
Wiliam kalang kabut mencari dua wanita yang merupakan ibu dan adik tirinya itu, mereka tiba tiba menghilang seperti di telan bumi.
Padahal waktu yang di berikan oleh pemilik rumah yang baru hampir habis, dia hanya di beri waktu tiga hari, sementara Wiliam sendiri tak tau harus kemana dan memulai dari mana dalam pencarian dua orang wanita yang sudah dengan lancang menjual rumah yang di penuhi kenangan itu.
"Liam, aku tau kamu masih berduka, tapi proyek kita juga perlu perhatian, sudah lebih dari seminggu kamu mengabaikan semua pekerjaan mu !" tegur Lilis yang mulai jengah dan lelah harus bekerja sendirian, sementara menurutnya Wiliam hanya keluyuran tak jelas setiap hari nya.
"Lalu, untuk apa kamu bersama ku, kalau tidak mau membantu pekerjaan ku ?" ujar Wiliam cuek.
"Jadi keberadaan ku untuk ku hanya sebatas pembantu mu ?" ucap Lilis dengan suara tinggi.
"Memang seperti itu, dari awal kan ? Jangan ngelunjak ! Masih untung kau ku akui sebagai istri di depan semua orang !" nada bicara Wiliam tak kalah tinggi dari Lilis.
"Istri ? Istri palsu mu ? Hanya untuk menutupi aib dan reputasi mu saja !" cibir Lilis seakan termakan omongannya sendiri yang sering menghina Inayah dengan sebutan sebagai istri palsu Wiliam.
"Ya,,, setidaknya orang orang mengenal mu sebagai istri ku, masalah kebenaran nya seperti apa, asli atau palsu, untuk apa di ributkan, toh di nikahi atau pun tidak di nikahi oleh ku, kita tetap seperti suami istri, kan ?" kata Wiliam dengan nada yang terdengar sangat menjengkelkan di telinga Lilis.
***
Sementara di lain tempat, Tania datang ke desa untuk mengantarkan Adit yang beberapa hari lalu sudah bebas dari penjara, lebih tepatnya di bebaskan oleh Beni, karena laki laki itu mencabut laporan nya dan tidak ingin memperpanjang masalah pencurian yang di lakukan oleh Adit, terlebih lagi, dia juga memang sudah berjanji pada Tania sebelumnya untuk membebaskan Adit.
Adit juga sangat penasaran dengan keadaan Esih sang ibu, yang menurut cerita Tania kini mengalami gangguan jiwa akibat depresi yang berkepanjangan dan tidak mendapatkan pertolongan medis secara intens.
Selama ini Esih di sembunyikan oleh keluarganya di kamar dan tidak di perbolehkan untuk keluar rumah.
"Pak, maafkan Adit, adit sudah membuat semua keluarga menanggung malu akibat kelakuan Adit," ratap Adit begitu sampai di rumah orang tuanya di desa.
Adit bersimpuh dan memeluk kaki ayahnya, betapa dirinya merasa bersalah yang teramat sangat pada orang tua dan saudaranya, dia telah membuat keluarganya menanggung beban malu dan menerima cemoohan dari semua orang akibat ulah bejatnya.
Harun yangvmemang sudah di kabari oleh Tania perihal kebebasan Adit tentu saja merasa senang, bagaimana pun, sebutuk dan sejahat apa pun seorang anak, orang tua pasti tak ingin dan tak tega jika melihat anak nya menderita, apalagi yang di alami Adit bukan hal sembarangan, tapi menjadi narapidana.
__ADS_1
"Sudahlah nak, bapak sudah memaafkan mu, semoga apa yang terjadi pada mu sebelum nya dapat menjadi pelajaran, dan bisa merubah mu menjadi manusia yang lebih baik !" ucap Harun penuh haru.
Adit kemudian melihat keadaan Esih yang di kurung di sebuah kamar di rumah itu, betapa miris hati Adit melihat sang ibu yang biasanya cerewet itu menjadi pendiam dan hanya menatap langit langit rumah dengan tatapan kosong, bahkan tak mengenal dirinya yang merupakan anak kandungnya sendiri.
Adit menyampaikan niat nya untuk membawa Esih ke kota agar di beri perawatan di sana, karena selain terkendala tenaga medis, keluarga juga merasa malu jika keadaan Esih harus di ketahui orang banyak, selama ini semua tetangganya mengira kalau Esih berada di Jakarta.
Harun menyetujui permintaan anak nya itu, toh semua juga demi kebaikan Esih sendiri dan juga keluarga.
Namun tiba tiba,
"Tidak ! Aku tidak setuju ! Kang, kamu itu datang ke desa bukannya menemui anak dan istri mu, malah membawa selingkuhan mu ke sini,!" teriak Neneng histeris.
"Aku.." Adit kebingungan menjawab karena di sana juga ada Tania yang walaupun belum dia nikahi secara resmi, tapi dia juga mengandung anaknya, apa lagi dia juga sangat berjasa atas kebebasan nya dari penjara.
