
"Terimakasih, tapi saya baik baik saja" ucap Inayah dengan senyum yang di paksakan.
"Apa kamu masih akan berkata baik baik saja bila kamu melihat pemandangan di belakang mu?" Beni memajukan dagunya memberi isyarat kalau ada sesuatu yang harus Inayah lihat di balik punggungnya.
Inayah menoleh ke arah yang di tunjuk Beni.
Terlihat Liam dan Tania sedang duduk berdua menyantap makan siang di meja yang letaknya memang agak jauh dari tempatnya kini duduk bersama Beni.
Inayah menghela nafas dalam,
"Apa saya bisa meminta tolong sesuatu pada anda, bos ?" tanya nya putus asa.
"Selagi aku mampu, memangnya kamu butuh pertolongan apa dari ku?" tanya Beni penasaran.
"Hanya mendengarkan cerita saya saja" ucap Inayah, dia seperti sudah tak mampu lagi menampung semua beban di dadanya. Dalam diamnya dia ternyata menyimpan sakit di dadanya setiap melihat kebersamaan Liam dengan cinta masa lalunya itu, meski pernikahan mereka hanya status, Inayah merasa Liam tak pernah menghargai dan menganggapnya sebagai seorang Istri.
"Aku akan mendengarkan, terkadang bercerita akan meringankan beban mu" Beni mengambil posisi dengan nyaman untuk mendengarkan cerita Inayah.
Inayah menceritakan kisah hidupnya, mulai dari cerita tentang perceraian nya dengan Adit, sampai cerita tentang penikahan paksa nya dengan Liam, entah lah, Inayah percaya begitu saja pada Beni sehingga dia dengan gamblangnya menceritakan semua kisah hidupnya, mungkin karena merasa hatinya sudah tak bisa menampung beban lagi, terkadang hanya di pancing sedikit saja, cerita akan mengalir dan tumpah begitu saja, bahkan pada orang yang tidak di perhitungkan sebelumnya.
"Maaf, bapak jadi membuang waktu berharga bapak hanya untuk mendengarkan cerita saya," lirih Inayah seraya menyeka air matanya yang menetes tanpa permisi.
"Aku tak menyangka, kisah hidupmu begitu berat dan menyedihkan" Beni menyodorkan selembar tisyu pada Inayah.
"Apa kamu mencintai Wiliam?" tanya Beni.
Inayah terdiam, dia mencari jawaban dari pertanyaan Beni, karena dia sendiri tak tau bagaimana perasaan sebenarnya pada Liam.
"Saya hanya menjalani takdir saya saja," jawab Inayah setelah berpikir sejenak.
"Kamu yakin tak punya perasaan apapun pada nya?" buru Beni.
"Saya tidak yakin, tapi saya memang pernah hampir menyukainya sebelum dia menjebak saya untuk menjadi istrinya, namun setelah kejadian itu rasa benci saya pada Liam semakin bertumpuk dan semakin mendominasi di hati" terang Inayah.
__ADS_1
"Tapi dari yang aku lihat dari tatapan matanya, Wiliam mencintai mu, hanya saja dia kurang bisa bersikap dalam menghadapi Tania." kilah Beni.
"Dia memang pernah menyatakan cinta pada saya, tapi, setiap melihat kebersamaannya dengan Tania, saya rasa dia hanya tersesat dalam perasaannya, dia masih sangat mencintai Tania, bukan saya" urai Inayah.
Beni tersenyum mendengar penjelasan polos Inayah,
"Aku akan bantu kamu menemukan jawaban apa Wiliam mencintai mu atau tidak, bagaimana?" tawar Beni.
"Tapi, buat apa ?" tanya Inayah.
"Tentu saja agar kamu bisa menentukan sikap, apa kamu harus membalas cinta Wiliam atau tidak, karena yang ku tangkap dari cerita mu itu, kamu hanya ragu," Beni tersenyum miring.
"Ragu?" beo Inayah.
"Ya, kamu sebenarnya punya perasaan cinta yang sama pada Wiliam, tapi kamu selalu menyangkalnya karena kamu merasa tidak yakin akan perasaan Wiliam padamu" jelas Beni.
Inayah merasa tertampar dengan penjelasan Beni, jauh di lubuk hatinya dia membenarkan perkataan Beni, tapi dia tak ingin mengakuinya.
