
"Ini kamar mu?" tanya Liam saat sampai di kamar kost Inayah.
Kamar kost itu benar benar terlihat kosong, hanya barang barang yang memang bawaan atau fasilitas asli dari pemilik kost saja yang ada di kamar itu, hampir tidak ada barang tambahan lain, selain televisi yang akan di pasang Liam sekarang.
"Iya, kamar kost kamu di sebelah mana ?" Inayah balik bertanya.
"Aku di lantai dua," jawab Liam sambil asik membuka kardus dan berusaha mengeluarkan isinya.
"Oh,,, katanya kalau di lantai atas enak ya, tempatnya agak luas?" tanya Inayah lagi.
"Ya, lumayan lebih luas di banding kamar yang di bawah, makanya banyak yang sudah berkeluarga di lantai atas" celoteh Liam.
"Kamu, juga sama istri kamu di atas?" tanya Inayah kepo.
"Gak lah, aku belum punya istri, kalau aku punya istri, gak mungkin aku ajak tinggal, di tempat kost, aku akan membawa dia di rumah yang nyaman" ujar Liam tersenyum di sela kesibukannya menempel braket televisi di dinding.
"Beruntung banget yang nanti jadi istri kamu" gumam Inayah lirih.
"Kamu mau jadi orang beruntung itu?" goda Liam tersenyum ke arah Inayah yang membawakan dua cangkir teh panas ke hadapannya yang masih mengotak atik remot mencari saluran tv.
"Gak lah, kalau urusan pernikahan, aku biasanya tidak beruntung" cengir Inayah.
"Maksudnya ?" Liam menengok ke arah Inayah.
"Aku sudah pernah menikah, tapi hanya sebulan bersama, empat bulan di tinggal, terus di talak, tanpa aku tau apa salah ku" lirih Inayah, hatinya seakan kembali perih, saat luka lamanya itu tak sengaja di buka nya kembali.
Liam terlihat agak sedikit terkejut mendengar pengakuan Inayah, remot di tangannya bahkan sampai terlepas dari genggaman nya, dia tak menyangka, di umur Inayah yang semuda itu, bnyak sekali cobaan hidup yang harus di alaminya.
"Aku tak tau harus berkata apa, terlalu biasa kalau aku cuma berkata sabar, aku cuma mau bilang kamu berhak bahagia, dan pasti bahagia" ucap Liam, menyemangati Inayah.
tanpa terasa obrolan di antara mereka mengalir begitu saja, mereka seperti teman lama baru berjumpa, bertukar cerita, dan saling menguatkan.
"Kamu asli Jakarta kok nge kost, memangnya gak pengen kumpul sama orang tua mu?" Inayah meresa penasaran, karena menurut pengakuan Liam, dia asli Jakarta, tapi dia memilih nge kost dan tinggal sendiri dari pada tinggal dengan orang tuanya.
"Emh, Ibu ku meninggal saat aku duduk di bangku SMU, lalu ayah ku menikah lagi setengah tahun setelah kepergian ibu ku, semenjak itu, aku lebih senang hidup sendiri, lagi pula aku tak begitu cocok dengan ibu dan saudari tiri ku" urai Liam panjang lebar.
"Kamu punya adik perempuan ?"
"Anak bawaan ibu tiri ku dari suami dia sebelumnya, usianya dua tahun lebih muda dari ku" jelas Liam.
***
Seiring berjalannya waktu kedekatan Inayah dan Liam semakin akrab saja, mereka kadang sering sekedar jalan atau makan bersama saat Inayah libur kerja.
__ADS_1
Tok,,, tok,,,tok
pintu kamar kost Inayah di ketuk dari luar, Inayah yang malam itu sedang nonton sinetron favorirnya seolah enggan beranjak untuk membukakan pintu.
"Kok, lama buka pintunya?" protes Liam di ambang pintu.
Tapi Inayah tak memperdulikan ucapan Liam, bahkan tak mempersilahkannya masuk, setelah membuka pintu dia malah langsung berlari ke dalam dan duduk di depan televisi lagi, bahkan matanya tak lepas dari layar 24 inch yang menempel di dinding itu.
Liam menggeleng gelengkan kepalanya sambil berdecak,
"Ckk, kamu itu, kalau sudah nonton sinetron lupa segalanya" omel Liam membuka paper bag berisi makanan yang di belinya dari luar tadi sehabis mengantar penumpang terakhirnya.
"Diem dulu atuh kamu, ini mas Al sama Mba Andin lagi seru banget," cicit Inayah.
"Ish, siapa lagi mas Al, mba Andin, udah makan dulu sini di suapin sama Mas Liam" goda Liam menyodorkan sepiring nasi goreng ke hadapan Inayah yang masih bergeming tak menoleh ke arahnya.
Tanpa di sadari Inayah, dia membuka mulutnya dan menerima suapan demi suapan nasi goreng dari Liam di sela keseriusannya menonton sinetron sampai nasi yang di piring habis tak tersisa.
"Kenyang ?" tanya Liam saat melihat Inayah sudah mengalihkan pandangannya dan beralih menoleh padanya, karena sinetron kesayangannya sudah selesai tayang.
