,, iya aku haus, mas !" jawab Inayah sambil mengangkat gelas kosong di tangannya.


"Inayah, besok kamu bereskan apartemen, dan pindahkan sebagian baju baju mu kesana !" titah Beni.


"Ke- kenapa ? Mas marah pada ku dan ingin aku pergi dari sini ?" tanya Inayah polos.


"Kalau aku menyuruh mu pergi pasti aku menyuruh mu membawa semua barang mu dari sini, bukan hanya sebagian baju mu saja !" ucap Beni.


"Tapi untuk apa mas menyuruh ku memindahkan sebagian baju ku kesana ?" tanya Inayah lagi masih penasaran.


"Hanya untuk berjaga jaga saja, siapa tau ibu mu murka setelah mendapat cerita dari nenek tua itu, dan menyusul mu ke Jakarta." kata Beni.


"Ish, mas jangan menakuti ku seperti itu !" ucap Inayah memutar bola matanya kesal.


"Besok kamu berangkat kantor sendiri, aku ada urusan penting, mungkin akan pulang larut malam, dan jangan lupa untuk membereskan apartemen dan memindahkan beberapa baju mu ke sana !" terang Beni.


"Mas mau pergi kemana ?"


"Kenapa, jangan bilang kau ingin ikut dengan ku ?" goda Beni.


"Tidak,,, aku kan harus ke kantor dan membersihkan apartemen" Inayah tersenyum kaku.


"Mas !" panggil Inayah mengejar Beni dan menarik kaos bagian belakang Beni.


Beni menghentikan langkahnya dan membalikan badannya menghadap Inayah.


"Hati hati dan cepat pulang,!" kata kata itu meluncur begitu saja dari bibir mungil Inayah.


Namun tanpa di sangka sangka Beni malah mendekap tubuh Inayah erat, dengan matanya yang berkaca kaca.


Inayah terdiam, suasana tiba tiba hening, bahkan dia dapat mendengar dan merasakan detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang.


"Jangan pernah berkata seperti itu lagi !" lirih Beni dengan suara yang bergetar, beberapa kali bahkan Bemengecup pucuk kepala Inayah yang dia benamkan di dada nya.


"Kenapa ? Apa ada kata kata ku yang menyinggung mu ?" ucap Inayah takut takut, sambil terus menyembunyikan wajahnya di dada keras berotot milik Beni.


"Kata kata itu adalah kata terakhir yang aku dengar dari orang yang sangat aku sayangi, dia berkata persis seperti itu pada ku, dan setelahnya aku tak bisa lagi mendengar suaranya sampai kini," lirih Beni dengan suara tercekat menahan tangis nya.

__ADS_1


"Siapa ? Apa itu Monik ?" tanya Inayah menebak nebak.


"Sudah lah, lupakan ! Kita harus segera tidur, besok pagi sekali aku harus sudah berangkat !" Beni mengurai pelukannya.


"Mas," ucap Inayah ragu ragu.


"Jangan minum obat itu lagi !" cicit Inayah sambil menunduk, dia sungguh takut menyampaikan itu pada Beni, tapi jujur dia tak ingin Beni bergantung pada obat obatannya.


Beni tersenyum lalu melanjutkan langkah kakinya menuju tangga, sepanjang perjalanan dia berpikir dan mengingat ingat kapan terakhir kali meminum obat itu, sepertinya itu saat Tania terakhir kali datang ke rumah dan membuat keributan, dan setelah itu Beni tak pernah lagi meminum obat nya, Beni bahkan baru ingat malam ini kalau dirinya sudah lama tak merasa depresi lagi, setiap malam dia bisa tertidur meski tanpa meminum obatnya terlebih dahulu.


Apakah mungkin kehadiran Inayah di rumahnya membuat Beni menjadi tenang dan nyaman sehingga dia tak pernah merasakan lagi marah yang tiba tiba meledak, sedih yang tiba tiba datang, dan insomnia yang menderanya setiap malam, ini tentu saja sebuah keajaiban besar untuk Beni yang tanpa sadar terjadi setelah Inayah datang di kehidupannya bahkan meski mereka tak ada hubungan apa apa di antara mereka.


***


Benar saja, pagi sekali mobil Beni sudah tak ada di tempatnya, padahal ini baru pukul 5 pagi, entah jam berapa laki laki misterius itu pergi.


Sore harinya, Inayah sengaja mengosongkan jadwalnya karena dia berniat pulang cepat, dia akan ke apartemen Beni untuk membereskan tempat itu.


Lagi lagi Inayah melihat keganjilan di apartemen itu, satu satunya kamar yang terdapat di unit apartemen itu, kasurnya terlihat berantakan, seperti baru saja ada yang tidur di ranjang itu, tapi siapa ?


Inayah juga menemukan lagi cangkir berisi kopi yang tinggal setengal setengahnya, bisa di pastikan kopi itu belum lama di tinggal si pembuat, karena tak terlihat jamur di permukaan kopi di cangkir itu.


'Mungkin Mas Beni tadi mampir kesini' pikirnya tak ingin menduga duga hal yang di luar kemampuan berpikirnya.


Saat itu waktu menunjukkan pukul delapan malam, Inayah baru saja selesai membersihkan semua sudut apartemen yang tak terlalu besar itu tanpa ada yang terlewat sedikit pun, mulai dari kamar, ruang tamu, ruang tengah, ruang makan, dapur, kamar mandi, semua sudah bersih, dia tak ingin mengecewakan Beni yang sudah memberinya perintah.


Inayah duduk di sofa ruang tengah meluruskan kakinya yang terasa pegal, namun tiba tiba terdengar suara kunci pintu depan yang di putar dari luar, dia tersentak kaget, bukan kah Beni baru akan pulang larut malam, lalu siapa yang datang kesini, batin nya bertanya tanya dalam kecemasan.


Inayah waspada, dia meraih patung kayu yang terletak di sudut ruangan, hanya itu yang bisa dia jadikan senjata untuk melindungi diri nya, kalau kalau ternyata orang yang datang adalah orang jahat.


Inayah merapatkan tubuhnya di dinding ruang tengah yang agak tersembunyi dari depan, patung kayu yang lumayan besar itu pun sudah dalam posisi siap menghantam di udara.


Inayah memejamkan matanya saat terdengar langkah kaki semakin mendekat ke arah nya, tanpa berpikir panjang lagi Inayah langsung mengayunkan patung kayu yang berada di genggaman tangannya itu ke arah orang yang sepertinya hampir melewati dinding tempatnya bersembunyi.


"Aawh !" suara eranngan laki laki terdengar nyaring menggema di ruangan yang sepi itu.


Inayah terkesiap mendengar suara yang sepertinya tak asing di pendengarannya, dia membelalakan matanya saat melihat wajah Wiliam yang meringis memegangi lengan kirinya yang sepertinya terkena hantaman patung kayu yang di ayunkan Inayah sekuat tenaga.

__ADS_1


"Ka- Kau ! Kenapa kau bisa berada di sini ?" tanya Inayah masih dalam posisi waspada, dengan patung kayu yang masih dia jadikan senjata untuk mengancam lawannya yang ternyata Wiliam mantan suami palsunya itu.


__ADS_2