
Suasana kamar hotel yang di sepakati untuk pertemuan antara Beni dan Wiliam terlihat porak poranda, kamar yang tak terlalu luas dengan single bed dan sebuah lemari kayu kecil di sana, namun sayangnya semua sudah tidak pada tempat semestinya.
Sepertinya baru saja terjadi kerusuhan di tempat itu, entah apa yang terjadi beberapa menit sebelum Beni datang ke sana.
"Tania ! Sayang,,, kamu di mana ?" hal tang lebih mengejutkan kembali terjadi, belum juga Beni reda dari keterkejutannya karena melihat suasana tempat yang akan menjadi pertemuan nya dengan Wiliam sangat berantakan seperti terkena badai, kini tiba tiba Adit datang ke tempat itu mencari Tania.
"What the fucccckk !?! kenapa kau bisa datang dan tau tempat ini ?!" teriak Beni kesal karena sebelymnya sudah di sepakati antara dirinya dan Wiliam, kalau hanya nereka berdua yang tau tentang tempat pertemuan mereka itu dan tak ada orang lain yang tau.
"Aku menyusul Tania, dia memaksa untuk menemui Wiliam setelah bertemu dan berbicara dengan mu kemarin, aku sudah berusaha mencegahnya, tapi tadi pagi dia menghilang dari rumah sakit, dan aku melihat chat antara Tania dan Wiliam dari ponsel Tania yang tertinggal, mereka janjian di sini," urai Adit dengan wajah panik dan cemasnya.
"Shiiiittt ! Apa yang di lakukan Tania berengsek itu, kenapa dia bergerak sendiri, benar benar wanita tak ada otak !" teriak Beni kesal, dia menrndqngi apa saja barang yang ada di hadapannya, sungguh hatinya sangat dongkol, terlalu banyak waktu, tenaga, dan pikiran terkuras demi terlaksananya pertemuan itu, namun harus gagal hanya karena tindakan ceroboh Tania.
"Jaga bicara mu, bung ! Wanita yang kau sebut berengsek dan tak ada otak itu adalah istri ku !" geram Adit tak terima karena Beni memaki istrinya.
"Ya, istri mu yang bodoh, sok tau, dan sangat tolol, dia menggagalkan semua rencana yang sudah aku susun untuk memusnahkan mahluk bernama Wiliam itu ! Aaaaahhhhh,,,,,,!" kesal Beni, rasanya dia ingin sekali menghancurkan hotel itu menjadi rata dengan tanah saking kesalnya.
"Aku sudah mengingatkan mu, jangan maki istri ku !" Adit mencengkram kerah baju Beni.
Beni yang memang sedang kesal itu semakinvtersulut amarahnya karena perlakuan Adit terhadap nya itu, tanpa babibu lagi Beni balik memelawan dan menghajar Adit tanpa ampun enah berapa jumlah pukulan yang mendarat di wajah lakivlaki beristri dua itu, yang jelas, akibat hantaman kepalan tinju Beni, wajah Adit di penuhi luka dan lebam.
Seandainya tak ada pegawai hotel yang lewat ke sana dan memisahkan mereka, sepertinya Adit akan tewas di tangan Beni karena menjadi sasaran kemarahan dan kekesalannya.
Adit tergolek lemas di lantai hotel, sementara Beni masih segar bugar, Beni yang terbiasa mengikuti tarung bebas saat dia berada di luar negeri, dan beberapa kali memenangkan kejuaraan besar di sana, tentu saja bukan lawan tanding yang seimbang untuk Adit yang hanya playboy kampung itu.
__ADS_1
Beni segera menghubungi anak buahnya yang berada di sekitar hotel itu untuk membereskan kekacauan yang baru saja dia perbuat akibat perkelahiannya dengan Adit tadi dan mempertanggung jawabkan semua kerusakan yang dia timbulkan.
"Ada salah satu orang kita yang melihat Wiliam pergi ke arah dermaga dan sepertinya menyebrang menggunakan kapal dengan seorang wanita," lapor salah satu anak buah Beni menyampaikan informasi yang baru saja di terimanya.
