
Tak ada cara lain untuk menghadapi masalah rumit yang membuatnya hampir menjadi gila ini, selain dirinya harus ikut menggila di dalamnya,
Inayah sudah memutuskan untuk mendekati dan mengambil hati Beni demi mengurai semua benang kusut ini, Inayah yakin Beni menyimpan rahasia besar yang membuat dirinya menjadi sosok penuh dendam seperti sekarang ini.
"Apa kau benar benar serius mau membantuku ?" tanya Inayah.
"tentu saja aku serius, tapi semuanya tidak gratis, ada syarat yang harus kau penuhi !" cengir Beni.
"Benar saja, feeling ku sudah tidak enak dari tadi, katakan apa syarat mu ? Dasar manusia pamrih !" umpat Inayah.
"Syaratnya mudah saja, kau harus tinggal di rumah ku, membantu pekerjaan rumah ku !" Beni menaik turunkan sebelah alisnya sambil tersenyum licik.
"Oke deal ! Bilang aja aku suruh jadi babu di rumah mu gitu !" gerutu Inayah, menyetujuinya dengan sangat mudahnya,
Dalam hatinya Inayah tersenyum penuh rencana, betapa Tuhan telah memperlancar rencananya, tanpa di sangka sangka Beni meminta dirinya untuk tinggal bersamanya di rumahnya.
Tentu saja itu akan mempermudah dirinya untuk mendekati Beni, dan pasti akan banyak waktu untuk dirinya mengorek keterangan sedikit demi sedikit dari laki laki itu.
Sepulang kantor, Inayah dengan di antar Beni mampir ke tempat kost nya untuk mengambil semua barang barangnya dan di pindahkan ke rumah Beni,
Hanya butuh satu koper saja untuk mengangkat barang Inayah yang tak banyak itu.
"Inayah, kamu mau kemana ?" Tanya Lilis saat melihat Inayah membawa koper besar keluar dari kost nya.
"Inayah akan tinggal di rumah ku, dengar baik baik, di rumah ku !" Beni menjawab dengan mengeja dan mengulang jawabannya pada Lilis bahkan dia menekankaan kata di rumah ku pada sahabat Inayah itu.
"Eh, Pak Beni kenapa ada di sini ?" kaget Lilis melihat ternyata bos besarnya mengantarkan Inayah ke kost, bahkan dia mengambil alih koper di tangan Inayah dan membawakan koper itu.
"Ish, kenapa kau berbicara seperti itu ?" protes Inayah pada Beni yang terlihat seperti tak suka pada Lilis.
"Kau, kerja di bagian produksi perusahaan ku kan ?" tanya Beni datar dan sedikit ketus.
"I-iya Pak ! jawab Lilis menganggukkan kepalanya sopan, dia tak menyangka kalau bos besar di perusahaannya mengenalinya yang hanya pegawai rendahan.
"Mulai besok kau aku pindahkan kerja di Teja grup, surat pemindahan mu akan Inayah buat besok !"
__ADS_1
tegasnya.
"Ta- tapi !" protes Lilis.
"Pindah atau resign ?" tegas Beni.
"Baik pak, saya bersedia di pindahkan," pasrah Lilis.
"Tenang saja, pekerjaan mu lebih baik di Teja, dan gaji mu pun akan di naik kan !" pungkas Beni lalu meninggalkan Lilis yang tersenyum bahagia, tak lupa dia juga menarik paksa tangan Inayah untuk pergi dari sana segera, dia tidak memberikan kesempatan pada Inayah untuk berbincang lebih jauh dengan sahabatnya itu.
"Kau kenapa sih, aku hanya ingin berbincang dengan sahabat ku saja !" Inayah bersungut sungut protes dengan sikap Beni yang di anggapnya keterlaluan.
"Cih, sahabat ! Kau terlalu bodoh menganggap semua orang baik pada mu !" sinis Beni.
"Apa maksud mu ! Kau iri karena tak punya sahabat dan tak punya orang lain yang baik pada mu kan ?" omel Inayah.
"Tentu saja aku punya, orang orang selalu baik pada ku, menyayangiku, tapi mantan suami mu itu merenggutnya dari ku !" pekik Beni kesal.
"Aku lapar, apa kau tak ingin membawa ku makan ? Atau kau sengaja ingin membuatku mati kelaparan ?" ucap Inayah, dia sengaja mengalihkan pembicaraan, lambat laun dia semakin mengerti dengan perangai Beni yang moodnya akan langsung anjlok saat sedikit saja menyenggol masalah Wiliam.
