Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Kembali ke Desa


__ADS_3

Beribu bahkan berjuta rasa sesal dan salah menumpuk di dada Inayah, bagaimana bisa dia menghianati pernikahan nya dengan Liam dengan begitu gampangnya.


Meski itu hanya sebuah pernikahan paksa dan hasil dari sebuah jebakan yang di ciptakan Liam, tapi pernikahan itu tetap sah di mata Tuhan, dan status mereka tetap lah suami istri.


Inayah pulang ke rumah Liam, mengemas semua barang barangnya dan pergi meninggalkan rumah yang baru saja menghangat sebulan belakangan ini.


Dia harus pergi, pergi jauh dari Liam yang kini masih terbaring di rumah sakit, dia terlalu malu untuk bertemu lagi dengan suaminya itu.


Rasa bersalahnya sungguh menutupi segala rasa yang ada di dadanya saat ini.


***


Tiga hari kemudian, keadaan Liam sudah semakin membaik, tak pernah terlihat Inayah sang istri datang bahkan sekedar menjenguk dirinya di sana.


Tentu saja itu semakin membuat Lian di landa cemas dan hawatir takut terjadi sesuatu yang buruk lagi pada Inayah sang istri.


"Aku ingin pulang, aku harus pulang !" ucap Liam bangkit dari ranjangnya dan mulai bersiap siap meninggalkan ruangan tempatnya di rawat.


"Kamu masih lemah, tunggu lah sebentar lagi sampai keadaan mu benar benar membaik," tahan Tania yang tiga hari belakangan ini selalu memaksa untuk menemani Liam di sana meski Liam selalu mengusirnya pergi.


"Kau tidak berhak mengatur ku !" ketus Liam yang benar benar sudah kesal dengan sikap Tania yang terus terusan menempel padanya, beruntung Liam sedang sakit, kalau tidak,,, mungkin Liam sudah menyeret paksa Tania keluar ruang perawatannya itu.


"Tapi kamu belum sehat betul !" Tania menahan tangan Liam yang meraih hendle pintu hendak keluar meninggalkan ruangan.


"Aku harus menemui istri ku, aku harus memastikan tidak ada sesuatu yang buruk yang terjadi padanya !" Liam menepis tangan Tania kasar.


"Cih, istri macam apa suami sakit, boro boro merawatnya, dia bahkan tak sekali pun menjenguk kesini. Sadarlah Wil, hanya aku yang peduli padamu ! Hanya aku yang merawat mu !" decih Tania merasa tak terima Liam masih saja memikirkan Inayah.


"Aku tak pernah meminta untuk di rawat oleh mu dan aku tak pernah meminta mu untuk peduli padaku, kau yang memaksa untuk tetap berada disini, aku bahkan risih berdekatan dengan mu !" cibir Liam.


***

__ADS_1


"Nisa,,, Nisa,,," panggil Liam saat dia sampai di rumahnya, berulang kali di panggil, istrinya itu tak kunjung juga keluar.


Rumah yang mereka tempati itu terlihat sepi, seperti tak pernah ada kehidupan sebelumnya, Liam bergegas masuk ke kamar Inayah.


Kamarnya rapi, bersih.


Setumpuk amplop coklat tertata rapi di atas nakas, saat Liam buka, ternyata berisi uang bulanan yang biasa dia berikan pada Inayah setiap bulannya, lalu Liam membuka pintu lemari di kamar itu, kosong ! Baju baju Inayah sudah tak ada di sana.


"Nisa, kemana kamu pergi ? Aku belum menjelaskan pada mu kalau yang kamu lihat waktu itu adalah sebuah kesalah pahaman saja !" gumam Liam menatap nanar kamar Inayah yang sudah di tinggalkan pemiliknya itu.


***


Sementara di lain tempat, Inayah sedang berada di sawah menemani Titin yang sedang menggarap lahan bersama ibu ibu lainnya.


"Eh Inayah, kapan datang ? Lama di kota jadi pangling, tambih geulis (tambah cantik)" ucap salah satu ibu ibu yang mulai naik dari sawah yang di garapnya karena sudah masuk waktu makan siang.


"Sudah tiga hari bu," jawab Inayah ramah seraya menyiapkan makan siang untuk Titin.


"Tidak ada apa apa Mak, Inayah cuma kangen saja sama emak, dan ingin liburan agak lama di sini," elak Inayah.


