Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Tamu tak di Undang


__ADS_3

"Mas, kamu akan membawa ku kemana ?" tanya Inayah pada Beni yang dari tadi serius mengemudi tanpa henti, entah kemana Beni akan membawa nya, Beni juga lebih banyak terdiam semenjak mereka memulai perjalanan dari kantor.


"Aku bukan orang yang pandai menghibur wanita saat sedang bersedih seperti mu, mungkin dengan kamu bertemu ibu mu, akan sedikit mengobati luka hati mu," ucap Beni.


"Ka- kamu akan membawa ku pulang kampung ?" kaget Inayah.


"Tapi bagaimana dengan pekerjaan ku ? Aku tak mau terkesan tidak bertanggung jawab, karena baru beberapa hari di beri tanggung jawab oleh mas, tapi aku malah meninggalkan pekerjaan," oceh Inayah.


"Tenang saja, aku yang akan menghandle semuanya, aku hanya mengantarkan mu lalu kembali lagi ke Jakarta, aku memberi mu waktu tiga hari libur, nanti aku menjemput mu lagi !" ucap Beni lagi cuek seperti biasanya.


"Mas Beni akan langsung kembali ke Jakarta lagi ?" tanya Inayah.


"Iya, kenapa ? Kau berharap aku menemani mu selama tiga hari di sana ? Aku orang sibuk, maaf saja !" cengir Beni.


"Ah, tidak tidak, bukan begitu, hanya saja,,, apa bos tidak kecapean ? Kalau tidak, biar aku pulang ke Jakarta sendiri saja naik bis, tak usah di jemput," tawar Inayah.


"Aku tidak selemah itu, kalau hanya mengantar dan menjemput mu ke kampung itu soal kecil," oceh nya.


"Oh iya, besok mantan suami mu akan bertunangan, kau bisa datang menghadiri pertunangan mantan suami mu dengan anak juragan tanah yang tergila gila pada mu dan ingin menjadikan mu istri ke empatnya itu," lanjut Beni.


"Adit ? Mas juga tau tentang Neneng, dan juga haji Juned yang ingin memperistri aku ? Mas kamu menakutkan !" ujar Inayah sambil bergidik ngeri.


"Apa yang aku tak tau !" ucap Beni membanggakan dirinya sendiri.


"Kamu itu dukun atau intel polisi sih mas ?" canda Inayah.Mereka pun tergelak bersama.


"Ingat, kau boleh menghadiri acara pertunangan itu, tapi tak boleh mengacau di acara itu, untuk sementara biarkan dulu mereka berbahagia, kau abaikan saja apa pun yang mereka ucapkan padamu !" kata Beni.


"Mereka ?" beo Inayah.


"Ya, mereka,,, mantan mertua dan ipar mu yang selalu menghina mu itu, kau jangan buka apa pun tentang apa yang Adit lakukan di kantor atau tentang penggelapan dan lain sebagainya !" papar Beni.


"Mas tau juga tentang perlakuan mantan mertua dan ipar berengsek itu padaku ?" Inayah membelalakan matanya.


"Sudah ku bilang aku tau semua," ucap Beni datar.


"Tapi kenapa aku tak boleh mengatakan tentang kejahatan Adit di kantor, padahal mulut ku ini sudah gatal ingin mempermalukan Adit dan keluarganya di depan orang banyak !" ceroscos Inayah.

__ADS_1


"Tenang, belum saatnya mereka mendapatkan kejutan, karena akan ada kejutan yang lebih besar untuk mereka nanti," cengir Beni misterius.


"Kejutan ?"


"Ya,,, kejutan yang spektakuler di kampung mu !" ucap Beni.


"Besok kau hanya perlu menebalkan telinga dan bertahan dari apapun yang mereka ucapkan dan tuduhkan padamu," saran Beni pada Inayah.


"Siaap bos !" celoteh Inayah,


"Dan, terima kasih !" lirih Inayah.


"Untuk ?" Beni menengok wajah Inayah sekilas.


"Semuanya," jawab Inayah singkat.


"Tidak perlu berterimakasih, ingat----"


"Tujuan kita sama, kehancuran Wiliam, mas mau bilang begiitu kan ?" sambar Inayah.


"Aku bahkan tak tau kenapa mas punya tujuan yang sama dengan ku, padahal mas tau semua tentang cerita hidup ku !" cicit Inayah pelan.


"Aku hanya belum siap menceritakan nya, karena mengingat kejadian itu hanya akan membuat ku menjadi lemah dan rapuh," ucap Beni.


Inayah pun terdiam, dia melihat gurat kesedihan yang begitu dalam di raut wajah Beni, membuata dia merasa bersalah tak tega untuk melanjutkan obrolan tentang masalah itu.


"Maaf !" sesal Inayah.


