
Inayah membuka matanya, namun pandangannya terasa gelap, dan anehnya indra penciumannya merasakan parfum Beni begitu dekat dengan hidungnya saat ini, belum lagi badannya yang terasa berat seperti tertindih sesuatu.
Saat Inayah mengangkat tegak kepalanya, betapa terkejutnya wanita itu, karena tubuhnya kini sedang menempel di tubuh Beni, dengan tangannya yang melingkar di perut laki laki bertubuh atletis itu.
Sedangkan tubuh Beni yang miring menghadap ke arahnya, tangan kekarnya kini melingkar di punggung Inayah dengan kaki yang menumpang di atas pinggul wanita yang masih mengingat ingat kejadian apa yang terlewat dari ingatannya semalam, karena terakhir kali seingat diri nya semalam dia menunggui Beni sambil menonton televisi, tapi kenapa saat ini di sedang berpelukan dengan pasien yang di tungguinya, di ranjang yang sama.
Inayah lalu memeriksa pakaian yang di kenakannya, masih utuh, pakaian Beni pun masih utuh, apa tidurnya se lelap itu sampai dia tak sadar apa yang terjadi semalam, pikirnya.
"Apa yang kamu lihat ? Aku tak melakukan apa apa pada mu,!" ucap Beni dengan suara serak khas bangun tidur nya.
"Kenapa aku ada di sini ? Bukan kah semalam aku di sofa ?" tanya Inayah sambil melirik sofa yang kini terlihat kosong.
"Mana ku tau, semalam kamu tau tau berjalan ke sini dan memeluk ku, aku sudah mengusir mu berkali kali, tapi kamu malah memeluk ku lebih erat lagi !" bohong Beni sambil tersenyum jahil.
"Itu tidak mungkin ! Aku tak pernah berjalan saat tidur, kamu pasti yang membawa ku kesini, kan !? Kamu mengambil kesempatan saat aku tertidur !" tunjuk Inayah sambil menjauh kan diri dari dekapan hangat Beni.
"Biarkan seperti ini dulu sebentar saja, kamu yang sudah datang menghampiriku kesini semalam, jadi kamu harus di hukum," goda Beni tak mau melepaskan pelukannya.
"Mas,!" tegur Inayah merasa aneh dengan kelakuan Beni yang tiba tiba terlihat berbeda dalam memperlakukannya, dia menjadi lebih agresif dari sebelumnya yang selalu cuek dan acuh tak acuh.
"Tolong, ijinkan aku memeluk mu sebentar lagi saja,! Aku merasa mendapatkan ketenangan saat kamu berada di dekat ku !" pinta Beni mengeratkan pelukannya, dan memejamkan matanya sambil menciumi kepala Inayah yang tepat berada di depan mulutnya.
Jantung Inayah kini melonjak lonjak tak terkendali, ada gelenyar gelenyar aneh yang tak pernah dia rasakan sebelumnya, hatinya menghangat dan pikiarannya seperti terkena hipnotis, tenang dan seakan ringan seperti melayang di awan.
Tangan Inayah kembali melingkar di perut rata dan keras berotot milik Beni, dia berpikir mungkin saat ini Beni hanya merasa kesepian dan membutuhkan orang yang dapat menemaninya melalui semua kepahitan hidupnya, dan Inayah dengan senang hati akan membantu Beni melewati semua cobaan hidupnya.
'Mas Beni hanya terbawa suasana, dia hanya butuh teman, bukan hal lain, sadarlah Inayah,,,, dia tak mungkin mencintai mu' ucap Inayah pada hatinya agar hatinya tidak berharap banyak dan menyalah artikan perlakuan baik Beni padanya selama ini.
"Mas, apa kamu sudah baikan sekarang ?" tanya Inayah masih menyembunyikan wajahnya di dada bidang Beni malu malu.
"Hmm, aku baik baik saja, sepertinya kehadiran mu dan pelukan mu itu obat paling mujarab buat ku !" goda Beni, sambil tak henti menghirup aroma rambut Inayah yang terasa sangat menenangkan hatinya.
__ADS_1
"Mas, aku belum keramas lo,,, !" ucap Inayah sedikit risih karena Beni terus menerus menciumi kepalanya.
"Sana mandi, dan keramas, kamu bau !" goda Beni melepaskan pelukannya sambil tertawa jahil.
"Ishh, tadi aja rambut aku di cium ciumin, sekarang di suruh pergi, di bilang bau pula !" omel Inayah kesal.
"Cepat mandi, ini sudah siang ! Apa kamu tak berangkat ke kantor ?" ucap Beni sambil tergelak, dia sangat senang bisa mengerjai wanita yang belum genap 21 tahun itu.
Inayah berlari ke kamar mandi, sebenarnya dia menyembunyikan rasa malu dan groginya, wanita yang seharusnya masih menikmati masa muda nya dengan teman teman sebayanya itu harus dewasa sebelum waktunya, di usia nya yang masih di awal dua puluhan itu bahkan sudah dua kali mengalami kegagalan dalam membina rumah tangga, karena dalam dua kali pernikahannya harus bertemu dengan laki laki yang salah.
***
Esih merasakan panas di hati dan ubun ubunnya ketika sampai di desa mendapatkan laporan kalau kini Titin kini jadi mandor di lahan milik Lilis yang di gadaikan pada orang kota, dia tidak terima kalau Titin sang mantan besan lebih maju kehidupannya dari pada dia.
