Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Penyanyi Dangdut


__ADS_3

Rentetan acara pernikahan Beni dan Inayah seakan tak ada habisnya, setelah pesta mewah di sebuah hotel berbintang di ibu kota, lalu bulan madu selama dua minggu di maldives, sekarang tinggal acara syukuran pernikahan yang di laksanakan di desa tempat tinggal Inayah yang bertema garden party yang benar benar di adakan di kebun yang sesungguhnya.


"Si Inayah itu gimana sih, katanya nikah sama orang kaya, masa ngadain acara nikahan di kebon, bukannya sewa balai desa kaya juragan juragan kalau nikahin anaknya, gak modal banget !" ucap salah satu ibu ibu yang hendak pergi ke kebun menghadiri undangan pesta pernikahan Inayah.


"Iya, untung ceu Esih sedang di kota, kalau tidak, habis dia di ejek mantan mertuanya itu !" timpal ibu yang satunya lagi.


"Eh, ngomong ngomong ceu Esih kok betah banget ya, di Jakarta, aneh,,, biasanya dia gak pernah lama kalau di tempat si Adit, jangan jangan----" gosip ibu ibu itu semakin melebar ke mana mana.


Namun mulut nyinyir ibu ibu yang mengejek tentang pesta pernikahan Beni dan Inayah yang di adakan di kebun itu seketika terdiam, dan sebagian menganga tak percaya, baru pernah mereka datang ke tempat pesta se mewah itu, kebun milik Lilis yang kini sudah menjadi milik Beni itu di sulap menjadi sebuah tempat pesta yang mewah dan elegan, tak ada yang mengira kalau itu sebelumnya hanyalah sebuah kebun yang di tanami cabe dan tomat.



Deretan minuman berwarna warni, aneka makanan mewah plus beragam snack dan buah buahan tersedia di setiap sudut tempat pesta, sehingga memanjakan setiap tamu yang datang.


Konsep pesta yang mengusung tema pesta kebun yang santai itu terasa hangat dan akrab, obrolan santai di antara para tamu undangan membuat suasana seperti sebuah pertemuan keluarga besar yang penuh suka cita.


Decak kagum dari para tamu yang hadir tak henti terdengar, Harun di temani sang anak perempuannya,Yeni, juga datang ke acara itu, untuk memberikan selamat.


"Inayah, aku minta maaf karena selalu berbuat jahat pada mu dulu, aku juga meminta maaf atas nama ibu ku dan atas semua perlakuan jahatnya pada mu !" ucap Yeni tulus, kejadian yang sudah menimpa ibunya kini menyadarkan nya, kalau setiap kejahatan pasti akan ada balasannya, dan dia tak ingin menyesal di kemudian hari.


"Aku sudah memaafkan kalian semua, semoga kedepannya hubungan antar keluarga kita akan terjalin dengan baik ya, teh !" jawab Inayah mengelus pundak Yeni mantan kakak iparnya itu sambil memberinya senyuman hangat.


Harun merasa lega dengan sikap Yeni yang bersedia meminta maaf dengan tulus pada Inayah dan Titin, setidaknya beban di hatinya sedikit lega.


Titin juga merasa tenang karena kini Inayah sudah punya pendamping hidup yang bisa di andalkan untuk menjaga anak perempuan semata wayang nya itu.


"Nak Beni, emak ikut berbahagia dengan kebahagiaan kalian saat ini, dan semoga kehidupan rumah tangga kalian selalu di berkati dan di penuhi kebahagiaan selamanya, emak titipkan Inayah pada mu, jaga dan lindungi dia, sayangi dia dan jangan buat dia bersedih lagi !" ucap Titin saat sedang duduk berdua dengan menantu nya itu sambil menunggu Inayah yang sedang menemui beberapa teman sekolahnya yang datang menghadiri pesta mereka.


Pesta itu memang di adakan khusus untuk warga desa, keluarga, kerabat, dan teman teman Inayah, tidak ada wartawan, tidak ada kolega bisnis, semua itu memang harinya Inayah, persembahan dari Beni khusus untuk sang istri tercinta.


