
Wiliam tak kalah kagetnya dengan yang di rasakan Inayah, sambil meringis menahan sakit di lengan kirinya, Wiliam berusaha mendekati Inayah yang dalam posisi waspada dan bersiap menghajarnya kembali.
"Justru aku yang harus bertanya padamu, kenapa kamu ada di apartemen milik ---" kata kata Wiliam menggantung tak tuntas.
"Milik siapa ? Ini bukan apartemen milik mu kan ? Katakan apartemen milik siapa ini ?!" teriak Inayah yang semakin curiga dengan gelagat Wiliam yang terlihat gusar dan serba salah.
"Mungkin aku salah masuk apartemen !" ucap Wiliam melengos dan membalikan badannya hendak menghondar dari perrtanyaan Inayah.
"Tunggu ! Jangan menganggap ku bodoh seperti sebelumnya, aku tak bisa di tipu lagi oleh mu, kau tidak mungkin salah masuk apartemen, sementara kau bisa membuka kunci pintu itu, katakan, dari mana kau mendapatkan kunci itu ?!" ucap Inayah sambil terus mengacungkan patung kayu itu di udara, dan sewaktu waktu bisa saja mendarat di kepala Wiliam jika laki laki itu bertindak macam macam.
"Aku benar benar salah masuk !" keukeuh Wiliam tak bersedia berterus terang.
"Katakan atau aku akan berteriak bahwa kau maling yang menyelinap ke sini !" ancam Inayah serius.
"Nisa tenang dulu, ini semua hanya salah paham, tolong tenang !" ucap Wiliam berusaha mengendalikan situasi.
"Jangan mendekat ! Aku tidak main main dengan ucapan ku, aku bisa meneriaki mu sebagai maling di sini !" ucap Inayah meski jauh di lubuk hatinya dia juga sebenarnya merasa sedikit takut kalau Wiliam sampai nekat berbuat jahat padanya.
"Oke, aku menyerah, aku akan jujur pada mu, aku memang sengaja datang kesini," ucap Wiliam yang terus terusan berusaha menenangkan Inayah yang juga terus mengancam Wiliam karena laki laki itu terus terusan berusaha mendekatinya.
"Dari mana kau mendapatkan kunci apartemen ini ? Untuk apa kau datang ke sini ?" cecar Inayah pada Wiliam.
"Aku akan menceritakan nya pada mu, tapi sebelumnya, turunkan patung itu, apa kamu ingin membunuh ku dengan benda itu, huh ?" tunjuk Wiliam pada patung yang masih Inayah angkat setinggi kepalanya.
"Cepat katakan ! Dan jangan mendekat !" ucap Inayah menurunkan patung kayu itu dari tangan kanannya dan dia merentangkan tangan kirinya ke depan memberi isyarat agar Wiliam jangan sampai mendekat ke arah nya.
"Sebelumnya aku ingin bertanya dulu pada mu, ada hubungan apa antara kamu dan pemilik apartemen ini ?" tanya Wiliam.
__ADS_1
"Kamu tidak dalam posisi berhak mengajukan pertanyaan saat ini, jawab saja pertanyaan ku tadi !" ketus Inayah.
"Kau kenal dengan Monik ?" tanya Wiliam tak memperdulikan cecaran pertanyaan Inayah yang sedari tadi di lontarkan kepada nya.
"Monik ? Apa hubungan mu dengan Monik ? Jangan bilang kau dan Monik --- ?!" Inayah tak sanggup melanjutkan kata katanya, terlalu banyak pikiran jahat dan jelek merasuki kepalanya saat ini.
"Lantas apa hubungan mu dengan Monik, katakan dulu, baru nanti akan ku katakan hubungan ku dengan Monik !" Wiliam malah seolah sedang melakukan tawar menawar.
Namun belum saja Inayah membuka mulutnya, ponselnya berbunyi nama Beni terlihat menghiasi layar menunjukka jayi diri si penelpon.
"....."
"Iya mas, baik, aku segera turun !" jawab Inayah seraya mengakhiri percakapannya dengan Beni dan meninggalkan Wiliam di ruangan itu sendirian dengan masih memegangi lengan kirinya yang sepertinya memar atau bahkan retak karena saking kencang nya Inayah memukul.
"Nisa,,, kau belum mengatakan pada ku, apa hubungan mu dengan Monik, mau kemana kamu !" tahan Wiliam mengejar Inayah sampai ke luar pintu, karena merasa belum mendapat penjelasan apa apa dari Inayah.
"Diam, dan jangan mendekat ! Aku harus segera pergi," tegas Inayah bergegas pergi turun ke basement gedung.
