Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Dilema


__ADS_3

Pagi pagi sekali pintu kamar Liam yang di tempati Inayah tidur di ketuk dari luar, Inayah yang memang sudah terbangun dari sejak tadi, bahkan lebih tepatnya tidak tidur semalaman bergegas membuka pintu,


"Kenapa semalam kamu mengunci pintu kamar? Aku jadi tak bisa masuk" protes Liam yang akhirnya menghabiskan waktu di di ruang kerja ayahnya mempelajari keadaan pabrik semalaman.


"Maaf, aku pikir kamu tak tidur disini," ucap Inayah datar, dia masih kesal dengan apa yang di lihatnya semalam di taman belakang rumah.


"Kita suami istri, tentu saja harus tidur satu kamar, kalau tidak, orang rumah bisa curiga, untung saja tak ada yang tau, aku semalaman di ruang kerja ayah" sungut Liam terlihat kesal.


"Ya, untung saja tak ada yang tau, semalam kamu berciuman di taman belakang" sindir Inayah sambil berlalu meninggalkan Liam yang ternganga kaget di pintu.


"A- apa maksudmu ?" Liam mengejar Inayah yang terus saja berjalan menuju ke lantai bawah.


"Sudah lah cepat, aku harus berangkat kerja" ucap Inayah semakin mempercepat langkahnya.


sepanjang perjalanan pulang ke tempat kost, Inayah hanya diam membisu, wajahnya dia palingkan ke jendela mobil di sebelah kirinya, dia tak ingin melirik suami pura pura nya itu sedikit pun, hatinya akan bertambah kesal bila melihat wajah laki laki itu.


"Nisa, kamu marah padaku ?" tanya liam ragu ragu


"Aku ? Tidak !" ketus Inayah.


"Tapi yang kamu lihat semalam itu tidak seperti yang kamu pikirkan, aku bisa menjelaskannya," ucap Liam.


"Aku sudah melihat semuanya, untuk apa di perjelas lagi ? Lagi pula itu urusan kalian, aku hanya orang asing yang terjebak di antara hubungan rumit kalian!" sinis Inayah seraya turun dari mobil Liam dan berjalan menuju kamar kostnya.


"Inayah ! kamu dari mana saja?" Lilis yang sudah siap dengan seragam buruhnya menghampiri sahabatnya itu.


"Aku,,, ada sedikit urusan, nanti aku ceritakan, sekarang aku harus ganti baju dulu, kamu tunggu aku !" kelit Inayah bergegas masuk ke kamar kostnya.


Selang beberapa menit Inayah sudah berganti pakaian, dia sudah siap bekerja dengan seragam lengkapnya, kemeja berwarna biru muda dengan celana kain berwarna biru dongker, seperti itu seragam buruh di pabrik tempat Inayah bekerja.


"Nisa, ayo aku antar kalian" tawar Liam yang masih berdiri di samping mobil nya.


"Wah, mas Liam sekarang sudah naik pangkat jadi sopir taksi onlen ya, udah gak ngojek onlen lagi!" celoteh Lilis polos.


"Gak perlu,! kami mau naik bis karyawan saja, kami gak punya ongkos buat bayar taksi onlen !" ketus Inayah menyeret paksa Lilis yang sepertinya tertarik dengan tawaran Liam.

__ADS_1


"Kunaon (kenapa) Inayah? kan lumayan numpang naik mobil bagus" protes Lilis sambil sesekali melirik ke belakang menoleh ke arah Liam yang masih memperhatikan mereka.


"Gak usah numpang, besok kalo aku kaya, aku beli mobil sendiri buat kita berangkat kerja!" ketus Inayah dengan wajah yang di tekuk.


"Buruh pabrik beli mobil, buat makan sebulan aja kadang akhir bulan cuma makan mie instan," cicit Lilis.


"Emangnya ada larangan, buruh pabrik beli mobil ?"


"Ya enggak ada sih, cuma ya agak berat dan hampir tak mungkin saja, ngelamun nya yang biasaan aja, jangan ketinggian, nanti bisa gelo (gila)" oceh Lilis, mereka pun tertawa terbahak bersama sambil menunggu bis karyawan datang.


"Eh, si Mas Liam itu kayaknya naksir kamu deh, tadi aja ngeliatin kamu kaya gimana gitu" ujar Lilis.


"Gak mungkin, udah jangan mikir yang aneh aneh, ntar malah kamu yang gila" tepis Inayah sambil bertanya tanya hatinya dan bermain dengan pikirannya sendiri, apa iya Liam menyukainya ?


'Ah, tidak tidak ! dia hanya memanfaatkan aku saja, jangan terbawa perasaan, ini hanya sebentar, hanya pura pura' Inayah menepis pikirannya sendiri.


