
Inayah duduk di kursi kayu kamar kost nya, sebelah tangannya dia gunakan untuk menopang dagunya dan bertumpu ke meja di hadapannya.
Mata Inayah menerawang jauh entah kemana, menatap keluar jendela, sudah semalaman dia tak tidur menimbang nimbang apa yang di minta Beni sebagai syarat dirinya agar bisa kembali bekerja di perusahaan milik Beni itu.
Setelah lelah berpikir semalaman namun tak juga menemukan solusi yang terbaik, Inayah akhirnya keluar dari kamar kost nya, dan mencoba mencari udara segar, barangkali dengan pergantian suasana pikirannya ikut terang.
"Kenapa kau masih belum bekerja juga, apa kau pikir ancaman ku itu hanya omong kosong untuk menakut nakuti mu saja ?" Inayah yang sedang duduk di taman dekat tempat kostnya terperanjat kaget ketika tiba tiba Adit duduk di sebelahnya.
"Bukan kah pacar mu sekarang bekerja di perusahaan itu dan menjadi sekretaris Beni, kenapa kau tak meminta tolong dia saja ?" ketus Inayah.
"Tania, maksud mu ?" cengir Adit.
"Ya, sejauh yang aku tau hanya dia yang pacarmu yang bekerja di perusahaan Beni, kalau yang lain, aku tak tau dan tak mau tau !" oceh Inayah sinis.
"Sebelum aku meminta mu, tentu saja aku sudah menyuruh Tania melakukan itu, sayangnya dia terlalu bodoh, merayu si Beni untuk memasukan ku ke perusahaannya saja tidak becus !" cibir Adit kesal.
"Lantas, apa kau pikir aku bisa ?" sinis Inayah.
"Tentu saja, kau kan wanita simpanannya !" cengir Adit.
"Jaga mulut mu !" tunjuk Inayah kesal dengan ocehan Adit.
"Ingat, nasib ibu mu di tangan ku, sebelum aku menikah dengan Neneng minggu depan, kau harus sudah berhasil, kalau tidak----" lagi lagi Adit mengancam Inayah lantas pergi begitu saja meninggalkan mantan istrinya itu.
Teringat akan nasib ibunya di kampung, Inayah bergegas memesan ojek online, tujuannya saat ini adalah rumah kediaman Liam yang dulu mereka tempati bersama, berharap dirinya bertemu Liam yang masih berstatus suaminya itu, sepanjang jalan Inayah merangkai kata berharap saat bertemu dengan Liam dia tidak canggung atau malah tak tau harus berkata apa.
Beberapa kali pintu rumah yang pernah di tinggalinya bersama Liam itu di ketuk, tapi tak ada jawaban dari penghuni rumah, Inayah duduk di kursi yang berada di teras depan rumah, merasakan dan mengenang kembali saat saat dirinya masih tinggal bersama dengan Liam.
__ADS_1
Bibir Inayah tiba tiba mengulas senyum, bayangan bayangan indah saat dirinya bersama Liam seakan menari nari di pelupuk mata, seakan semua tempat disana menampar dan mengingatkan Inayah kalau dirinya pernah bahagia bersama Liam.
"Nisa !" panggil Liam yang baru saja keluar dari pintu rumahnya menatap haru Inayah yang sedang duduk melamun di kursi sendirian, beberapa kali Liam mengucek dan mengerjapkan matanya, dia ingin memastikan kalau apa yang di lihatnya saat ini adalah nyata bukan mimpi atau bahkan imajinasi nya saja.
"Eh, iya, ternyata kamu di rumah, aku pikir kamu pergi, aku mengetuk pintu dari tadi," cicit Inayah grogi daan serba salah.
"Kamu baik baik saja ? Kenapa kamu menghilang begitu saja ?" Liam mendekati Inayah dan mencoba menyentuh Inayah, dia sungguh belum yakin kalau apa yaang di lihatnya saat ini benar benar istrinya.
"Liam,,, aku---"
"Aku sudah tau semuanya, bahkan aku sudah tau mengenai foto itu dari Tania, dan aku tak peduli, aku hanya mau kita kembali, aku mencintai mu,! Aku juga ingin menjelaskan tentang saat terakhir kamu lihat aku bersama Tania, itu semua salah paham !" Liam memegangi kedua pipi Inayah, yang masih terdiam mematung.
"Aku tau, aku mendengarkan pembicaraan kalian saat di rumah sakit !" ucap Inayah.