"it's okay ! Aku akan bercerita pada mu jika aku siap," ujar Beni tersenyum getir, dia tau Inayah saat ini sedang merasa bersalah padanya.


***


"Wah,,, coba lihat siapa yang datang, ada tamu tak di undang, tidak tau malu hadir di sini !" Esih bangkit dari tempat duduknya saat melihat Inayah berjalan masuk ke aula balai desa tempat acara orang berduit di kampung mengadakan pesta.


Acara pertunangan Adit dan Neneng memang di gelar secara besar besaran, makanya mereka menyewa aula balai desa agar semua warga kaampung tau tentang pertunangan Adit dan anak juragan tanah terkaya di kampung itu.


"Tentu saja aku di undang, mantan ibu mertua !" Inayah tersenyum manis dan membungkukkan sedikit badannya seraya memberi hormat pada perempuan tua yang tak pernah lelah menghina dan mempermalukannya itu.

__ADS_1


"Siapa yang mengundang mu ? Tak tau diri, ngaku ngaku !" cibir Esih.


"Tentu saja calon besan anda yang mengundang ku secara langsung !" jawab Inayah cuek.


"Haji Juned ?" tanya Esih tak percaya,


"Apa ada calon besan anda yang laian selain dia ?" goda Inayah.


"Tidak mungkin ! bagaimana bisa !" tepis Esih.


"Apa nya yang tidak mungkin, anda bisa menanyakannya langsung oada calon vesan anda kala tidak percaya," ucap Inayah.


"Dan satu lagi, kalau aku mau,,, aku bisa saja menerima lamaran haji Juned, tapi aku malas jadi besan anda dan jadi mertua anak anda !" ejek Inayah.


"Ish, sudah mulai berani kurang ajar kau !" Esih mengangkat tangannya ke udara hendak memukul pipi Inayah, tapi aksinya di hentikan oleh calon besannya sendiri.


"Ada apa ini ?!" tegur haji Juned.


"Ah, pak Haji, saya di larang masuk kesini, calon besan anda tak percaya kalau saya di undang pak haji untuk datang ke sini kemarin, tadi saya malah di usir dan di pukul, padahal saya ke sini demi memenuhi undangan pak Haji !" ucap Inayah dengan nada pura pura kesakitan dengan sebelah tangan nya menangkup pipi kanannya yang tidak apa apa karena tidak di apa apain Esih.


"Hey ! Kau fitnah, aku bahkan tidak menyentuh mu sama sekali !" geram Esih dengan wajah yang semerah tomat karena saking marah nya.


Tapi Inayah hanya membalas ucapan Esih dengan senyuman mengejek, yang tentu saja semakin membuat Esih naik pitam.


Inayah berjalan memasuki aula, beberapa tamu undangan menatapnya, mereka berbisik bisik membicarakan Inayah yang dengan pede (nya datang ke acara pertunangan mantan suaminya seorang diri, tapi Inayah tak memperdulikan semua itu, dia hanya fokus dengan Adit yang perlahan berjalan ke arahnya.


"Punya nyali juga kau datang ke sini !" sinis Adit.


"Kau jangan mengacau dan merusak acara pertunangan kita, kalau tidak, awas saja !" ancam Neneng yang merasa tidak percaya diri karena siang itu Inayah tampil dengan anggun dan sangat menawan, Beni memberinya gaun untuk datang ke acara itu kemarin sebelum dia turun dari mobilnya.


"Kalian jangan terlalu percaya diri, aku ke sini karena memenuhi undangan ayah mu, bukan datang untuk kalian," ucap Inayah sambil menunjuk dada Neneng.


"Abah, apa benar abah yang mengundang perempuan ini ? Abah kan tau dia mantan istri nya kang Adit !" protes Neneng pada haji Juned yang dari tadi terus saja mengekor kemana pun Inayah melangkah.


"Iya, abah memang mengundang nya, lagi pula antara calon suami mu dan Inayah sudah lama berpisah, tak ada salahnya, kan kalau Inayah datang ke acara ini," bela haji Juned yang lalu tersenyum genit dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Inayah yang menahan jijik melihat senyuman nakal pria tua itu.


Kemarin saat Inayah turun dari mobil Beni yang mengantarnya hanya sampai jalan utama, tak sengaja dia bertemu haji Juned, lantas pria tua mata keranjang itu memang mengundang Inayah untuk datang dan menghadiri pertunangan anaknya dan Adit, meskipun memang Inayah yang pertama memancing pembicaraan ke arah sana agar dirinya di undang ke acara itu, dia hanya ingin bermain main dengan mantan mertua dan adik iparnyanya yang selalu menindasnya itu, karena sekarang Inayah sudah bertekad untuk tak akan lagi diam jika ada yang menghina dan menindasnya siapapun itu tanpa terkecuali.

__ADS_1


__ADS_2