Di tengah acara pesta yang masih berlangsung dengan meriah karena hiburan dari artis ibu kota yang sengaja di datangkan untuk menghibur para tamu yang hadir, tiba tiba terdengar ribut ribut dari ujung gapura yang di buat sebagai akses untuk masuk ke pesta itu.

__ADS_1


"Sayang, kenapa wajah mu sepertinya tak suka ?" protes David pada Lilis yang sedari tadi mengerutkan keningnya saat menuju ke kebun tempat di mana pesta itu di adakan.


David memang sengaja mengajak Lilis untuk menghadiri pesta itu, ya tentu saja atas perintah Beni.


*Flash back on


"Sayang, ayolah,,, temani aku ke pesta pernikahan pak Beni yang di adakan di kampung halaman istrinya, bukannya kamu juga berasal dari desa yang sama dengan istrinya pak Beni ? Sekalian kamu jadi penunjuk jalan, kita juga bisa berduaan, mau ya !" begitu bujuk dan rayu yang di sampaikan pada Lilis dalam menjalankan misi dari kakak sepupunya itu agar Lilis mau datang ke pesta itu, dan ternyata tak sia sia, karwna Lilis bersedia menemaninya ke pesta itu dengan catatan dia meminta di belikan baju dan tas baru untuk menghadiri undangan itu.


Lilis ingin tampil mewah dan memukau di hadapan para warga desa dan yang paling penting agar dia bisa tampil lebih 'wah' di banding Inayah.


Lilis mengenakan gaun hitam glamor dan terbuka, menampilkan dada yang nyaris tampak tak terbalut apa pun, karena belahan dada yang sangat rendah, dan bagian punggung yang ter ekspose sempurna, dia juga sekalian ingin memamerkan pacar barunya yang di ketahuinya sebagai pemilik Teja grup yang baru menggantikan posisi Inayah.


*Flashback off


"Aku bukannya tak suka tapi sepertinya aku sangat familiar dengan tempat pesta ini !" ucapnya, mengabaikan keriuhan orang orang yang menggunjingkan dandanan dirinya yang berpakaian minim dan berdandan heboh di antara para tamu lainnya.


"Itu penyanyi dangdut yang bakal ngisi acara kayaknya ya ? Wah artis dangdut ibu kota mah memang beda ya, liat bajunya aja kelap kelip !" cicit salah satu warga sambil menunjuk nunjuk ke arah Lilis yang lewat di hadapannya.


"Tapi sekilas itu mah mirip si Lilis anaknya ceu Edah, yang kerja di kota," timpal bapak bapak yang sedikit mengenali wajah Lilis di balik make up tebalnya itu.


Tak di sangka sangka Lilis membalikkan badannya dan menoleh ke arah sumber suara.


"Tuh, kan ! Bener, itu si Lilis. Gaya si Lilis, jadi artis dangdut sekarang, mah !" ucap bapak itu yang berhasil membuktikan tebakannya kalau itu benar benar Lilis anaknya ceu Edah.


"Ish, dasar kampungan ! Dandan cantik gini di bilang artis dangdut !" kesal Lilis yang lalu mendapat sorak sorai dari orang orang yang berada di dekat gapura tempat para tamu masuk ke area pesta.


Keriuhan pun tak dapat di hindarkan, para warga yang melihat Lilis kesal dan mengumpat serta mengejek mereka langsung menyorakinya.


Sedangkan David, jangan ditanya lagi, laki laki tampan itu mengepalkan tangannya sekuat tenaga menahan malu, wajahnya memerah dan rahangnya mengetat, dia sungguh ingin menghajar kakak sepupunya yang sukses membuat dirinya merasa di permalukan seperti itu akibat misi nya mendekati Lilis.


"Sayang, sudah lah ! Jangan ladeni orang orang itu, nanti kamu terkena masalah lagi, jangan sampai ada berita dengan judul wanita bernama Lilis lagi lagi mengacau di pesta pernikahan seorang pengusaha ternama !" kata David menakut nakuti.

__ADS_1


Dan itu lumayan berhasil, karena Lilis langsung terdiam sambil celingak celinguk menyapu ke setiap penjuru mencari cari keberadaan wartawan yang memang tidak ada di sana.