"Jadi kamu memaafkan ku kan ? Kamu tau itu hanya salah paham ? Kamu kesini karena ingin kembali tinggal disini bersamaku, kan ?" cecar Liam memberondong Inayah dengan banyak pertanyaan.
"Liam, aku,,,, aku,,, aku ingin kita pisah !" lirih Inayah menundukkan wajahnya, dia tak berani menatap wajah Liam yang seketika memundurkan kakinya beberapa langkah ke belakang menjauhi Inayah.
"Aku tau, dan aku yakin kamu jujur, tapi aku tetap ingin kita pisah," keukeuh Inayah.
"Tidak Nisa, aku tidak mau menceraikan mu, aku mencintai mu," tolak Liam.
"Aku mohon, aku pernah membantu mu untuk menjadi istrimu, sekarang giliran kamu membantuku, tolong ceraikan aku !" pinta Inayah mengiba.
"Apa karena sekarang aku bangkrut ?" lirih Liam.
"Liam tolong ! Awal aku mengenal mu, kamu hanya sebagai orang biasa, dan jujur aku hampir jatuh cinta pada mu saat itu, namun karena kamu menjebak ku dalam pernikahan paksa, aku membenci mu, dan aku tak pernah luluh dan di butakan karena harta, kenapa kamu menilai ku serendah itu ?" Geram Inayah karena merasa Liam hanya mengira dirinya sama seperti wanita kebanyakan yang matrealistis.
__ADS_1
"Aku minta maaf, aku tak bermaksud menyinggung perasaan mu dengan kata kataku barusan, aku hanya kaget dengan permintaan mu yang aneh itu," sesal Liam.
"Pernikahan kita di awali dengan hal yang tidak baik, jadi ayo kita akhiri semuai ini," urai Inayah.
"Apa kamu mempunyai orang lain yang kamu cintai !" Liam memicingkan matanya.
"Tidak, tidak ada orang lain atau siapapun, pernikahan ini memang tidak benar dari awal," elak Inayah.
Liam termenung, sungguh dia tak ingin mengakhiri pernikahannya dengan Inayah, tapi benar seperti yang di katakan Inayah padanya, pernikahan mereka memang tidak benar dari awal, dan itu semua kesalahannya.
"Apa kamu akan memaafkan semua kesalahan ku bila aku mengabulkan keinginan mu untuk menceraikan mu ?" lirih Liam.
"Aku sudah memaafkan mu jauh sebelum ini," ucap Inayah.
"Ijinkan aku memeluk mu" pinta Liam.
Tanpa aba aba Inayah langsung berhambur ke pelukan Liam, entah kekuatan apa yang menggerakan Inayah yang tiba tiba menjadi seberani itu.
"Maafkan aku,!" ucap Inayah terisak di dada Liam.
"Kamu tak salah apapun pada ku, dari awal ini semua kesalahan ku, dan aku harus mengakhiri semuanya, aku menalakmu sayang, aku menjatuhkan talak pada mu, karena aku mencintai mu," ucap Liam, seiring dengan tetesan air mata yang meleleh di pipi laki laki tampan itu berjatuhan mengenai kepala Inayah yang berada dalam dekapan erat nya.
Tubuh Inayah serasa melayang, lututnya seketika lemas seperti tak bisa menopang badannya sendiri, saat mendengar ucapan talak dari bibir Liam yang terdengar sangat lembut namun terasa seperti hujaman pisau yang menusuk dan berhasil mencabik cabik hati nya sampai hancur.
Hanya isak tangis yang terdengar dari Inayah, kalau beberapa bulan yang lalu dia keukeuh sangat ingin terlepas dari pernikahan paksanya dengan Liam,
Namun saat ini, ketika Liam benar benar menjatuhkan talak padanya justru hatinya merasa sangat perih, seperti ada rasa tak rela berpisah dengan Liam yang sudah dengan ikhlas melepaskan dirinya pergi dari hidupnya.
__ADS_1
Liam masih mendekap erat tubuh Inayah yang kini sudah menjadi mantan istrinya itu, dia ingin saat saat terakhir kebersamaannya dengan Inayah menjadi kenangan terindah untuk mereka, karena dia mengawali pernikahan ini dengan paksaan, maka Liam ingin mengakhiri semuanya dengan indah.
"Aku mencintai mu Nisa, dan akan selalu mencintai mu,!" bisik Liam pada Inayah, seraya mencium lembut dan dalam pucuk kepala Inayah yang masih tenggelam dalam dada bidangnya.