Maaf, Jika Ku Mendua

Maaf, Jika Ku Mendua
Ada yang Cemburu


__ADS_3

Wiliam mengamuk membanting semua barang barang yang ada di atas meja kerjanya, permohonan ayahnya yang kini sedang terbaring sakit sukses membuat dirinya galau berat.


Bagaimana tidak, ayah dan ibu tirinya memohon agar dirinya sebagai kakak membantu sang adik tiri yaitu Tania untuk menikah dengan nya demi menyelamatkan nama baik keluarga, dan menutupi aib keluarga karena Tania hamil tanpa suami.


"Ah,,,! Apa apaan mereka ini, dulu mereka menentang habis habisan hubungan ku dengan Tania sampai aku harus keluar dari rumah dan tak boleh memimpin perusahaan, sekarang giliran kepepet seperti ini, aku juga yang di tekan, ini tidak adil !" teriaknya sambil terus melempar apa saja benda yang ada di hadapannya.


"Ya ampun, kamu ini apa apaan Liam ? Kenapa semua jadi berantakan seperti ini ?" pekik Lilis saat memasuki ruang kerja Wiliam yang sudah tak berbentuk lagi itu.


"Diam kau ! Aku sedang pusing !" bentak Wiliam pada Lilis yang tak tau apa apa tapi kena semprot amukan Wiliam yang membabi buta.


"Apa kau sudah gila, Liam !? Kenapa aku menjadi sasaran kemarahan mu, sementara aku tidak tau masalah apa yang terjadi sebenarnya !" protes Lilis tak terima dengan perlakuan Wiliam yang tiba tiba membentak dirinya.


"Ya, aku memang sudah gila, apa kau puas sekarang !?" teriak Wiliam berapi api.


"Liam,,, tenanglah,! Ceritakan pada ku apa yang sebenarnya terjadi ?" nada suara Lilis melembut, di raihnya pundak Wiliam dan Lilis merangkul laki laki yang sedang di kuasai amarah itu dengan lembut dan penuh kasih.


Wiliam pun sedikit mereda, kini dia berada di pelukan Lilis, wanita parter ranjangnya yang selalu siap menampung segala keluh kesahnya selama ini.


"Kita masih butuh banyak tambahan modal, kemarin aku minta bantuan ayah ku, dia mau membantu, tapi dengan satu syarat,,, " ucap Wiliam.


"Syarat ? Syarat apa ?" tanya Lilis.


"Aku harus bersedia menikah dengan Tania yang kini sedang mengandung, orang tua ku tak mau jika nanti orang orang sampai tau kalau Tania hamil tanpa suami, apa lagi ayah dari bayi yang di kandung Tania seorang napi !" adu Wiliam pada Lilis.


"Hah ?! Kenapa bisa begitu ? Orang tua mu gak bisa seenaknya seperti itu, dong !" protes Lilis.


"Entahlah, apa sebenarnya yang mereka pikirkan, dulu aku dan Tania di tentang mati matian, sekarang malah aku di paksa untuk menikahi nya," kesal Wiliam.

__ADS_1


"Harusnya kamu tolak dengan tegas !" ucap Lilis merasa ikut kesal dengan keinginan orang tua Wiliam yang menurutnya tidak masuk akal dan keterlaluan itu, apa lagi tentu saja itu akan mengancam keberadaannya di samping Wiliam.


"Sebenarnya aku ingin sekali menolak, tapi kamu tau kan, kita sangat butuh uang itu, tanah dan sawah mu di kampung sudah di jual, begitu juga dengan rumah ku, kita tak bisa mundur begitu saja, ini sudah kepalang basah, dan hanya ayah ku satu satunya harapan yang bisa menolong kita." terang Wiliam.


"Tapi, gak gini juga caranya," rengek Lilis.


"Kamu punya cara lain ?" tantang Wiliam.


"Entahlah, kepala ku mau pecah rasanya, kenapa masalah, masalah, dan masalah terus datang silih berganti seakan tak ada habis nya !" keluh Lilis meratapi hidupnya yang selalu di penuhi masalah, tanpa dia mengoreksi diri, kejahatan dan kesalahan apa yang sudah dia lakukan sehingga hidupnya di rundung masalah bertubi tubi, mulai dari kehilangan pekerjaan, kebun dan sawahnya yang harus di gadai kemudian akhirnya di jual untuk menambah modal perusahaan milik laki laki yang di cintainya, dan kini laki laki yang dia cintai itu harus menikahi mantan pacarnya yang hamil karena orang lain.


"Kamu jangan cuma marah dan protes saja, coba kasih solusi !" ucap Wiliam kesal dengan Lilis yang seolah hanya bisa mengeluh tanpa memberi nya solusi.


"Bagaimana kalau kamu meminta Beni saja untuk menikahi Tania, mereka kan sebelumnya hampir bertunangan dan menikah, aku yakin orang tua mu pasti akan setuju kalau Beni yang menikahi adik tiri mu itu !" ide Lilis.


