
Liam sampai di rumah jam 9 malam, saat ini dia sangat ingin bertemu dengan istrinya, dia membuka pintu rumah dengan tidak sabaran, saat masuk ke rumahnya di meja makan sudah tertata rapi makanan dan dua buah piring.
Inayah pasti mempersiapkan semua itu untuk mereka, Liam semakin merasa bersalah,karena dirinya justru malah menemani Tania.
"Nis,,, Nisa,,," panggil Liam.
Tak ada jawaban dari Inayah, rumahnya sepi seperti biasanya saat dia pulang kantor, hanya kesepian yang menyambutnya meski Inayah ada di rumah, bedanya biasanya dia tak pernah memanggil manggil Istrinya itu saat pulang kerja sebelumnya, karena tau Inayah pasti di kamarnya dan tak mau menemuinya.
Cekrek,,,
Pintu kamar Inayah terbuka saat Liam mencoba mendorongnya, terlihat Inayah yang sudah tertidur pulas, mngkin dia lelah menunggu Liam yang tak kunjung pulang.
Liam masih berdiri di ambang pintu, dia ragu ragu antara masuk dan membangunkan Inayah, atau membiarkan wanita itu melanjutkan tidurnya.
Ditengah Liam sedang berpikir sambil menatap wajah cantik Inayah yang tertidur lelap, tiba tiba Inayah membuka dan mengerjap kan matanya,
"Kamu sudah pulang?" sapa nya lembut, tak ketus seperti biasanya.
"Maaf, aku tak bermaksud membangunkan mu," gugup Liam yang merasa malu karenq ketahuan sedang menatap Inayah yang terlelap
"Kamu sudah makan ?" tanya Inayah turun dari ranjangnya dan menghampiri Liam yang masih mematung di ambang pintu.
"Ayo makan dulu, aku sudah memasak makanan untuk mu," ajak Inayah menarik tangan Liam dengan beraninya.
Liam yang terbengong mendapatkan perlakuan manis Inayah yang tak biasanya itu hanya dapat mengikuti setiap perkataan istrinya tanpa bantahan sedikit pun.
"Maaf, aku pulang terlambat tadi ada --" ucap Liam terbata memikirkan alasan apa yang harus dia berikan pada Inayah atas keterlambatannya hari ini.
"Lain kali, kabari aku jika kamu pulang terlambat, jadi aku tidak hawatir," ucap Inayah datar.
"Ka- kamu menghawatirkan ku ?" beo Liam tak percaya.
"Kenapa? Apa salah, seorang istri menghawatirkan suaminya sendiri ?" tanya Inayah.
'Apa aku sedang bermimpi ? Ada apa dengan sikap Nisa yang tiba tiba berubah sangat manis pada ku?' batin Liam.
"Kenapa kamu tiba tiba berubah menjadi bersikap baik terhadap ku ?" tanya Liam penasaran.
__ADS_1
"Aku ingin kita memperbaiki semuanya, aku ingin
memberi waktu pada mu selama satu bulan untuk kita saling mengenal satu sama lain" ucap Inayah.
"Satu bulan ?" Liam tak paham dengan arah pembicaraan Inayah.
"Ya, satu bulan, aku memberi mu waktu untuk membuktikan kalau kamu benar benar mencintai ku seperti yang pernah kamu ucapkan pada ku," jelas Inayah.
"Lantas setelah satu bulan ?" tanya Liam lagi.
"Tergantung, kamu bisa meyakinkan aku atau tidak !" jawab Inayah.
"Kalau aku bisa meyakin kan mu, apa kamu mau menjadi istri ku untuk selamanya ?" Liam menatap tajam Inayah.
"Sebaliknya, kalau kamu tidak bisa meyakinkan ku, apa kamu bersedia melepasku ?" tantang Inayah.
"Kenapa kamu sangat ingin berpisah dari ku ?" rona wajah Liam berubah murung.
"Hubungan kita sudah salah sedari awal !" ucap Inayah.
"Ayo kita perbaiki semuanya di mulai dari awal lagi !" ajak Liam
"Kenapa harus satu bulan, ada apa dengan satu bulan ?" cecar Liam masih belum puas dengan penjelasan Inayah.
"Lantas kamu minta waktu berapa lama, seminggu? Kamu merasa yakin bisa membuktikan dan meyakinkan ku dalam waktu kurang dari satu bulan, gitu ?" goda Inayah.