"Hehe,, kamu dari tadi di sini?" tanya Inayah, pura pura tak tau.
"Ckk, sepiring nasi goreng yang tadi aku suapin ke kamu sudah ludes tuh" tunjuk Liam pada piring yang sudah kosong di makan Inayah.
"Mas Al terus yang di pelototin tiap malem, Mas Liam juga mau kali, di perhatiin kamu !" celoteh Liam.
"Apaan sih, kamu ada ada aja," ucap Inayah malu malu.
"Sini ponsel mu" pinta Liam menengadahkan tangannya.
Tanpa protes Inayah menyerahkan ponsel jadulnya ke tangan Liam yang menengadah di depan nya.
Liam mulai membongkar ponsel jadul Inayah dan membuka ponsel android baru yang di bawanya, lalu memasangkan sim card milik Inayah ke ponsel baru itu.
"Nih, aku sepet banget liat ponsel mu, pake yang ini aja ya, biar aku gak susah chat atau video call kamu kalau lagi kangen" Liam tersenyum menatap Inayah yang sepertinya masih tak mengerti apa yang di ucapkan Liam padanya barusan.
"Ini punya siapa?" Inayah membolak balikkan benda pipih persegi di tangannya, ini pertama kalinya dia memegang benda yang menurutnya sangat mewah itu.
"Itu punya mu, kebetulan aku ada rejeki lebih, memang bukan ponsel yang mahal, tapi setidaknya itu lebih canggih dari pada ponsel jadul mu" ledek Liam.
"Tapi, aku gak punya uang buat bayarnya" Inayah mengembalikan ponsel itu ke pangkuan Liam.
"Gak usah di bayar, cukup tukeran saja, ponsel lama mu buatku, dan ini untuk mu, lumayan nih, ponsel mu sepuluh tahun lagi bakal jadi benda antik dan mahal" Liam tergelak sendiri.
__ADS_1
"Tapi... aku pakai yang lama saja lah" tolak Inayah lagi
"Kenapa ? Kamu menolak pemberian ku? Atau tak suka modelnya?" wajah Liam berubah muram.
"Bu- bukan seperti itu, tapi,,,, aku gak bisa pake nya" lirih Inayah malu malu.
"Ya ampun, aku kira apa, sini sini aku ajari kamu" ucap Liam gemas.
***
Hari itu Inayah pulang jam 7 malam karena dia lembur, Inayah memang rajin lembur agar dia bisa menabung dan mengirimkan sedikit uangnya untuk Titin di kampung, jadi tak jarang dia harus pulang malam.
"Eh, maaf !" ucap Inayah reflek, saat dirinya keluar dari pintu utama pabrik dan di tabrak seseorang yang sedang asik berbicara di telpon dan membawa tumpukan sampel kain di tangannya, beberapa sampel kain bahkan jatuh ke lantai.
"Apa mata mu buta, Huh ?" bentak pria itu murka.
"Maaf, tapi tadi bapak yang menabrak saya," kilah Inayah.
Seketika pria itu menoleh ke arah Inayah dan menatapnya tak percaya.
"Inayah ? Apa yang kamu lakukan disini ?" tanya pria itu terkejut.
"Kang Adit," gumam Inayah, dia sungguh belum siap bertemu dengan laki laki yang telah menyakitinya itu.
"Kamu, sengaja mengikuti ku ?" tuduh Adit.
"Bukan urusan mu kanapa aku disini, dan aku tak pernh mengikutimu" ketus Inayah bergegas pergi meninggalkan Adit yang masih terpaku seolah tak percaya melihat sosok Inayah ada di hadapannya barusan.
Inayah pulang dengan tergesa gesa menaiki ojek yang yang dari tadi sudah di pesannya.
Namun saat hendak memasuki gerbang kost nya, seseorang yang baru saja turun dari mobil menghadangnya.
"Heh, di sini rupanya tempat tinggal mu? Kau bekerja di pabrik itu kan ? " Adit tiba tiba sudah berada di sana dan menghadangnya saat ingin memasuki gerbang kost nya.
"Apa urusan mu ? Kita bukan siapa siapa lagi, kamu sudah menalak ku" ucqp Inayah.
"Benar ! Dan ada hal yang harus kau ingat, jangan pernah sekali kali kau mengatakan pada siapapun kalau kita saling mengenal, saat kita bertemu dimana pun, karena aku pasti akan sering ke pabrik tempat mu bekerja untuk mengambil dan memesan kain untuk perusahaan tempat ku bekerja" ucap Adit.
"Aku juga tak sudi mengatakan kalau kita saling mengenal" ketus Inayah.
"Sudah pinter ngelawan kamu ya, sudah lupa kau pernah bersimpuh dan mencium kaki ku, memohon agar tak aku tinggalkan, hahaha !?" Adit tertawa puas.aku
"Aku tak akan mungkin melupakannya, dan pasti akan membalasnya !" Inayah menatap tajam Adit.
__ADS_1
"Jangan macam macam kalau kau masih ingin bekerja di tempat itu, aku bisa dengan mudah membuat mu kehilangaan pekerjaan bahkan kehilangan nyawa sekali pun !" ancam Adit dengan senyuman iblisnya, membuat Inayah ketakutan.