***
Pukul 7 malam Beni sudah sampai rumah, namun tak ada tanda tanda kehidupan di rumah nya, padahal tadinya dia ingin memberi Inayah kejutan dengan membawanya dinner romantis di salah satu restoran yang sudah di pesan nya.
Tak ingin kejutannya terbuang sia sia, Beni segera menuju apartemen milik Monik adik perempuannya yang semalam dia menyuruh Inayah untuk membereskan dan membersihkannya.
Beni yakin kalau Inayah masih berada di apartemen, saat Beni sudah berada di depan pintu bersiap untuk memberi kejutan untuk Inayah, dia malah terkejut karena dari pintu yang tidak tertutup setengahnya itu terlihat Inayah sedang beradu argumen dengan Wiliam.
'Bajingan itu, berarti dia yang memegang kunci apartemen milik Monik yang hilang itu, beruntung aku tak mengganti kunci apartemen ini, akhirnya aku menemukan kunci yang aku cari cari selama ini, tunggu aku Wiliam, sebentar lagi kehancuran akan menyapa mu !" gumam Beni dalam hatinya.
__ADS_1
Beni langsung meninggalkan apartemen itu dan kembali ke basement gedung tempat dimana mobil nya di parkir.
Belum saat nya bagi Beni membuka siapa dia sebenarnya di hadapan Wiliam, itu akan menjadi pembalasan yang terlalu biasa dan terlalu mudah bagi Wiliam bila Beni terburu buru menunjukkan siapa dirinya saat ini.
Beni menyambar ponselnya yang tergeletak di dashboard mobilnya.
"Cepat keluar dari tempat itu, dan jangan katakan apapun pada laki laki yang kini ada di hadapan mu itu, aku menunggu mu di besement, ingat, jangan katakan apapun !" tekan Beni pada Inayah saat berbicara dengan wanita itu lewat telpon.
Beni tak ingin Inayah sampai keceplosan atau salah bicara, mengingat terkadang wanita itu suka terbawa emosi dan akhirnya mengutarakan hal hal yang tak seharusnya di ungkapkan.
Beni tak ingin rencana yang sudah di susunnya secara matang selama bertahun tahun itu akan gagal karena kecerobohan Inayah.
***
"Kenapa kamu sudah pulang, bukannya kamu bilang baru akan pulang tengah malam nanti ?" tanya Inayah saat memasuki mobil Beni yang memang sedang menunggunya.
"Kenapa ? Tak senang aku mengganggu reuni mu dengan mantan suami mu itu ?" ejek Beni, entah kenapa dia merasa tak suka melihat Inayah hanya berdua an di satu ruangan yang sama, meski jelas jelas terlihat dengan mata kepalanya sendiri kalau mereka berdua sedang bersitegang saat itu bukan melakukan hal hal yang bisa membuatnya cemburu.
"Apa maksud mu mas ? Tadi dia datang tiba tiba, dan anehnya dia ternyata punya kunci apartemen milik mu mas, sumpah bukan aku yang mengajaknya ke sana atau mengundangnya datang kesana, dia datang sendiri mas, aku bahkan memukul lengan kirinya dengan patung kayu yaang yang berada di ruang tengah karena aku pikir dia maling yang menyelinap masuk, sumpah !" ceroscos Inayah seakan takut Beni berpikiran yang tidak tidak padanya.
"Aku percaya !" singkat Beni sambil tersenyum dan melirik ke arah Inayah yang terlihat ketakutan plus serba salah.
'Ya Tuhan, kenapa juga aku harus menjelaskan se detail itu kejadiannya pada Beni, apa sebenarnya yang aku takutkan sampai aku harus meyakinkan dia bahwa antara aku dan Wiliam tidak terjadi apa apa, dia bukan siapa siapa ku. Oh,,, bodohnya aku, aku malu sekali !' sesal Inayah meruntuki kebodohannya dalam batinnya sendiri.
"Maaf, maksud ku,,," ucap Inayah tak tau harus berkata apa, otak nya tiba tiba blank.
"Sudah lah, aku hanya bercanda, aku tau yang kamu ucapkan tadi padaku itu benar, karena aju melihatnya secara langsung," ucap Beni.
__ADS_1
"Mas Beni ada di sana tadi ? Kenapa tak menolong ku ?!" kesal Inayah.
"Belum saat nya aku menunjukkan siapa diri ku yang sebenarnya pada bajingaan itu, masih ada sedikit masalah yang harus aku selesaikan terlebih dahulu," ucap Beni.