"Bukannya emak melarang kamu pulang, cuma emak ngerasa kalau kamu sedang ada masalah, dari kemarin kamu sering melamun," kata Titin.


"Aduh,,, kenapa wanita sial ini harus kembali ke kampung kita sih ? Bikin sumpek pemandangan saja !" cibir Esih di temani Yeni yang baru saja meninjau sawahnya.


"Bu, teh,!" sapa Inayah pada mantan ibu mertua dan mantan kakak iparnya itu menyodorkan tangannya mengajak bersalaman.


"Ih, gak usah deket deket, sepeninggal kamu dari rumah, hidup kita jauh lebih baik, hutang hutang lunas, Adit juga membelikan kami sawah berhektar hektar, kalau kami salaman sama kamu bisa sial lagi hidup keluarga kita !" ucap Yeni dengan nyinyirnya dan menepis kasar tangan Inayah.


Inayah hanya menghela napas dalam, dia tak ingin berdebat dengan dua orang yang memang selalu menindasnya itu.


"Ibu ibu, tau gak, kata adik saya si Jamal, dan kata anak saya si Adit, dia itu di kota jadi wanita simpanan bos nya, namanya Pak Beni, dia menjual dirinya demi jabatan menjadi sekretaris plus plus bos nya itu !" Esih tak mau kalah nyinyir dari Yeni anak perempuan kesayangannya.

__ADS_1


"Maaf bu, jangan berbicara seperti itu, kasihan emak saya harus mendengar omong kosong seperti itu," ucap Inayah.


"Kenapa, kamu malu emak mu tau kelakuan asli mu ?" hardik Esih.


"Ayo nak, kita pulang. Emak percaya kaamu bukan wanita seperti itu, emak percaya kamu wanita yang bisa menjaga kehormatan mu !" Titin merangkul bahu Inayah dan segera membawa anak semata wayang nya itu pergi.


"Menjaga kehormatan ? Justru dia menjual kehormatan nya di kota, tunggu saja sampai Adit datang, dia punya bukti atas apa yang aku omongin ini, nanti akan aku tunjukan ke hadapan ibu dan anak yang sok alim ini, dan semua warga kampung biar mereka nyaho !" ancam Esih.


Tapi Titin tetap menuntun anaknya meninggalkan Esih dan Yeni yang masih berkoar koar menjelek jelekkan Inayah yang merupakan mantan menantunya itu.


"Sudah nak, jangan pedulikan ocehan mereka, emak percaya kamu," ucap Titin membesarkan hati anaknya.


Ucapan Titin justru malah membuat hati Inayah perih, bagaimana tidak, tanpa sepengetahuan ibunya dia sudah menikah dengan Liam, bahkan yang lebih parah lagi dirinya berciuman dengan laki laki lain di tengah pernikahannya dengan Liam yang masih berlangsung.


"Ba- bagaimana bila yang di katakan bu Esih dan Yeni itu benar ?" tanya Inayah terbata bata.


"Apa maksud mu Nak ?!" Titin menatap wajah anaknya yang langsung memalngkan wajahnya saat tatapan ibunya seperti menusuk jantungnya.


"Tidak, hanya bertanya saja, Mak" elak Inayah.


"Jangan berkata seperti itu, jangan membuat emak sedih dan kecewa, kamu satu satunya harta yang emak miliki di dunia ini," mata Titin berkaca kaca saat memeluk tubuh anak nya.


'Maafkan Inayah mak,' ucap Inayah dalam batinnya dia tak kuasa menahan tangisnya di pelukan hangat Titin, tangisan penyesalan karena merasa dirinya sudah menyia nyiakan kepercayaan yang di berikan Titin padanya.


"Inayah mau tinggal di sini saja ya mak, nemenin emak, Inayah gak mau ke kota lagi," kata Inayah dalam isak tangisnya.


"Emak terserah kamu saja, asal kamu nyaman dan bahagia" Titin membelai lembut rambut panjang putrinya itu.


Inayah sudah membulatkan tekad untuk tidak kembali ke kota, dan akan menetap di desa lagi, dia ingin melupakan segala kenangan yang terjadi di kota, termasuk melupakan Liam dan juga pernikahannya.


"Terima kasih mak, selalu menjadi emak terbaik buat Inayah," ucap Inayah tersenyum bahagia.

__ADS_1


__ADS_2