"Ish, bukan seperti itu, hanya saja,,, ah tidak, baiklah aku setuju" Liam menerima tantangan Inayah untuk memperbaiki hubungan mereka dan memulai semuanya dari awal dalam waktu yang hanya sebulan saja.
Liam sedikit berpikir, bagaimana caranya dia membuat satu bulan itu menjadi selamanya, tapi dia hanya perlu menunjukkan keseriusannya untuk mencintai Inayah.
"Bagaimana perusahaan mu, apa ada perkembangan ?" tanya Inayah di sela makan malamnya.
Deg,
Liam seakan di kejutkan dengan pertanyaan Inayah, dia teringat saat ini perusahaannya sudah mulai membaik dan dalam waktu satu bulan ke depan dapat di pastikan perusahaan berjalan normal kembali, setelah kontrak kerjasama yang akan di tanda tangani dirinya dengan Beni.
Sesuai janji nya pada Inayah, bila perusahaannya kembali normal, itu berarti dirinya harus menceraikan Inayah, tapi bagai mana dengan perasaannya yang kini tak menginginkan berpisah dengan wanita yang sedang duduk di depannya itu.
__ADS_1
"Hmm, perusahaan masih seperti biasa, dalam tahap pemulihan," jawab Liam terbata.
Inayah manggut manggut, dia tak ingin bertanya lebih jauh, lagi pula itu hanya sekedar pertanyaan basa basi saja.
"Nisa, aku mencintai mu !" ucap Liam tiba tiba.
"Buktikan ! Aku masih belum bisa mempercayai ucapan mu," jawab Inayah datar.
Obrolan mereka menghangat malam itu, candaan demi candaan mengalir begitu saja, keakraban mereka hampir seperti saat mereka di tempat kost dulu.
"Terimakasih, sudah memberi ku kesempatan untuk menebus semua kesalahan ku pada mu, meski aku tau terlalu banyak kesakitan yang aku beri padamu," ucap Liam.
Mereka kini sedang berada di teras belakang rumahnya, untuk pertama kalinya mereka duduk berdua di sana berbicara tanpa perang urat saraf, mereka terlihat santai membicarakan hal hal yang ringan.
"Maaf, aku tak pernah memberi mu kesempatan sebelumnya" lirih Inayah,
Jujur saja, Inayah masih belum bisa menerima ini semua, rasa kecewa dan bencinya pada Liam terlalu menumpuk, bohong kalau saat ini hatinya baik baik saja, tapi ini harus di coba, setidaknya dia harus memberi Liam kesempatan.
Keesokan harinya, Inayah bangun kesiangan, saat dia turun dari kamarnya, dia sudah di kejutkan dengan Liam yang menyambutnya dengan sarapan yang sudah tersedia di meja, mereka masih menempati kamar yang terpisah, Inayah belum bisa satu kamar dengan Liam meski mereka sah sebagai suami istri.
"Selamat pagi, istri ku," sapa Liam manis.
"Maaf, aku kesiangan!" cicit Inayah.
"Aku sudah menyiapkan makanan untuk kita" Liam menyodorkan sepiring omlet dan segelas susu.
"Ayo !" ajak Liam, Inayah hanya terbengong melihat Liam.
"Kenapa ? Apa kamu sekarang tidak suka naik motor ?" ucap Liam yang duduk di atas motor bebek yang dulu sering dia pakai untuk bekerja sebagai ojek online.
"Ah, tentu saja tidak." jawab Inayah.
"Aku hanya ingin mengulang saat saat indah kita dulu, tapi saat ini tidak memakai jaket dan helm hijau lagi," canda Liam menyodorkan helm berwarna pink ke hadapan Inayah,dan memakaikannya di kepala istrinya itu.
Lalu lintas pagi yang ramai dan macet di hari itu pun dapat dengan mudah di lewati oleh Liam dan Inayah, dan Liam bisa tepat waktu mengantarkan Istrinya di kantor.
Sementara di lain tempat Adit yang sedang mengamati Inayah dari kejauhan,
__ADS_1
"Sial,,, tukang ojek itu masih terus menempeli si Inayah, ini akan mengganggu rencanaku dan Seno," gumamnya kesal.
Adit masih belum mengetahui kalau Liam adalah bos di tempatnya bekerja.