"Kamu tetap di desa, tinggal bersama ku, aku akan meminta ayah untuk memberi kita kebun untuk biaya hidup kita,!" titah Neneng pada suami nya, dia tak ingin berpisah lagi dengan suaminya, karena semenjak pernikahan dia belum sempat tinggal bersama, mereka terpisah semenjak tragedi di acara pesta pernikahan yang spektakuler itu.
""Kang, aku sedang mengandung anak mu ! Tapi kenapa kamu malah seperti ini ?!" teriak Neneng.
"Maka dari itu, aku tak akan mennceraikan mu, dan Tania juga sedang mengandung anak ku, jadi akan ku nikahi, jadi adil kan ?" kilah Adit.
"Adil apanya, aku tak mau di poligami, aku tak sudi !" tolak Neneng.
"Terserah, itu keputusan ku, dan jangan sok anti poligami, sementara kau pun terlahir dari istri ke 3 ayah mu,!" keukeuh Adit.
***
Tanpa di duga, ternyata Beni dan Inayah pun berada di desa, Beni berniat untuk melamar Inayah, dan dia meminta ijin serta restu dari Titin yang merupakan satu satunya orang tua yang Inayah punya.
"Emak akan mendukung semua keputusan Inayah, apapun itu, jika memang baik dan bisa membuat Inayah bahagia, emak mengijinkan dan merestui kalian !" jawab Titin saat Beni mengutarakan niat baiknya itu.
__ADS_1
"Terimakasih mak, saya janji akan menjaga dan mencintai Inayah sampai akhir hayat saya." janji Beni pada Titin.
"Emak titipkan kebahagian emak pada mu, Inayah adalah sumber kekuatan dan kebahagiaan emak selama ini, jadi jaga dan sayangi dia dengan sepenuh hati mu !" lirih Titin berkaca kaca.
Antara perasaan haru, bahagia dan sedih bercampur menjadi satu dan mengaduk aduk perasaan seorang ibu yang sudah berumur itu, dia hanya ingin masa tua nya menyaksikan anaknya hidup bahagia bersama pasangannya menjalani kehidupan rumah tangga yang baik dan tentram.
Ya, mungkin itu keinginan standar untuk semua ibu di dunia ini, tapi mengingat anaknya pernah mengalami kegagalan dalam berumah tangga, dia menjadi lebih sensistif dan menyimpan segumpal ketakutan dan kehawatiran di hatinya untuk kehidupan rumah tangga Inayah sang putri.
"Mak, jangan takut dan bersedih, Inayah bahagia bersama mas Beni, begitu juga mas Beni yangvtidak hanya mencintai Inayah, tapi dia juga menyayangi emak, itulah yang menjadi pertimbangan Inayah untuk bersedia menjadi pendamping hidup nya," Inayah memeluk tubuh tua ibunya, dia lega akhirnya Titin memberinya restu untuk menikah dengan Beni.
"Mas, tadi ada tetangga memberi tahu ku, kalau Adit sudah bebas, apa kamu tau ?" tanya Inayah yang menemani Beni berjalan jalan ke kebun sore itu.
Inayah memang masih tak tau apa apa tentang rencana penjebakan Wiliam untuk Beni dan Tania, termasuk tentang pembebasan Adit.
"Oh, itu,,, jelas aku tau !" ucap Beni datar.
"Kok bisa ? Bukan kah seharusnya masih beberapa tahun lagi dia bebas ?" heran Inayah.
"Aku mencabut tuntutan dan membebaskannya, Tania memohon untuk anak dalam perutnya, tak ada jeleknya kan berbuat baik untuk bayi tak berdosa ?" urai Beni.
"Mas tidak sedang merencanakan hal lain, kan ?" Inayah memicingkan matanya, terkadang otak licik suaminya itu tak bisa di tebak.
"Tergantung, kalau dia berulah lagi ya,,, pasti aku tak akan tinggal diam, apalagi jika itu menyangkut kamu, sayang ! Aku pastikan dia membusuk di penjara !" ucapnya seraya mencium sekilas tangan Inayah yang bertaut dengan tangannya di sepanjang perjalanan nya.
"Sayang,! Aku ingin, setelah kita menikah nanti, ibu mu tinggal bersama kita," ucap Beni saat duduk berdua di saung bambu yang terdapat kebun luas itu sambil memandangi hamparan hijau tanaman yang tadinya milik Lilis namun kini sepenuhnya sudah di miliki oleh Beni itu.
"Itu tidak mungkin, mas. Emak itu cinta dengan kebun dan tanaman, jadi tak mungkin mau ikut kita, aku saja sudah sering mengajak nya, tapi selalu di tolak," ujar Inayah dengan wajah lesu nya.
"Hmm, apa kamu bahagia, bila aku berhasil membawa ibu mu tinggal bersama kita, sayang ?" tanya Beni yang di jawab dengan anggukan kepala dan pelukan hangat dari calon istrinya itu.
__ADS_1