Esih berjalan terburu buru menuju kebun yang sedang di mandori Titin saat ini, terlihat dari kejauhan Titin sedang bersenda gurau dengan para pekerja di tengah kegiatan nya mengelola kebun yang Beni percayakan padanya itu.
"wah,,, wah,,, ibu mandor baru yang satu ini makin besar kepala saja ya, di kampung ini ! Katakan, bagaimana bisa ada orang yang mempercayakan kebun dan sawah nya untuk di kelola pada orang yang tidak berpengalaman seperti kamu ini ?" sinis Esih sambil melihat lihat kebun yang lumayan luas itu beserta para pekerjanya yang sebagian terlihat asing bagi Esih.
Titin memang sengaja mencari pekerja dari kampung sebelah yang tidak terikat bekerja dengan lahan siapapun di desa nya, karena takut di tuduh merebut pekerja lahan orang, dan menjadi masalah nantinya.
"Heh,, yang benar kalau memanggil nama ku, aku ini sekarang besan dari haji Juned tuan tanah di desa ini, kalau besan ku mau, lahan ini juga bisa dia beli, mulai sekarang panggil aku juragan Esih !" ucap Esih sambil menunjuk nunjuk wajah Titin tanpa alasan.
Seakan salah memanggil namanya saja pun menjadi permasalahan yang besar baginya sampai harus se marah itu.
"Hey bu, tolong sopan ketika sedang berbicara !" tegur salah seorang wanita yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Esih sambil memberikan pupuk pada tanaman di kebun itu.
"Eh, kau pekerja rendahan, lancang sekali berani menegur ku, kamu pikir kamu siapa ?" Esih berbalik ke arah wanita muda yang kini berada di antara mereka.
"Nak, tak apa apa, emak sudah biasa mendapat hal seperti itu dari bu Esih," ucap Titin setengah berbisik pada wanita muda yang sepertinya usia wanita itu beberapa tahun lebih tua dari Inayah sang putri.
"Jangan di biasakan diam saja dan menerima ketika di lecehkan orang, nanti emak terus terusan di tindas !" timpal wanita itu dengan tatapan tajam yang sengaja di arahkan pada Esih yang seakan ingin menerkam dirinya.
__ADS_1
"Maaf juragan Esih, ini widya, keponakan saya dari luar kota, mungkin dia belum paham siapa juragan, jadi mungkin sikapnya kurang berkenan bagi juragan !" ucap Titin.
"Mak, dia bukan bos kita, ngapain panggil dia juragan !" protes wanita yang ternyata bernama Widya itu.
"Tutup mulut mu atau ku tampar mulut songong mu dengan sandal ku !" Esih akhirnya tersulut emosi.
"Sini kalau berani, aku gak takut sama nenek tua macam kau, dasar juragan kere ! Pengen jadi juragan tapi nebeng nama besan !" ejek Widya yang berhasil membuat emosi Esih meluap dan berusaha menyerang Widya dengan membabi buta,
Namun tentu saja Widya lebih lincah dan gesit menghindari serangan serangan yang di layangkan oleh Esih, tak ayal itu semua membuat Esih semakin terpancing Emosinya, beberapa orang yang ada di kebun pun seakan sengaja tak memisahkan pertengkaran antara Esih dan Widya saat itu, mereka seakan kompak pura pura tak melihaat kejadian yang sedang berlangsung di dekat mereka itu, hanya Titin yang terlihat berusaha memegangi tubuh Widya agar menghentikan pertengkaran nya dengan Esih.
"Kenapa nenek tua ? Kau tak terima aku bilang juragan kere, huh ? Dengar dengar,,, anak juragan kere maling ya di kota ? Di tangkap polisi, ya ?" ucap Widya dengan nada mengejek.
Widya terus memancing emosi Esih dengan kata kata yang menjatuhkan harga dirinya sehingga Esih semakin meluap, melupakan tujuan utamanya datang ke kebun untuk mempermalukan Titin dengan membongkar aib pernikahan Inayah dengan Wiliam di hadapan banyak orang.
Kini, karena ulah Widya justru Esih sibuk menyerang balik Widya yang di anggap telah mempermalukan dan menjatuhkan harga dirinya itu.
Tanpa pikir panjang karena emosi yang semakin mengubun ubun, Esih meraih batu sebesar kepalan tangannya dan di hantamkan ke kepala Widya sampai darah segar mengalir di kening Widya.
Barulah beberapa pekerja menghentikan kegiatannya setelah mendengar jeritan Titin, karena mendapati wajah Widya yang kini berlumuran darah.
Esih yang ketakutan langsung melarikan diri dari kerumunam orang orang yang semakin ramai menolong Widya.
Widya segera di bawa ke puskesmas untuk mendapatkan pertolongan.
Setelah luka di kepala Widya di bersihkan, di obati dan di perban, wanita muda itu berpamitan pada Titin untuk ke toilet.
Di dalam toilet dia mengeluarkan ponselnya,
"Bos, target sudah masuk perangkap, tapi bos harus menambah bayaran karena kepala ku bocor akibat ulah si nenek sialan itu !" lapor Widya pada orang yang sedang di telponnya itu.
"Bikin visum dan segera kau laporkan wanita tua itu ke polisi, aku yakin dia akan menggigil ketakutan, hahaha !" terdengar suara Beni tertawa puas dari sebrang telpon.
__ADS_1
"Siap laksanakan bos !" jawab Widya.
"Terus jaga dengan ketat ibunya Inayah, jangan sampai lengah !" titah Beni di akhir percakapannya di telpon dengan Widya yang ternyata merupakan orang suruhannya yang bertugas untuk menjaga Titin di kampung.