"Kalau ternyata Wiliam benar benar mencintai mu?" cukup lama Beni menunggu jawaban Inayah.
"Itu tidak mungkin !" ketus Inayah menepis pertanyaan Beni.
"Ayo kita buktikan, apa kamu takut bila ternyata apa yang aku katakan itu suatu kebenaran?" tantang Beni.
"Kenapa saya harus takut?" Inayah merasa tertantang.
"Bagus, deal ya !" Beni menyodorkan tangannya mengajak salaman.
"Apanya yang deal?" tanya Inayah.
"Kamu setuju aku membantu membuktikan kalau Wiliam benar benar cinta padamu" cengir Beni.
"Ba- bagaimana caranya?" ragu Inayah.
__ADS_1
"Itu urusan ku, kamu hanya perlu mengikuti arahan ku, oke !" ucap Beni antusias.
Entah apa yang di pikirkan dan di rencana kan Beni saat ini, Inayah hanya merasa tak ada salahnya menuruti apa yang di katakan Bos nya itu, lagi pula dirinya memang penasaran dengan perasaan Wiliam terhadap nya yang sebenarnya.
Inayah dan Beni kembali ke kantor karena jam istirahat siang sudah selesai, pekerjaan di kantor menumpuk dan menanti untuk di selesaikan.
Baru saja sampai di loby kantor hendak naik ke lantai atas, Inayah yang sendirian di depan lift karena Beni harus memarkirkan mobilnya dulu di basement kantor, di kejutkan oleh sindiran nyinyir Adit yang saat itu hendak menaiki lift yang sama.
"Pantesan cepet banget naik jabatan, ternyata jadi simpenan bos, udah ga doyan tukang ojek nih ?!" sindir Adit.
Inayah diam saja tak berniat membalas nyinyiran Adit.
"Udah jadi jallanng bisu rupanya ! Ckck, segitunya cari duit sampe jual diri,!" Adit tersenyum mengejek.
"Siapa anda? Apa saya mengenal Anda? Anda tidak sopan berbicara sepert itu pada orang asing!" ucap Inayah dingin, membuat Adit keki dan malu setengah mati karena beberapa orang yang juga menunggu lift di sana melirik ke arahnya dan menertawakan nya.
Adit mendengus kesal,
"Awas saja kau !" ancam Adit sedikit berbisik.
Niat hati ingin mempermalukan Inayah di depan orang orang, karena tadi dia sempat melihat Inayah turun dari mobil Beni di depan loby, apa daya malah dirinya yang di permalukan Inayah di hadapan banyak orang.
Inayah hanya melirk sinis Adit sekilas lalu masuk ke dalam lift.
Perlakuan Inayah terhadap Adit membuatnya murka, dia tak terima di permalukan di depan umun oleh mantan istrinya yang menurutnya sudah menghianatinya itu.
Adit mulai menyusun rencana untuk membalas perlakuan Inayah itu, sore hari saat jam pulang kerja Adit sudah menunggu di jalan yang biasa Inayah lewati, lama Adit menunggu, menjelang magrib Inayah baru terlihat berjalan menuju halte menunggu angkutan umum untuk pulang, semenjak pindah ke rumah baru milik Liam dia sudah tak pernah naik bis karyawan dan memilih menaiki angkutan umum.
Adit terus memperhatikan dan mempelajari kebiasaan apa saja, dan jalan mana saja yang di lewati Inayah saat pulang kerja, entah kejahatan apa yang di rencanakan Adit untuk mencelakakan Inayah, Adit seakan tak ada puasnya menyakiti dan menindas Inayah.
'Wanita sial, lihat saja apa yang akan kamu terima atas semua perbuatan mu, kau menghianati ku, mempermalukan ku di hadapan banyak orang, dan kau juga menghancurkan bisnis ku, kau akan mendapatkan balasan yang lebih sakit dari apa yang aku rasakan, kau harus hancur !" gumam Adit di balik kemudinya, matanya menatap tajam Inayah yang tak menyadari kalau Adit mengikuti dan memperhatikan gerak geriknya sedari tadi.
"Tenang bro, kita akan menghancurkan wanita brengsek itu bersama sama, wanita itu terlalu berani mengusik kita." ucap Seno yang duduk di sebelah Adit, menatap Inayah dengan pandangan kebencian dan dendam yang teramat dalam sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1