***


Di pabrik garmen,


"Sayang, aku senang kamu sekarang menggantikan ayah di kantor, dengan begitu kita jadi sering bertemu," Tania tiba tiba muncul dari balik pintu.


"Apa semua pegawai disini tidak mengetuk pintu bila datang ke ruangan atasan?" ketus Liam karena merasa Tania sudah mengganggu lamunannya.


"Haish, ini spesial, perkecualian hanya untukku, masa masuk ke ruangan kekasih sendiri harus ketuk pintu" goda Tania mendekati Liam yang sedang duduk di kursi kebesarannya.


"Kau hanya kepala bagian produksi, sedangkan aku pemimpin perusahaan, aku atasan mu, jaga sikap mu saat di kantor, dan satu lagi, stop panggil aku sayang, aku sudah menikah" tegas Liam.


"Sayang, tapi aku mencintai mu," Tania duduk di pangkuan Liam meraba rahang tegas laki laki tampan itu, dan menatap matanya dalam.


"Tania, jangan sepert ini," Liam membuang jauh pandangannya dari tatapan penuh harap Tania.


"Katakan kalau kamu tak mencintai ku, dan aku tak akan mengganggu mu lagi sampai kapan pun !" tantang Tania berbisik di telinga Liam dan menciumnya mesra,


"Tania, tolong, ini di kantor. Jaga sikap mu !" tepis Liam.

__ADS_1


Tapi Tania malah mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh Liam,


"Kamu tak berani mengatakannya, kamu tak berani mengatakan kalau kamu tak mencintai ku ?" ucap Tania dengan senyum sensualnya.


"Tania, aku.." ucapan Liam tertahan karena Tania membungkam mulut Liam dengan bibirnya, tanpa di sadari, Liam menutup matanya saat Tania menahan tengkuk Liam untuk memperdalam ciumannya.


Namun Liam segera melepaskan pagguttannya, karena saat dia menutup matanya, tiba tiba bayangan wajah Inayah hadir di pelupuk matanya, Liam menggeleng gelengkan kepalanya dan meraup wajahnya kasar.


"Kenapa ? Kau bahkan masih membalas ciuman ku!" keluh Tania merasa permainannya di hentikan begitu saja.


"Tolong kamu pindah dari pangkuan ku, duduklah yang benar disana!" tunjuk Liam pada kursi kosong di sebrang mejanya.


Tania beranjak dari pangkuan Liam, dia berjalan menuju kursi yang di tunjuk Liam sambil menghentakkan kakinya kesal.


"Kenapa kamu bersusah payah menghindari ku, padahal jelas jelas hati mu masih mengharapkan ku dan masih menyimpan cinta untuk ku"cicit Tania


"Aku sudah menikah, tolong hargai keputusan ku," ucap Liam dingin.


Sungguh Liam sangat ingin menghindar setiap kali Tania mendekati dan menggodanya, tapi rasanya dia selalu tak kuasa menghindari dan menolaknya, apa benar dia masih mencintai Tania ? Bagaimana pun memang sangat susah untuk melupakan begitu saja kisah cinta dirinya dengan Tania yang sudah di lalui bertahun tahun lamanya.


Ini benar benar dilema besar untuk hatinya, di satu sisi dia ingin menjauhkan Tania dari dirinya sampai dirinya harus melibatkan dan menjebak Inayah untuk menjadi istrinya, tapi di sisi lain dia selalu lemah saat harus benar benar berhadapan lagi dengan cinta masa lalunya itu.


"Aku tak melihat cinta untuk wanita itu di mata mu,"


"Tentu saja aku mencintainya, makanya aku menikahinya" tampik Liam.


"Sudah lah, aku sudah sangat mengenal mu, kita bisa melanjutkan kisah kita tanpa orang rumah curiga, kita masih saling mencintai, tak perlu menyangkal perasaan mu sendiri," urai Tania.


"Terserah, itu kan, pendapatmu, kamu bebas berpendapat, yang jelas, aku sekarang suami orang lain" tukas Liam tak ingin memperpanjang pembicaraan.


"Aku kesini hanya untuk memberi tahu, kalau weekend ini perusahaan akan mengadakan family gathering, sekalian acara pasah sambut ayah dan kamu, acaranya di adakan di puncak," terang Tania.


"Puncak ?" beo Liam, dia teringat kejadian pernikahan dadakan nya kemarin malam yang juga di adakan di puncak.


"Iya, kenapa ? Kamu harus ikut, karena ada acara pisah sambut yang melibatkan ayah dan kamu." Tania mengernyitkan keningnya, melihat Liam yang seperti terkejut mendengar tempat acaranya di puncak.

__ADS_1


"Ah, iya aku datang, pasti datang !" ucap Liam.


__ADS_2