"Beni ? Tapi bagai mana caranya, aku yakin seribu persen Beni pasti akan menolak nya." kata Wiliam menautkan kedua alis nya.


"Tenang saja, aku punya cara yang dapat membuat Beni tak bisa mengelak untuk menikahi Tania !" ucap Lilis yakin.


"Kamu yakin ?" tanya Wiliam antusias.


"Serahkan pada ku !" Lilis tersenyum iblis.


"Ah, kamu memang selalu bisa di andalkan dalam hal apa pun,!" ucap Wiliam langsung memeluk dan melum mat bibir merekah Lilis, dua sejoli iblis itu pun saling berpag gutan, di tengan ruangan yang berantakan karena terkena amukan Wiliam tadi.


***


Siang ini Beni sengaja datang ke Teja grup, dia ingin makan siang bersama Inayah, sejak tadi padi dirinya tak bisa fokus dalam bekerja, wajah Inayah terus terusan terbayang jelas di pelupuk matanya, sehingga siang ini dia langsung datang ke Teja grup tanpa memberitahukan terlebih dahulu perihal kedatangan nya ini pada Inayah, dia ingin memberikan sedikit kejutan untuk wanita yang semakin menguasai hampir seluruh tempat di setiap sekat hatin nya.

__ADS_1


Namun saat Beni sampai ke perusahaan tempat Inayah bekerja itu, dia harus sedikit merasa kecewa karena kini di loby perusahaan Inayah terlihat sedang bercengkerama akrab dengan seorang laki laki muda yang dari tatapan matanya sepertinya laki laki muda itu sangat mengagumi kecantikan Inayah yang saat itu mengenakan blouse tangan panjang dengan rok sebatas lutut namun agak ketat dan menonjolkan beberapa bagian tubuh sekkssi nya itu memang membuat siapa saja yang melihatnya akan tergoda, belum lagi rambut panjangnya yang sengaja dia gulung ke atas sehingga memamerkan leher putih mulus jenjang nya yang semakin menambah kesan anggun dan sensual.


Tanpa di sadari tangan Beni mengepal, rahangnya mengeras, dan matanya memandang tajam kedua orang yang sedang bercengkerama akrab itu dari kejauhan.


Hati Beni tiba tiba panas seperti terbakar, dada nya pun terasa sesak, amarahnya pun memuncak hanya karena melihat keakraban Inayah dengan laki laki yang entah siapa.


Beni mencoba menguasai dirinya, lalu dia berjalan ke arah loby kantor mendekati Inayah dan teman laki lakinya itu dengan wajah yang tidak bersahabat sama sekali.


"Hai mas, tumben datang gak kasih kabar dulu !" sapa Inayah ramah saat melihat Beni yang datang mendekat ke arahnya yang sedang menemui salah satu rekan bisnisnya.


"Kenapa ? Apa aku mengganggu kegiatan mu ?" tanya Beni datar namun terdengar dingin.


"Tentu saja tidak, sebentar ya mas, aku menyelesaikan pekerjaan ku dulu, mau tunggu di ruanganvku atau----?" ucap Inayah yang sedikit merasa janggal dengan sikap Beni yang terasa seperti tak biasanya, dia terlihat lebih dingin dengan nada bicara yang terdengar agak ketus.


"Di sini saja, aku menunggu mu di sini saja, aku tidak akan mengganggu kalian !" ucap Beni dengan wajah tanpa ekspresi.


"Tidak mas, lagi pula kami hanya membicarakan masalah pekerjaan saja, oh iya ini pak Irwan, dia ingin memesan seragam untuk karyawan di perusahaannya," ucap Inayah seraya memperkenalkan klien bisnisnya pada Beni.


Beni menerima uluran tangan laki laki muda itu seraya menyebutkan nama lengkapnya.


"Senang berkenalan dengan anda pak, suatu kehormatan bisa mengenal anda Beni Wijaya, seorang pengusaha muda sukses dan terkenal," sanjung laki laki muda yang bernama Irwan itu.


"Hmm," jawab Beni hanya dengan dehamannya saja sambil mengangkat kedua alisnya dan tersenyum miring, mengisyaratkan kalau dirinya sedang tak ingin membalas basa basi lawan bicaranya itu.


Menangkap sinyal tidak baik dari Beni, apa lagi setiap gerak geriknya tidak pernah luput dari pandangan mata Beni yang terus mengikuti apa pun yang dia lakukan saat itu.


Tak lama akhirnya laki laki klien bisnis Inayah itu pun menyerah, dia berpamitan pulang karena tak tahan mendapatkan tatapan mengintimidasi Beni padanya.

__ADS_1


"Sudah ? Selesai ?" sinis Beni saat Inayah mendekatinya dan ikut duduk di sofa sebelah Beni yang berada di loby perusahaan itu, wajahnya masih menampakkan wajah kesal nya, yang Inayah sendiri tak tau apa alasan yang membuat Beni bersikap seperti itu pada nya.


__ADS_2