Saat Lilis dan David sudah berada di tengah tempat acara dan menemui mempelai yang sedang bercengkerama hangat dengan para tamu undangan, rupanya Lilis baru tersadar kalau kebun luas yang di jadikan tempat pesta Beni dan Inayah itu adalah lahan milik nya.


"Sebentar, sebentar !" Lilis menghentikan langkahnya, dan mengacungkan sebelah tangannya ke udara tanda agar David menghentikan langkahnya seperti dirinya.


"Ada apa ?" tanya David lagi, hati nya semakin dag dig dug takut kalau kalau dirinya akan terlibat pertikaian seperti kekacauan yang di lakukan wanita itu sebelum nya saat acara pesta di hotel mewah beberapa minggu yang lalu.


"Inayah ! Lancang sekali kau mengadakan pesta di kebun milik ku ! Aku tak pernah memberi ijin pada mu tentang pesta ini !" teriak Lilis seraya menunjuk wajah Inayah yang merasa kaget dengan teriakan Lilis, dia sungguh tak menyangka kalau Lilis akan datang ke pestanya.


Inayah melirik ke arah Beni yang kini sedang nyengir kuda, 'Tak ada tersangka lain, ini pasti ulah nya !' batin Inayah sambil menatap tajam suaminya yang dengan tenang menonton amukan Lilis di tengah para warga yang menontonnya.


Beni tak hawatir sedikitpun dengan amukan Lilis, karena beberapa anak buah nya sudah siaga di antara para tamu undangan jika Lilis sampai berani berbuat macam macam pada istrinya, belum lagi David yang pasti akan menyelamatkan kakak iparnya itu, karena jika sampai terjadi apa apa dengan istri dari kakaknya itu, dia bisa di cincang Beni.


"Apa maksud mu ?" jawab Inayah berusaha tetap tenang, sepertinya dia harus terbiasa dengan permainan sang suami yang selalu tiba tiba dan tanpa pemberitahuan tentang rencana rencana gilanya itu.


"Jangan pura pura bodoh, semua orang di kampung tau kalau kebun ini milik ku, dan dengan se enaknya kau mengadakan acara tanpa ijin pada ku ?" maki Lilis yang tak lagi memperdulikan harga diri nya, persetan baginya bila dirinya harus jadi santapan para wartawan lagi untuk di jadikan berita, yang penting dia bisa mempermalukan Inayah di depan ratusan warga desa.


"Kebun milik mu ?" tanya Inayah mengulang perkataan Lilis padanya.


"Iya, apa kau tuli ?!" bentak Inayah.


"Aku tidak tuli, jangan jangan kau yang hilang ingatan, atau berhalusinasi ?! Lahan ini milik suami ku, dan apa yang menjadi milik suami ku berarti milik ku juga !" ucap Inayah.


"Hey, sejak kapan lahan milik ku berpindah tangan menjadi milik suami mu ? Kau pintar sekali berkhayal !" ejek Lilis sinis.


"Sejak suami mu menjualnya ke suami ku !" Inayah tak kalah sinis menjawab ejekan Lilis padanya.


"Tidak, ini tidak mungkin, tak ada pemberitahuan apa pun pada ku, ini penipuan, ini sabotase !" histeris Lilis.


"Kebetulan ada pak lurah di sini, apa kau tak ingin mencari tahu tentang kebenaran atas nama siapa kepemilikan lahan ini ?" ucap Inayah tersenyum miring sambil menganggukkan kepalanya tanda hormat pada pak Lurah yang juga sedang menghadiri pesta pernikahannya itu.

__ADS_1


"Wiliam ! Aku tak akan memaafkan mu ! Dasar Wiliam sialan !" teriak Lilis mengumpat Wiliam dalam tangis histerisnya, dia tak menyangka kalau Wiliam yang selalu dia bela mati matian itu menghianati dirinya.


Tubuh Lilis merosot luluh menyentuh tanah, badannya tiba tiba terasa lemas, pandangannya menghitam dan gelap seketika saat dirinya tak mampu lagi menahan rasa malu, kesal, sedih, marah dan kecewa menjadi satu di dadanya dan mengaduk aduk emosinya, Lilis pun pingsan, kehilangan kesadarannya.


__ADS_2