"Siapakan kapal untuk kita sewa, kita akan mengejar dan mencari bajingan itu sampai ketemu, hidup atau mati !" titah Beni.
"Aku ikut !" pinta Adit tiba tiba.
"Kau lagi, apa belum cukup pukulan yang ku berikan padamu ?" sinis Beni saat melihat wajah babak belur Adit kembali muncul di hadapannya.
"Tolong, aku harus menyelamatkan istri ku !" mohon Adit.
Beni sedikit merasa iba pada payboy kampung itu, karena tiba tiba dia ingat akan istrinya yang mungkin saat ini sedang menantikan dirinya pulang di rumah.
"Kau boleh ikut, dengan syarat, kau tak boleh banyak bertanya, banyak bicara dan jangan berbuat yang aneh aneh, jika tidak, aku akan melempar mu ke laut !" ancam Beni.
***
Beberapa jam sebelumnya,
"Aku akan membantu mu, dan memberikan uang yang kau butuhkan, kau di mana ?" tulis Tania di ponselnya, pesan itu lalu di kirimnya ke nomor Wiliam.
Lama tak ada jawaban, padahal pesan itu sudah terkirim dan sudah di baca oleh penerima.
__ADS_1
Selang beberapa menit Wiliam menghubunginya, mereka sepakat untuk bertemu, dan lalu Wiliam mengirim alamat di mana sekarang dia tinggal melalui pesan.
Adit sedang keluar karena sengaja Tania suruh untuk membeli makanan agar dirinya ada kesempatan untuk pergi menemui Wiliam.
Dadanya terasa panas saat mengetahui kebenaran cerita tentang Wiliam dan Monik, kemarin Beni menceritakan semuanya padanya, dan itu membuat Tania merasa sangat ibgin membunuh mantan pacar sekaligus kakak tirinya itu.
Tania mengendap endap keluar dari rumah sakit, meski badannya beluh pulih sempurna, tapi dirinya merasa masih kuat untuk pergi dan menemui laki laki biadab itu.
"Bersembunyi di sini kau rupanya !" ucap Tania saat baru saja masuk ke sebuah kamar hotel di dekat dermaga seperti yang Wiliam tuliskan alamatnya lewat pesan yang di kirimkan padanya.
"Tak usah banyak bicara, cepat masuk sebelum ada yang melihat keberadaan ku, kau datang sendiri, kan seperti yang aku perintahkan ?" tanya Wiliam.
"Kenapa kau menjadi seperti ini ? Kau berhutang pada siapa ?" Tania balik bertanya, dia tak berminat menjawab pertanyaan Wiliam padanya sedikitpun.
Tidak usah banyak bertanya, ini menyangkut hidup dan mati ku !" tegas Wiliam.
Namun ponselnya tiba tiba berbunyi, sepertinya salah seorang anak buahnya mengabari kalau keberadaannya kini sudah tercium oleh para mafia yang kini sedang dalam perjalan ke sana.
"Apa kau membawa uangnya ?" ucapan Wiliam tersengar agak panik.
"Tentu saja tidak, bagaimana mungkin aku membawa uang dengan jumlah miliar an ke sini !" tukas Tania.
"Kita harus cepat pergi dari sini, kalau tidak nyawa kita akan melayang, mereka sedang menuju ke sini !" Wiliam menarik kasar tangan Tania agar mengikuti langkah kakinya.
__ADS_1
"Tu- tunggu, kita mau kemana ? Siapa mereka yang kau maksud itu ?" tanya Tania yang tentu saja tidak di jawab oleh Wiliam sepatah kata pun, dia terus menarik tangan Tania sampai di tepi dermaga dan memaksanya untuk ikut menaiki kapal yang menunggunya di sana.
"Kita mau kemana ?" ronta Tania, namun apalah daya nya yang tenaganya kalah kuat dengan Wiliam l, belum lagi dirinya yang belum begitu pulih, jadi dia hanya bisa pasrah mengikuti kemana Wiliam pergi.