"Kita akan makan di rumah !" ketus Beni.
"Ini rumah mu ?" tanya Inayah sambil memutar pandangannya ke luasnya hamparan rumput hijau di taman depan rumah lega itu.
"Cepat masuk, apa kau ingin tidur di teras ?!" ketus Beni.
Inayah bergegas mengikuti langkah Beni masuk ke dalam rumah super mewah itu, pandangan pertama Inayah tertuju pada foto keluarga yang berukuran sangat besar tergantung di dinding ruang tamu rumah itu.
Terlihat ada empat orang berpose di bingkai itu, sepasang wanita dan pria setengah baya yang sepertinya orang tua Beni, yang duduk di kursi lalu di apit oleh Beni yang berdiri di samping wanita setengah baya itu dan gadis cantik di samping laki laki setengah baya.
Inayah sedikit tertegun saat menatap sosok gadis cantik yang sepertinya seusia dirinya itu, dia ingat wajah itu pernah dia lihat di foto yang dia temukan di laci lemari apartemen Beni.
"Apa yang kau lihat ?" tegur Beni, membuyarkan lamunan Inayah.
"Ish, galak banget dari tadi ngegas terus, liat itu !" tunjuk Inayah pada Bingkai raksasa itu.
__ADS_1
"Ayo cepat, aku tunjukkan kamar mu !" ajak Beni seperti malas bila nanti nya Inayah akan bertanya tanya tentang foto yang sedang dia lihat itu.
"Rumah ini sepi sekali, apa kau tinggal sendiri ?" tanya Inayah penasaran, karena rumah besar dan mewah itu seakan tidak ada tanda tanda kehidupan.
"Aku tinggal berdua, dengan mu !" jawab Beni asal.
"Kau itu, menyebalkan !" kesal Inayah karena pertanyaannya selau di jawab dengan asal asalan oleh Beni.
"Kau makin kesini maakin kurang ajar, aku bos mu, umur ku juga lebih tua dari mu, dan satu lagi, aku membantu mu membalas kejahatan para suami berengsek mu, setidaknya kau panggil aku tuan atau apa gitu !" gerutu Beni yang merasa Inayah kini sudah tak menaruh hormat padanya.
"Tuan ? Aku panggil Mas saja ya, biar lebih akrab !"cengir Inayah mulai melancarkan aksinya.
"Siapa yang ingin akrab dengan mu !" elak Beni.
"Apa rencana mu selanjutnya pada Wiliam ?" tanya Inayah hati hati takut merusak mood bos nya itu.
"Rencana awal ku, pertama tama ingin menyadarkan mu dari kebodohan !" ucap Beni sambil membuka kan pintu kamar yang akan di tempati oleh Inayah itu seraya mempersilahkan wanita itu masuk.
"Kenapa aku ?" tunjuk Inayah pada dada nya sendiri.
"Ya, karena kau bodoh ! Cepat masak untuk makan malam kita, nanti aku ceritakan pada mu sesuatu yang seru !" titah Beni.
Memasak bukan hal yang asing bagi Inayah, meski dia hanya menguasai masakan sederhana rumahan, tapi kemampuhan dia dalam memassk cukup bisa di andalkan lah.
"Apa yang tadi mau kamu ceritakan ?" tagih Inayah di sela sela makan malamnya.
"Apa kau tau kalau kau di bodohi dan di tipu oleh orang orang sekitar mu ?" tanya Beni.
"Maksud mu ?" Inayah mengernyitkan dahinya.
"Kau pernah bercerita pada ku kalau kau di jebak oleh Wiliam, dan terpaksa menikah dengannya, apa kau tak merasa janggal ? kenapa dia memilih mu untuk menjadi istri pura pura nya ? ya,, anggap saja itu karena kamu bodoh, tapi apa kamu benar benar se bodoh itu sampai tak menyadari ada orang lain selain Wiliam yang juga berperan dalam penjebakan itu ?" tanya Beni.
"Aku tidak tau !" jawab Inayah polos sambil menggelengkan kepalanya.
"Kau itu memang benar benar bodoh,!"
__ADS_1
"Harus banget ya, di ulang ulang mengatakan aku bodoh !?" protes Inayah.
"Gimana gak di bilang bodoh, kalau otak mu saja benar benar tak di gunakan, kau terlalu naif, bahkan tak bisa membedakan mana sahabat mana penjilat !" kata Beni sambil asik menyantap makan malam nya.